MANAJEMEN AMAR MA’RUF (bagian ke-3 /habis)

MANAJEMEN AMAR MA’RUF (bagian ke-3 /habis)

BAGIKAN

BAGIAN KETIGA

(lihat bagian ke-1)

(lihat bagian ke-2)

Etika amar ma’ruf nahi munkar

Selanjutnya, dalam meningkatkan efektivitas amar ma’ruf nahi munkar, terdapat sejumlah etika yang harus dipenuhi. Imam Al-Ghazali menyebutkan, bahwa di antara sekian banyak etika, terdapat tiga etika pokok, yakni melandasi kesemuanya,

(1)      Ilmu dan pengetahuan tentang seluk beluk amar ma’ruf nahi munkar. Berbekal ilmu, seseorang tahu dalam hal-hal apa dia harus terapkan hisbah, batasan-batasan yang bagaimana yang harus dipedomaninya, dan hal-hal apa yang mengharuskannya menahan diri dari tindakan hisbah. Dengan keilmuan ini, seseorang mengacu pada syariat yang mengatur tata cara hisbah.

(2)      Wara’, yakni kepribadian pelaku amar ma’ruf yang sepenuhnya mencerminkan misi yang diembannya. Idealnya, penganjur kebaikan adalah seorang yang telah melakukan kebaikan sebagaimana dia menganjurkannya, dan pencegah kemaksiatan adalah seorang yang konsisten menjauhi kemaksiatan sebagaimana dia mencegahnya. Kondisi ideal inilah yang menjadikan hisbah sebagai upaya yang berwibawa, serta lebih mudah diterima oleh dan diikuti oleh para target hisbah.

(3)      Husn al-khulq, yakni akhlak batin yang terpuji, sehingga seorang pelaku amar ma’ruf melakukan tindakannya dengan cara yang halus dan lemah lembut. Kemarahan dalam melakukan amar ma’ruf, tak cukup terobati dengan sekedar bekal ilmu dan wara’. Husn al-khulq inilah yang membentenginya. Ini karena, motif awal dari amar ma’ruf nahi munkar adalah rasa belas kasih pada orang lain yang tersesat jalan, bukan pemenuhan nafsu pencitraan diri dan martabat. Sehingga jika suatu saat pelaku hisbah mendapat respon buruk dari para target hisbah, semisal harga dirinya dicemarkan, atau hak kekayaannya dirongrong, maka dia tetap ingat dan fokus pada garis misinya karena Allah semata, tidak tersibukkan dengan membela diri pribadinya.

Jika tiga hal ini tidak terwujud pada diri pelaku hisbah, maka kemungkaran tidak akan terhentikan. Bahkan, bisa jadi aktivitas amar ma’ruf nahi munkar akan menjadi sebentuk kemungkaran yang lain.

Diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ أَمَرَ بِمَعْرُوفٍ فَلْيَكُنْ أَمْرُهُ بِمَعْرُوفٍ (رواه البيهقي)

Barangsiapa memerintahkan kebaikan, maka hendaknya perintahnya pun dengan cara yang baik. (HR. Baihaqi)

Demikian, amar ma’ruf nahi munkar sebagai salah satu pilar penting demi tegaknya agama dalam sebuah komunitas. Semoga Allah melindungi umat ini dengan tampilnya para pegiat amar ma’ruf nahi munkar. Amiin.

 

Referensi

  1. Muhammad bin Muhammad Al-Ghazâlî, Ihyâ’ ‘Ulumiddin, Surabaya : Al-Hidayah, tt.
  2. Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitamî, Az-Zawâjir ‘an Iqtirâf al-Kabâir,
  3. Wizârat al-Awqâf wa al-Syu’ûn al-Islâmiyyah bi al-Kuwait, Al-Mausû’ah al-Fiqhiyyah, Kuwait: Wizârat al-Awqâf al-Kuwaitiyyah, tt.

TINGGALKAN KOMENTAR