Makna Jihad Dan Perang Dalam Al-Quran

Makna Jihad Dan Perang Dalam Al-Quran

BAGIKAN

Makna JihadBismillahir rohmanir rohim. Alhamdulillahi robbil ‘alamiin, Asholatu wassalaamu ‘ala saiyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi ajma’iin.

A. Makna Jihad.

Jihad secara bahasa berasal dari -jaahada, yujaahidu, jihaadan- yg berarti sungguh, sungguh-sungguh, atau berusaha dengan sangat keras untuk mencapai tujuan.
Dan di dalam kitab suci Al Qur’an terbagi dalam :
– Jihad Fi Sabilillah terdapat pada : Q.S : 2:218, 3:142, 4:95, 5:35, 54, 8:72, 74-75, 9:16, 19-20, 24, 41, 44, 86, 88, 22:78, 29:6, 69, 49:15, 60:1, 61:11.
– Jihad saja. terdapat pada : Q.S : 9:73, 16:110, 25:52, 29:8, 31:15, 66:9.
– Perang, Al Qur’an mempergunakan kata -qootala, yuqootilu, qitaalan- untuk menyatakan makna perang, memerangi, diperangi atau berperang. ini terdapat pada Q.S: 2:190, 191, 193, 216, 217, 3:111, 121, 195, 4:74, 75, 76, 77, 8:16, 39, 9:12, 13, 14, 36, 111, 22:39, 33:20, 47:4, 20, 48:16, 22, 57:10, 61:4.
Ayat-ayat tersebut ada yang menyebut perang di jalan Allah, ada yang perang saja.

Beberapa contoh akan kita sebutkan disini sebagai perbandingan dan perbedaan antara ” jihaadan” dengan “qitaalan “. yaitu : Q.S: At Taubah (9) : 24
Allah ta’ala berfirman :
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
“Katakanlah : jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kerabat keluargamu, harta-harta yang telah engkau kumpulkan dan perniagaan/bisnis yang engkau khawatirkan kerugiannya dan tempat tinggal yang engkau banggakan, lebih kalian cintai dari pada Allah dan rosulNya dan berjihad di jalanNya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusanNya, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik”.
Asbab nuzulnya :
“Ibnu Sirin mengatakan : bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Makkah yang tidak mau berhijrah ke Madinah. Suatu hari mereka ditanya oleh Ali Bin Abi Tholib [Karromallahu Wajhah] yang datang ke Makkah, mengapa kalian tidak hijrah dan bergabung dengan rosulullah..? mereka menjawab : Kami akan tetap disini bersama saudara-saudara kami, keluarga dan tempat tinggal kami” (H.R. Faryabi ).
Apa yang kita fahami dari ayat ini adalah Jihad diartikan perintah hijrah ke Madinah menyusul Rosulullah S.A.W. dan saat itu belum dalam keadaan perang. Jadi jihad disini tidak diartikan perang.

Kemudian contoh ayat berikut, Q.S. Al Ankabuut (29): 69
Allah ta’ala berfirman :
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
“Dan orang-orang yang berjihad (mencari ridho) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami, dan sungguh Allah berserta orang-orang yang berbuat baik”.
Asbab nuzulnya :
“Qotadah mengatakan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang Makkah pemeluk Islam yang hendak hijrah ke Madinah menyusul Rosulullah. Dalam perjalanannya mereka dikejar kaum musyrikin Makkah dan dibawa kembali ke Makkah. Setelah kaum muslimin Madinah berkirim surat, kaum muslimin Makkah kembali berhijrah hingga mereka ada yang wafat dibunuh dan ada yang selamat sampai Madinah.” (H.R. Ibnu Abi Hatim ).
Yang kita fahami dari ayat ini adalah jihad disini berarti berusaha dengan sungguh-sungguh sekuat tenaga untuk hijrah ke Madinah dan bukan berperang melawan orang-orang kafir Makkah yang menghalangi mereka.

Bandingkan dengan ayat berikut yang memakai kata “qootiluu” di QS. Al Baqoroh (2) : 190
Allah ta’ala berfirman :
وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ
“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian tetapi jangan melampaui batas, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.
Ayat ini dan dua ayat berikutnya jelas menyatakan perintah perang. Perangilah orang-orang yang memerangi kalian. Dan tidak memakai kata Jihadan.

