MATA-MATA INGGRIS DALAM SEJARAH ISLAM (Bag-2)

MATA-MATA INGGRIS DALAM SEJARAH ISLAM (Bag-2)

BAGIKAN

MATA MATA INGGRIS DALAM NEGARA NEGARA ISLAM

Dalam episode berikut akan kita ketahui peran besar mata mata inggris dalam usahanya menghancurkan pemerintahan Islam, betapa mata mata inggris ini begitu lihay menipu seorang ‘Ulama pada awalnya. Dan darinyalah babak awal kehancuran Ummat Islam di mulai, ya berawal dari murid seorang ‘Ulama yang menjadi mata mata Inggris untuk memata matai Ummat Islam di jantung Negaranya.

MATA-MATA INGGRIS DALAM SEJARAH ISLAM

Artikel Sebelumnya

DAFTAR ISI

Halaman
Pengantar Penerjemah
Catatan Redaksi
Pendahuluan
Daftar Isi
Bagian Pertama
Bagian Kedua
Bagian Ketiga
Bagian Keempat
Bagian Kelima
Bagian Keenam
Bagian Ketujuh
Suplemen: Kebencian Inggris terhadap Islam

BAGIAN PERTAMA

Hempher berkata sebagaimana dituturkan dibawah ini.

Negara British Raya kami sangat luas. Sang mentari terbit di belahan Timurnya dan tenggelam di belahan Barat Lautnya. Namun demikian, negara kami relatif lemah berkaitan dengan jajahannya di India, Cina, dan Timur Tengah. Tidak semua wilayah ini berada di bawah k ekuasaan kami secara penuh. Tetapi kami telah memiliki kebijakan yang cukup ketat dan telah memperoleh keberhasilan di daerah-daerah ini. Kami dengan segera akan menguasai daerah-daerah tersebut. Dua hal yang sangat penting adalah:

1. mempertahankan daerah-daerah yang telah dikuasai;
2. berusaha untuk memiliki daerah-daerah yang belum dikuasai.

Untuk pelaksanaan dua tugas berat di atas, kementrian urusan daerah jajahan menandatangani suatu komisi dari setiap daerah-daerah jajahannya. Segera setelah saya masuk menghadap Menteri urusan daerah jajahan, langsung saya dipercaya dan ditunjuk sebagai administrator serikat dagang kami di India Timur. Memang nampaknya sebuah serikat dagang, tapi kenyataannya suatu bentuk agen yang punya tugas membuka jalan untuk menguasai tanah India yang amat luas itu.

Tentang India, kami tidak banyak khawatir, karena India adalah negara yang terdiri atas beraneka ragam suku bangsa, bahasa, dan punya kepentingan hidup yang berlawanan. Begitu juga halnya dengan Cina, agama yang dominan adalah Budha dan Konghucu, yang mana kedua agama tersebut institusinya tidak banyak menyentuh persoalan hidup, dan tak lebih hanyalah sekedar formalitas saja. Oleh sebab itu, orang-orang yang hidup di dua negara ini kecil kemungkinan mempunyai jiwa patriotisme.

Negara-negara ini tidak banyak mengkhawatirkan pemerintahan negara kami, kendati tidak menafikan atas kemungkinan hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari. Untuk kedua hal ini kami telah merancang program jangka panjang untuk menciptakan p-e-r-p-e-c-a-h-a-n secara rapi, k-e-m-i-s-k-i-n-a-n bahkan p-e-n-y-a-k-i-t di negara-negara ini (strip dari MuNFAS).

Untuk menutupi tujuan-tujuan tersebut, kami menyerupakan diri dan menyatukan diri dengan adat dan tradisi dari dua negara ini dengan sedemikian rupa.

Yang membuat kami cukup cemas adalah negara-negara Islam. Untuk itu kami telah membuat sejumlah kesepakatan dengan penguasa kekhilafahan Turki Utsmani yang menguntungkan pihak kami. Anggota Kementrian Kolonial yang berpengalaman memprediksi bahwa “The Sick Man” (Penguasa yang tidak becus) itu akan mati dalam waktu kurang dari satu abad. Selain itu, kami telah membuat kesepakatan rahasia dengan pejabat Iran dan telah kami tempatkan di dua negara ini sejumlah intel untuk menciptakan korupsi, suap-menyuap, administrasi yang bobrok dan pendidikan agama yang tidak mumpuni. Yang pada gilirannya nanti dijerat dengan wanita cantik dan konsekwensinya melalaikan tugas, yang pada akhirnya mematahkan kekuatan dua negara ini (Turki dan Iran, MNF). Meski demikian tetap ada semacam kekhawatiran bahwa aktifitas yang kami jalankan tidak 100% sesuai dengan apa yang diharapkan dengan alasan berikut:

1. Orang Islam cukup fanatik terhadap agamanya. Setiap individu muslim punya dedikasi yang kuat terhadap Islam, tidak berbeda dengan Pastur atau Pendeta, bahkan boleh jadi lebih. Sebagaimana diketahui, pastur atau pendeta lebih suka mati ketimbang melepaskan imannya terhadap Kristen.

Orang Islam yang paling berbahaya adalah kelompok Syiah di Iran. Mereka memandang orang di luar Syi’ah sebagai orang kafir dan curang. Orang Kristen dianggap bak sampah yang berbisa. Pada hakikatnya orang Syi’ah tersebut ingin dirinya jadi orang yang terbaik dan terhindar jauh dari segala macam bentuk kotoran. Pernah saya bertanya pada mereka: “Mengapa mereka memandang orang Kristen demikian. Jawaban yang diberikan begini: “Nabi orang Islam itu sangat bijak. Beliau menempatkan orang-orang Kristen berada di bawah tekanan spiritual agar mereka menemukan jalan yang benar dengan bergabung agama Islam. Karena itu, menjadi kebijakan negara untuk menangkap orang yang ditemukan berbahaya di bawah tekanan spiritual sampai orang berjanji mau taat. Sampah yang saya katakan di sini bukan material, tapi spiritual yang tertindas yang bukan hanya khusus terhadap orang Kristen, tapi juga termasuk orang Sunni dan keseluruhan orang kafir. Bahkan, leluhur kami dulu juga termasuk.”

Saya katakan pada orang Syi’ah tersebut: “Baik! Orang Sunni maupun orang Kristen beriman kepada Allah, Para Nabi dan Hari Pembalasan juga, mengapa mereka dikatakan curang?” Dia menjawab, “Mereka curang karena dua alasan. Pertama, mereka mendustakan Nabi kami, Nabi Muhammad. Dan kami merespon tindakan ini dengan mengikuti petuah para bijak yang mengatakan, ‘Jika seseorang menyiksa kawan kamu, kamu boleh menyiksa dia sebagai balasan dan katakan padanya: Kamu curang!’ Kedua, orang Kristen mempunyai prasangka jelek yang tidak pantas ditujukan kepada para Nabi. Contohnya, mereka mengatakan, (1) Isa Alaihissalam minum alkohol. (2) Nabi Isa dikutuk akhirnya mati di tiang salib.”

Untuk menangkis argumentasinya; saya katakan pada orang Syi’ah bahwa orang Kristen tidak mengatakan begitu. Kata orang tadi lagi, “Ya, orang Kristen berbuat begitu. Kamu tidak tahu. Itu dikatakan dalam Bibel” Saya diam seribu bahasa. Bagaimanapun dia benar dalam hal yang pertama, tapi tidak untuk hal yang kedua. Saya tidak ingin melanjutkan adu mulut ini lebih jauh. Karena jika tidak, dia akan curiga akan keislaman saya. Untuk itu aku menghindari hal ini.

2. Islam pernah menjadi agama resmi pemerintahan dan berjaya. Orang Islam saat itu sangat dihormati. Sulit rasanya untuk mengatakan orang Islam yang dulu pernah berjaya, tapi sekarang menjadi budak. Dan tidak mungkin memalsukan Sejarah Islam dan mengatakan pada orang Islam, kejayaan yang Anda dapatkan dulu adalah hanyalah karena secara kebetulan. Saat-saat kejayaan tersebut sekarang telah pergi dan tak pernah kembali lagi.

3. Kami cukup cemas, jangan-jangan orang-orang kekhilafahan Turki Utsmani dan Iran akan mencium rencana busuk kami dan menggagalkannya. Kendati kenyataan terlihat bahwa dua negara ini sudah sangat lemah sekali. Kami masih belum bisa memastikan karena mereka mempunyai pemerintahan pusat yang kuat dalam ekonomi, persenjataan, dan wibawa.

