Masalah Hadits Dlo,if

Masalah Hadits Dlo,if

BAGIKAN

HAL-HAL YANG PATUT DILURUSKAN BERKAITAN DENGAN HADIST DLO’IF

oleh Dhimas W Asyifa

Masalah Hadit Dlo,if
Masalah Hadit Dlo,if

(kumpulan dr berbagai kajian aswaja tentang hadist dhaif)

1. KRITERIA SHAHIH ATAU DHAIF SUATU HADIST TERNYATA KHILAFIAH

Kalau di dalam ilmu fiqih kita mengenal istilah khilafiyah, maka di dalam ilmu kritik hadits kita juga mengenal kejadian yang sama. Ternyata para muhaddits itu pun tidak luput dari perbedaan pendapat.

Maka jangan dikira keshahihan suatu hadits adalah kebenaran yang mutlak dan satu. Tiap hadits yang dibilang shahih itu sebenarnya masih bersifat tentatif dan subjektif. Shahih menurut siapa dan dha’if menurut siapa?

Kita ambil contoh sederhana, sebuah hadits yang dibilang shahih oleh seorang muhaddits, belum tentu dishahihkan oleh muhaddits lainnya. Belum tentu ketika Al-Bukhari menshahihkanhadits, lalu hadits itu dishahihkan juga oleh At-Tirmizy. Dan hal yang sama berlaku juga sebaliknya.

Semua ulama sepakat bahwa salah satu unsur keshahihan hadis adalah apabila diriwayatkan oleh perawi yang adil. Namun, apa syarat-syarat seorang perawi dinyatakan adil ? Para ulama berbeda pendapat soal ini. Imam al-Hakim berpendapat bahwa mereka yang memilki kriteria sbb:

“Islam, tidak berbuat bid’ah, tidak berbuat maksiyat sudah dipandang memenuhi kriteria adil”.

Sementara itu, Imam al-Nawawi berpendapat bahwa kriteria adil adalah mereka yang “islam, balig, berakal,memelihara muru’at, dan tidak fasik”.

Ibn al-Shalah memang hampir sama dg Nawawi ketika memberi kriteria adil, yaitu :

“Islam, balig, berakal, muruat, dan tidak fasik”.

Namun antara Imam al-Nawawi dan Ibn al-Shalah berbeda dalam menjelaskan soal memelihara muru’at tersebut.

Perdebatan juga muncul, berapa orang yang harus merekomendasikan keadilan tersebut. Apakah cukup dg rekomendasi (ta’dil) satu imam saja ataukah harus dua imam utk satu rawi. Unsur lain yang jadi perdebatan dalam masalah hadits Dlo,if adalah masalah bersambungnya sanad sebagai salah satu kriteria keshahihan suatu Hadis.

Imam Bukhari telah mempersyaratkan kepastian bertemunya antara periwayat dan gurunya paling tidak satu kali. Sedangkan Imam Muslim hanya mengisyaratkan “kemungkinan” bertemunya antara perawi dan gurunya; bukan kepastian betul-betul bertemu. Perbedaan ini jelas menimbulkan perbedaan dalam menerima dan menilai kedudukan suatu hadis.

2. PERLUNYA MEMBEDAKAN ANTARA HADIST DHAIF DAN HADIST MAUDLU

Sering kali dalam diskusi terkesan ada yang menganggap bahwa hadist dhaif adalah hadis maudlu. Mereka berpendapat bahwa hadist dhaif itu tidak bisa dipakai sehingga secara tidak sadar telah menyamakannya dengan hadist maudlu.

Tentu ini tidak bisa dipertanggung jawabkan sebab ulama ahli hadist sendiri telah membedakannya. Andaikata hadist dhaif dan hadist maudlu itu sama tentu para ulama ahli hadist telah melakukan kesia-sian dengan membedakan keduanya . Na’udzubillah

Tentang ini tentu kita harus lebih memilih kesepakatan ulama ahli hadits daripada selain mereka.Apalagi rasulullah juga telah mengingatkan kita akan pentingnya sebuah urusan untuk diserahkan pada ahlinya.

إِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا يَا رَسُولَ اللَّهِ

قَالَ إِذَا أُسْنِدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ

فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika amanat telah disia-siakan, tunggu saja kehancuran terjadi.” Ada seorang sahabat bertanya; ‘bagaimana maksud amanat disia-siakan? ‘ Nabi menjawab; “Jika urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancuran itu.” (HR. BUKHARI )

Bila ahli hadist saja membedakan keduanya, maka secara langsung juga akan melahirkan setidak tidaknya 2 hukum yang berbeda yakni satu boleh dipakai sedang yang lain tidak boleh dipakai.

