Maulid Nabi Berasal Dari Syi’ah Fathimiyah !?

Maulid Nabi Berasal Dari Syi’ah Fathimiyah !?

BAGIKAN

Bila Allah ta’ala bermaksud memberi petunjuk-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki, maka tidak ada satupun yang dapat menghalangi nya, dan bila Allah menghendaki sesat kepada siapa yang Dia kehendaki, maka tidak ada yang akan dapat membendung nya, namun tugas kita adalah menyampaikan kebenaran dengan cara-cara yang benar, tidak dengan cara-cara licik apalagi dengan kedustaan, tidak perlu terlalu ambisi apalagi dalam masalah Ijtihad dan Khilafiyah, tapi inilah yang terjadi pada Kaum anti Maulid Nabi [Salafi-Wahabi], minimnya stok dalil untuk membid’ahkan hasil Ijtihat dan Fatwa yang dipahami dari dalil-dalil syar’i, membuat mereka terpaksa berfatwa Bid’ah dengan tanpa dalil kecuali hanya sepotong Hadits tentang Bid’ah yang telah mereka salah artikan, akhirnya bukan memperkecil perbedaan dan mencari titik temu, malah permasalahan yang ada semakin melebar kepada hal-hal yang seharusnya tidak menjadi masalah, andaikan Fatwa Syaikh Salafi-Wahabi “Maulid Nabi adalah Bid’ah sesat” tersebut cukup bukti, kenapa juga harus ada tuduhan “Maulid Nabi berasal dari Syi’ah”, apa tuduhan itu bisa dijadikan sebagai dalil ? bukankah masalah kita bukan pada siapa pertama kali memperingati Maulid Nabi ? bukankah masalah kita pada ada atau tidak ada nya dalil baik shorih atau pun tidak ? bukankah batasan-batasan Bid’ah Dholalah itu pada bertentangan dengan Syari’at atau tidak ? kenapa harus melempar tuduhan yang tidak menjadi permasalahan, kenapa harus menebar isu-isu yang tidak beralasan.

Benarkah Maulid Nabi Berasal Dari Syi’ah Fathimiyah ?

Sebelum menjawab tuduhan tersebut, perlu kita jelaskan dulu apa maksud dari tuduhan tersebut, kemungkinan nya ada dua yaitu :
1. Dasar peringatan Maulid berasal dari Syi’ah Fathimiyah ?
2. Cara pelaksanaan Maulid sekarang berasal dari Syi’ah Fathimiyah ?
Kita anggap saja bahwa yang dimaksud oleh Wahabi penebar fitnah ini adalah kedua nya berasal dari Syi’ah, karena bila kita tanyakan ke Wahabi, pasti jawaban nya lain-lain, karena mereka memang tidak punya pegangan yang jelas.

Bila tuduhan yang maksud Wahabi adalah dasar atau asal mula peringatan Maulid dari Syi’ah, maka jawaban nya sebagai berikut :
Jawab :Sungguh tuduhan tersebut sangat melampaui batas, tidak sepantasnya tuduhan tersebut keluar dari mulut orang yang mengaku Islam, karena asal mula memperingati Maulid Nabi sama sekali bukan berasal dari Syi’ah Fathimiyah, tapi peringatan Maulid Nabi sudah ada sejak masa Rasulullah Muhammad SAW, yakni Rasulullah sendiri yang memperingati hari kelahiran beliau dengan mensyari’atkan Ibadah Puasa pada hari lahir nya [hari Senin], sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim :
Ketika Rasulullah ditanyakan, kenapa berpuasa hari Senin ?
Rasulullah menjawab : ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ
“Hari itu adalah hari lahir ku, dan hari diutuskan aku menjadi Rasul atau hari diturunkan Wahyu kepada ku”.[HR. Muslim dan lain nya].
Inilah dasar Maulid Nabi yang diperintahkan oleh beliau sendiri, puasa hari Senin adalah peringatan hari Maulid atau hari Bi’tsah [diutus menjadi Rasul] atau apa pun istilah nya, agar ummat tidak lupa dengan hari kelahiran dan hari jadinya beliau sebagai seorang Rasul, mereka [Wahabi] mungkin puasa tiap Senin tapi bisa lupa bahwa itu adalah peringatan hari Maulid Nabi seminggu sekali, sehingga menyangka benar dasar Maulid itu dari Syi’ah Fathimiyah, na’uzubillah.

Bila tuduhan yang dimaksud oleh Wahabi penebar fitnah ini adalah cara dan waktu pelaksanaan Maulid sekarang sama dengan perayaan Maulid Syi’ah dulu, yakni setiap tahun dan di bulan Rabiul Awal dan lain sebagainya, dan mereka menjadikan sebagai alasan tidak boleh memperingati Maulid Nabi, sungguh tuduhan ini sangat bodoh dan pembodohan, karena bila ternyata benar Maulid itu diadopsi dari Maulid Syi’ah, tidak otomatis Maulid pun ikut sesat, karena Maulid Nabi bukan termasuk dalam salah satu kesesatan Syi’ah, sebagaimana yang telah kita sampaikan di atas bahwa masalah kita bukan pada siapa pertama kali memperingati Maulid Nabi, apa maksud para Syaikh Wahabi melemparkan tuduhan ini, mereka hanya ingin memasukkan kesan-kesan negatif dalam pelaksanaan peringatan Maulid Nabi yang agung, cukuplah bagi mereka jawaban sebagai berikut :

Jawab : Dalam catatan sejarah siapa pertama kali melaksanakan perayaan peringatan Maulid Nabi tahunan, Ada beberapa versi menurut ahli sejarah yaitu, pencetus perayaan peringatan Maulid Nabi menurut Ibnu Katsir adalah Raja Mudhaffaruddin Abu Sa’id Al-Kukburi, menurut Abu Syamah adalah Syaikh Umar bin Muhammad Al-Mulla, dan menurut Al-Muqrizi bahwa yang pertama kali mengadakan perayaan maulid Nabi adalah Syi’ah Fathimiyah, dan sebagian Wahabi beranggapan Maulid pun ikut sesat karena berasal dari Syi’ah, namun sejarah adalah sebatas sejarah, bukan sebuah dalil atau alasan untuk status hukum, dan fakta nya ada 3 versi sejarah dan bahkan lebih, tidak perlu memperdebatkan sejarah yang tidak akan ada habis nya, dan juga tidak perlu mencari tahu mana yang paling shohih antara 3 versi tersebut, karena tidak berpengaruh apa pun terhadap status hukum nanti nya, kalau pun benar Maulid berasal dari Syi’ah, itu bukan masalah yang harus soroti dan dibesar-besarkan, sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura’ (10 Muharram),

Rasulullah bertanya : “ada apa gerangan kalian berpuasa hari ini ?”

Mereka menjawab : “Hari ini adalah hari ditenggelamkan Fir’aun dan diselamatkan Nabi Musa, dan kami berpuasa di hari ini adalah karena bersyukur kepada Allah”.

Kemudian Rasulullah SAW bersabda : نحن أحق بموسى منكم “kami lebih berhak dengan Musa dari pada kalian”,

lalu Rasulullah SAW berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa hari ‘Asyura’ [HR. Imam Bukhari dan Muslim].
Demikian juga dengan Maulid Nabi, kalau pun ternyata benar Syi’ah Fathimiyah dahulu pernah memperingati Maulid Nabi, maka kita jawab kepada Wahabi bahwa “kami [Aswaja] lebih berhak dengan Nabi Muhammad SAW dari pada Syi’ah Fathimiyah”, Sebagaimana Jawaban Rasulullah kepada Yahudi di atas, Kesamaan Syari’at kita dalam puasa ‘Asyura’ adalah pada sisi benar nya, bukan pada sisi sesat nya, begitu juga kesamaan Ahlus Sunnah Waljama’ah [Aswaja] dengan Syi’ah Fathimiyah dalam perayaan Maulid Nabi adalah pada sisi benar nya bukan pada sisi sesat nya. [wallahu a’lam].