4. Kami benar-benar khawatir terhadap para ulama. Baik Ulama Istambul, Al-azhar, Iraq maupun Damascus. Mereka merupakan rintangan terhadap sasaran yang berada di hadapan kami yang sulit diatasi. Mereka itu tipe orang yang tidak pernah punya kompromi akan prinsip-prinsip yang mereka pegang. Mereka telah melepaskan diri mereka dari kesenangan dan perhiasan yang bersifat duniawi serta mata mereka hanya memandang surga yang dijanjikan Tuhan dalam Al-Qur’an. Orang-orang pada mengikuti mereka, bahkan Sultanpun takut dan segan terhadap mereka. Pengikut sunni tidak sekuat KAUM SYIAH.. Orang Syiah cenderung lebih mengakui legitimasi Fatwa para Ulama mereka dari pada apa yang mereka dapat dari membaca buku sendiri. Dan mereka kurang begitu respect terhadap penguasa. Berbeda dengan orang Sunni, mereka membaca buku, menghormati Ulama dan penguasa.

Kami, oleh sebab itu mempersiapkan konperensi berantai. Sekalipun begitu, setiap kali kami mencoba, kami melihat dengan kekecewaan bahwa jalan tersebut tertutup bagi kami. Laporan yang kami terima dari mata-mata selalu frustasi dan konperensi menemui jalan buntu. Meski begitu, kami tidak putus harapan, sebab kami adalah tipe orang yang telah bisa membangun kebiasaan mengambil napas dalam dan sabar.

Mentri sendiri, sebagai sesepuh dalam dewan kependetaan dan beberapa ahli yang hadir dalam salah satu konperensi yang kami adakan juga merasakan hal yang sama. Kami berjumlah 20 orang. Konperensi tersebut berlangsung sekitar tiga jam dan berakhir tanpa membuahkan hasil keputusan. Namun demikian, seorang pendeta berkata, ‘Jangan khawatir! Yesus dan sahabat-sahabatnya pun bisa meraih kemenangan hanya setelah mengalami penderitaan yang memakan waktu 300 tahun. Harapan tetap ada. Dari dunia yang tak diketahui Yesus melihat kita dan memberikan kita satu kekuatan dalam mengusir orang-orang kafir tersebut (yang dimaksud orang Islam), dari negeri mereka sendiri. Boleh jadi itu 300 tahun kemudian. Dengan kekuatan keyakinan dan kesabaran yang panjang, kita juga harus mempersenjatai diri kita. Dalam hal itu juga, kita mesti mengambil alih seluruh bentuk media massa dengan mencoba memakai metode-metode yang mungkin. Kita harus mencoba menyebarkan Kristen di tengah-tengah masyarakat Islam. Adalah baik untuk menyadari tujuan kita, kendati bisa dicapai berabad-abad. Bukankah para bapak itu bekerja untuk anak-anak mereka?”

Dalam suatu konperensi lain yang diadakan para diplomat dan pemuka agama dari Rusia, Perancis dan Inggris juga hadir. Sangat beruntung, saya bisa  ikut hadir dan saat itu saya sangat dekat dengan mentri. Isu utama dalam konperensi itu adalah rencana memecah belah persatuan umat Islam menjadi kelompak-kelompak kecil, menjauhkan mereka dari agamanya, dan menggiring mereka ke dalam keimanan Kristen sebagaimana hal itu didiskusikan di Sepanyol. Namun demikian, hasil yang dicapai dalam konperensi tersebut masih belum seperti yang diharapkan. Saya telah merangkum isi hasil dalam pembicaraan tersebut dalam sebuah buku “Ila Melekut-il-Masih.”

Sulit tentu untuk mengangkat ke permukaan akar sebuah pohon yang telah tertancap begitu dalam. Kami mesti mengubah kesulitan-kesulitan ini menjadi mudah mencari jalan keluarnya. Agama Kristen harus disebarkan ke seluruh penjuru dunia. Tuhan Yesus telah menjanjikan Belahan dunia Barat dan Timur yang dulu membantu Muhammad, kini pergi. Kita akan melihat dengan senang hari-hari itu dengan suasana yang benar-benar berubah. Dengan kerja giat dan usaha keras dari Kementrian kita dan pemerintahan Kristen lainnya, muslim sekarang mengalami kemunduran. Kini saatnya kita mengambil alih daerah yang hilang selama berabad-abad. Negara British Raya yang kuat adalah pioner atas tugas suci ini (menghancurkan Islam).

