MANAJEMEN AMAR MA’RUF (bagian ke-1)

MANAJEMEN AMAR MA’RUF (bagian ke-1)

BAGIKAN

Dari Abu Hurairah radliyallahu anhu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنْ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُسَلَّطَنَّ عَلَيْكُمْ شِرَارُكُمْ , ثُمَّ يَدْعُو خِيَارُكُمْ فَلَا يُسْتَجَابُ لَهُمْ (رواه الطبراني)

Sungguh, perintahkanlah yang baik, cegahlah yang mungkar! Atau, Allah akan menguasakan kalian pada penguasa paling jahat di antara kalian, lalu orang terbaik kalian berdoa, akan tetapi tak terkabulkan.

* * * * * * * * * * *

Kaum muslimin adalah ibarat satu kesatuan tubuh. Jika salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit. Jika salah satu anggota tubuh buruk, maka yang lain pun akan merasakan dampaknya. Solidaritas inilah yang menjadi ruh yang sedari awal dibangun Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam. Bukan sekedar saling tolong menolong dalam kebutuhan lahiriyah, tetapi tolong menolong dalam ketakwaan dan dimensi akhirat. Dalam kerangka inilah amar ma’ruf nahi munkar, atau memerintahkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, menjadi salah satu cabang syari’at yang memiliki urgensi tersendiri. Keberadaannya menjadi prasyarat bagi umat Islam agar tetap mendapatkan label umat terbaik. Keselamatan umat, bergantung pada seberapa gencar amar ma’ruf nahi munkar ini diperjuangkan.

Secara umum, mayoritas ulama’ ahlussunnah menyatakan bahwa hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardlu kifayah (kewajiban kolektif). Allah subhânahû wa ta’âlâ berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنْ الْمُنْكَرِ (آل عمران : 104)

Hendaklah ada di antara kalian, sekelompok umat yang menyeru kepada kebaikan, memerintahkan yang ma’ruf, dan mencegah dari kemungkaran (QS. Ali Imron : 104)

Imam Al-Ghazali dalam karyanya, Ihyâ ‘Ulumiddin, memaparkan pembahasan amar ma’ruf nahi munkar dalam bab tersendiri. Amar ma’ruf nahi munkar yang dalam beberapa kesempatan beliau istilahkan dengan sebutan ihtisâb atau hisbah, dalam pelaksanaannya terkait erat dengan empat komponen,

  1. muhtasib (pelaku ihtisâb)
  2. muhtasab fîh (perbuatan yang menjadi obyek ihtisâb)
  3. muhtasab ‘alaih (pelaku perbuatan yang menjadi obyek ihtisâb)
  4. ihtisâb (tindakan ihtisâb)

Berikut ini sekelumit penjelasan tentang masing-masing komponennya.

* Muhtasib (pelaku ihtisâb)

Syarat-syarat pelaku hisbah adalah

(1)    Mukallaf (terkena taklif, pembebanan syariat);

(2)    Muslim;

(3)    Memiliki kemampuan melakukan ihtisâb.

Berdasarkan tiga syarat di atas, maka per individu umat muslim juga wajib ber-amar ma’ruf nahi munkar, meskipun tidak ada izin spesifik dari pemerintah. Begitu pula kaum wanita, serta orang-orang muslim yang fasiq, memiliki kewajiban yang sama.

Terkait dengan syarat ketiga, yakni bahwa hisbah adalah sebuah kewajiban jika seseorang memiliki kemampuan menghentikan kemungkaran, kriteria “mampu” dalam hal ini juga mempertimbangkan tidak adanya kekhawatiran dampak negatif yang menimpa pelaku hisbah. Sehingga, jika seseorang mampu menghentikan kemungkaran, akan tetapi setelah itu keselamatan dirinya terancam karena pelaku kemungkaran pasti memukulnya, dan dia pun tak kuasa membela diri, maka kondisi semacam ini masuk dalam kategori “tidak mampu”. Tindakan hisbah dalam kondisi ini tidak lagi wajib, akan tetapi sekedar sunnah.

Sisi efektivitas dari hisbah juga menjadi pertimbangan status hukumnya. Dalam hal hisbah berkonsekwensi negatif kepada pelakunya, maka hisbah hukumnya sunnah hanya jika dalam pengingkaran tersebut terkandung faedah. Jika tidak ada faedah, maka dengan hisbah yang kontraproduktif tersebut, sama halnya seseorang menjatuhkan diri dalam jurang kebinasaan. Padahal Allah melarang tindakan menjatuhkan diri dalam kebinasaan atau at-tahlukah (QS. Al-Baqarah : 195). Dalam Ihya’ Ulumiddîn, Imam Al-Ghazali mendeskripsikan tindakan bodoh ini dengan upaya hisbah terhadap seorang fasiq yang ditakuti, yang di pinggangnya terhunus pedang, dan di tangannya sebotol minuman keras. Jika seseorang mengingkari perbuatannya,  si fasiq tetap saja menenggak minuman kerasnya. Di sisi lain, dia bahkan akan menebaskan pedang pada orang yang mengingkarinya tersebut. Kondisi semacam inilah yang oleh Imam Al-Ghazali dinyatakan, bahwa hisbah tak memberikan manfaat nyata. Bahkan, tindakan hisbah dalam kondisi ini tak lebih dari sekedar penghancuran diri, yang haram hukumnya. Kecuali jika dengan hisbah, ada target lain selain terhentinya kemungkaran, misalnya, untuk menjatuhkan martabat si fasiq di mata publik, atau untuk menginspirasi orang lain agar bangkit melawan kemungkarannya. Sehingga, jika diyakini bisa memberikan efek-efek tersebut, meski kemungkaran tak terhentikan, maka hukum hisbah adalah sunnah.

Jika konsekwensi negatif dari hisbah merembet pula pada orang lain, misalnya, dengan melakukan hisbah, keselamatan keluarga dan teman-teman terancam, maka dalam kondisi ini hisbah tidak boleh dilakukan, alias haram. Karena, hisbah akan memantik terjadinya kemungkaran yang lain, yakni terancamnya keselamatan keluarga dan teman-temannya.

Bersambung ke bagian ke-2

1 KOMENTAR

Comments are closed.