MASJID DEMAK SIMBOL FREEMASONRY ???

MASJID DEMAK SIMBOL FREEMASONRY ???

BAGIKAN

Pendahuluan

Ada-ada saja usaha yang dilakukan, jika seseorang sudah begitu membenci walisongo. Sedikit saja ada cerita atau kutipan sejarah yang sekiranya berpeluang menghancurkan atau memfitnah walisongo, maka upaya tersebut akan dilakukan. Meski selalu saja usaha tersebut terbantah. (Anda bisa membaca salah satu bentuknya dalam tulisan di http://warkopmbahlalar.com/walisongo-keturunan-orang-china/). Upaya lainnya adalah dengan menyebut bahwa bangunan masjid demak kental dengan sistem 3 peringkat piramid dalam piramid freemason. Anda tentu tahu bahwa freemason sudah dikenal luas sebagai pihak yang sangat memusuhi Islam. Baik mereka yang meyakini bahwa freemason adalah kelompok Yahudi, atau dari Ordo Bait Allah (Pasukan Katolik di Zaman Perang Salib), atau mereka dedengkot sekuler bahkan sebagai pengikut setan. Dengan kata lain, atap masjid demak yang berbentuk limas/piramid tersebut sebagai simbol dari freemason, singkat kata masjid demak adalah bagian dari freemason, orang sekuler, penganut setan, dan musuh Islam. Untuk jelasnya bisa anda baca mengenai freemason di http://id.wikipedia.org/wiki/Freemasonry.

Layakkah tuduhan tersebut dilontarkan? Tentu sangat tidak layak. Ketika ada kemiripan soal piramid dan limas atap masjid saja sudah dianggap sama, kenapa tidak sekalian bahwa masjid demak itu bagian dari kelanjutan fir’aun??? Jauh lebih dahsyat bukan? Tulisan ini berusaha untuk mengajukan beberapa bantahan atas tuduhan tersebut.

Tanda dan Simbol

Tanda merupakan hasil sebuah konvensi atau alat untuk menunjukkan sesuatu secara lebih harfiah bila dibandingkan dengan suatu rasa yang abstrak (Afifah dan Masiming, 2008). Pengertian mudahnya adalah, tanda selalu menunjukkan hal lain. Misalnya lampu merah sebagai tanda bagi kendaraan berhenti. Warna hitam pakaian bisa menandakan kedukaan. Arti tersebut dibentuk melalui sebuah pemahaman bersama (konvensi). Tanda seseorang sudah menikah, bagi orang Eropa (memakai cincin kawin) bisa jadi berbeda dengan orang India (tanda khas India). Sementara simbol merupakan hasil dari proses kognisi; yang berarti sebuah obyek memperoleh sebuah konotasi (pengertian tambahan ) diluar dari kegunaannya. Obyek di sini bisa berupa sebuah lingkungan, orang atau berupa material artefak. Pemaknaan ini berdasarkan apakah seorang pengamat terhubung dengan obyek tersebut  (Kepes, 1966). Simbol selalu membawa makna lain dari fungsi “sesuatu”. Sebuah kursi, hanyalah artefak, benda yang berfungsi sebagai tempat duduk (tanda untuk duduk). Namun kursi singgasana bisa dimaknai sebagai kekuasaan. Hal terpenting, baik dalam tanda maupun simbol, peran penanda, pemberi makna menjadi unsur penting. Bendera merah putih bagi orang Indonesia menjadi simbol sebagai bangsa, tapi bari orang Amerika bisa tidak berarti apa-apa.

Berkenaan dengan artsitektur, maka terdapat beberapa variabel lingkungan yang mengandung makna dan menjadi simbol, salah satunya adalah Konfigurasi bangunan  :  dalam hal ini bentuk-bentuk  dan pola-pola yang terdiri dari gaya arsitektural. Dalam budaya tertentu bentuk seperti lingkaran atau pola simetri memiliki makna tertentu tergantung pada institusi religius yang mereka anut serta konvensi sosialnya (Lang: 1987). Model atap adalah salah satu contoh konkrit dari pendapat tersebut.

Piramid, Limas Simbol Khusus Freemasonry?

Bentuk segitiga sama sisi, limas, piramid dalam berbagai peradaban dapat ditemuai. Dan itu bukan satu-satunya bentuk konfigurasi bangunan yang dapat dimaknai secara tunggal. Freemansory yang menggunakan simbol piramid (unfinish piramid) bukan satu-satunya lembaga atau kelompok sosial yang menjadi bentuk piramid sebagai simbolnya. Jauh sebelum freemason, mesir sudah mengenalnya. Memang sebagian meyakini bahwa freemason adalah para penerus pembangun kuil piramid fir’aun (mason=tukang batu), sehingga antara freemason mempunyai keterkaitan dengan kaum israel/yahudi yang dijadikan budak  fir’aun. Dus singkatnya freemason adalah kaum Yahudi.

Di belahan dunia lain, di Jawa masyarakatnya sudah mengenal gunung. Dan anda bisa perhatikan, bahwa gunung juga seperti piramid. Kepercayaan yang berkembang kemudian, bahwa gunung sebagai tempat tertinggi, tempat suci, tempat bersemayam para dewa, roh suci, penguasa alam. Ini tidak jauh berbeda dengan bangsa Yunani kuno. Artinya pemaknaan bentuk piramida akan sangat ditentukan dalam konteks masyarakat dan budaya yang membangun konvensi untuk memberi makna atas sebuah simbol/tanda yang dipakai. Tumpeng yang berbentuk gunung juga mempunyai makna khas bagi orang Jawa, dan pemaknaannya bisa berubah sesuai dinamika masyarakat tersebut. Dengan demikian, memaknai sebuah simbol bangunan, maka selayaknyalah memperhatikan pemahaman dari masyarakat dan budaya setempat.