Insyaallah jawaban ini bisa mengobati hati yang masih bisa terobati, sikap terlalu benci kepada Syi’ah tidak berimbas kepada anti terhadap Maulid Nabi, tidak ada hubungan antara Maulid Nabi dengan kesesatan ajaran Syi’ah, semoga peringatan Maulid Nabi menjadi sebab kita mendapat keberkahan dan Istiqamah dalam ajaran Islam, dan tidak terpengaruh oleh isu-isu Bid’ah dan Tasyabbuh, dan semoga kita mendapat syafa’at di hari kiamat kelak nanti.

KESIMPULAN
* Mereka tidak mendapat apa pun dari tuduhan ini kecuali hanya ingin memberi kesan negatif terhadap kemualiaan Maulid Nabi SAW.
* Tuduhan mereka tidak berpengaruh apa pun terhadap status kebolehan den keagungan Maulid Nabi SAW.
* Mereka ingin mencari-cari kesalahan dalam Maulid Nabi dengan kesesatan Syi’ah, sementara tidak ada satu pun Ulama yang menyatakan termasuk dalam kesesatan Syi’ah adalah merayakan Maulid Nabi SAW.
* Sejarah Maulid Nabi berasal dari Syi’ah Fathimiyah tidak terbukti, karena ada 3 versi sejarah atau lebih.
* Puasa hari Senin adalah asal mula peringatan Maulid Nabi dan Nabi sendiri yang memperingati nya.
* Perselisihan hanyalah pada boleh atau tidak memperingati Maulid Nabi dengan cara bukan berpuasa dan bukan hari senin, dan telah dimaklumi dalil kebolehan nya.
* Maulid Nabi bukan di adopsi dari ajaran Syi’ah.

Warkop Mengucapkan “Selamat Memperingati Maulid Nabi Besar Saydina Muhammad SAW”. :mrgreen:

22 KOMENTAR

    • WAHAI SAUDARAKU KAUM WAHABI, GALILAH DG NIAT IKHLAS DIRELUNG HATIMU BILA TERBERSIK KEBENARAN NISCAYA ENGKAU DAPATKAN HIDAYAH ILMU YG BERMANFAAT.

      ORANG YG SUKA MENCACI SESAMA ORANG YG BERSAKSI TIADA TUHAN SELAIN ALLAH DAN MUHAMMAD UTUSAN ALLAH BILA DILAKUKAN TERUS MENERUS HATINYA SEMAKIN KERAS, TELINGANYA DUNGU DAN MATA NYA PUN BUTA.

      MUHAMMAD SAW ADALAH RAHMAT YG BESAR SALAHKAH BILA MUSLIM MENGENANGNYA, MENDENGARKAN ,BERSHOLAWAT , MENGASIHI SESAMANYA
      LEWAT PERINGATAN MAULUD.

      JANGAN LIHAT BAJUNYA SAUDARAKU, TELAAHLAH ESENSI MAULUD .
      HANYA PENGIKUT IBLIS SAJA YG TDK SUKA SHOLAWAT, DZIKIR, SEDEKAH,BERKUMPUL BERSAMA YG DIBUNGKUS DG NAMA MAULUD.

  1. @ADMIN
    Kami berselancar ke web SALAFI WAHABI
    tp bila kami ingin berkomentar sulit sekali,ada apa ini.
    bagaimanakah caranya mbah?

    LANJUTKAN TERUS ARTIKEL2 MBAH. SEMOGA ALLAH SWT MERIDLOIMU.

  2. Pertama: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menjadikan dalil-dalil / sabda-sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai dalil untuk bersama-sama merayakan bermaulid dengan para sahabatnya.

    Kedua: Benar, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa pada hari Senin yang berulang setiap bulan sebanyak empat kali. Akan tetapi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah berpuasa pada tanggal kelahiran beliau, yaitu 12 Rabi’ul Awwal yang berulang satu tahun sekali -(Itupun tidak ada kepastian tanggal kelahiran beliau)-.

    Ketiga, Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga tidak pernah mengkhususkan mengerjakan amalan-amalan tertentu pada tanggal kelahirannya setiap tahunnya. Ini adalah bukti yang menunjukkan bahwa beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah menganggap tanggal kelahiran beliau lebih utama daripada yang lainnya. [Lihat ar-Raddul Qowy h. 61-62]

    Keempat, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengkhususkan berpuasa hanya pada hari Senin saja akan tetapi beliau juga berpuasa pada hari Kamis, sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah r secara marfu‘: “Amalan-amalan disodorkan setiap hari Senin dan Kamis, maka aku senang jika amalanku disodorkan sedang saya dalam keadaan berpuasa”. [HR. at-Tirmidzy no. 747,dishahihkan al-Albany dalam al-Irwa` no. 949]
    Jadi, berdalilkan dengan puasa hari Senin untuk membolehkan perayaan Maulid adalah puncak takalluf (pemaksaan) dan pendapat yang sangat jauh dari kebenaran.

    Kelima, Jika yang diinginkan dari perayaan maulid adalah sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah Ta’ala atas nikmat kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , maka yang lebih masuk akal adalah kalau pelaksanaan kesyukuran tersebut sesuai dengan pelaksanaan kesyukuran Nabi  atasnya, yakni dengan berpuasa. Oleh karena itu, hendaknya kita berpuasa sebagaimana beliau berpuasa, yaitu berpuasa pada hari Senin sebagaimana Nabi . Bukan malah dengan makan-makan, menghambur-hamburkan uang untuk acara seremonial, atraksi dan yang semisalnya.

    Kalaupun kita berpuasa tepat pada 12 Rabi’ul Awwal -kalaupun ini kita anggap pendapat yang paling benar tentang hari lahir beliau-, maka ini juga tidak disyari’atkan karena tak ada dalil yang mengkhususkannya untuk berpuasa, yang ada hanyalah berpuasa pada hari Senin dan Kamis.

    • Pertama: Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menjadikan dalil-dalil / sabda-sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai dalil untuk bersama-sama merayakan bermaulid dengan para sahabatnya.
      _________________________________________________________

      Kalo nulis mbok dipikir dulu, hihihihihihihi

  3. Jika Perayaan Maulid (=peringatan kelahiran=ulang tahun) Nabi Bid’ah, maka semua perayaan maulid=Ulang Tahun juga bid’ah,..jika diperluas maka Mengucapkan “Met Ultah” kepada suami/istri, anak, teman, kerabat juga bid’ah. Dan Perayaan Hari Kartini (=kelahiran kartini) juga bid’ah, ikut merayakan Hari Ibu tgl.22 Des juga bid’ah (karena tgl tsb untuk maulid RA.Dewi Sartika), dan peringatan MAULID REPUBLIK INDONESIA tanggal 17 Agustus juga Bid’ah,.. artinya,.. ikut upacara, ikut perayaan, atau ikut libur tanggal 17 Agustus juga bid’ah dong,…
    Tapi aku yang gak habis pikir,.. kenapa memperingati Hari Lahir Nabi gak mau,.. sedangkan Hari Lahirnya si Utsaimin dibuat peringatan,.. lebih mulya mana utsaimin atau baginda Nabi,..??
    Aku bingung,….

