MANAJEMEN AMAR MA’RUF (bagian ke-2)

MANAJEMEN AMAR MA’RUF (bagian ke-2)

BAGIKAN

BAGIAN KEDUA

(lihat bagian ke-1)

* Muhtasab fîh (perbuatan yang menjadi obyek ihtisâb)

Kriteria perbuatan yang layak untuk menjadi obyek hisbah adalah sebagai berikut :

(1)      Segala perbuatan munkar. Perbuatan munkar adalah perbuatan yang dalam syari’at harus dicegah terjadinya. Kemungkaran lebih luas cakupannya dari kemaksiatan. Karena kemaksiatan adalah perbuatan yang menyebabkan dosa pada pelakunya. Sedangkan perbuatan mungkar, tidak selalu berakibat dosa bagi pelaku. Minum arak, atau berzina yang dilakukan oleh orang gila atau anak kecil adalah sebuah perbuatan munkar yang harus dicegah terjadinya, meski bukan merupakan kemaksiatan, karena pelaku bukan mukallaf (yang terkena beban syari’at). Perbuatan munkar juga mencakup perbuatan dosa besar ataupun dosa kecil.

(2)      Perbuatan munkar sedang berlangsung. Sehingga perbuatan munkar yang telah selesai dilakukan, tidak ada kewajiban atas per individu muslim untuk menanganinya. Pemerintah lah yang berkewajiban dalam hal ini. Demikian pula, perbuatan munkar yang belum hendak terjadi. Semisal, dengan sejumlah indikasi, seseorang diduga hendak berpesta minuman keras. Dalam hal ini, tidak ada kewajiban hisbah kecuali sebatas nasihat. Atau jika orang tersebut membantah dugaan bahwa dia berencana melakukan maksiat, maka menasihatinya pun tidak diperbolehkan, karena hal tersebut sama halnya dengan su’udhdhann (berburuk sangka) kepada seorang muslim.

(3)      Perbuatan munkar tampak oleh pelaku hisbah tanpa penyelidikan (tajassus). Sehingga setiap orang yang menyembunyikan tindak maksiat di dalam rumahnya dan mengunci rapat-rapat pintunya, tidak boleh diselidiki kesalahannya. Karena Allah melarang perbuatan tajassus ini. (QS. Al-Hujurat : 12).

(4)      Dipastikan statusnya sebagai tindakan munkar tanpa penilaian ijtihadi yang relatif. Karena sebuah perbuatan terkadang distatuskan munkar berdasarkan ijtihad sejumlah ulama’ mujtahid, dan oleh ulama’ yang lain tidak distatuskan sebagai tindakan munkar. Penganut madzhab Hanafi tidak boleh melarang penganut madzhab Syafi’i yang memakan daging sembelihan tanpa dibacakan basmalah. Karena menurut madzhab Syafi’i, daging sembelihan yang halal dimakan tidak harus dibacakan basmalah, walaupun menurut madzhab Hanafi pembacaan basmalah adalah prasyarat kehalalan. Sebaliknya, penganut madzhab Syafi’i tidak berhak melarang penganut madzhab Hanafi yang mengkonsumsi minuman nabidz yang tidak memabukkan, meski menurut madzhab Syafi’i nabidz adalah haram walaupun tidak memabukkan. Standar perbuatan munkar yang dapat diterapkan hisbah dalam hal ini adalah perbuatan kemunkaran versi madzhab yang dianut pelaku perbuatan tersebut.

* Muhtasab ‘alaih (pelaku perbuatan yang menjadi obyek ihtisâb)

Kriteria orang yang menjadi target hisbah adalah seseorang yang sedang melakukan perbuatan yang layak disebut sebagai kemungkaran. Berdasarkan kriteria di atas, batas minimal muhtasab alaih adalah seorang manusia, tidak harus mukallaf. Karena, sebagaimana paparan sebelumnya, anak kecil atau orang gila yang sedang menenggak minuman keras, harus dicegah, karena perbuatannya ini termasuk munkar, meski bagi keduanya, hal tersebut bukan merupakan dosa.

