Kode Etik Guru

Kode Etik Guru

BAGIKAN

KODE ETIK GURU

Menurut al-Imam al-Ghozali r’a dalam kitab ihya_’ulu_middi_n I/55-58

    Ketahuilah! Sebagaimana proses usaha (ingat kata ‘perusahaan’!), dalam ngelmu (meng-ilmu-i diri) pun manusia mengalami 4 (empat) tahapan :

Masa mencari maka ia berupaya sekuat tenaga.

Masa menabung yang telah diusahakannya maka ia tak perlu meminta-minta lagi.
Masa membelanjakan untuk diri sendiri maka ia menikmati hasilnya.

Masa menyantuni orang lain. Jadilah ia penderma dan penyantun. Itulah kemuliaan tertinggi.

    Demikianlah, ilmu pun bisa ditabung seperti harta. Ada masa mencari, ada masa memetik hasilnya sehingga tak perlu lagi bertanya kesana kemari, ada masa merenung dan mengolah apa yang sudah didapatkannya serta menikmatinya dan ada masa mentransfer ilmu (mengajar). Itulah kemuliaan tertinggi.

    Orang yang sudah menggenggam satu ilmu serta mengamalkannya lalu mengajarkan ia dapat gelar manusia agung di kalangan penduduk langit. Karena ia bagai matahari yang menerangi orang lain dan ia sendiri terang benderang. Juga seperti misik, mengharumkan dan ia pun harum.

    Yang suka mengajar tapi tidak mengamalkan ilmunya seperti buku; memengertikan yang lain ia sendiri tak mengerti apa-apa. Atau seperti batu asahan; meruncingkan yang lain ia sendiri tumpul tak bisa memotong apa pun. Atau bagai jarum; yang menjahit pakaian yang lain ia sendiri telanjang. Atau seperti sumbu lampu; menerangi orang lain ia sendiri terbakar.

    Ada sebuah syair: Ia hanyalah sumbu lampu ~ menerangi yang lain lalu jadi abu.

    Manakala seseorang berperan sebagai pengajar/pendidik, ia menggenggam urusan yang besar dan tugas yang berat. Maka pegang erat-erat kode-kode etiknya:

1. Menyayangi murid dan bersikap seperti terhadap anak kandung sendiri.

    Rosululloh Saw pernah bersabda:

إنما أنا لكم مثل الوالد لولده   رواه أبو داود وابن ماجه وابن حبان

     (Kasih sayang)-ku kepadamu (wahai ummatku!) tiada lain sebagaimana (kasih sayang) seorang ayah kepada anaknya.

    Yakni, Rosululloh saw mendambakan bisa menyelamatkan mereka (ummat) dari api akhirat. Dan hal itu lebih penting dari pada dambaan orang tua bisa menyelamatkan anaknya dari api dunia. Sedemikian rupa sehingga hak guru bisa lebih besar dari pada hak orang tuanya sendiri.

    Karena orang tua penyebab kelahirannya dan penyelamat kehidupan dunia yang fana.

Sedangkan guru itu penyebab kebahagiaan di keabadian akhirat. Andai tiada guru tentu apa yang telah diusahakan orang tua akan menjadi kesengsaraan abadi. Guru yang dimaksud ialah guru ilmu ukhrowi atau ilmu duniawi yang diniatkan untuk (kebahagiaan) ukhrowi bukan yang semata-mata duniawi.

    Adapun mengajar yang diniatkan hanya duniawi itulah bencana dan sumber bencana! Na’udzu billaah min dzalik!

    Sebagaimana keharusan anak-anak seorang ayah saling menyayangi dan saling bantu demi menggapai segala tujuan (yang baik) begitu pula keharusan murid-murid seorang guru saling menyayangi dan saling mendukung satu sama lain. Dan tak ‘kan terjadi hal itu kecuali jika tujuan mereka kebahagian akhirat. Sebaliknya akan terjadi saling mendengki dan saling membenci bila tujuan belajar mereka keduniaan semata.