  4. .
    I. Yang Pertama Kali Merayakannya.
    Syaikh Abdullah bin Abdil Aziz At-Tuwaijiry -hafizhohullah- berkata, “Yang pertama kali memunculkan bid’ah ini adalah Bani ‘Ubaid Al-Qoddah yang menamakan diri dengan Al-Fathimiyyun dan menyandarkan nasab mereka kepada keturunan Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu ‘anhu-. Padahal sebenarnya, mereka adalah pendiri dakwah bathiniyah. Nenek moyang mereka Ibnu Daishon yang dikenal dengan nama Al-Qoddah, seorang budak milik Ja’far bin Muhammad Ash-Shodiq dan salah seorang pendiri mazhab bathiniah di Irak. Kemudian dia pergi ke negeri Maghrib (Maroko) mengaku sebagai keturunan ‘Uqail bin Abi Tholib. Tatkala kaum ekstrim Syi’ah-Rafidhah bergabung ke mazhabnya, diapun mengaku sebagai anak Muhammad bin Isma’il bin Ja’far Ash-Shodiq dan mereka menerima hal tersebut. Padahal Muhammad bin Isma’il meninggal dalam keadaan tidak memiliki keturunan. Di antara yang mengikutinya adalah Hamdan Qirmith, yang (firqoh) Al-Qoromithoh disandarkan kepadanya.
    Waktu terus berjalan hingga muncul dari kalangan mereka seseorang yang bernama Sa’id bin Al-Husain bin Ahmad bin Abdillah bin Maimun bin Daishon Al-Qoddah, yang kemudian mengubah nama dan nasabnya. Dia berkata kepada pengikutnya, “Saya adalah ‘Ubaidullah [Para pengikutnya kemudian dikenal dengan nama Al-‘Ubaidiyyun (pengikut Ubaidullah)] bin Al-Hasan bin Muhammad bin Isma’il bin Ja’far Ash-Shodiq” sehingga meluaslah fitnah (malapetaka)nya di Maghrib” [Al-Bida’ Al-Hauliyyah hal. 137-139].
    Berikut perkataan beberapa ulama dalam mengingkari penisbahan mereka kepada ahlil bait (keturunan Rasulullah):
    Ibnu Khallikan -rahimahullah- berkata sebagaimana dalam Al-Bida’ Al-Hauliyyah, hal. 139, “Pakar ilmu nasab dari kalangan muhaqqiqin mengingkari pengakuan dia (Ubaidullah) kepada nasab (ahlil bait) tersebut”.
    Ibnu Katsir -rahimahullah- berkata, “Sesungguhnya pemerintahan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun yang bernisbah kepada Ubaidillah bin Maimun Al-Qoddah, seorang Yahudi yang memerintah di Mesir dari tahun 357 – 567 H, mereka memunculkan banyak hari-hari raya. Di antaranya perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-” [Al-Bidayah 11/127].
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- berkata dalam Majmu’ Al-Fatawa (35/120), “Telah diketahui bahwa jumhur (kebanyakan) manusia mengingkari penisbahan mereka serta mereka (jumhur) menyebutkan bahwa mereka (Al-Ubaidiyyun) merupakan anak keturunan Majusi atau yahudi. Perkara ini masyhur berdasarkan persaksian para ulama dari berbagai kelompok ; Al-Hanafiah, Al-Malikiah, Asy-Syafi’iyyah, Al-Hanabilah, Ahlil Hadits, Ahlil kalam, pakar nasab, orang awwam dan selain mereka”.
    Pada tempat lain (25/120-132) beliau menyebutkan beberapa ulama yang lain seperti :
    Ibnul Atsir Al-Maushily dalam Tarikhnya, beliau menyebutkan sesuatu yang ditulis oleh para ulama kaum muslimin dalam tulisan-tulisan mereka langsung dalam mengkritik penisbahan mereka.
    Ibnul Jauzy.
    Abu Syamah dalam kitabnya Al-Ba’its ‘ala Inkaril Bida’ wal Hawadits.
    Al-Qodhy Abu Bakr Muhammad bin Ath-Thoyyib Al-Baqillany dalam kitab beliau yang masyhur yang berjudul Kasyful Asrar wa Hatkul Astar. Dia menyebutkan bahwa mereka adalah dari keturunan Majusi.
    Al-Qodhy Abu Ya’la Muhammad bin Al-Husain Al-Farra`, seorang ulama’ Al-Hanabilah dalam kitab beliau Al-Mu’tamad.
    Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghozaly dalam kitab beliau yang berjudul Fadho`ilul Mustazhharoh wa Fadho`ihul Bathiniyyah.
    Al-Qodhy Abdul Jabbar bin Ahmad Al-Hamadzany dan yang semisal dengannya dari kalangan ahli kalam Mu’tazilah.
    Kemudian, bid’ah perayaan hari lahir (ulang tahun) secara umum serta perayaan hari lahir Nabi (maulid) secara khusus, tidaklah muncul kecuali pada zaman Al-Ubaidiyyun pada tahun 362 H. Tidak ada seorangpun yang mendahului mereka dalam merayakan maulid ini.
    Taqiyyuddin Al-Maqrizy -rahimahullah- berkata dalam Al-Mawa’izh wal I’tibar bi Dzikril Khuthoth wal Atsar (1/490) di bawah judul ‘Penyebutan Hari-Hari yang Dijadikan Sebagai Hari Raya oleh Khilafah Al-Fathimiyyun…’, “Khilafah Al-Fathimiyyun sepanjang tahun memiliki beberapa hari raya dan hari peringatan, yaitu : Perayaan akhir tahun, perayaan awal tahun (tahun baru), hari ‘Asyura`, perayaan maulid (hari lahir) Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam-, maulid Ali, maulid Al-Hasan, maulid Al-Husain, maulid Fathimah -radhiyallahu ‘anhum-, perayaan maulid (ulang tahun) khalifah saat itu, perayaan malam pertama dan pertengahan bulan Rajab, malam pertama serta pertengahan dari bulan Sya’ban, …”.
    Juga telah berlalu keterangan dari Ibnu Katsir -rahimahullah- dalam masalah ini ketika beliau mengingkari penisbahan mereka (Al-Ubaidiyyun) kepada ahlil bait.
    Maka hal ini merupakan persaksian yang sangat jelas dan gamblang dari beliau berdua -padahal Al-Maqrizy adalah termasuk para ulama yang menetapkan dan membela penisbahan mereka kepada keturunan Ali bin Abi Tholib- bahwa Al-Ubaidiyyun adalah sebab turunnya musibah ini (perayaan bid’ah maulid) atas kaum muslimin serta merekalah yang membuka pintu-pintu perayaan bid’ah dengan berbagai macam bentuknya.
    Pendapat ini (bahwa yang memulai perayaan maulid adalah Al-Bathiniyyah) telah dikuatkan oleh sejumlah ulama belakangan. Berikut nama-nama beserta perkataan mereka:
    Mufti Negeri Mesir, Syaikh Muhammad bin Bukhoith Al-Muthi’iy -rahimahullah- berkata, “Termasuk perkara-perkara yang baru muncul dan banyak pertanyaaan tentangnya adalah masalah perayaan-perayaan maulid (ulang tahun). Maka kami katakan bahwa sesungguhnya yang pertama kali memunculkannya di Qohirah (baca: Kairo) adalah khilafah Al-Fathimiyyun dan yang pertama kali dari kalangan mereka adalah orang yang bernama Al-Mu’izz Lidinillah …” [Ahsanul Kalam fii ma Tata’allaqu bis Sunnah wal Bid’ah minal Ahkam hal. 44].
    Syaikh Muhammad Hamid Al-Faqy -rahimahullah- berkata dalam ta’liq (komentar) beliau terhadap kitab Syaikhul Islam Al-Iqtidho`, hal.294, “… bahkan tidak ada yang memunculkan hari-hari raya kesyirikan ini kecuali Al-‘Ubaidiyyun yang ummat telah bersepakat akan kemunafikan mereka dan bahwa mereka lebih kafir daripada Yahudi dan Nasrani dan bahwa mereka adalah musibah atas kaum muslimin. Kaum muslimin menyimpang dari jalan yang lurus lewat tangan-tangan, dan susupan-susupan mereka serta sesuatu yang mereka masukkan ke dalam ummat ini berupa racun-racun Shufiyah (tashowwuf) yang busuk”.
    Syaikh Muqbil bin Hady –rahimahullah-, Syaikh Ahmad An-Najmy, dan Syaikh Sholih Al-Fauzan -hafizhohumallah- juga menetapkan hal yang sama sebagaimana akan datang perkataan mereka pada bab ketiga belas ketika menyebutkan perkataan para ulama tentang bid’ahnya perayaan maulid.
    Syaikh ‘Uqail bin Muhammad bin Zaid Al-Maqthiry Al-Yamany berkata, “Yang pertama kali memunculkannya -yaitu perayaan maulid- di Kairo adalah Al-Mu’izz Lidinillah Al-Fathimy pada tahun 362 H dan terus berlangsung sampai dihapuskan oleh Al-Afdhol, Panglima pasukan perang Badrul Jamaly pada tahun 488 H pada zaman pemerintahan Al-Musta’ly Billah. Tatkala khilafah Al-Amir bi Ahkamillah bin Al-Musta’ly berkuasa pada tahun 495 H, perayaan maulidpun kembali dirayakan” [Al-Maurid fii Hukmil Ihtifal bil Maulid hal 8-9].
    Nampak dari nukilan-nukilan tadi bahwa yang pertama kali mengerjakan amalan bid’ah ini (perayaan maulid) adalah Al-Ubaidiyyun alias Al-Fathimiyyun yang bermazhab bathiniyah. Mereka ini ingin mengubah agama kaum muslimin, memasukkan ke dalam agama Islam sesuatu yang bukan darinya, dan menjauhkan kaum muslimin dari agamanya yang sebenarnya. Karena menyibukkan manusia dengan melakukan berbagai amalan bid’ah adalah cara termudah untuk mematikan sunnah Nabi -Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- yang suci dan menjauhkan manusia dari syari’at Allah -Subhanahu wa Ta’ala- yang penuh dengan kemudahan.
