MATA-MATA INGGRIS DALAM SEJARAH ISLAM (Bag-4)

MATA-MATA INGGRIS DALAM SEJARAH ISLAM (Bag-4)

BAGIKAN

Pada bagian kali ini kita akan membaca bagian perjumpaan antara Mr Hempher alias Muhammad dengan Muhaammad bin Abdil Wahab dan proses pencucian otak kepada diri Muhammad bin Abdil Wahab sehingga menjadi orang yang radikal

 

Orang Syi’ah, menggunakan kesempatan emas ini. Pernyataan sikap menutup pintu ijtihad ini dimanfaatkan untuk menyebarluaskan pengikut mereka. Jumlah pengikut Syi’ah yang semula hanya berkisar kurang dari sepersepuluh dari orang Sunni pada akhirnya menjadi banyak dan bisa mengimbangi jumlah pengikut Sunni. Gejala semacam ini masuk akal karena ijtihad itu bak sebuah senjata. Ijtihad itu bisa memperbaiki fiqih Islam dan pemahaman akan Al-Qur’an dan hadits. Larangan ijtihad di sisi lain bak senjata makan tuan, akan mengurung pengikut madzhab tersebut dalam ruang lingkup kerangka kerja tertentu. Dan pada gilirannya penutupan pintu gerbang ijtihad ini mengesampingkan tuntutan zaman. Seandainya saja senjata yang dimiliki seseorang adalah rotan dan yang dimiliki musuh pistol, maka yang punya senjata rotan cepat atau lambat akan terpukul mundur oleh musuh. Saya pikir pemuka dari orang-orang Muslim Sunni mestinya kembali membuka ‘The gate of ijtihad’ di masa mendatang. Jika tidak mereka akan menjadi minoritas, sementara pengikut Syi’ah menjadi mayoritas dalam beberapa abad saja.

Pemuda yang bernama Muhammad Annajd tersebut mempunyai pendapat yang independen dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits. Dia mengesampingkan pemahaman para ulama, tidak hanya ulama pada zamannya, tapi juga ulama empat mazhab dan bahkan pemahaman para sahabat seperti Abu Bakar, Umar dan sahabat lain. Kapan saja dia melewati ayat Al-Qur’an yang pemahamannya tidak sesuai dengan pemahaman ulama lain, dia berkata, “Nabi bersabda: ‘Saya tinggalkan Al-Qur’an dan Hadith untukmu.’ Nabi tidak mengatakan, ‘Saya tinggalkan Al-Qur’an, Hadis, Sahabat, dan imam-imam madzhab untukmu. Karena itu sesuatu hal yang wajib adalah mengikuti Al-Qur’an dan Hadits, kendati boleh jadi berlawanan dengan pendapat para imam madzhab ataupun pernyataan para Sahabat.”

Dalam perbincangan jamuan makan malam di rumah Abdur Ridla, silang pendapat terjadi antara Muhammad Annajd dan tamu dari Qum, seorang ulama Syi’ah bernama Syaih Jawwad. Perbincangan itu berlangsung seperti berikut.

“Karena Anda menerima pendapat bahwa Ali adalah seorang mujtahid, mengapa Anda tidak mengikuti Ali sebagaimana orang Syi’ah?” kata Syaikh Jawwad.

“Ali tidak berbeda dengan Umar ataupun sahabat-sahabat lain. Pernyataannya tidak bisa dijadikan sebagai dasar hukum. Hanya Al-Qur’an dan Hadits yang bisa dijadikan dasar hukum,” Sanggah Muhammad al-Najd.

“Nabi pernah bersabda : Saya adalah kota ilmu, sedang Ali pintu gerbangnya. Bukankah itu merupakan pertanda adanya nilai lebih Ali terhadap Sahabat-sahabat lain?”