 Makna Simbolik Atap Masjid Demak

 Dalam kaitan pembahasan ini, maka perlu diajukan pula atap Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon dan Masjid Agung Banten. Perhatikanlah gambar berikut :

   

Atap masjid Demak disebut Lancip Bemahkota, sementara atap Masjid Sang Cipta Rasa Cirebon Limasan Tanpa Mahkota dan Masjid Agung Banten piramida Bermahkota Tumpang (tumpuk-Jawa). Mengenai hal ini ada pemaknaan dari masyarakat bahwa dulu ketika masjid demak dibangun, juga hendak didirikan masjid lain sebagai kembarannya, yaitu masjid Sang Cipta Rasa Cirebon. Hal ini bagi sebagian orang dimaknai bahwa kekuasaan sebenarnya tetap ada pada demak (dengan mahkota), meski Cirebon juga mempunyai petinggi dan wilayah (bisa jadi wilayah kerajaan tersendiri).

Sumber lain menyebutkan bahwa sebenarnya atap masjid Cirebon tersebut ada mahkota, namun ternyata mahkotanya pindah ke masjid agung Banten, bahkan sampai tumpang. Legenda ini bisa dimaknai bahwa wilayah Jawa bagian barat yang punya kuasa sebenarnya ada di Banten. Ini soal pemaknaan, bisa berbeda antara satu sama lain. Tetapi semua itu berakar dalam masyarakat setempat.

Khusus mengenai tingkatan atap masjid agung Demak berjumlah tiga, maka itu sebagai simbol iman, islam dan ihsan sebagai pilar utama dalam agama Islam. Itulah makna simbolik yang dipahami (dikonvensikan) oleh masyarakat (Islam) Jawa, yang hendak dibangun oleh para walisongo melalui simbol bangunan.

 Berbeda sekali dengan Freemason

            Dari sisi bentuk piramid, memang sama-sama bentuk piramid, tetapi ada simbol khusus yang membedakan, yaitu puncaknya. Perhatikanlah simbol freemason berikut, di atas piramid ada mata yang disebut “all seeing eye” yang menurut Menurut Fredrick Goodman, mata yang melihat di puncak piramida itu memainkan peranan sangat penting dalam dunia okultis. Asal lambang tersebut adalah “The Eye of Horus” dari zaman Mesir purba. Sementara masjid demak adalah mahkota, yang menunjukkan sebagai masjid kerajaan. Mata tunggal tersebut dimaknai sebagai penguasa yang selalu mengawasi, penguasa dunia, pemimpin dunia, yang berusaha menyatukan seluruh umat manusia dalam kendalinya. Jika anda pernah menyaksikan film “Lord of The Ring”, anda akan paham, bahwa mata tunggal tersebut selalu berusaha menaklukkan dunia dalam genggamannya dan memaksa semua penduduknya mengabdi kepadanya.

  

Penutup

            Sekali lagi, hanya jika sesuatu itu mirip kemudian disamakan, tanpa memperhatikan konteks yang seharusnya diperhatikan, maka sama saja membuat tuduhan yang ngawur. Bangunan yang menggunakan bentuk limas, tidak hanya di masjid Demak, bahkan bentuk rumah masyarakat Jawa sudah lazim menggunakan itu. Di luar Jawa juga menggunakan bentuk dasar yang sama, dengan berbagai variasi. Bentuk atap masjid Demak yang berbentuk limas itu bukan menjadi simbol freemasonry, atau menjadi bagian konspirasi mereka, tetapi sebagai merupakan bentuk yang lazim digunakan dalam budaya Jawa. Apakah bentuk rumah orang eskimo atau Papua seperti kubah itu menunjukkan ada kaitannya dengan kubah masjid di timur tengah???? Kan jelas tidak. Tentu ada makna simbolik yang dipahami dan dimengerti oleh masyarakat setempat. Semoga tulisan ini sedikit menambah wawasan mengenai soal budaya masyarakat muslim di Jawa.

Referensi :

1)    Achmad Fanani, “Arsitektur Masjid di Jawa”

2)    Afifah Harisah dan Zulfitria Masiming, “Persepsi Manusia terhadap Tanda, Simbol dan Spasial”.

3)    Lang J, 1987,  Creating Architectural Theory, The Role of The Behavioral Sciences in Environmental Design, Van Nostrand Reinhold  Company Inc, New York.

4) http://debatno1.blogspot.com/2011/07/arti-lambang-g-pada-freemason.html

5) http://www.indonology.com/tag/arti-simbol-pyramid

1 KOMENTAR

  1. di Sunda pun demikian, bentuk atap seperti masjid demak merupakan perwujudan tumpeng
    dan masjid sang cipta rasa di cirebon kenapa tanpa mahkota (cungkup/memolo) katanya karena ada seorang yang jahat bermaksud menyerang, orang jahat itu diam di atas atap masjid, dekat dengan mahkota masjid, untuk melawannya, disana diadakan adzan pitu (adzan oleh 7 orang) dan katanya orang itu terpental begitupun mahkota masjid yang terpental sampai di masjid agung Banten. wallahu a’lam

TINGGALKAN KOMENTAR