    Adapun yang dinukil dari sekelompok ulama seperti Ibnu Katsir, Ibnu Khallikan, dan As-Suyuthy dan diikuti oleh beberapa ulama belakangan seperti Syaikh Muhammad bin Ibrahim Alu Asy-Syaikh dan Syaikh Hamud At-Tuwaijiry bahwa yang pertama kali merayakan maulid Nabi adalah raja Irbil Muzhoffaruddin Abu Sa’id Al-Kaukabury bin Abil Hasan Ali bin Bakatkin di akhir abad keenam atau awal abad ketujuh Hijriah, maka pernyataan mereka ini dibawa (baca: diarahkan maknanya) kepada perkataan Abu Syamah Abdurrahman bin Isma‘il Al-Maqdisy dalam kitabnya Al-Ba’its ‘ala Ingkaril Bida’ wal Hawadits hal. 31 ketika beliau berkata, “Sesungguhnya yang pertama kali merayakannya di Maushil adalah Syaikh Umar bin Muhammad Al-Mulla, salah seorang dari kalangan orang sholeh yang terkenal [Amalan orang yang dianggap sholeh ini menunjukkan kebodohan dia terhadap sunnah Nabinya -Shollallahu alaihi wasallam-. Demikianlah keadaan kebanyakan bid’ah, setan masukkannya ke dalam Islam dengan perantaraan orang-orang yang dianggap sholih, akan tetapi bodoh dan berpaling dari mempelajari agama Allah -Subhanahu wa Ta’ala-, Wallahul Musta’an], yang kemudian diikuti (dalam merayakannya) oleh raja Irbil”.
    Maka kita lihat, apa yang beliau sebutkan tentang orang yang pertama kali merayakannya hanya terbatas di negeri Maushil. Ini tidaklah menunjukkan bahwa yang pertama kali merayakannya secara mutlak adalah raja Irbil, karena telah berlalu bahwa yang pertama kali merayakannya adalah Al-Fathimiyyun dari kalangan Al-Bathiniyyah. Sehingga dengan demikian, pernyataan yang dinukil dari Ibnu Katsir dan yang mengikuti beliau ini tidaklah bertentangan dengan pembahasan yang telah kami terangkan di atas.
    Termasuk perkara yang menguatkan bahwa Al-Ubaidiyyun Al-Fathimiyyun Al-Bathiniyyun telah mendahului raja Irbil dalam merayakan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- adalah bahwa Al-Mu’izz Lidinillah yang bernama Ma’ad bin Abdillah Al-Fathimy datang ke Qohirah pada bulan Romadhon tahun 362 H. Sedang tahun itu merupakan awal pemerintahan mereka (Al-Fathimiyyun) di Mesir. Khalifah yang terakhir dari mereka adalah Al-‘Adhid Abdullah bin Yusuf, meninggal pada tahun 567 H. Adapun Muzhoffaruddin -Raja Irbil-, maka dia dilahirkan pada tahun 549 H dan meninggal tahun 630 H. Jadi, ini merupakan bukti nyata bahwa raja Irbil telah didahului oleh Al-Ubaidiyyun dalam merayakan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- sekitar 2 abad sebelumnya, wallahu A’lam.
    Untuk lebih memperjelas masalah, berikut kami sebutkan beberapa pemikiran bathiniyah beserta nukilkan beberapa komentar ulama tentang kebejatan mereka terhadap Islam dan kaum muslimin, yang mana pada gilirannya hal ini akan mengungkap hakekat dari perayaan maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- yang mereka munculkan:
    Mereka meyakini bahwa Ali bin Abi Tholib adalah sembahan selain Allah -Subhanahu wa Ta’ala-.
    Mereka melakukan tahrif ma’nawy (penyelewengan makna) terhadap ayat-ayat Allah -Subhanahu wa Ta’ala- (memalingkan makna ayat dari makna sebenarnya yang zhohir kepada makna yang tidak masuk akal, yang mereka anggap sebagai batin ayat tersebut). Ini merupakan sejelek-jelek tahrif. Contohnya mereka menafsirkan ayat:
    “Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa”. (QS. Al-Lahab : 1)
    Mereka menafsirkan ‘dua tangan’ yaitu Abu Bakar dan Umar -radhiyallahu ‘anhuma-.
    Mereka berkeyakinan bahwa semua syari’at dan aturan dalam Islam memiliki zhohir dan batin. Yang zhohir -menurut mereka- adalah kaifiyat/cara yang diamalkan oleh kaum muslimin pada umumnya. Sedangkan yang batin adalah suatu cara yang hanya diketahui oleh kalangan mereka sendiri dan hanya boleh diamalkan oleh orang-orang khusus yaitu mereka. Contohnya sholat lima waktu; zhohirnya adalah dengan mengerjakan sholat, sedangkan batinnya -dan hanya ini yang mereka amalkan- adalah mengetahui rahasia-rahasia mazhab mereka. Jadi, siapa yang telah mengetahui rahasia-rahasia tersebut, maka dia sudah dianggap melaksanakan sholat walaupun tidak melakukan gerakan-gerakan sholat. Puasa batinnya adalah menyembunyikankan rahasia-rahasia kelompok mereka. Batinnya ibadah haji -menurut mereka- adalah menziarahi kuburan guru-guru mereka, dan seterusnya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, maka apakah masih ada ajaran agama yang tersisa dengan keyakinan mereka ini ?!.
    Ibnu Katsir -rahimahullah- menyebutkan dalam Al-Bidayah wan Nihayah (11/286-287) bahwa pada tahun 402 H, sejumlah ulama, para hakim, orang-orang terpandang, orang-orang yang adil, orang-orang sholeh, dan para ahli fiqh, mereka semua telah menulis sebuah tulisan yang berisi pencacatan dan celaan pada nasab keturunan Al-Fathimiyyun Al-Ubaidiyyun. Mereka menyebutkan dalam tulisan tersebut beberapa pemikiran sesat mereka, di antaranya: Mereka telah menelantarkan aturan-aturan, menghalalkan kemaluan (zina), menghalalkan khomer, menumpahkan darah, mencerca para nabi, melaknat Salaf (para sahabat Rasulullah -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- dan pengikutnya) serta mereka mengaku bahwa guru-guru mereka memiliki sifat-sifat ketuhanan.
    Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah -rahimahullah- pernah ditanya tentang mereka. Beliau menjawab bahwa mereka adalah termasuk manusia yang paling fasik dan yang paling kafir, dan bahwa siapa saja yang mempersaksikan keimanan dan ketakwaan bagi mereka serta (mempersaksikan) benarnya nasab keturunan mereka (kepada Ali bin Abi Tholib) maka sungguh dia telah mempersaksikan untuk mereka dengan perkara-perkara yang dia sendiri tidak mengetahuinya. Padahal Allah -Ta’ala- telah berfirman:
    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya”. (QS. Al-Isra` : 36)
    Dan Allah -Ta’ala- berfirman:
    “… Kecuali orang-orang yang bersaksi dalam keadaan mereka mengetahui (apa yang mereka persaksikan)”. (QS. Az-Zukhruf : 86)” [Majmu’ Al-Fatawa (22/120)].
    Dari seluruh keterangan-keterangan di atas, telah nampak jelas bagi setiap orang yang menginginkan kebenaran bahwa perayaan hari maulid (ulang tahun) secara umum dan maulid Nabi Muhammad -Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam- secara khusus bukanlah termasuk bagian dari ajaran Islam sama sekali. Hal ini kita bisa tinjau dari tiga sisi:
    Perayaan maulid Nabi setiap tanggal 12 Rabi’ul Awwal sama sekali tidak memiliki landasan sejarah yang kuat sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Humaid dan Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin -rahimahumallahu Ta’ala- [Telah berlalu pernyataan kedua ulama ini ketika membawakan pendapat-pendapat dan khilaf para ulama seputar tanggal kelahiran Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-]. Jadi, bagaimana bisa dikatakan perayaan ini memiliki landasan/asal dari syari’at Islam ?!
    Perayaan Maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ini tidaklah muncul kecuali setelah berakhirnya zaman-zaman keutamaan (zaman para sahabat, tabi’in, dan yang mengikuti mereka). Maulid tidaklah pernah dikerjakan oleh para sahabat, tidak pula para tabi’in, serta tidak juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik sebagaimana yang akan kami pertegas pada bab ketiga belas dalam buku ini.
    Sesungguhnya yang pertama kali memunculkan bid’ah maulid Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam- ini adalah suatu kaum yang disepakati oleh seluruh ulama Islam tentang kekafiran dan kemunafikan mereka. Mereka adalah Al-Bathiniyyah yang ingin mengubah agama kaum muslimin dan memasukkan ke dalamnya perkara-perkara yang tidak termasuk dalam agama mereka.
    {Rujukan: Al-Qaulul Fashl fii Hukmil Ihtifal bi Maulidi Khairir Rasul hal. 64-72, Al-Maurid fii Hukmil Ihtifal bil Maulid hal. 7-9 dan Al-Bida’ Al-Hauliyah hal. 137-151}

    S

  5. Alhamdulillah hamdan katsiron thoyyiban mubarokan fih kamaa yuhibbu Robbuna wa yardho, wa asyhadu alla ilaha illallah wahdahu laa syarika lah wa asy-hadu anna Muhammadan ‘abduhu wa rosuluh. Allahumma sholli ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

    Saudaraku yang semoga selalu mendapatkan taufik Allah Ta’ala. Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi, tidak ada Nabi lagi sesudah beliau. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki kedudukan yang mulia dengan syafa’at al ‘uzhma pada hari kiamat kelak. Itulah di antara keistimewaan Abul Qosim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seorang muslim punya kewajiban mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari makhluk lainnya. Inilah landasan pokok iman.

    Engkau Harus Mencintai Nabimu

    Saudaraku, itulah yang harus dimiliki setiap muslim yaitu hendaklah Nabinya lebih dia cintai dari makhluk lainnya. Mari kita simak bersama firman Allah Ta’ala,

    قُلْ إِنْ كَانَ آَبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

    “Katakanlah: ‘Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.’ Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” (Qs. At Taubah: 24)

    Ibnu Katsir mengatakan, “Jika semua hal-hal tadi lebih dicintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta berjihad di jalan Allah, maka tunggulah musibah dan malapetaka yang akan menimpa kalian.” (Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 4/124)

    Ancaman keras inilah yang menunjukkan bahwa mencintai Rasul dari makhluk lainnya adalah wajib. Bahkan tidak boleh seseorang mencintai dirinya hingga melebihi kecintaan pada nabinya.

    ‘Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau memegang tangan Umar bin Khaththab –radiyallahu ‘anhu-. Lalu Umar –radhiyallahu ‘anhu- berkata,

    لأنت أحب إلي من كل شيء إلا من نفسي

    “Ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali terhadap diriku sendiri.”

    Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

    لا والذي نفسي بيده حتى أكون أحب إليك من نفسك

    “Tidak, demi yang jiwaku berada di tangan-Nya (imanmu belum sempurna). Tetapi aku harus lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri.”

    Kemudian ‘Umar berkata,

    فإنه الآن والله لأنت أحب إلي من نفسي

    “Sekarang, demi Allah. Engkau (Rasulullah) lebih aku cintai daripada diriku sendiri.”

    Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,

    الآن يا عمر

    “Saat ini pula wahai Umar, (imanmu telah sempurna).” (HR. Bukhari) [Bukhari: 86-Kitabul Iman wan Nudzur, 2 – Bab Bagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersumpah]

    Al Bukhari membawakan dalam kitabnya: Bab Mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah bagian dari iman. An Nawawi membawakan dalam Shahih Muslim: Bab-Wajibnya Mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih dari kecintaan pada keluarga, anak, orang tua, dan manusia seluruhnya. Dalam bab tersebut, Anas bin Malik mengatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

    لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

    “Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

    Semua Cinta Butuh Bukti

    Cinta bukanlah hanya klaim semata. Semua cinta harus dengan bukti. Di antara bentuk cinta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ittiba’ (mengikuti), taat dan berpegang teguh pada petunjuknya. Karena ingatlah, ketaatan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah buah dari kecintaan.

    Penyair Arab mengatakan:

    لَوْ كَانَ حُبُّكَ صَادِقاً لَأَطَعْتَهُ
    إِنَّ المُحِبَّ لِمَنْ يُحِبُّ مُطِيْعٌ

    Sekiranya cintamu itu benar niscaya engkau akan mentaatinya
    Karena orang yang mencintai tentu akan mentaati orang yang dicintainya

    Cinta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukanlah dengan melatunkan nasyid atau pun sya’ir yang indah, namun enggan mengikuti sunnah beliau. Hakikat cinta pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah dengan mengikuti (ittiba’) setiap ajarannya dan mentaatinya. Semakin seseorang mencintai Nabinya maka dia juga akan semakin mentaatinya. Dari sinilah sebagian salaf mengatakan:

    لهذا لما كَثُرَ الأدعياء طُولبوا بالبرهان ,قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ

    Tatkala banyak orang yang mengklaim mencintai Allah, mereka dituntut untuk mendatangkan bukti. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya): “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Ali Imron: 31)

    Seorang ulama mengatakan:

    لَيْسَ الشَّأْنُ أَنْ تُحِبَّ وَلَكِن الشَّأْنُ أَنْ تُحَبْ

    Yang terpenting bukanlah engkau mencintai-Nya. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa dicintai-Nya.