3. KEBOLEHAN MEMAKAI HADIST DHAIF ADALAH IJMA PARA AHLI HADIST

Hadis dha’if berbeda dari hadis maudhu’ (palsu). Hadis dha’if tetap harus diakui sebagai hadis, dan menjadikannya sebagai dalil atau dasar untuk melakukan suatu amalan kebaikan yang berkaitan dengan fadha’il al-a’mal (keutamaan amalan) adalah sah menurut kesepakan para ulama hadis.

Dalam kitab Majmu’ Fatwa Wa Rasail dijelaskan bahwa penggunaan hadist dhaif dalam fadhailul amal sebagai berikut :

   1.  bukan hadits yang sangat dha’if. Karena itu, tidak boleh mengamalkan hadits yang diriwayatkan oleh orang yang sudah terkenal sebagai pendusta, fasiq, orang yang sudah terbiasa berbuat salah dan semacamnya.

   2.  masih berada di bawah naungan ketentuan umum serta kaidah-­kaidah yang universal. Dengan kata lain, hadits tersebut tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah agama, tidak sampai menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal.

   3. tidak berkeyakinan bahwa perbuatan tersebut berdasarkan Hadits Dha’if, namun perbuatan itu dilaksanakan dalam rangka ihtiyath atau berhati-hati dalam masalah agama.IHTIYATH sudah pasti dibenarkan dalam agama Islam.

Perhatikan pula  isyarat-isyarat para ulama berikut ini:

قال: ويجوز رواية ما عدا الموضوع في باب الترغيب والترهيب، والقصص والمواعظ، ونحو ذلك، إلا في صفات الله عز وجل، وفي باب الحلال والحرام. (الباعث الحثيث شرح اختصار علوم الحديث للحافظ ابن كثير، أحمد مجمد شاكر، دار الكتب العلمية، ص. 85)

“(Ibnu Katsir) berkata: ‘Dan boleh meriwayatkan selain hadis maudhu’ (palsu) pada bab targhib (stimulus/anjuran) dan tarhib (ancaman), kisah-kisah dan nasehat, dan yang seperti itu, kecuali pada sifat-sifat Allah ‘Azza wa Jalla dan pada bab halal & haram”

(lihat al-Ba’its al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits lilhafizh Ibni Katsir, Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, hal. 85).

مع أنهم أجمعوا على جواز العمل بالحديث الضعيف في فضائل الأعمال (شرح سنن ابن ماجه ج: 1 ص: 98)

“… sementara mereka (para ahli hadis) telah berijma’ (bersepakat) atas bolehnya mengamalkan hadis dha’if (lemah) di dalam fadha’il al-a’mal (keutamaan amalan) “ (lihat Syarh Sunan Ibnu Majah, juz 1, hal. 98).

باب التشدد في أحاديث الأحكام والتجوز في   فضائل الأعمال. قد ورد واحد من السلف انه لا يجوز حمل الأحاديث المتعلقة بالتحليل والتحريم الا عمن كان بريئا من التهمة بعيدا من الظنة واما أحاديث الترغيب والمواعظ ونحو ذلك فإنه يجوز كتبها عن سائر المشايخ (الكفاية في علم الرواية، الخطيب البغدادي، ج. 1، ص. 133)

“Bab bersikap ketat pada hadis-hadis hukum, dan bersikap longgar pada fadha’il al-a’mal. Telah datang satu pendapat dari seorang ulama salaf bahwasanya tidak boleh membawa hadis-hadis yang berkaitan dengan penghalalan dan pengharaman kecuali dari orang (periwayat) yang terbebas dari tuduhan, jauh dari dugaan. Adapun hadis-hadis targhib (stimulus/anjuran) dan mawa’izh (nasehat) dan yang sepertinya, maka boleh menulisnya (meriwayatkannya) dari seluruh masyayikh (para periwayat hadis)” (lihat al-Ba’its al-Hatsits Syarh Ikhtishar ‘Ulum al-Hadits lilhafizh Ibni Katsir, Ahmad Muhammad Syakir, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, Beirut, hal. 85).    

4. BANTAHAN ILMIAH BAHWA SEJUMLAH HUFADZ MENOLAK HADIST DHAIF SECARA MUTLAK

Beberapa pihak menyatakan bahwa pendapat Imam An Nawawi mengenai ijma’ ulama tentang bolehnya mengamalkan hadits dhaif dinilai lemah. Alasannya, sejumlah huffadz jelas-jelas melarang. Benarkah pendapat tersebut?