Sesungguhnya para ulama serta peminat akhirat adalah pejalan-pejalan keridoan Alloh swt dan para penempuh perjalanan dari dunia ini. Tahun-tahun dan bulan-bulan adalah rute-rutenya. Saling bantu dalam perjalanan menuju kota-kota tujuan yang sama diantara para penumpang jadi penyebab adanya rasa kebersamaan dan saling menyayangi. Apa lagi dalam perjalanan dan saling bantu menuju keindahan Firdaus tertinggi. Karena tidak ada keterbatasan kebahagiaan dan kesempitan di (sorga) sana.  Sedemikian rupa, sehingga  tak ‘kan pernah terjadi perebutan diantara para peminat akhirat.

    Adapun kebahagiaan dunia itu penuh keterbatasan. Sedemikian rupa, sehingga tak henti-hentinya peristiwa sikut-sikutan dalam keterbatasan lahan dan jatah.

Mereka yang menyimpang, dengan orientasi jabatan dalam menuntut ilmunya telah melanggar ketetapan firmanNya:

إنما المؤمنون إخوة    الحجرات10

    “Tiada lain orang-orang mukmin itu (harus saling menyayangi sebagaimana antara) saudara-saudara (satu ayah)”

    Dan masuk dalam ketetapan firmanNya: 

ألأخلاء يومئذ بعضهم لبعض عدو  الا المتقين      الزخرف67

   Pada hari (kiamat) itu, para teman akan saling bermusuhan kecuali orang-orang yang bertakwa.

2. Mengikuti sunnah (perilaku) Rosululloh saw.

    Kapan dan dimanapun mengajar ia tak berharap upah, tanpa pamrih balasan dan tanda terima kasih dari murid. Ia mengajar semata-mata demi meraih keridoan Alloh taala dan dekat denganNya. Ia tidak merasa berjasa kepada murid meski murid wajib selalu mengenang jasa guru.  Bahkan si guru merasa bahwa justru si muridlah yang telah berjasa menyediakan hati dan pikirannya untuk sarana bagi si guru bisa mendekatkan diri kepada Alloh ta’ala. Seperti pemilik tanah yang meminjamkan tanahnya untuk Anda tanami. Anda bisa mendapat hasil lebih dibanding pemiliknya sendiri.

    Bagaimana mungkin Anda merasa lebih berjasa sedangkan pahala Anda –karena mengajar– lebih besar dibanding pahala si murid di sisi Alloh ta’ala. Andai tak ada murid Anda tak dapat pahala ini. Maka carilah ‘upah’ hanya dari Alloh ta’ala. Sebagaimana firmanNya:

ويا قوم لا أسألكم عليه مالا  إن أجري إلا على الله  هود 29

    Berkatalah Nuh as,” Wahai kaumku! Aku tak meminta kepadamu harta sedikitpun atas pengajaranku. Tiada lain ‘upah’ku dijamin Alloh penuh ”.

    Lagi pula, harta dan segala isi bumi ini khan sarana tubuh. Badan adalah kendaraan dan tunggangan jiwa. Yang dilayaninya adalah ilmu. Dengan ilmulah jiwa jadi mulia. Orang yang mencari ilmu demi harta ibarat yang menyeka mukanya dengan alas sepatunya! Yang semestinya dilayani malah jadi pelayan, pelayan justru dilayani. Terjadilah penjungkir-balikan keadaan. Ironi.                                    
   
    Perumpamaan orang tersebut bak yang berjejer di hari persidangan maha besar (kiamat) bersama para pendosa sambil berjungkir di hadapan Tuhan mereka.

Kesimpulannya keuntungan dan karunia adalah milik guru.

Namun perhatikan! Bagaimana urusan agama bisa sampai kepada peristiwa dimana orang beranggapan bahwa tujuan mereka belajar dan mengajar ilmu Fiqih dan ilmu Kalam adalah mendekatkan diri kepada Alloh. Padahal mereka korbankan harta bahkan harga diri juga melakukan kehinaan-kehinaan untuk menjilat para penguasa agar dapat jatah dan subsidi dari mereka. Jika tidak begitu mereka tak dipedulikan dan tak ada yang mau mendatangi mereka.