Sebagai contoh ayat berikut yang sangat jelas bahwa jihad tidak bermakna perang. Q.S. Lukman (31) :15
وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu maka jangan lah engkau mentaati keduanya dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik”.
Jelaslah disini bahwa jaahadaka tidak dapat di artikan perang, tetapi memaksa atau berusaha dengan keras.

Ayat ayat Al Quran yang berbicara tentang “jihad fi sabilillah” di turunkan pada ayat-ayat Madaniyah yang hampir semuanya bernuansa perang tetapi tidak harus ditafsirkan dengan perang seperti contoh tersebut diatas. Jika dipaksakan makna “jihad fi sabilillah” dengan perang dijalan Allah maka ayat-ayat tersebut tidak bisa dipakai dalam suasana damai dan kita semua yang tidak berprofesi tentara/militer bisa dihukumi fasik oleh Q.S. At Taubah ayat 24 tadi. Itulah maka Allah memakai kata “wajihaadin fi sabilihi” dan bukan kata “waqitaalin fi sabilihi”. Dengan maksud dapat dipakai sepanjang masa baik suasana perang maupun dalam suasana damai. Maka tidak salah jika “jihad fi sabilillah” dimaksudkan untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu dan disebut mujahid ilmu, untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh mencurahkan hidupnya untuk da’wah maka disebut mujahid da’wah. Dan jika hidup di dunia ini hanya ada masa perang dan tidak ada masa damai maka Allah membenarkan protes/interupsi para malaikat dalam Q.S. Al Baqoroh : 30 yang berbunyi :
قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ
“mereka (para malaikat) berkata : apakah Engkau akan menjadikan orang yang hendak merusak dan menumpahkan darah…….”.

B. Golongan Yang Diizinkan Berperang.

Setelah makna jihad dan perang kita bahas dan kurang lebih sama banyak jumlah ayat dalam al Quran antara kata “jihaadan” dengan “qitaalan”. Maka Allah Subhanahu Wata’ala membuat kriteria apa yang disebut “qotiluu fi sabilillah” atau perang di jalan Allah itu. Yaitu terdapat pada Q.S. Al Hajj : 39-40 yang berbunyi :
أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا وَإِنَّ اللَّهَ عَلَى نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ * الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بِغَيْرِ حَقٍّ
“Diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka didlolimi. Dan sungguh, Allah Maha kuasa menolong mereka itu, ( yaitu ) orang-orang yang diusir dari kampung halamannya tanpa alasan yang benar…”.
Jelas ayat ini adalah kriteria bagi siapa yang diizinkan berperang dengan atas nama dijalan Allah. Selain dari kriteria tersebut, juga tidak diperbolehkan orang perorang, person per person mengambil inisiatif untuk menyatakan berperang atau keadaan perang. Kembali Allah berfirman dalam Q.S. An-Nisa : 59 sebagai berikut :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ
“Wahai orang-orang yang beriman! taatilah Allah dan taatilah rosul ( Muhammad ) dan ulil amri ( pemegang kekuasaan ) di antara kalian..”
Jadi tidak seenaknya orang perorang menentukan suatu hukum baik hukum perang atau hukum apapun dalam agama.

Demikian sedikit pembahasan tentang ma’na jihad fi sabilillah dan apa itu perang di jalan Allah sebagai sumbangsih penulis sebagai jawaban atas fenomena kaum muda islam yang ingin menjadi syahid dan mengamalkan “hiduplah mulia atau mati secara syahid” sebagai keinginan setiap muslim. Dan bagi siapa saja dipersilahkan berbagi tulisan ini dengan tidak merubah kandungan didalamnya dan tidak menghilangkan jejak penulis.
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi penulis sendiri dan bagi kita semua. Semoga Allah membalas dengan kebaikan.

WaAllahul muaffiq ia aqwamiththoriq… Wassalam

Amrullah Kareem @amrullahkareem1

– Tafsir Al Qur’an Al Hidayah, Tafsir disarikan dari kitab Al Munir Imam Nawawi Al Bantany ( wafat 1897 M )

TINGGALKAN KOMENTAR