Konflik Sampang : Terganggunya Sistem Sosial Budaya

Konflik Sampang : Terganggunya Sistem Sosial Budaya

BAGIKAN

Tesis Yang Kabur

Konflik yang terjadi di Desa Karang Gayam Kecamatan Omben Kabupaten Sampang tanggal 26 Agustus 2012 waktu lalu telah meruntuhkan beberapa analisis sebelumnya. Kejadian tersebut dapat dikatakan rangkaian dari peristiwa yang sama pada Desember 2011. Analisis yang mengedepankan  konflik keluarga antara Tajul Muluk dan Rois semakin lemah. Bahwa di antara mereka memang ada persoalan, tetapi bukan menjadi motiv atau pemicu yang kuat terjadinya konflik. Apakah demikian efektif untuk melibatkan warga lain yang bukan keluarga untuk terus menerus berkonflik? Jika persoalan itu adalah konflik keluarga, maka rangkaian peristiwanya dimulai sejak tahun 2005. Waktu yang demikian panjang, apakah dendam karena urusan cinta begitu kuat dan bertahan lama sedemikian rupa dan begitu massif yang terlibat? Tentu ada penjelasan lain yang lebih memadai.

Kemudian ada faktor penjelas lainnya, yaitu konflik antar kelompok agama, yaitu syiah dan sunny, dimana Tajul Muluk adalah Syiah sedangkan Rois adalah sunny. Ketika pemahaman ini digunakan, peran Rois sudah tidak begitu penting, tetapi telah meluas kepada tokoh agama sunny di daerah sana. Apakah benar demikian? Tidak sesederhana itu membuat kesimpulan. Bahwa yang terlibat bentrok antarwarga di sana adalah mereka yang berfaham syian dah sunny, bisa dimengerti. Tetapi apakah perbedaan faham itu yang menjadi sumbernya? Tentu tidak. Di Madura, dan tentu di daerah-daerah lain, perbedaan faham keagamaan atau bahkan perbedaan agama itu terjadi dan selama ini aman-aman saja, hidup penuh toleransi dan kedamaian. Apakah mereka yang menjadi pengikut sunny atau syiah di sana begitu militannya, sehingga harus melakukan bentrok? Jelas tidak bisa dijadikan alasan untuk membenarkan konflik tersebut.

 

Penjelasan Sosial Budaya

Maka perlu sebuah penjelasan yang kontekstual dan lebih fokus dalam menyikapi konflik di Karang Gayam tersebut. Ketika sebuah masyarakat dengan sistem dan tata nilai tertentu yang menjadi pedoman hidup bersama terusik oleh unsur-unsur baru, maka konflik menjadi sebuah keniscayaan. Ini bisa terjadi di mana saja, dan dalam bungkus apa saja, apakah itu agama, politik ataupun ekonomi. Bagi masyarakat Karang Gayam, ajaran syiah yang dibawa oleh Tajul Muluk adalah sesuatu yang baru (berbeda dari yang sudah menjadi tradisi), maka respon masyarakat tentu tidak mudah menerimanya. Terlebih lagi ketika cara menyampaikan ataupun mengajak dengan mengusik/menyalah-nyalahkan kebiasaan dan tradisi yang sudah berjalan, atau adanya unsur penghinaan terhadap tokoh yang dicintai masyarakat, tentu masyarakat berusaha mempertahankan kebiasaan dan pemahaman yang sudah ada tersebut. Toh, pemahaman mereka selama ini juga berada dalam naungan pembinaan para ulama di sana.

Dalam konteks tersebut, dapat dilihat bahwa dakwah atau penyampaian ajaran keagamaan yang tidak memperhatikan atau memahami tradisi dan budaya setempat, akan mendapat penolakan yang keras dari masyarakat setempat. Kasus Sampang membuktikan hal tersebut. Ketika penolakan warga dalam bentuk damai melalui forum ulama dan pemerintah tahun 2006 tidak diindahkan, maka masyarakat merasa ada unsur kesengajaan untuk merusak sistem sosial yang sudah mapan. Berbagai dialog, audiensi dan kesepakatan-kesepakatan yang sudah dibuat bersama, baik pihak Tajul Muluk dengan pihak masyarakat kurang diindahkan dan tanpa pelaksanaan konkrit, maka sedikit sulutan akan menimbulkan konflik yang luas.

Dengan demikian, konflik Sampang beberapa waktu lalu perlu dipahami dalam konteks sosial budaya, dimana masyarakat Karang Gayam merasakan keresahan akan terganggunya sistem yang selama ini sudah berjalan baik dan mendamaikan antarwarganya. Sebuah upaya yang diarahkan untuk merusak sistem tersebut akan sangat berbahaya, oleh karena itu menjadi kewajiban masyarakat untuk mempertahankannya.

 

Wallahu ‘Alam Bishshowab

 

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR