“Mati Karena Bos”

“Mati Karena Bos”

BAGIKAN

Perbedaan Toleransi Agama dan Pluralisme Agama

Sauatu pagi di ruang pertemuan sebuah kantor UPTD, berkumpullah para kepala sekolah yang tergabung dalam K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah). Pertemuan pagi itu agaknya sedikit istimewa karena akan membicarakan masalah santernya berita penyelewengan dana BOS di berbagai media. Tentu saja ini menjadi semacam pertemuan yang menarik sekaligus mendebarkan bagi para kepala sekolah yang hadir saat itu. Maklumlah, di antara sekitar 30-an kepala sekolah yang hadir, lebih separuhnya pernah mencicipi manisnya gelontoran fulus konversi minyak tanah ke gas itu. Apalagi kabar anginnya kepala UPTD akan memberi tips dan trik bagaimana menghindari penyisiran dan penggeledahan KPK yang akan turun langsung ke sekolah-sekolah yang diduga kuat banyak “silumannya”. Nah…

 

 

 

Baru saja pertemuan akan dibuka, tiba-tiba seorang staf tata usaha masuk ke ruangan dengan tergesa-gesa dan menghampiri kepala UPTK yang sudah siap mau cas-cis-cus di depan mikropon. Sambil membisikkan sesuatu ke telinga bapak kepala UPTK, staf tata usaha ini pun menyerahkan selembar amplop putih berukuran agak besar. Entah apa isinya? Yang jelas, raut muka kepala UPTK nampak berubah menjadi lesu setelah menerima amplop tersebut. What happened?

 

 

 

“Innaa Lillaahi Wa Innaa Ilaihi Rooji’uun…!” Ucap kepala UPTD dengan nada suara yang datar.

 

 

 

Sontak saja kalimat yang merupakan penggalan ayat Al-Qur’an itu mengagetkan semua yang hadir. Beragam tanya berseliweran di benak para hadirin. Ada apakah gerangan? Siapa yang meninggal? Siapa yang tertimpa musibah? Atau jangan-jangan Tim Investigasi dari KPK sudah di depan pintu siap melakukan SIDAK? Gawat!

 

 

 

“Telah meninggal dunia saudara kita Bapak Drs. …(sensor) kepala sekolah SD Negeri…(sensor) pada hari ini di usianya yang ke 49 tahun,” lanjut kepala UPTD terbata-bata.

 

 

 

Aaah…lega rasanya ternyata kabar kematian toh. Kirain petugas KPK pimpinan Busyro Muqoddas sudah nongkrong di depan pintu. Demikianlah kira-kira suasana hati para kepala sekolah yang hadir kala itu. Selamat..Selamat..!

 

 

 

“Namun, ada satu pesan yang ingin disampaikan oleh keluarga almarhum kepada kita semua..” Lagi-lagi kepala UPTD melontarkan kalimat yang mengundang tanya hadirin.

 

 

 

“Bapak dan Ibu tentu melihat amplop putih yang saya pegang kan? Ketahuilah, penyebab meninggalnya saudara kita itu adalah amplop ini.” lanjutnya lagi seraya membuka isi amplop yang dipegangnya.

 

 

 

Seribu tanya dan cemas terus menghantui otak para kepala sekolah di ruangan itu. Sorot mata mereka betul-betul fokus nyaris tak berkedip tertuju pada selembar plastik hitam yang dikeluarkan dari dalam amplop. Sementara jantung mereka kian berdegup kencang. Tegang!

 

 

 

“Bapak dan Ibu…ternyata isi amplop ini adalah hasil foto rontgen dari rumah sakit. Namun, perhatikanlah baik-baik! Ada tulisan apa dalam foto ini…?

 

 

 

Serentak para kepala sekolah bergeming dari tempat duduknya yang mulai panas. Mereka mencoba mendekat dan mengamati dengan cermat tulisan apa gerangan yang tertera di foto rontgen itu?

 

 

 

Tanpa diduga suasana dalam ruangan berubah 180 derajat. Ruangan yang tak cukup luas itu menjadi riuh oleh jeritan, tangisan, ratapan, dan teriakkan pilu. Sementara di lantai nampak pula beberapa orang kejang-kejang seperti terkena ayan. Di sudut yang lain ada beberapa orang tergeletak tak sadarkan diri. Yang lainnya terkulai lemas di tempat duduknya. Sutuasi tak terkendali!

 

 

 

Tahukah pembaca yang budiman apa tulisan yang tertera di foto rontgen? Cuma tiga huruf, kok, tapi sanggup membuat seorang kepala sekolah kumat sakit jantungnya hingga meninggal dunia. Bahkan kini efeknya telah menjalar ke seisi ruangan pertemuan K3S.

 

 

 

Tiga huruf itu adalah : B.O.S

 

 

 

Artikel No.44 Written by: Dani Hamdani

 

TINGGALKAN KOMENTAR