“Jika benar pernyataan Ali bisa dijadikan sumber hukum, mengapa Nabi tidak mengatakan, ‘Saya tinggalkan (sepeninggal) Kitabullah, Al-Hadits, dan Ali?” gugat Muhammad al-Najd.

“Ya, saya setuju bahwa Nabi tidak mengatakan begitu, namun demikian dalam Hadits lain Nabi bersabda, ‘Saya tinggalkan (sepeningalku) Kitab Allah dan Ahlul Baitku (keluargaku). Dan Ali dalam hal ini adalah anggota utama dari keluarga Nabi.” (Muhammad Annajd semula menolak hadits yang mengatakan seperti tersebut di atas. Dia baru mengalah setelah Syaikh Jawwad mengemukakan sejumlah bukti-bukti yang meyakinkan. Namun demikian Muhammad Annajd tetap ingin tahu akan kebenaran Hadits di atas).

“Anda menegaskan bahwa Nabi pernah mengatakan, ‘Saya tinggalkan, kepadamu Kitab Allah dan Keluargaku’ lalu apa fungsi Hadits Nabi?”

“Hadits Nabi itu merupakan penjelasan dari Al-Qur’an. Sabda Rasulullah yang mengatakan, ”Saya tinggalkan kepadamu Kitab Allah dan Keluargaku,’ ungkapan Kitabullah mencakup Sunnah, yang fungsinya sebagai penjelas Al-Qur’an,” jelas Syaikh Jawwad.

“Sejauh pernyataan Ahlul Bait merupakan penjelas Al-Qur’an, mengapa diperlukan Hadits untuk menjelaskan Al-Qur’an?”

“Ketika Rasulullah wafat, umat Islam membutuhkan penjelasan Al-Qur’an yang mampu memenuhi tuntutan zaman. Di sini letaknya alasan Rasulullah menyuruh umatnya untuk mengikuti Al-Qur’an. Dalam hal ini yang asli dan Ahlul Bait yang akan menafsirkan Al-Qur’an tersebut

sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman,” begitu penjelasan Syaikh Jawwad pada Muhammad al-Najd.

Saya cukup tertarik dengan adu argumentasi antara dua orang tersebut. Muhammad Annajd mati kutu, tidak bisa sedikitpun di hadapan Syaikh Jawwad. Seperti sudah berada di tangan pemburu.

Muhammad adalah tipe manusia yang sudah lama saya cari. Kurang respeknya terhadap ulama pada zamannya, menganggap rendah, bahkan terhadap keberadaan empat Khalifah dalam hukum Islam. Pendapatnya yang independen dalam memahami Al-Qur’an dan Hadits merupakan titik paling rawan untuk dihantam dan dijadikan makanan empuk. Sungguh jauh berbeda kondisi pemuda ini dibanding dengan Ahmad Efendi, yang dulu pernah menjadi guru saya di Istambul. Ahmad Efendi sebagaimana pendahulunya, mengingatkan saya akan kokohnya sebuah gunung yang berdiri tegak. Tidak ada satupun kekuatan yang mampu mengubah pendiriannya. Kapan saja dia menyebut nama Abu Hanifah, dia langsung berdiri dan bergegas untuk mengambil air wudlu. Kapan saja dia bermaksud memegang buku Hadits susunan Bukhari, dia ambil Wudlu lagi. Dan memang orang Sunni benar-benar mengakui kebenaran dan kesahihan hadits yang termuat dalam kitab Hadits susunan Bukhari tersebut.

Di sisi lain, Muhammad Annajd rneremehkan keberadaan Abu Hanifah. ‘Saya lebih tahu ketimbang Abu Hanifah.” katanya. Dan lagi masih menurut dia bahwa kitab Hadits susunan Bukhari tersebut tidak autentik, tidak bisa jadi pegangan.