Kemudian sang guru itu berharap para muridnya melayani segala keperluannya, mendukung orang dekatnya, memusuhi yang dimusuhinya, sigap membantu semua kebutuhannya serta mau serah bongkokan di hadapannya. Dan jika si murid kurang peduli kepadanya marahlah ia dan terus benci sebenci-bencinya. Alangkah hina seorang yang berilmu yang rela dengan derajat seperti itu bahkan gembira dengan itu serta tidak malu-malunya mengatakan, tujuan mengajarku adalah menyebarkan ilmu demi mendekatkan diri kepada Alloh dan membela agamaNya!

    Perhatikan indikator-indikator agar Anda bisa melacak kamuflase-kamuflase.

3. Memperhatikan murid sampai hal-hal yang kecil sekalipun.

    Sedemikian rupa, dengan mencegah si murid dari menaiki satu tahapan sebelum saatnya, jangan memasuki pendalaman ilmu sebelum menuntaskan dasar-dasarnya. Kemudian ia ingatkan si murid bahwa tujuan belajar itu mendekatkan diri kepada Alloh bukan meraih jabatan, kemegahan dan popularitas. Dan sang guru memulai dari dirinya sendiri melakukan hal itu sekuat-kuatnya. Karena orang berilmu yang pendosa lebih banyak membawa keburukan dibanding kebaikan.

    Jika sang guru tahu dari pandangan batinnya bahwa tujuan belajar si murid itu duniawi semata, perhatikan apa yang dipelajarinya. Jika ia adalah ilmu  khilafiyyah fikih, perdebatan ilmu Kalam (Logika Metafisika) atau fatwa-fatwa persengketaan dan peradilan, cegahlah! Karena ini bukan ilmu ukhrowi dan bukan ilmu yang tentang itu dikatakan, “Kami pelajari ‘ilmu’ bukan karna Alloh namun ia (ilmu) enggan kecuali harus karena Alloh”.

    ‘Ilmu’ tersebut adalah ilmu Tafsir, ilmu Hadits dan apa yang ditekuni oleh para ulama pendahulu yakni ilmu ukhrowi, pemahaman tentang akhlak mulia dan proses pencapaiannya.

    Jika si murid mempelajari ilmu-ilmu ini dengan pamrih duniawi tak apa-apa dibiarkan dulu, karena itu akan berbuah semangat untuk menasehati dan menarik massa. Namun di tengah perjalanan atau di ujungnya ia akan sadar dengan sendirinya. Sebab di situ terdapat pengertian-pengertian yang membuat ia takut kepada Alloh, yang membabat cinta dunia, dan meningkatkan minat akan akhirat. Dan itulah proses pendekatan kepada kebenaran ukhrowi. Sedemikian rupa sehingga ia justru jadi sadar karena penyadaran terhadap orang lain.

Semangat menarik simpati dan massa bisa diumpamakan menebar biji-biji jagung di sekitar perangkap agar burung mau datang dan memakannya. Alloh juga membuat taktik dan strategi terhadap hambaNya. Dia ciptakan berahi agar kelangsungan hidup manusia bisa terwujud. Dia ciptakan semangat menarik simpati supaya dengan itu ilmu tetap hidup. Dan itu diharapkan pada ilmu-ilmu ini.

    Adapun menekuni ilmu khilafiyyah semata, perdebatan ilmu Kalam dan detail-detail ilmu yang asing (tak diketahui umum) dengan berpaling dari ilmu yang lain hanyalah akan menambah kekeringan hati, lupa kepada Alloh, tenggelam dalam kesesatan serta mencari popularitas semata. Kecuali orang yang Allah karuniakan rahmat atau yang mau melengkapi dirinya dengan ilmu yang agamis.

    Dasar kebenaran hal demikian tak ada yang lebih absah dibanding pembuktian dan kenyataan.
Perhatikan! Pelajari! Teliti! Agar Anda bisa menyaksikan sendiri kenyataan itu pada masyarakat dan lapangan kehidupan. Alloh jualah yang patut dimohon pertolongan.