Dalam muqadimah kitab Al Arba’ain An Nawawiyah (hal.3), Imam Nawawi menyebutkan bahwa dibolehkan dan disunnahkan mengamalkan hadits dhaif dalam masalah fadhail selain halal dan haram, sifat Allah dan aqidah.

Pendapat Imam Nawawi ini dibenarkan oleh beberapa ulama seperti Ibnu Hajar Al Haitami Al Makki dalam Fathu Al Mubin (hal. 32) dan Syeikh Al Ghumari dalam Al Qaul Al Muqni’ (hal.2,3).

Sedangkan mereka yang berseberangan dengan pendapat Imam An Nawawi, merujuk kepada pendapat Al Allamah Al Qasimi dalam Al Qawaid At Tahdits (hal. 113). Dalam kitab itu beliau menyatakan bahwa beberapa ulama menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail. Disebutkan dalam kitab tersebut mereka yang menolak antara lain Al Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi.

Dengan demikian, menurut kelompok ini, klaim An Nawawi mengenai adanya kesepakatan ulama gugur, karena beberapa ulama menolak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail, seperti yang disebutkan Al Qasimi.

Bagaimana duduk masalah hadits dlo,if sebenarnya? Tepatkah pendapat Al Qasimi tersebut, bahwa Imam Al Bukhari, Muslim, Yahya bin Ma’in serta Ibnu Al Arabi menolak hadits dhaif dalam Al Fadhail?

Imam Al Bukhari

Beberapa ulama menyebutkan bahwa penyandaraan pendapat yang menolak hadits dhaif untuk fadhail terhadap Imam Bukhari adalah kurang tepat. Sebab beliau sendiri juga menjadikan hadits dhaif untuk hujjah. Ini bisa dilihat dari kitab beliau Al Adab Al Mufrad, yang bercampur antara hadits shahih dan dhaif. Dan beliau berhujjah dengan hadits itu, mengenai disyariatkannya amalan-amalan. Ini bisa dilihat dari judul bab yang beliau tulis.

Syeikh Abdul Fattah Abu Ghuddah, telah menulis masalah ini dalam komentar beliau terhadap kitab Dhafar Al Amani, karya Imam Al Laknawi (hal. 182-186), dengan merujuk kitab Fadhullah As Shamad fi Taudhih Al Adab Al Mufrad, karya Syeikh Fadhlullah Al Haidar Al Abadi Al Hindi, ulama hadits dari India yang wafat pada tahun1399 H.

Tidak hanya dalam Al Adab Al Mufrad, dalam Shahihnya pun kasus hampir serupa terjadi. Ibnu Hajar Al Asqalani menyebutkan dalam Hadyu As Sari (2/162), saat menyebutkan perawi bernama Muhammad bin Abdurrahman At Tufawi, yang oleh Abu Zur’ah dikatakan “mungkarul hadits”, dikatakan bahwa dalam Shahih Al Bukhari ada 3 hadits yang diriwayatkan oleh perawi tersebut dan semuanya dalam masalah riqaq (hadits akhlak dan motifasi), dan ini tergolong gharaib dalam Shahih Al Bukhari. Ibnu Hajar mengatakan,”Sepertinya Bukhari tidak memperketat, karena termasuk hadits targhib wa tarhib”.

Imam Muslim

Adapun perkataan Imam Muslim dalam muqadimah As Shahih, tidak bisa diartikan sebagai larangan mutlak atas penggunaan hadits dhaif dalam fadhail. Muslim mengatakan dalam muqadimah Shahih,” Dan ketahuilah-wafaqakallah-bahwa wajib bagi siapa saja untuk membedakan antara shahih riwayat dan saqimnya, serta orang-orang tsiqah yang menukilnya daripada mereka yang tertuduh (memalsukan). Tidak meriwayatkan darinya (periwayatan), kecuali yang diketahui keshahihan outputnya dan yang terjaga para periwatnya, serta berhati-hati terhadap periwayatan mereka yang tertuduh, dan para ahli bid’ah yang fanatik.” (Muslim dengan Syarh An Nawawi (1/96)

Syeikh Dr. Mahmud Said, ulama hadits dari Mesir mengomentari perkataan Imam Muslim di atas. Dalam At Ta’rif (1/99) beliau mengataan,”maknanya, wajib bagi siapa saja yang ingin menyendirikan hadits shahih dan mengetahui perbedaan antara shahih…” Artinya, himbauan Imam Muslim di atas untuk mereka yang ingin menyendirikan hadits shahih.