Saya berusaha untuk menjalin persahabatan yang akrab dengan Muhammad Annajd. Saya meluncurkan kampanye akan kealiman dia di mana saja kondisi mendukung dan memungkinkan. Pernah suatu ketika saya melontarkan kata-kata pada dia, “Kamu itu sesungguhnya lebih berkapasitas dari pada Umar bin Hattab dan Ali. Seandainya saja sekarang Nabi masih hidup, pasti dia akan menunjuk kamu sebagai Khalifah penggantinya. Saya, berharap Islam nantinya bisa diperbaiki dan diperhitungkan oleh dunia internasional melalui tanganmu. Kamu satu-satunya ulama yang akan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia,”

Muhammad bin Abdul Wahhab Annajd dan saya menyusun suatu penafsiran Al-Qur’an baru dan penafsiran ini bersifat independen sesuai dengan pemahaman kami yang boleh jadi berbeda dengan penafsiran para sahabat, para Imam Madzhab, dan ulama tafsir pada umumnya. Kami menelaah Al-Qur’an dan membahasnya ayat per ayat. Tujuan saya di sini menggiring Muhammad Annajd, yang pada finalnya nanti mau memproklamirkan dirinya sebagai ‘Revolusioner’ dan bisa menerima ide dan gagasan saya tanpa ada rasa berat hati. Sehingga, saya mesti memberikan sokongan moral dan bisa meyakinkan dia.

Pernah pada suatu kesempatan saya melontarkan satu pendapat begini, “Sesungguhnya jihad itu tidak wajib.” Dia protes, “Kamu mau melawan perintah Allah, firman ‘Berjihadlah melawan orang-orang kafir?”(1)

(1) Q.S. Attaubah ayat: 73.

Saya katakan, “Kalau memang wajib adanya berperang melawan orang-orang kafir, mengapa Nabi tidak berperang melawan orang-orang munafiq kendati ada firman Allah yang berbunyi , ‘Berperanglah kamu melawan orang-orang kafir dan munafiq’?”(2)

(2) Q.S Attaubab, ayat:73. Pada buku lain telah diterangkan yaitu dalam buku ‘Mawahibu Laduniyyah’ bahwasanya banyak cara dalam melakukan jihad. Orang munafiq dari luar nampaknya seperti orang beriman. Mereka berpura-pura menjadi muslim. Mereka itu juga melakukan shalat, dan bahkan bersama Rasulullah di masjid Nabawi Madinah. Namun demikian, nabi tidak mengatakan “kamu munafik” kepada mereka kendati nabi mengetahui bahwa mereka itu munafik. Seandainya nabi sampai melakukan perang terhadap mereka, tentu orang di luar Islam akan berteriak, “Muhammad membunuh sahabatnya yang beriman,” Sehingga jihad terhadap orang munafik itu melalui lisan. Jihad itu sendiri dapat dilakukan melalui jiwa raga, harta dan ucapan. Sehingga ayat yang menyuruh jihad di atas, bukan hanya berarti perang. Jihad melawan orang kafir tentu saja dilakukan dengan perang, sedang jihad yang dilakukan terhadap orang-orang munafik cukup dengan lisan. Jadi kalimat “Jihad” pada ayat di atas mencakup tipe jihad yang dilakukan dengan memakai senjata yaitu perang.

Muhammad Annajd mengatakan, “Nabi melakukan jihad melawan orang munafik melalui lisannya.” Saya mengejar dia dengan mengatakan, “Jadi jihad yang diwajibkan dalam Islam itu jihad yang dilakukan dengan lisan?” Kata dia, “Rasulullah melakukan jihad perang melawan orang-orang kafir.” Kata saya, “Jadi kesimpulannya Nabi melakukan jihad perang melawan orang-orang kafir demi mempertahankan diri, karena mereka mau membunuh Nabi?” Dia mengangguk, yang berarti setuju.