Pada satu kesempatan Imam Sufyan ats-Tsauri ra terlihat murung, lalu ada yang bertanya, “Kenapa Anda begitu murung?”. “Ah! Kucoba berharap keuntungan dari anak-anak dunia (mengajar mereka) lalu seseorang dari mereka tekun belajar pada kami. Namun setelah dia berhasil, jadilah ia hakim, pegawai atau bahkan penguasa ”, keluh beliau.

4. Ini termasuk kiat-kiat mengajar; menasehati si murid tentang keburukan akhlaknya dengan cara kiasan.

    Jangan pernah mengupas sejelas-sejelasnya keburukan murid. Juga dengan penuh kasih sayang bukan dengan caci maki. Karena mengupas itu menelanjangi dan bisa berakibat kenekadan menerjang larangan. Bisa juga membuat si murid bilang, “Ah! sudah kepalang tanggung malu, sekalian saja!”. Karena itu, Rosululloh saw sebagai pengayom dan pendidik pernah bersabda:

لو منع الناس  عن فت البعر لفتوه و قالوا ما نهينا  إلا وفيه شيئ
   
   “Kalau manusia dilarang mengais-ngais tinja, malah mereka akan melakukan-nya seraya berucap, “Kita tak ‘kan dilarang melakukan hal ini kecuali ada sesuatu dibaliknya”

    Untuk itu ingatan Anda bisa dibawa kepada bagaimana kisah Nabi Adam as dan Ibu Hawa serta apa yang terlarang bagi mereka. Kuingatkan Anda kisah ini bukan semata-mata kisah, tapi agar Anda mengambil pelajaran darinya.
Juga bahasa kiasan itu bisa menarik minat orang yang berjiwa mulia dan   berpikiran cerdas untuk menggali makna-makna yang terkandung di dalamnya. Itu akan membuat ia penasaran dan gembira jika berhasil memahaminya dan ternyata ia tidak terlalu bodoh untuk itu.

5. Pengajar salah satu bidang ilmu jangan sampai menjelek-jelekkan bidang ilmu yang lain.

    Kadang terjadi pengajar bahasa menjelek-jelekkan ilmu hukum (Fiqih) misalnya. Pengajar ilmu Fiqih menjelek-jelekkan ilmu Hadits atau ilmu Tafsir. Dia bilang, “Apaan ilmu itu cuman sekedar menukil dan merekam ulang!. Itu sih pekerjaan orang-orang lemah. Tak pakai otak juga jadi!”.

    Pengajar ilmu Kalam (Metafisika) kadang antipati terhadap ilmu Fiqih. Katanya,“Itu (Fiqih) sekedar furu’(cabang) dan bahasan tentang haid perempuan! Dimana terletak kehebatannya dibanding ilmu Kalam yang bahasannya adalah ketuhanan!”. Ini perilaku buruk bagi pengajar. Jauhilah!

     Justru seharusnya pengajar satu bidang ilmu meluaskan cakrawala si murid tentang ilmu-ilmu yang lain. Jika ia mengajarkan pelbagai ilmu, perhatikan tahapan ilmu demi ilmu dalam mengembangkan ilmu muridnya.

6. Membatasi penjelasan sesuai kemampuan daya nalar murid.

Jangan pernah menerangkan sesuatu yang tak bisa dijangkau pikirannya. Hal itu bisa membuatnya bersikap masa bodoh, putus asa atau bahkan kacau pikiran.

Rosululloh saw yang kita wajib mencontohnya pernah bersabda:

نحن معاشر الأنبياء أمرنا أن ننزل الناس منازلهم ونكلمهم على قدر عقولهم    رواه  أبو داود و غيره

Kami –Para Nabi– mendapat titah agar menyikapi manusia sesuai tingkatannya dan berbicara kepada mereka dengan apa yang bisa dimengerti mereka.