    Yang terpenting bukanlah engkau mencintai Nabimu. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa mendapatkan cinta nabimu. Begitu pula, yang terpenting bukanlah engkau mencintai Allah. Namun yang terpenting adalah bagaimana engkau bisa dicintai-Nya. (Lihat Syarh ‘Aqidah Ath Thohawiyah, 20/2)

    Allah sendiri telah menjelaskan bahwa siapa pun yang mentaati Rasul-Nya berarti dia telah mentaati-Nya. Allah Ta’ala berfirman,

    مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ تَوَلَّى فَمَا أَرْسَلْنَاكَ عَلَيْهِمْ حَفِيظًا

    “Barangsiapa yang mentaati Rasul, sesungguhnya ia telah mentaati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (Qs. An-Nisa’: 80)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada ajarannya. Sebagaimana hal ini terdapat dalam hadits,

    فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

    “Berpegangteguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban. At Tirmidizi mengatakan hadits ini hasan shohih. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini shohih. Lihat Shohih At Targhib wa At Tarhib no. 37)

    Salah seorang khulafa’ur rosyidin dan manusia terbaik setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu Abu Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

    لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ إِنِّي أَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيْغَ

    “Tidaklah aku biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam amalkan kecuali aku mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang.” (HR. Abu Daud no. 2970. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa atsar ini shohih)

    Itulah saudaraku di antara bukti seseorang mencintai nabinya –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yaitu dengan mentaati, mengikuti dan meneladani setiap ajarannya.

    Kebalikan Cinta

    Dari penjelasan di atas terlihat bahwa di antara bukti cinta adalah mentaati dan ittiba’ pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berarti kebalikan dari hal ini adalah enggan mentaatinya dan melakukan suatu ibadah yang tidak ada ajarannya. Karena sebagaimana telah kami jelaskan di muka bahwa setiap orang pasti akan mentaati dan mengikuti orang yang dicintai.

    Dari sini berarti setiap orang yang melakukan suatu ajaran yang tidak ada tuntunan dari Nabinya dan membuat-buat ajaran baru yang tidak ada asal usulnya dari beliau, walaupun dengan berniat baik dan ikhlash karena Allah Ta’ala, maka ungkapan cinta Nabi pada dirinya patut dipertanyakan. Karena ingatlah di samping niat baik, seseorang harus mendasari setiap ibadah yang dia lakukan dengan selalu mengikuti tuntunan Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Itulah yang engkau harus pahami saudaraku, sebagaimana engkau akan mendapati hal ini dalam perkataan Al Fudhail berikut.

    Al Fudhail bin ‘Iyadh tatkala berkata mengenai firman Allah,

    لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

    “Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk [67]: 2), beliau mengatakan, “Yaitu amalan yang paling ikhlas dan showab (sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam).”

    Lalu Al Fudhail berkata, “Apabila amal dilakukan dengan ikhlas namun tidak mencocoki ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, amalan tersebut tidak akan diterima. Begitu pula, apabila suatu amalan dilakukan mengikuti ajaran beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak ikhlas, amalan tersebut juga tidak akan diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, hal. 19)

    Perkataan Fudhail di atas memiliki dasar dari sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no. 1718)

    Itulah saudaraku yang dikenal dengan istilah bid’ah. Amalan apa saja yang tidak mengikuti tuntunan beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tertolak, walaupun yang melakukan berniat baik atau ikhlash. Karena niat baik semata tidaklah cukup, sampai amalan seseorang dibarengi dengan megikuti tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Setelah kita mengetahui muqodimah di atas, sekarang kita akan menelusuri lebih jauh, apakah betul cinta Nabi harus dibuktikan dengan mengenang hari kelahiran beliau dalam acara maulid Nabi sebagaimana yang dilakukan sebagian kaum muslimin? JAWAB DENGAN KEJUJURAN BUKAN DENGAN HAWA NAFSU.

    • Setelah kita mengetahui muqodimah di atas, sekarang kita akan menelusuri lebih jauh, apakah betul cinta Nabi harus dibuktikan dengan mengenang hari kelahiran beliau dalam acara maulid Nabi sebagaimana yang dilakukan sebagian kaum muslimin? JAWAB DENGAN KEJUJURAN BUKAN DENGAN HAWA NAFSU.
      _________________________________________________________________________________________________________________________________________

      Tidak harus, tapi Maulid adalah salah satu diantara beberapa cara untuk mengungkapkan Cinta

  6. 1.bacaan sholawat ada yg cukup membaca hanya karena syariat
    2.ada membaca dengan penuh rasa cinta kepada rosulullah
    3.ada yg membaca sholawat benar2 menceintai rosulullah
    lha kira kira2 membaca sholawat yg mana yg kita lakukan

  7. Kenapa banyak diantara saudaraku selalu mengatakan wahabi kasar,tetapi setelah saya baca komentar saudaraku, rasanya kok kalianlah kasar,menyalahkan dengan penuh emosi

  8. bukhari pada 3 April, 2012, 4:19

    Kenapa banyak diantara saudaraku selalu mengatakan wahabi kasar,tetapi setelah saya baca komentar saudaraku, rasanya kok kalianlah kasar,menyalahkan dengan penuh emosi

    —————————————————————
    @bukhori : Sabar Mas….
    Kalian me-refer ke siapa yah? karena yang kata2nya paling kasar diantara komentator adalah mas bukhori sendiri loh.

  9. ana sih apa yg tdk dilakukan Nabi,tdk dilakukan para sahabat,tdak akan ana buat dan lakukan apapun itu.islam datang dari ALLAH melalui Rosul Muhammad,dan sudah sangat sempurna sehingga tdk perlu ditambah tambahi lagi ,kita tinggal mencontoh bagaimana Rosul dan para sahabat menjalankannya karena Rosul dipelihara oleh Allah sendiri, jika emang maulid itu perlu dan bagus pasti para sahabat yg selalu beribadah sesuai ajaran Rosul melakukan juga karena para sahabat pasti ingin menjadi muslim yg baik. Apabila kita melakukan sesuatu yg tdk ada dalilnya,seharusnya kita merasa malu karena siapa kita sampai merasa lebih baik dari rosul dan para sahabat shg berani menyelisihi ajaran yg langsung diturunkan oleh ALLAh kepada hambaNya yg paling dipercaya yg bergelar Al’amin dan berarti tdk perlu diragukan keaabsahan ajarannya ana yakin ini pasti digaransi oleh ALLAh sendiri. apa kita sudah merasa lebih baik dari para sahabat atau pun dari Rosul sendiri atau menganggap Allah kurang mengajar rosul untuk melakukan maulidnya.ingat wahai saudara muslimku jika kita tidak menyelisihi Rosul dan Alqur’an Nur Karim. maka didunia ini cuma ada satu ISLAM. jangan takabur atau menuruti hawa napsu kita.Barakallahu fikum.

  10. Mengingatkan sesuatu ibadah itu bidah bukan berarti mengkafirkan si pelaku.Belum pernah aku baca artikel yg mangatakan pelaku bidah itu kafir.Kalau sudah tahu bahwa Rosulullah berpuasa hari senin karena hari itu hari kelahiranya kenapa nggak kita ikuti saja.

  11. q puyeng sendiri dngan smuanya…g da yg jels arahnya…
    bid’ah di atas bid’ah adlah mengangap agama adalah yg sesuai dgn kefahamannya sendiri….dan yg lain salah serta bila ga cocok dengan apa yg di fahami sesat kafir bukan agama …wkwkwkwk

  12. Tidak diragukan lagi bahwa melaksanakan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah perkara yang tidak dikenal oleh para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali bin Abi Tholib tidak pernah merayakannya, bahkan tidak seorang sahabatpun. Padahal kecintaan mereka kepada Nabi sangatlah besar…mereka rela mengorbankan harta bahkan nyawa mereka demi menunjukkan cinta mereka kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Demikian pula tidak diragukan lagi bahwasanya para imam 4 madzhab (Al-Imam Abu Hanifah, Al-Imam Malik, Al-Imam As-Syafi’i, dan Al-Imam Ahmad) juga sama sekali tidak diriwayatkan bahwa mereka pernah sekalipun melakukan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Karenanya sungguh aneh jika kemudian di zaman sekarang ini ada yang berani menyatakan bahwa maulid Nabi adalah sunnah, bahkan sunnah mu’akkadah??!! (Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang tokoh sufi Habib Ali Al-Jufri, ia berkata, “Maulid adalah sunnah mu’akkadah, kita tidak mengatakan mubah (boleh) bahkan sunnah mu’akkadah, silahkan lihat di https://www.youtube.com/watch?v=q8S5hoERnsc)