* Ihtisâb (tindakan amar ma’ruf nahi munkar)

Dalam amar ma’ruf nahi munkar, terdapat tahapan-tahapan serta etika dalam tata laksananya. Mayoritas ulama’ merumuskan tata laksana amar ma’ruf nahi munkar dalam tiga tahapan dasar, sebagaimana hadis yang diriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudzriy radliyallâhu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

 

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ (رواه مسلم)

Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah dia merubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu, maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu, maka (ingkarilah) dengan hatinya. Semacam itu adalah selemah-lemah iman. (HR. Muslim)

Secara terperinci, Imam Al-Ghazali dalam Ihya’-nya memaparkan tahapan-tahapan amar ma’ruf nahi munkar dalam delapan tahapan. Di bagian lain dari kitab Ihya’ beliau menyederhanakannya dalam lima tahapan, sebagai berikut :

Tahapan pertama, ta’rif atau pemberitahuan. Ini karena sebuah kemungkaran yang dilakukan seseorang, terkadang dilatarbelakangi ketidaktahuannya bahwa hal tersebut adalah terlarang. Hendaknya, pemberitahuan ini dilakukan dengan cara lembut dan sebaik-baiknya.

Tahapan kedua, menasihati dengan ucapan lemah lembut. Ini diberlakukan pada pelaku kemungkaran yang tahu bahwa perbuatannya itu adalah sebuah kemungkaran, atau orang yang masih melanjutkan tindak kemungkaran setelah dia tahu bahwa perbuatannya tersebut adalah sebuah kemungkaran.

Tahapan ketiga, hujatan dan reaksi keras dengan ucapan kasar. Tahapan ini terpaksa dilakukan jika pencegahan secara halus tidak membuahkan hasil, atau nampak tanda-tanda pengabaian dan pelecehan atas nasihat dan petuah yang disampaikan. Ucapan kasar yang dimaksudkan di sini bukanlah umpatan kotor, atau ucapan yang mengandung tuduhan zina, bukan pula ungkapan yang mengandung kebohongan. Akan tetapi ungkapan yang sesuai kenyataan, semisal “Hai orang bodoh!”, atau “Hai orang fasiq! Tidakkah kau takut pada Allah?” dan yang semisalnya. Hendaknya, dalam tahapan ini juga dilakukan seperlunya, dengan mempertimbangkan efektivitas upaya tahap ini dalam menghentikan kemungkaran pelaku.

Tahapan keempat, mencegah paksa dengan tangan, seperti membuang khamr dengan menuangnya keluar, mencopot pakaian sutera, menyeret keluar dari rumah yang di-ghashab, dan lain sebagainya. Tahapan ini berlaku pada sebagian bentuk kemungkaran. Karena sebagian bentuk lainnya tidak mungkin diberlakukan tahapan ini, seperti kemaksiatan lisan dan hati. Sama seperti tahapan sebelumnya, hendaknya upaya dalam tahapan ini juga dilakukan seperlunya.

Tahapan kelima, ancaman dan gertakan dengan tindakan yang ditakuti pelaku kemungkaran. Dilanjutkan dengan realisasi dari ancaman tersebut jika diperlukan, dengan pukulan, tendangan atau tindakan kekerasan lain yang tanpa menggunakan senjata. Tahapan ini boleh dilakukan oleh individu masyarakat saat kondisi darurat, dan hanya sebatas kebutuhan dalam menolak kemungkaran. Jika cukup dilakukan dengan tanpa tindak kekerasan, maka tahapan kelima ini tidak boleh dilakukan. Adapun hisbah dengan menggunakan senjata, hanya boleh dilakukan oleh pemerintah. Sedang jika penanganan tidak mungkin dilakukan sendiri maka upaya mendatangkan bala bantuan diperbolehkan jika tidak khawatir akan terjadi kekacauan. Yang lebih baik adalah melaporkannya pada pihak berwenang atau pemerintah.

Bersambung ke bagian ke-3

1 KOMENTAR

  1. Hadits diatas yang diriwayatkan imam muslim menurut ulama ahlussunnah adalah jika anda mampu dengan tangannya yaitu dilakukan oleh ulil amri atau pemerintah melalui aparat keamanan bukan ormas2 tertentu, kalau tidak mampu maka dengan lisannya ini dilakukan oleh orang2 yang luas ilmu agamanya yaitu ulama/ustadz dengan tutur kata yang baik dan lembut, trus jika tidak mampu maka ingkarilah kemungkaran dengan hati kita, ini dilakukan oleh orang2 yang seperti kita. Trus pembahasan masalah amar ma’ruf nahi munkar hendaknya jangan menukil 1 ulama saja coba cari pembahasan dari banyak ulama2 ahlussunnah agar kita mengetahui dan menyimpulan manakah yang lebih mendekati kebenaran sesuai alqur’an dan assunnah

Comments are closed.