BAGIAN KE DUA

Pada tahun 1122 Hijriyah (1710 Masehi), Kementerian Kolonial mengirim saya ke daerah tujuan, yaitu Mesir, Iraq, Hijaz dan Istambul dalam kapasitas saya sebagai MATA MATA untuk mendapatkan informasi yang cukup yang diperlukan untuk memecah belah persatuan umat Islam. Selain saya, Kementrian menunjuk 9 orang lagi yang punya kecerdasan dan keberanian yang tinggi dengan misi yang sama dalam waktu yang bersamaan pula. Kami semua dibekali uang, informasi, dan peta yang akan kami perlukan, juga diberikan daftar nama-nama negarawan, ulama dan pemuka suku. Saya tidak bisa melupakan saat saya mengucapkan kata berpisahan dengan Sekretaris, dia berkata “masa depan negara kita berada di pundakmu. Karena itu, kamu harus melakukannya dengan sepenuh hati.

Saya berangkat berlayar menuju Istambul, pusat kekhalifahan Islam. Di samping tugas utama, saya akan belajar BahasaTurki dengan baik, bahasa asli yang dipakai penduduk Turki. Saya telah mempelajari bahasa orang Timur Tengah ketika masih di London, seperti bahasa Turki, Arab dan bahasa Persi, bahasa orang Iran. Ternyata belajar sebuah bahasa saat saya masih di London tidak persis seperti bahasa yang digunakan oleh native speaker. Saya masih harus belajar lagi yang memerlukan waktu cukup lama. Saya juga harus mempelajari seluk beluk bahasanya, karena kalau tidak, cepat atau lambat missi saya akan terbongkar.

Muslim Turki rata-rata orangnya punya toleransi, terbuka, dan ramah tamah. Sebagaimana yang diajarkan dalam Islam oleh Muhammad. Mereka juga tidak skeptis sehingga tidak membuat saya banyak khawatir untuk dicurigai dengan maksud saya ini. Yang lebih menguntungkan bahwa Pemerintahan Turki Utsmani tidak mempunyai intelijen rahasia yang secara khusus bertugas menangkap mata-mata.

Saat pertama kami melangkahkan kaki di Istambul, saya memperkenalkan diri dengan nama “Muhammad” dari dan langsung menuju masjid, tempat ibadah umat Islam. Saya cukup terkesan dengan perhatian orang Islam terhadap kebersihan, kedisiplinan, dan kepatuhan mereka terhadap ajaran agamanya. Saya sempat bertanya pada hati nurani saya sendiri: Haruskah saya menghancurkan orang-orang yang tidak bersalah ini? Benarkah ini sesuai dengan apa yang disarankan dan diajarkan oleh Tuhan Yesus Kristus? Tetapi saat itu juga, saya bisa membuang jauh-jauh pemikiran semacam itu dan memutuskan untuk melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.

Di Istambul saya bertemu dengan ulama yang sudah cukup tua, yang bernama Ahmad Efendi. Dia sangat ramah, mempunyai sikap yang menyenangkan, terbuka dan berilmu tinggi serta berwibawa. Belum pernah aku menemukan ulama yang setara dia. Dia berusaha keras siang malam untuk mengcopi sikap dan kepribadian Nabi Muhammad. Menurutnya, Muhammad adalah hamba Allah terbaik dan paling sempurna. Kapan saja dia menyebut nama Muhammad kedua matanya membasah.

Saya tentu saja sangat beruntung, karena dia tidak pernah menanyakan siapa saya dan dari mana saya. Dia hanya memperkenalkan pada diri saya dengan nama Ahmad Efendi. Dia selalu berusaha menjawab setiap pertanyaan yang saya ajukan dan memperlakukan saya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Dia menganggap saya sebagai seorang tamu yang datang ke Istambul untuk bekerja dan hidup di bawah naungan Khalifah Turki, yang mewakili Muhammad. Padahal ini semua hanyalah dalih saya untuk bisa tinggal di Istambul. Pernah saya mengatakan pada Ahmad Efendi bahwa orang tuaku sudah meninggal. Saya tidak punya sanak saudara sama sekali dan orang tua saya tidak meninggalkan harta warisan. Saya datang ke sini untuk mencari penghidupan dan belajar Al-Qur’an dan hadist, agar bisa memperoleh dunia dan akhirat.” Dia nampak senang dengan kata-kata yang saya sampaikan dan mengatakan, “Anakku, kamu pantas untuk dihormati.” Dia mengemukakan alasan seperti berikut ini:

1. Kamu seorang muslim, semua muslim itu bersaudara.

2. Kamu seorang tamu, sedang Rosulullah mengatakan: “Bersikap ramah tamahlah terhadap tamu.

3. Kamu ingin bekerja, sedang hadits menyatakan bahwa orang yang bekerja dicintai Allah.

Kata-kata ini sangat menyenangkan saya. Saya bergumam, “Adalah sikap sedemikian tulus dalam Kristen? “Ah, mungkin ada” Namun, yang membuat saya tidak habis pikir lagi adalah suatu fakta bahwa Islam, agama yang begitu mulia, sekarang dalam proses menuju keruntuhan oleh tangan-tangan orang congkak dengan tanpa sedikitpun menyadari dan mencium apa yang sedang terjadi pada diri mereka.

Suatu ketika saya katakan pada Ahmad Efendi bahwa saya ingin belajar Al-Qur’an. Dia menjawab bahwa dia sangat senang hati akan mengajarinya. Dia memulai dengan surat Alfatihah. Dia juga menerangkan maksud apa yang terkandung dalam Al-Qur’an yang saya baca. Pada awalnya saya mengalami kesulitan dalam pengucapan sejumlah kata. Dalam kurun waktu 2 tahun saya bisa menyelesaikan 30 juz Al-Qur’an. Setiap sebelum pelajaran dimulai, dia selalu melakukan wudlu dan menyuruh saya untuk melakukannya. Dalam setiap pengajaran, dia selalu duduk menghadap kiblat. Dia mengajari wudlu kepada saya begini.
1.  Membasuh muka.
2.  Membasuh tangan kanan dan jari-jari sampai siku.
3.  Membasuh tangan kiri dari jari-jari sampai siku.
4. Mengusap sebagian rambut kepala dengan cara, dari kepala bagian belakang sampai bagian depan.
5. Membasuh kedua kaki.

Menggunakan siwak sungguh sangat merepotkan saya. Siwak adalah sebuah ranting pohon miswak yang diolah orang Islam untuk membersihkan mulut dan gigi, menurut saya justru mengganggu. Pernah saya mengalami pendarahan karena menggunakan siwak tersebut. Tapi bagaimanapun menurut mereka menggunakan siwak itu sunah mu’akkad  dan bermanfaat sekali. Ya memang, pendarahan yang saya alami itu akhirnya berhenti. Dan kondisi tak menyenangkan itu pada akhirnya juga berlalu.

Selama tinggal di Istambul, saya menyewa satu kamar dari seseorang yang bertugas sebagai penanggung jawab harian masjid. Namanya Marwan Efendi. Marwan termasuk salah satu nama dari sahabat nabi Muhammad. Marwan adalah tipe orang gugup. Dia bangga dengan namanya dan menyuruh saya kapan saja punya anak agar diberi nama Marwan karena Marwan adalah salah satu pejuang besar dalam Sejarah Islam. Marwan juga menyediakan bagi orang yang mau makan malam di situ.

Di hari-hari dalam satu minggu selain hari Jum’at saya bekerja part time job pada seorang bos mebel yang bernama Khalid dengan bayaran mingguan. Karena saya bekerja part time, yaitu dari pagi sampai pukul 12 siang, saya digaji separo dari gaji yang diberikan pada pekerja lain yang bekerja full time.

Untuk hari Jum’at, saya tidak pergi bekerja karena hari itu adalah hari libur bagi orang Islam. Di sela-sela bekerja, bos mebel saya itu senang betul memperbincangkan kehebatan-kehebatan Khalid bin Walid, salah seorang sahabat besar Nabi, yang juga terkenal sebagai mujahid besar karena prestasinya sebagai seorang panglima besar, memperoleh kemenangan dalam mengemban misinya menaklukkan daerah-daerah yang belum berada di bawah kekuasaan Islam. Maka pemecatan Khalid bin Walid pada masa akhir pemerintahan Umar bin Khattab cukup menyakitkan hati Khalid, bos mebel tersebut.