    Tentu hal ini menunjukkan kejahilan Habib Al-Jufri, karena sunnah mu’akkadah menurut ahli fikih adalah : sunnah yang dikerjakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan ditekankan oleh Nabi serta dikerjakan oleh Nabi secara kontinyu, seperti sholat witir dan sholat sunnah dua raka’at sebelum sholat subuh. Jangankan merayakan maulid berulang-ulang, sekali saja tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    Pernyataan bahwa perayaan maulid Nabi adalah sunnah mu’akkadah melazimkan kelaziman-kelaziman yang buruk, diantaranya :

    Pertama : Perayaan maulid Nabi termasuk dari bagian agama yang dengan bagian tersebut maka Allah menyempurnakan agamaNya. Jika ternyata perayaan maulid Nabi baru muncul ratusan tahun setelah wafatnya Nabi, menunjukkan bahwa kesempurnaan agama baru sempurna ratusan tahun setelah wafatnya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

    Kedua : Berarti Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam dan para sahabatnya, bahkan para tabi’in dan juga para imam 4 madzhab semuanya telah meninggalkan sunnah mu’akkadah yang sangat penting ini !!!, padahal mereka begitu terkenal sangat bersemangat dalam beribadah !!?

    Ketiga : Hal ini juga melazimkan bahwa orang-orang yang merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melakukan amalan sunnah mu’akkadah dan juga telah meraih pahala yang terluputkan oleh Nabi, para sahabat, dan para imam madzhab.

    (silahkan baca kembali “DIALOG ASWAJA – SYIAH vs WAHABI tentang BID’AH HASANAH”)

    Diantara perkara yang menunjukkan bid’ahnya perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ternyata banyak kemungkaran-kemungkaran yang terjadi dalam perayaan maulid.

    Karenanya tatkala ada sebagian ulama yang membolehkan perayaan maulid maka mereka menyebutkan cara perayaan yang benar, dan mereka mengingkari tata cara perayaan yang berisi banyak kemungkaran.

    Diantara para ulama yang mengingkari kemungkaran-kemungkaran yang terjadi di perayaan maulid adalah Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah pendiri N.U. Bahkan beliau rahimahullah telah menulis sebuah risalah yang berjudul

    التَّنْبِيْهَاتُ الْوَاجِبَاتُ لِمَنْ يَصْنَعُ الْمَوْلِدَ بِالْمُنْكَرَاتِ

    (Peringatan-peringatan yang wajib terhadap orang-orang yang merayakan maulid Nabi dengan kemungkaran)

    Meskipun Kiyai Muhammad Hasyim al-Asy’ari membolehkan merayakan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi beliau meletakkan aturan-aturan dalam perayan maulid tersebut.

    Beliau sungguh terkejut tatkala melihat orang-orang yang merayakan maulid Nabi telah melakukan kemungkaran-kemungkaran dalam perayaan tersebut, sehingga mendorong beliau untuk menulis risalah ini sebagai bentuk bernahi mungkar.

    Beliau berkata di awal risalah beliau ini :

    “Pada senin malam tanggal 25 Robi’ul awwal 1355 Hijriyah, sungguh aku telah melihat sebagian dari kalangan para penuntut ilmu di sebagian pondok telah melakukan perkumpulan dengan nama “Perayaan Maulid”. Mereka telah menghadirkan alat-alat musik lalu mereka membaca sedikit dari Al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang datang tentang awal sirah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tentang tanda-tanda kebesaran Allah yang terjadi tatkala maulid (kelahiran) Nabi, demikian juga sejarah beliau yang penuh keberkahan setelah itu. Setelah itu merekapun mulai melakukan kemungkaran-kemungkaran seperti saling berkelahi dan saling mendorong yang mereka namakan dengan “Pencak silat” atau “Box”, dan memukul-mukul rebana. Semua itu mereka lakukan dihadapan para wanita ajnabiah (bukan mahram mereka-pen) yang dekat posisinya dengan mereka sambil menonton mereka. Dan juga musik dan sandiwara cara kuno, dan juga permainan yang mirip dengan judi, serta bercampurnya (ikhtilatnya) para lelaki dan wanita. Juga nari-nari dan tenggelam dalam permainan dan tertawa, suara yang keras dan teriakan-teriakan di dalam mesjid dan sekitarnya. Maka akupun melarang mereka dan mengingkari perbuatan kemungkaran-kemungkaran tersebut, lalu mereka pun buyar dan pergi”

    Setelah itu Kiyai Muhammad Hasyim berkata :

    “Dan tatkala perkaranya sebagaimana yang aku sifatkan dan aku takut perbuatan yang menghinakan ini akan tersebar di banyak tempat, sehingga menjerumuskan orang-orang awam kepada kemaksiatan yang bermacam-macam, dan bisa jadi mengantarkan mereka kepada keluar dari agama Islam, maka aku menulis peringatan-peringatan ini sebagai bentuk nasehat untuk agama dan memberi pengarahan kepada kaum mulsimin. Aku berharap agar Allah menjadikan amalanku ini murni ikhlas untuk wajahNya yang mulia, sesungguhnya Ia adalah pemilik karunia yang besar” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 10)

    Tata Cara Perayaan Maulid :

    Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari rahimahullah menyebutkan tentang tata cara perayaan maulid yang dianjurkan. Beliau berkata ;

    “Dari perkataan para ulama… bahwasanya maulid yang dianjurkan oleh para ulama adalah berkumpulnya orang-orang dan membaca sebagian ayat-ayat al-Qur’an dan riwayat khabar-khabar yang menjelaskan tentang permulaan sejarah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan peristiwa-peristiwa yang terjadi tatkala Nabi dalam kandungan dan kelahirannya, demikian juga setelahnya berupa sejarah/siroh beliau yang penuh keberkahan. Setelah itu diletakkan makanan lalu mereka memakannya lalu buyar. Jika mereka menambahkan dengan memukul rebana sambil memperhatikan kesopanan dan adab maka tidak mengapa” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 10-11)

    Kemungkaran-Kemungkaran dalam Perayaan Maulid yang disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari

    Diantara kemungkaran-kemungkaran tersebut adalah :

    Pertama : Bercampurnya (ikhtilath) antara laki-laki dan perempuan

    Kedua : Diadakannya “strik” (semacam sandiwara cara kuno, wallahu a’lam, meskipun hingga saat ini penulis masih belum paham betul akan makna strik, jika ada diantara pembaca yang faham tolong memberi infonya kepada penulis)

    Ketiga : Alat-alat musik, seperti seruling dan yang lainnya. Hanyalah yang dibolehkan adalah rebana

    Keempat : Mubadzir dalam mengeluarkan harta untuk perkara yang berlebih-lebihan dan tidak bermanfaat. (Lihat At-Tanbiihaat Al-Waajibaat 38-39)

    Kelima : Joget atau tarian-tarian

    Keenam : Nyanyian

    Ketujuh : Keasikan bermain sehingga lupa dengan hari kebangkitan. (Lihat At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 21)

    Kedelapan : Jika tidak terjadi ikhtilat dan para wanita berkumpul sendirian maka ada kemungkaran-kemungkaran juga yang mereka lakukan seperti : Mengangkat suara keras-keras dalam mengucapkan selamat dan juga bergoyang-goyang dalam bernasyid, serta membaca al-Qur’an dan dzikir dengan cara membaca yang keluar dari syariat dan cara yang wajar. (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 22)

    Demikianlah beberapa kemungkaran yang disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari dalam kitabnya tersebut. Setelah itu beliau mengingatkan akan beberapa perkara:

    Pertama : Merayakan maulid dengan cara melakukan kemungkaran-kemungkaran di atas merupakan bentuk tidak beradab kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahkan merupakan bentuk perendahan dan menyakiti beliau. Orang-orang yang merayakan melakukan hal ini telah terjerumus dalam dosa yang besar yang dekat dengan kekufuran dan dikhawatirkan mereka terken suul khootimah (kematian yang buruk).