Beliau juga memandang bahwa tidak seorang hafidz pun yang telah melakukan rihlah (mencari hadits) meninggalkan periwayatan para perawi dhaif, hatta Imam Muslim. Karena itu, Imam Muslim memasukkan perawi lemah dan mutruk, yang menurut Muslim tergolong jenis khabar kelompok ketiga, ke dalam Shahih Muslim untuk mutaba’ah dan syawahid. Dengan demikian, pernyataan Muslim di atas tidak berlaku mutlak.

Yahya bin Ma’in

Mereka yang memandang bahwa Yahya bin Ma’in menolak hadits dhaif dalam fadhail merujuk kepada Uyun Al Atsar (1/25). Dalam kitab tersebut Ibnu Sayidi Annas menyebutkan bahwa Yahya bin Ma’in menyamakan khabar mengenai sejarah dan khabar ahkam, hingga kedua-duanya harus berlandaskan hadits shahih.

Akan tetapi, pernyataan ini bertentagan dengan pernyaataan beberapa huffadz. Al Khatib Al Baghdadi dalam Kifayah (hal. 213), serta As Sakhawi dalam Fath Al Mughits (1/223), menyatakan bahwa Ibnu Ma’in berpendapat bahwa hadits dhaif dalam hal selain halal dan haram bisa dipakai.

Syeikh Nur As Syaif pun mengomentari pernyataan Ibnu Sayidi Annas dalam muqadimah Tarikh Ibnu Ma’in (1/107), “Beliau telah menulis periwayatan tentang al maghazi (peperangan) dari Al Bakka’i, yang menyatakan bahwa di dalamnya ada perawi laisa bisyai’. Dan beliau mengatakan,”Tidak mengapa dalam maghazi, akan tetapi untuk yang lainnya tidak.”

Ibnu Adi dalam Al Kamil (1/366), menukil dari Abnu Abi Maryam,”Saya mendengar Yahya bin Ma’in mengatakan, Idris bin Sinan ditulis haditsnya dalam masalah ar riqaq (akhlak).”

Ibnu Al Arabi Al Ma’afiri

Beliau adalah, disamping muhadits juga fuqaha’ madzhab Maliki, yang berjalan di atas madzhabnya yang menggunakan hadits mursal. Dan pernyataan beliau dalam Al Aridhah Al Ahwadzi (10/205), saat menerangkan Kitab Al Adab dalam Jami’ At Tirmidzi,”Diriwayatkatkan oleh Abu Isa sebuah hadits majhul,’jika kamu ingin maka puasalah, jika tidak maka tidak perlu,’ walau ini majhul, akan tetapi mustahab beramal dengannya, karena menyeru kebaikan…”

Dengan demikian, pernyataan Syeikh Al Qasami mengenai sejumlah huffadz yang menolak secara mutlak penggunaan hadits dhaif dalam fadhail menjadi lemah, setelah ditahqiq. Allahu’alam.

• Diambil dari pembahasan Syeikh Dr. Mamduh dalam At Ta’rif

Rujukan utama

1.At Ta’rif, Mahmud Said Mamduh, cet.2, tahun 2002, Dar Al Buhuts li Ad Dirasat Al Islamiyah wa Ihya’ At Turats, Emirat.

Rujukan Pendukung

2.Dhafar Al Amani, Imam Al Laknawi, tahqiq Abdul Fattah Abu Ghuddah, cet. 3, tahun 1416 H, Maktab Al Mathbu’at Al Islamiyah, Beirut.

3.Shahih Muslim Syarh An Nawawi, tahqiq Ishamuddin Shababity dkk, cet. Tahun 2005, Dar Al Hadits, Kairo.

2 KOMENTAR

  1. Ass.Wr.Wr. Subhanallah, ya rabb tunjukilah kami dan sdr kami untuk mengetahui Hadist palsu. yg bisa ku ketahu ciri hadist palsu : 1. tidak sesuai dg AlQuran.2. kalau dipakai bermasalah selalu timbul perdebatan,3. isinya lebih banyak soal dunia /manusia diarahkan sepihak saja.4. membuat orang berdalih lebih emosinal dg hadist tsb.5. membuat manusia hidup bergolongan.6. bagi yg kesucian hatinya bagus ,ketika dipegang kitab hadist hatinya panas, makin banyak palsu hati terasa makin panas, kembalilah kepada AlQuran kita tidak akan berkhilafiah (udkhuluu fissilmi kaffah), bukan khilafiah yang dibesarkan, membuat celaka orang-orang yang mengaku beriaman masuk neraka bila masih senang berkhilafiah, kalau faham quran umat selalu damai hidup ini. trimakasih

TINGGALKAN KOMENTAR