Khalid bos mebel tempat saya bekerja itu orangnya agak kasar dan mudah emosi. Namun demikian, dia sangat mempercayai saya. Entah mengapa, mungkin karena saya selalu menuruti apa yang dia perintahkan. Dalam kesendiriannya, dia sering mengabaikan syari’at, namun, saat bersama-sama, dia menunjukkan ketaatannya pada syari’at. Dia selalu menghadiri shalat Jum’at, tapi saya tidak tahu apa dia melaksanakan shalat lima waktu.

Setiap pagi saya biasa makan pagi di warung dan bekerja sampai datang waktu Dluhur. Saya shalat Dluhur di mesjid dan berada disana sampai datangnya waktu shalat Ashar. Selesai shalat Ashar saya bergegas menuju rumah Ahmad Efendi, tempat saya belajar tata cara baca Al-Qur’an, bahasa Arab dan bahasa Turki selama 2 jam.

Ketika Ahmad Efendi tahu bahwa saya masih bujang, dia menginginkan saya agar mau menikahi salah satu putrinya. Saya menolak tawaran tersebut. Dia bersikeras dengan mengatakan bahwa nikah itu sunnah Nabi dan Nabi pernah bersabda “Barang siapa yang berpaling dari sunnahku, tidak termasuk umatku.” Dengan memahami kenyataan ini saya memberikan alasan yang sangat pribadi. Untuk itu saya harus berbohong padanya, dengan mengatakan bahwa saya impoten. Sehingga dengan alasan ini hubungan dan persahabatan saya dengan dia tidak retak.

Ketika masa dua tahun saya tinggal di Istambul sudah usai, saya mohon pamit pada Ahmad Efendi bahwa saya mau pulang. Dia berkata, “Tidak, jangan pergi. Mengapa kamu pergi?! Kamu bisa memperoleh sesuatu yang kamu cari di Istambul. Allah memberikan baik duniawi maupun ukhrowi dalam waktu yang bersamaan di kota ini. Kamu mengatakan bahwa orng tua kamu sudah tidak ada dan tidak punya saudara. Mengapa kamu tidak menetap saja di Istambul?” Ahmad Efendi telah tertancap dalam dirinya persahabatan yang kuat dengan diriku. Karena itu, dia tidak ingin persahabatan tersebut terpisah dan menekankan bahwa saya mesti menetap di Istambul. Namun, jiwa patriotik saya yang kuat akan tugas yang saya emban mendorong saya untuk kembali ke London, untuk menyampaikan laporan secara rinci berkaitan dengan pusat kekhalifahan dan untuk menerima perintah selanjutnya.

Saya mengirimkan laporan bulanan dari observasi saya selama berada di Istambul kepada Mentri urusan daerah koloni. Saya masih ingat saat menanyakan di salah satu laporan saya tentang apa yang mesti saya lakukan terhadap orang tempat saya bekerja yang meminta saya melakukan sodomi. Jawabannya “Selama itu membantu tugas kamu, harus kamu lakukan.” Saya sempat emosi dengan jawaban tersebut. Rasanya dunia ini mau kiamat. Saya akhirnya tahu, bahwa perbuatan keji semacam ini sudah membudaya di Inggris, kendati saya sendiri belum pernah melakukan sodomi tersebut. Saat atasan saya menyarankan begitu, saya berfikir apa yang mesti saya perbuat. Saya tidak punya pilihan lain kecuali membuang jauh-jauh sesuatu yang bersifat pribadi dan mengutamakan tercapainya misi saya.

Saat saya mengucapkan kata berpisah kepada Ahmad Efendi, air matanya meleleh dan berkata kepada saya, ” Anakku, semoga Allah bersamamu! Kapan saja kamu kembali ke Istambul dan mengetahui saya sudah meninggal, ingat saya, bacakan fatihah untukku! Kita akan bertemu nanti di hadapan Rasulullah di hari pembalasan. Sungguh, saya turut bersedih dan berat rasanya. Air mataku ikut menetes. Namun, dorongan akan tugas saya jauh lebih kuat.

Bersambung

Kita nantikan serial KISAH MATA MATA INGGRIS DALAM SEJARAH ISLAM  ini hanya di Warkop Mbah Lalar. Dalam kisah selanjutnya akan kita saksikan betapa Mata mata Inggris dalam Sejarah Islam begitu tersembunyi dan hanya terungkap setelah mata mata inggris itu mengungkapkan sendiri.

TINGGALKAN KOMENTAR