    Kalau mereka melakukan kemungkaran tersebut dengan niat merendahkan Nabi dan menghinanya maka tidak diragukan lagi akan kekufurannya. (Lihat At-Tanbiihaat al-Waajibaat hal 44-45)

    Kedua : Karenanya tidak boleh merayakan maulid yang mengantarkan kepada kemaksiatan. Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari berkata :

    فَاعْلَمْ أَنَّ عَمَلَ الْمَوْلِدِ إِذَا أَدَّى إِلَى مَعْصِيَةٍ رَاجِحَةٍ مِثْلِ الْمُنْكَرَاتِ وَجَبَ تَرْكُهُ وَحَرُمَ فِعْلُهُ

    “Ketahuilah bahwasanya perayaan maulid jika mengantarkan kepada kemaksiatan yang jelas/kuat seperti kemungkaran-kemungkaran maka wajib untuk ditinggalkan dan haram perayaan tersebut” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 19)

    Ketiga : Bahkan tidak boleh membantu terselenggarakannya perayaan maulid yang modelnya seperti ini.

    Kiyai Muhammad Hasyi Asy’ari berkata :

    وَإِنَّمَا كَانَ إِعْطَاءُ الْمَالِ لِأَجْلِهِ حَرَامًا لِأَنَّهُ إِعَانَةٌ عَلَى مَعْصِيَةٍ، وَمَنْ أَعَانَ عَلَى مَعْصِيَةٍ كَانَ شَرِيْكاً فِيْهَا، وَكَذَلِكَ يَحْرُمُ التّفَرَجُّ ُعَلَيْهِ وَالْحُضُوْرُ فِيْهِ لِأَنَّ الْقَاعِدَةَ : أَنَّ كُلَّ مَا كَانَ حَرَامًا يَحْرُمُ التَّفَرُّجُ عَلَيْهِ وَالْحُضُوْرُ فِيْهِ

    “Mengeluarkan uang untuk perayaan maulid (yang bercampur kemungkaran-kemungkaran) menjadi haram dikarenakan hal ini merupakan bentuk membantu pelaksanaan maksiat. Dan barang siapa yang membantu terselenggaranya kemaksiatan maka ia ikut serta di dalamnya. Demikian juga haram untuk menyaksikan dan hadir dalam acara tersebut, karena kaidah menyatakan : “Setiap yang haram maka haram pula menyaksikan dan hadir di dalamnya” (At-Tanbiihaat Al-Waajibaat hal 39)

    Keempat : Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari juga menyatakan bahwa seseorang yang melakukan perayaan maulid dengan melakukan kemungkaran-kemungkaran maka ia sedang bermuhaajaroh (menampakan terang-terangan) dengan kemaksiatan. (lihat At-Tanbiihaat hal 39-40)

    Kelima : Beliau juga menyatakan bahwa orang yang melakukan maulid model demikian telah memiliki sifat orang munafiq. Beliau berkata ;

    وَمِنْهَا أَنَّهُ اتِّصَافٌ بِصِفَةِ النِّفَاقِ وَهِيَ إِظْهَارُ خِلاَفِ مَا فِي الْبَاطِنِ إِذْ ظَاهِرُ حَالِهِ أَنَّهُ يَعْمَلُ الْمَوْلِدَ مَحَبَّةً وَتَكْرِيْمًا لِلرَّسُوْلِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ وَباَطِنُهُ أَنَّهُ يَجْمَعُ بِهِ الْمَلَاهِي وَيَرْتَكِبُ الْمَعَاصِي

    “Diantara kerusakan-kerusakan maulid model ini adalah pelakunya bersifat dengan sifat kemunafikan, yaitu memperlihatkan apa yang berbeda dengan di dalam hati. Karena lahiriahnya ia melaksanakan maulid karena mencintai dan memuliakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan tetapi batinnya ia mengumpulkan perkara-perkara yang melalaikan dan melakukan kemaksiatan-kemaksiatan” (At-Tanbiihaat hal 40)

    Keenam : Wajib bagi seorang alim untuk mengingkari para penuntut ilmu yang melakukan kemungkaran-kemungkaran tersebut. Karena jika didiamkan maka orang awam akan menyangka bahwa cara merayakan maulid dengan kemungkaran-kemungkaran tersebut adalah merupakan bagian dari syari’at. Padahal perkaranya adalah sebaliknya, justru mengantarkan pada penyia-nyiaan syari’at dan meninggalkannya. (lihat At-Tanbiihaat al-Waajibaat hal 40-41).

    Penutup :

    Para pembaca yang budiman, meskipun penulis memandang akan bid’ahnya maulid akan tetapi taruhlah jika penulis mengalah dan menyatakan bahwa perayaan maulid dianjurkan (sebagaimana pendapat kiyai pendiri NU) maka marilah kita melihat kenyataan yang ada…sungguh terlalu banyak perayaan maulid di negeri kita yang bercampur di dalamnya kemungkaran-kemungkaran yang telah diperingatkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari, seperti musik-musikan, nyanyian, ikhtilat lelaki dan wanita, mubadzir dalam makanan dan hias-hiasan. Lagu kasidahan yang disenandungkan oleh suaru biduan wanita disertai musik diputar bahkan di dalam mesjid??!!. Jika Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari mengingkari wanita mengangkat suaranya dalam rangka untuk mengucapkan selamat…bahkan dalam hal membaca al-Quran dengan cara yang tidak wajar, maka bagaimana lagi jika suara merdu biduan wanita lagi nyanyi kasidahan??!!

    Belum lagi kemungkaran-kemungkaran yang lebih besar yang tidak disebutkan oleh Kiyai Muhammad Hasyim Asy’ari seperti

    – Banyak pelaku maksiat (baik yang tidak pernah sholat, koruptor, bahkan pemabuk dan pezina, para artis tukang umbar aurat) begitu antusias untuk ikut andil dalam melaksanakan perayaan maulid Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka menyangka bahwa perayaan inilah sarana yang benar untuk menyalurkan dan mengungkapkan kecintaaan mereka terhadap Nabi. Akan tetapi jika mereka diajak untuk melaksanakan sunnah Nabi yang sesungguhnya maka mereka akan lari sejauh-jauhnya. Ini merupakan salah satu dampak negatif dari perayaan maulid Nabi, karena sebagian orang menjadi tidak semangat bahkan menjauh dari sunnah yang sesungguhnya karena bersandar kepada perayaan-perayaan seperti ini yang dianggap sunnah.

    – Sebagian mereka meyakini bahwa ruh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ikut hadir dalam acara maulid mereka

    – Sebagian mereka mensenandungkan bait-bait sya’ir puji-pujian terhadap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah sebagian dari sya’ir-sya’ir tersebut ada yang mengandung makna berlebih-lebihan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sebagaimana qosidah Burdah karya Al-Bushiri. Diantaranya perkataan Al-Bushiri:

    فَإِنَّ مِنْ جُوْدِكَ الدَّنُيْاَ وَضَرَّتَها وَمِنْ عُلُوْمِكَ عِلْمَ اللَّوْحِ وَالْقَلَمِ
    Sesungguhnya diantara kedermawananmu adalah dunia dan akhirat dan diantara ilmumu adalah ilmu lauhil mahfuz dan yang telah dicatat oleh pena (yang mencatat di lauhil mahfuz apa yang akan terjadi hingga hari kiamat)

    Hal ini jelas merupakan kesyirikan dan menyamakan kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan Allah. Karena hanya Allahlah yang mengetahui ilmu lauhil mahfuz, pengucap syair ini telah mengangkat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga pada derajat ketuhanan dan ini merupakan kekufuran yang nyata

TINGGALKAN KOMENTAR