Pada kesempatan lain, saya mengajukan suatu persoalan. Saya tanyakan pada dia, “Apa nikah mut’ah itu diperbolehkan?” Dia menjawab, “Tidak diperbolehkan.” Saya mengajukan pertanyaan lebih lanjut mengenai persoalan yang menyangkut hal ini dengan mengatakan, “Allah berfirman, ‘Maka isteri-isteri kamu, yang telah kamu nikmati di antara mereka, berikanlah maharnya sebagai suatu kewajiban.'(1)

(1) Surat Annisa, ayat: 24

Kata dia, “Umar melarang praktek nikah mut’ah dan akan menghukum siapa saja yang melanggar.”

Saya kembali mengatakan pada dia, “Bukankah kamu telah paham betul tentang hukum Islam, yang belum tentu kalah dengan Umar. Selain itu Umar melarang nikah mut’ah kendati Nabi memperbolehkan. Mengapa kamu mengabaikan keputusan Nabi dengan mengikuti pernyataan Umar?”(2)

(2) Tersebut dalam buku “Hujatul Qot’iyah” bahwa rasulullah telah melarang  nikah mut’ah, kendati pernah diperbolehkan karena adanya satu alasan. Oleh karena itu Umar tidak akan mengizinkan praktek nikah mut’ah yang telah dilarang oleh nabi. Sikap Umar ini didukung oleh keseluruhan sahabat saat itu. Termasuk yang mendukung pernyataan Umar ini adalah sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Muhammad Annajd tidak menjawab. Saya tahu bahwa dia oke dengan argumentasi saya.

Saya melihat Muhammad Annajd saat itu lagi kesengsem untuk nikah. Saya tawarkan satu ajakan kepadanya, “Bagaimana kalau kita cari wanita untuk nikah mut’ah. Kita akan bisa menikmati kelezatan yang aduhai?” Dia mengangguk pertanda setuju. Bagi saya ini adalah kesempatan terbaik. Untuk itu saya berjanji akan mencarikan perempuan untuk dia. Tujuan utama saya di sini agar sifat minder yang menyelimuti pribadinya bisa hilang. Dalam hal ini dia mengajukan prasarat bahwa masalah ini harus menjadi rahasia di antara kami berdua. Bahkan perempuan yang akan dinikahi tidak boleh mengetahui identitas kami. Saya langsung saja bergegas menuju wanita Kristen yang dikirim oleh Pemerintah kolonial Inggris dengan tugas merayu generasi muda Islam. Saya jelaskan permasalahan ini kepada salah satu di antara mereka. Dia oke, siap membantu. Saya beri nama samaran kepada wanita tersebut Safiyah. Saya bawa Muhamad Annajd menuju tempat Safiyah. Saat itu Safiyah lagi sendirian di rumah. Untuk nikah mut’ah ini saya menyerahkan pada Safiyah sejumlah emas sebagai mahar. Kami melaksanakan kawin kontrak ini selama sepekan. Ini berarti saya telah bisa menjebak Muhammad Annajd. Safiyah dari dalam dan saya dari luar. Selain itu Muhammad Annajd bisa menikmati kesenangan dengan melanggar hukum Islam dengan dalih kebebasan ijtihad.

Pada hari ketiga dari nikah mut’ah itu sempat berlangsung perselisihan pendapat yang cukup alot mengenai hukum minuman keras dalam Islam. Kendati dia banyak menyitir ayat Al-Qur’an dan hadits yang membuktikan bahwa minuman keras itu haram, saya tetap mempertahankan pendapat saya dengan mencari dalil dan bukti kongkrit yang  mendukung. Saya berkata kepadanya, “Bukankah telah menjadi fakta sejarah bahwa pemimpin Islam, Khalifah Yazid bin Mu’awiyah dan sejumlah Khalifah baik dari Bani Umayah amaupun Bani Abasiyah meneguk minuman keras, apa mereka itu bodoh akan hukum Islam dan kamu lebih mahir ketimbang mereka? Mereka itu sudah tidak lagi diragukan akan pengetahuan mereka tentang hukum Islam. Mereka telah bisa mengambil satu kesimpulan bahwa hukum minuman itu makruh bukan haram. Bahkan dalam kitab Jahudi dan Injil dinyatakan bahwa hukum miuman keras itu mubah. Bukankah kitab-kitab suci itu semua yang menurunkan Allah? Jika menurut satu riwayat bahwa Umar bin Khattab masih tetap minum minuman kendati surat Almaidah ayat ke sembilan puluh satu berbunyi, “Berhentilah kamu dari minum minuman keras’. Jika memang benar haram, pasti Nabi menghukumnya.(1)