Namun jika si murid punya kemampuan nalar yang unggul silahkan beri dia ilmu sampai ke tingkat hakikat sekalipun. Sabdanya juga:

ما أحد يحدث قوما بحديث لا تبلغه عقولهم   إلا كان فتنة على بعضهم

Setiap ada ungkapan seseorang yang tidak dimengerti pikiran masyarakat tentu dapat menimbulkan masalah bagi sebagian kalangan.

Pada satu kesempatan Imam Ali ra berkata sambil menunjuk dadanya: “Di sini terdapat ilmu-ilmu yang begitu banyak. Andai ada yang bisa mewadahinya!”.  Benar sekali beliau ra, memang, kepala-kepala orang alim bagai kelapa-kelapa yang berisi saripati ilmu.
Tak selayaknya guru menyebarkan setiap yang ia tahu kepada setiap orang. Itupun ilmu yang bisa dimengerti si murid bagaimana lagi ilmu yang tak bisa dimengertinya.
Nabi Isa as bersabda,” Jangan kalungkan permata pada leher-leher babi!” Dan sungguh hikmah itu lebih bernilai dibanding permata semahal apapun. Orang yang tak suka ‘hikmah’ lebih busuk dari pada babi. Oleh karenanya dikatakan, ukurlah setiap orang dengan takaran dan timbangan daya nalarnya dan daya pahamnya sehingga Anda selamat darinya bahkan justru menerima manfaatnya. 

Jika tidak, terjadilah pengingkaran karena adanya perbbedaan ukuran-ukuran (daya nalar dan daya pahamnya) tersebut.

Seorang Ulama diajukan satu pertanyaan tapi ia tak mau menjawabnya. Lalu yang bertanya memprotesnya, “Bukankah Tuan pernah mendengar sabda Rosululloh saw”:

من كتم علما نافعا جاء يوم القيامة ملجما بلجام من نار   رواه إبن ماجه

“Siapa saja yang menyembunyikan ilmu yang berguna pasti di hari kiamat ia datang dalam kondisi terikat mulutnya dengan kendali api.”

Sang ulama itu menjawab, “Simpan dulu ‘kendali api’itu!” Pergilah mencari orang yang bisa mengerti.

Jika ia telah datang lalu aku menyembunyikan ilmu padanya, ikatkan kendali itu padaku.  Bukankah Alloh berfirman:

ولا تؤتوا السفهاء أموالكم    النساء 5

“Jangan kamu berikan harta-hartamu kepada orang-orang ‘safih’ (yang tidak bisa mengelola harta sesuai aturan Syara’)”

Ia memperingatkan bahwa menghindarkan ilmu agar jangan sampai disia-siakan dan dirusak adalah sesuatu yang penting. Menyerahkan ilmu kepada yang bukan haknya tidak kurang dosanya dibanding menyembunyikan ilmu kepada yang berhak atasnya!

Haruskah kutebarkan permata kepada pengembala kambing lalu
di kemudian hari penyesalan karna mereka pasti kutemui
Mereka benar-benar belum juga tahu nilai.

Haruskah pula kukalungkan pada leher anak kambing?
Jika Alloh yang Maha Lembut itu telah berkenan lalu
kujumpai seseorang yang bisa bermesraan dengan ilmu dan ‘hikmah’.

‘Kan kutaburkan ia.
‘Kan kumintai cintanya.
Jika tiada, tetap kupendam, terus kusimpan.

Meranalah ilmu yang berada di tangan orang bodoh.

Lalimlah orang yang enggan mengajarkan kepada yang berhak atasnya.

7. Untuk murid yang picik berikan penjelasan sekedarnya.

Jangan terangkan padanya bahwa di balik penjelasan ini ada kedalaman yang masih Anda pendam. Hal itu akan membuat semangat belajarnya kendor, menggelisahkan hatinya dan ia curiga Anda kikir padanya. Karena setiap orang punya anggapan bahwa ia bisa menguasai ilmu sedalam apapun. Setiap manusia merasa bahwa ia dikaruniai Alloh otak yang cerdas. Yang lebih goblok dan lebih bego lagi orang yang merasa dialah yang paling pintar!

