Kontroversi Ibnu Taymiyyah Dalam Dunia Shufi

Kontroversi Ibnu Taymiyyah Dalam Dunia Shufi

BAGIKAN

Imam Ibnu Taymiyyah di kenal sangat kritis terhadap ajaran Tasawuf, namun berbagaai versi dalam dunia shufi begitu saling silang, contohnya adalah apa yang terdapat dalam Kitab Majmu’ Beliau sebagai berikut:

ما رأي فضيلتكم بأقوال بعض الصوفية كقولهم ما في الجبة إلا الله أو سبحاني سبحاني ؟

– ( وهنا أسهب شيخ الإسلام لأهمية الموضوع ثم أحالنا لمزيد من الإستفاضة في هذا الموضوع لمجموع فتاواه بعد أن قال 🙂 قد يقع بعض من غلب عليه الحال في نوع من الحلول أو الاتحاد ؛ فإن الاتحاد فيه حق وباطل لكن لما ورد عليه ما غيب عقله أو أفناه عما سوى محبوبه ولم يكن ذلك بذنب منه :

كان معذورا غير معاقب عليه ما دام غير عاقل فإن القلم رفع عن المجنون حتى يفيق ؛ وإن كان مخطئا في ذلك كان داخلا في قوله : { ربنا لا تؤاخذنا إن نسينا أو أخطأنا } وقال : { وليس عليكم جناح فيما أخطأتم به } .

وهذا كما يحكى أن رجلين كان أحدهما يحب الآخر فوقع المحبوب في اليم فألقى الآخر نفسه خلفه . فقال : أنا وقعت فما الذي أوقعك ؟ فقال : غبت بك عني فظننت أنك أني . فهذه الحال تعتري كثيرا من أهل المحبة والإرادة في جانب الحق وفي غير جانبه وإن كان فيها نقص وخطأ فإنه يغيب بمحبوبه عن حبه وعن نفسه وبمذكوره عن ذكره وبمعروفه عن عرفانه وبمشهوده عن شهوده وبموجوده عن وجوده فلا يشعر حينئذ بالتمييز ولا بوجوده ؛ فقد يقول في هذه الحال : أنا الحق أو سبحاني أو ما في الجبة إلا الله ونحو ذلك وهو سكران بوجد المحبة الذي هو لذة وسرور بلا تمييز . وذلك السكران : يطوى ولا يروى إذا لم يكن سكره بسبب محظور . (مجموع فتاوى ابن تيمية الجزء الثاني[ ص: 396 ]  

Apakah pendapat tuan dengan ucapan-ucapan sebagian shufi seperti “tidak ada di Jubbah ini kecuali Allah…..dan Maha suci aku…Maha suci aku….

Dalam jawaban tersebut beliau(syaikhul Islam) memperpanjang obyek pembahatsan terpenting dan menembahkan point lain yg lebih masyhur hingga beliau berkata:

“terkadang memang terjadi pada sebagian orang, ia terdominasi oleh “hal” semacam hulul dan ittihad (phanteism dan emanasi) maka ittihad (manunggal kawulo gusti) ada kebenaran juga ada kebathilan didalamnya,namun setelah yang demikian itu terjadi pada diri orang yang akalnya hilang atau terjadi “fana” atas selain dari dzt yang ia cintai maka hal tersebut tidak berdosa dan dianggap udzur,tidak disiksa karenany selagi dia tidak sadarkan diri,karena yang demikian itu di angkat dari “pena hukum” sampai ian tersadar….
namun apabila itu terjadi karena kesalahan maka hal itu termasuk pada firman Allah swt (wahai tuhan kami janganlah kauhukumbila kami lalai dan luput
dan firman Allah (tidak ada dosa bagi kaliankeluputan kalian)…
Begitu juga telah diceritakan bahwa ada dua orang saling mencinta (menyukai) kemudian seorang dari mereka menceburkan diri ke laut dan yang satunya mengikuti mencebur ke laut juga,kemudian dia berkata: aku terjun ke laut….lalu kenapa dengan dirimu terjun ke laut juga…?
dia berkata aku tidak tersadar hingga aku merasa bahwa diriku adalah dirimu……
“Hal semacam ini banyak terjadi dikalangan ahlil mahabbah (Pecinta Allah) wal irodah di sisi Al haqq…
Dan bila terjadi bukan berada di koridor kecintaan kepada Tuhan maka,bila terdapat kekurangan dan keluputan berarti dia telah tenggelam dengan “mahbub”nya dari rasa cinta dan dirinya itu dan dengan apa yg ia sebut/ingat (Tuhannya)dari dzikirnya ,deng dzat yg ia saksikan (masyhud)
dari persaksiannya, dg dzat yg ia kenali dari pengetahuannya ,dengan dzat yang maujud dari wujud Nya sehingga ia tidak mersakan perbedaan dan eksistensi dirinya ketika hal itu terjadi….
maka dari itu ia mengucapkan :Ana Al Haqq (saya adalah yg Maha benar) atau Maha suci aku……atau tidak ada di Jubbah ini kecuali Allah …
dan semacamnya….ia dalam keadaan MABUK CINTA yang merupakan kegembiraan,kelezatan yang dapat menghilangkan rasa dan kesadaran.
dan Pemabuk cinta itu tentu terdominasi (qudrot Allah)dan tidak mampu berfikir
,apabila mabuk cintanya itu bukan kepada hal yang haram.

MAJMU’ FATAWA IBNI TAIMIYAH Juz 2 hal 396

TINGGALKAN KOMENTAR