(1) Fakta sejarah yang benar menyatakan, bahwa Umar bin Khattab benar, pernah meminum minuman keras yaitu anggur sebelum anggur itu diharamkan. Setelah dinyatakan secara tegas dalam Al-Qur’an bahwa anggur itu haram, dia tidak pernah lagi minum anggur. Jika ada sejumlah khalifah baik itu dari Bani Umayyah maupun Abbasiyah meneguk minuman keras bukan menunjukkan bahwa alkohol itu makruh. Justru itu menunjukkan bahwa mereka itu pendosa. Karena ayat yang disitir Hempher sendiri dan sejumlah hadits yang berkenaan dengan alkohol itu menunjukkan bahwa alkohol itu haram. Dalam Riyadus Shalikhin dinyatakan, dulunya minum anggur itu diperbolehkan. Umar, Saad bin Abi Waqas dan sejumlah sahabat pernah minum anggur. Berikut surat Albaqarah ayat dua ratus sembilan yang menyatakan bahwa minuman keras itu dosa. Lalu disusul ayat ke empat puluh dua dari surat Annisa yang berbunyi, “Janganlah kamu mendekati salat sedang kamu dalam keadaan mabuk.” Akhirnya, ayat ke sembilan puluh dari surat Almaidah turun dan anggur diharamkan. Dalam salah satu hadits dikatakan: Jika dalam jumlah banyak diminum menyebabkan mabuk, maka dalam jumlah sedikitpun tetap haram bila diminum dan minum anggur berteman dengan dosa. Jangan berteman dengan orang tersebut! Jangan melayat saat dia mati! Minum anggur sama dengan menyembah berhala. Semoga Allah mengutuk peminum, penjual, produser, dan pemberi anggur.

Muhammad Annajd berkata, “Menurut sejumlah riwayat yang saya ketahui bahwa Umar minum anggur setelah mencampurnya dengan air, sehingga tidak memabukkan. Pendapat Umar ini sesuai dengan kata Allah dalam surat Almaidah ayat sembilan puluh satu yang berbunyi: Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran khamer dan judi, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang, maka berhentilah kamu dari mengerjakan pekerjaan itu”. Minuman keras tidak berakibat dosa sejauh tidak berakibat mabuk. Karena itu, bila minum itu tidak sampai punya efek memabukkan hukumnya tidak haram.”(1)

——————

(1) Nabi pernah bersabda: Setiap yang memabukkan dalam jumlah banyak maka dalam jumlah sedikitpun tetap sama hukumnya ‘Haram’ kendati tidak memabukkan.

Saya ceritakan semua perselisihan pendapat antara saya dengan Muhammad Annajd itu kepada Safiyah agar memberi minuman kepada dia dengan kandungan alkohol yang tinggi. Safiyah setuju dan melapor kepada saya, “Saya sudah melakukan apa yang Anda perintahkan. Muhammad Annajd dan saya berdansa berjam-jam semalam.” Semenjak itu saya dan Safiyah benar-benar bisa menggenggam Muhammad Annajd. Masih terngiang di telinga saya saat berpamitan. Kementerian Kolonial berkata kepada saya, “Kita bisa menjebak orang-orang kafir (maksudnya muslim) melalui minuman keras dan perempuan, mari kita tarik kembali semua tanah milik kita dengan menggunakan dua metode ini.”  Saya sadar betul bahwa minuman keras dan perempuan adalah sarana paling ampuh untuk dijadikan pancingan. Benar adanya kata mentri itu.