Dengan demikian, jadi kesimpulan bahwa orang awam yang pendiriannya mantap terikat tuntunan syara’, teguh oleh akidah yang diwarisi salafus solih  tanpa mempersamakan (sifat Allah dengan makhluk), tanpa penafsiran (konotasi dengan denotasinya) serta berhati baik namun akalnya tak mampu memahami lebih dari itu seyogyanya jangan dikacaukan keyakinannya. Biarkan ia sibuk dengan pekerjaannya.

Jika orang awam dijejali penafsiran-penafsiran kata-kata konotatif bisa-bisa lepas akidah (yang cukup buat ia sebagai orang awam) yang telah terikat kuat itu. Dan jika terjadi hal itu, tak gampang diikat lagi dengan pendalaman akidah (yang hanya bisa dikuasai) orang ahli. Lalu jebollah benteng yang menghalanginya dari maksiat dan jadilah ia setan jahat pembinasa diri sendiri dan orang lain.

Jadi, jangan pernah menjerumuskan orang awam pada kedalaman hakikat-hakikat ilmu. Cukuplah untuk mereka pendidikan ibadah, ajaran kejujuran dalam pekerjaan yang sedang ditekuninya juga penuhi hati mereka dengan kecintaan dan perjuangan meraih sorga. Jangan pernah kerutkan kening mereka dengan pertentangan akidah. Karena itu bisa merasuk ke hati mereka dan sulit diperbaiki. Dan, celaka serta binasalah mereka!

Kesimpulannya, jangan bukakan pintu pendalaman pada orang awam. Itu bisa membuat mereka meninggalkan pekerjaan mereka yang kesejahteraan masyarakat dan penghidupan orang ahli ditopang dengannya.

8. Sang Guru mengamalkan apa yang diketahuinya

Jangan pernah ucapannya didustakan perbuatannya sendiri. Ilmu hanya bisa ditangkap oleh pikiran. Perilaku dapat diindera oleh mata. Dan pemilik mata jelas lebih banyak. Bila sikap bertentangan dengan ucapan, maka kebenaran (yang terucap) jadi impoten.
Seseorang yang suka mengkonsumsi satu jenis makanan lalu ia berkata kepada orang-orang, ”Jangan kamu makan ini. Ini racun yang mematikan!”, tentu mereka akan mengejeknya, mencurigainya dan akan tambah penasaran akan yang terlarang itu. Kata mereka, “Kalau itu bukan makanan paling enak dan lezat, ia tak ‘kan makan sendirian”.

Hubungan guru dengan murid ibarat cetakan berukir dengan tanah liat (bahan gerabah) atau batang kayu dengan bayangannya. Mana bisa terbentuk ukiran pada tanah liat itu bila cetakannya tak berukir. Mungkinkah bayangannya lurus tapi batangnya bengkok?
Ada sebuah syair:

لا تنه  عن خلق وتأتي مثله       عار عليك اذا فعلت عظيم

Jangan Anda larang satu perbuatan ketika Anda sedang melakukannya.
Malu besar jika Anda tetap bersikap begitu.

Alloh berfirman:

أتأمرون الناس بالبر و تنسون أنفسكم … البقرة

“Apakah kalian memerintahkan manusia berbuat kebaikan sedangkan kamu lupa terhadap dirimu (untuk melakukannya juga)”

Sedemikian rupa, sehingga dosa kemaksiatan yang berilmu lebih besar dibanding kemaksiatan yang sama dari orang bodoh. Karena dengan salahnya seorang alim akan banyak orang mengikutinya.  Siapa yang jadi perintis keburukan ia akan mendapat balasan perbuatannya sendiri dan balasan perbuatan orang yang melakukan keburukan itu.

Imam ‘Ali r’a pernah berkata, ”Ada dua orang yang meremukkan punggungku. Pertama, orang alim yang suka bermaksiat. Kedua, orang bodoh yang rajin beribadat. Orang bodoh bisa memperdaya orang-orang dengan kerajinan ibadatnya. Orang alim menjerumuskan mereka karena kemaksiatannya. Wallohu a’lam!

Jalaluddin Sayuthi, Cimahi  2004

TINGGALKAN KOMENTAR