Suatu hari saya kembali mengangkat satu persoalan, yaitu puasa. Saya katakan kepada dia, “Qur’an mengatakan: berpuasa itu lebih baik bagi kamu.(1)

———–

(1) Surat Albaqoroh ayat: 184

Tidak dikatakan wajib. Jadi, puasa itu sunnah, bukan wajib. “Muhammad Annajd mengatakan, “Kamu mau merusak iman saya?” Saya tanggapi dengan kalem, “Keimanan seseorang itu terletak dalam hati, kesucian hatinya, kemurnian jiwanya, bukan dengan kata-kata seperti yang saya lontarkan kepada kamu itu. Bukankah Nabi pernah bersabda, ‘Iman itu adalah cinta? Bukankah dalam Al-Qur’an pada surat Alhijer pada ayat ke sembilan puluh sembilan dikatakan ‘Sembahlah Tuhanmu sampai yakin datang kepadamu”.(2)

————————

(2) Para ahli Tafsir sepakat bahwa kalimat yaqin dalam kontek, “Sembahlah Tuhanmu sampai yaqin datang kepadamu,” berarti ajal. Sehingga “Sampai yaqin berarti sampai ajal.

Jadi, sekiranya seseorang telah sampai pada tingkatan memperoleh keyakinan akan Allah, Hari pembalasan dan jiwa yang suci serta perbuatan yang terpuji, maka seseorang akan menjadi yang terbaik di antara hamba Allah.” Dia mengiyakan kata-kata saya pertanda setuju.

Pernah suatu saat saya mengemukakan pendapat saya begini, “Melakukan shalat itu tidak wajib. Bagaimana shalat itu hukumnya wajib? Allah telah dengan jelas menyatakan, ‘Dirikan shalat untuk mengingat saya’.(1)

—————

(1) Surat Thaha, ayat: 14 dalam kaitan ini Nabi pernah bersabda: “Assalat adalah tiang agama. Siapa yang mendirikan shalat berarti menegakkan agama dan siapa yang meninggalkan shalat, berarti meruntuhkan agama.”

Jadi tujuan hakiki dari shalat itu adalah untuk mengingat Allah. Karena itu, bisa saja kita mengingat Allah dengan baik tanpa harus melakukan shalat.”

Muhammad Annajd memberikan tanggapan, “Memang saya pernah mendengar ada beberapa orang melakukan zikir sebagai pengganti melaksanakan salat. “Saya cukup merasa senang dengan tanggapan dia. Saya berusaha keras untuk mengembangkan model pemikiran semacam ini dan merebut hatinya. Selanjutnya saya melihat dia tidak begitu menganggap penting terhadap melakukan shalat dan dia melakukan shalat secara seporadis tidak rutin atau istiqomah. Terutama shalat subuh. Saya selalu ngobrol bersamanya sampai jauh larut malam hingga pada pagi harinya dia merasa malas untuk mendirikan shalat subuh.

Saya kini telah mulai bisa sedikit demi sedikit menarik baju keimanan dari pundaknya. Suatu hari saya ingin memperdebatkan “Apa memang benar bahwasanya Muhammad itu nabi”. Muhammad Annajd naik pitam, “Mulai saat ini jika kamu masih saja membicarakan,

memperdebatkan masalah-masalah seperti ini, hubungan persahabatan antara kita putus dan berakhir sampai disini.” Dengan jawaban semacam itu saya tidak lagi berani memperbincangkan soal kenabian Muhammad, takut akan runtuhnya satu hubungan persahabatan yang amat berharga bagi saya.

Selanjutnya saya mengusulkan topik pembicaraan masalah perbedaan yang ada antara Sunni dan Syiah. Dia mendukung ide saya tersebut. Namun demikian, nampaknya dia masih sedikit emosi, sehingga belum mau membicarakan topik di atas. Dasar orang sombong, langsung saja dia berterima kasih pada Safiyah dan bergegas menuju tempat lain.

Untuk memperkuat persahabatan kami lagi, pada kesempatan lain, saya katakan pada dia, “Saya mendengar bahwa menjadikan sahabat-sahabatnya sebagai saudara, apa itu benar? Dia menjawab dengan positip. Saya ingin tahu, apa hukum Islam itu temporer atau permanen? Dia menjelaskan, “Hukum Islam itu permanen. Apa yang dikatakan Nabi halal dan apa yang dikatakan Nabi haram sampai dunia ini kiamat. “Sehingga aku tawarkan pada dia bahwa kita tetap bersaudara.

Mulai saat itu juga kami selalu bersama, bahkan dalam bepergian. Dia sangat penting bagi saya. Ibarat pohon saya telah menanam dan membesarkannya, saya pergunakan waktu mudaku untuk nantinya aku bisa memetik buahnya.

Kondisi begini saya catat dan saya kirimkan ke Kementrian di London sebagai laporan. Tanggapan yang saya terima dari Kementrian ternyata positip dan meyakinkan. Muhammad Annajd sedang mengikuti alur gagasan yang saya gambarkan. Tugas saya sekarang adalah menanamkan jiwa independen dan bebas. Saya selalu mengatakan pada dia dengan pujian bahwa masa depan yang cemerlang sedang menanti anda.

Suatu hari saya berpura-pura bermimpi ketemu Nabi dan memberitahukan kepada Muhammad Annajd: “Saya tadi malam bermimpi melihat Nabi. Saya melihat Nabi saat itu memakai atribut seperti yang saya lihat dipakai orang Hojas. Nabi berdiri di atas mimbar. Di kanan kiri banyak ulama yang tidak saya kenali. Kemudian saya lihat kamu memasuki ruangan tersebut. Wajahmu bersinar bagaikan lampu mercu suar. Kamu terus berjalan menuju ke arah Nabi, dan saat kamu sudah begitu dekat. Nabi menyambut kamu dan mencium keningmu. Dia mengatakan, ‘Anda adalah belahan jiwaku, yang mewarisi ilmuku, sebagai penggantiku untuk urusan dunia dan agama.’ Kamu berkata pada Nabi, ‘Ya Rasulallah! Saya takut untuk menyampaikan ilmu saya ke pada orang lain. “Kamu benar, kamu berilmu tinggi. Jangan takut’, jawab Nabi.”

Muhammad Annajd setelah mendengar tentang mimpi saya tersebut, dia ribut memperbincangkan soal itu terus. Berkali-kali dia menanyakan kebenaran mimpi yang saya ceritakan itu, dan jawaban yang saya berikan selalu positip bahwa itu benar adanya. Menurut pengamatan saya sendiri bahwa mulai saat dia mempunyai keyakinan yang amat kuat dan mengambil keputusan untuk mempublikasikan gagasan dia tersebut. Yaitu, gagasan untuk mendirikan suatu aliran tersendiri.”(1)

(Bersambung)

—————–

(1) Dalam buku Alfajrus-Shodiq karangan Jamil Sidqi Zahawi Efendi,  guru besar ilmu aqoid di Universitas Darul-Funun Istambul, yang meninggal pada tahun 1936, yang pertama dicetak di Mesir pada tahun 1905 dan dicetak ulang di

Istambul oleh Hakikat Kitabevi, menjelaskan bahwa aliran W-a-h-h-a-b-i yang dipimpin oleh Muhammad A-n-n-a-j-d disebarkan dengan pertumpahan darah orang Islam dan atas biaya A-m-i-r D-e-r-i-y-a-h, Muhammad bin S-u’u-d.

TINGGALKAN KOMENTAR