Kisah Bangsa Abstrak Indonesia

Kisah Bangsa Abstrak Indonesia

BAGIKAN

Negara Republik “Abstrak” Indonesia

Tidak terbayang sama sekali saat melihat bangsa ini, bangsa yang hancur karena tingkah laku bangsanya sendiri, ternyata dibangun oleh para pemikir-pemikir hebat. Bisa dibilang Indonesia dibangun dengan prensentase 60% pemikiran dan 40% tenaga. Soekarno, Hatta dan tentunya sang Maestro Tan Malaka menjadi tulang punggung berdirinya negeri ini. Dalam sejarahnya mereka selalu berdebat karena berbeda pemikiran, Soekarno dan Hatta menjadi protagonis dan Tan Malaka menempati posisi antagonis.

Demokrasi dalam pandangan Soekarno adalah sebuah era kebebasan dimana setiap individu mempunyai hak untuk mengekspresikan diri termasuk dalam hal politik. Demokrasi yang diterapkan oleh Soekarno merupakan demokrasi “utuh” sedangkan Tan Malaka mempunyai pendapat yang berbeda, harus ada batasan masyarakat dalam politik. Tan mencoba menerapkan bahwa setiap orang di Indonesia bukanlah semua makhluk politik. Ada beberapa golongan yang mempunyai hak politik dan ada yang tidak, adanya spesialisasi kerja yang saling ketergantungan.

Ketika setiap masyarakat berhak dan aktif dalam kerja politik maka yang terjadi adalah kehancuran seperti yang terjadi saat ini, PSSI, TINJU,KARATE adalah organisasi yang Independen namun karena mental bangsa Indonesia adalah mental politisi maka organisasi itu dijadikan ajang perebutan kekuasaan. Jelas ini bukan salah Soekarno namun generasi saat ini yang terlalu bersemangat mengartikan demokrasi seutuhnya.

Dulunya harapan Soekarno dalam menerapkan demokrasi seutuhnya adalah untuk terwujudnya masyarakat Indonesia yang berdikari, mampu mengurus dirinya sendiri dengan cara Negara hanya memberikan setimulus kepada masyarakat agar masyarakat bisa berkarya. Disinilah salah satu letak perbedaan Tan dan Soekarno.

Soekarno terlalu terburu-buru dalam melaksanakan konsep berdikarinya itu, karena bagaimana mungkin masyarakat bisa melaksanakannya jika Sumber Daya Manusianya (SDM) tidak memenuhi kreteria karena kurangnya pendidikan dan wawasan yang masyarakat peroleh. Kelemahan inilah yang kemudian Tan Malaka jawab, pergerakan dimulai dari pendidikan oleh karena itu dalam program-program Partai Murba selalu ada kajian untuk para kadernya yang membahas tentang isi pemikiran para tokoh, seperti Soekarno, Hatta dan Sjahrir. Sebuah program yang tidak mungkin laku dan dilaksanakan oleh parpol saat ini, karena dirasa kajian seperti itu adalah kajian yang abstrak, tidak bisa digunakan dalam realita.

 Arti Pancasila

Padahal faunding father bangsa ini adalah orang yang kutu buku, terutama  Filsuf  yang oleh para profesionalisme merupakan ranah yang abstrak. Namun dalam gagasan ide yang abtrak itulah terbuntuk negara ini. Dalam diskusi yang mempertemukan Tan Malaka dengan Soekarno tercipta pembahasan mengenai Negara ini. Negeri ini mau berkiblat dengan siapa, Barat ataukah Timur. Karena kemampuan intelektual Tan Malaka lebih dominan maka, Soekarno lebih banyak diam dan mendengarkan Tan Malaka.

Bisa dibayangkan ketika  dulu memilih berkiblat pada dunia barat maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang mempunyai idustri yang maju. Dan apabila Indonesia mengkiblat pada bangsa timur, maka Indonesia akan menjadi Negara agraris sejati.

Sebagai bangsa yang baru berdiri alangkah indahnya mengikuti mainstrims terlebih dahulu baru kemudian setelah kuat bisa menentukan arah dan tujuan. Jangan sebut nama Soekarno jika tidak mempunyai pilihannya sendiri, beliau malah memilih jalan tengah tidak barat juga tidak timur. Inilah warisan abtrak yang ditinggalkan oleh faunding father.

Demikian juga dengan pusaka bangsa, Pancasila. Lima nilai yang termaktub dalam Pancasila merupakan nilai-nilai yang abstrak. Oleh karena itu  diperbolehkan setiap warga Indonesia untuk mengartikannya sesuai dengan hati nurani masing-masing, tidak perlu disamakan.

Seokarno pernah menghakimi Tan Malaka karena dirasa pemikirannya tidak sesuai dengan nilai-nilai pancasila. Namun setelah diteliti lebih lanjut ternyata pemikiran Tan berjalan lurus dengan nilai-nilai pancasila, cuma caranya saja yang berbeda. Pemikiran awal Tan Malaka akan cenderung mengarahkan untuk berbuat apatis terhadap pancasila namun setelah berlanjut (tahap kedua) akan mengarahkan pemahaman mengenai pancasila, bahkan lebih nasionalis karena sudah mengetahui seluk-beluk pancasila sesungguhnya.

Bisa kita tarik kesimpulan bahwa untuk menerapkan demokrasi seutuhnya ala Soekarno negeri ini harus membebaskan masyarakatnnya berfikir, mau berfikir komunis, atheis, agamis itu bebas. Negara dan pemerintah ibarat keranjang samapah yang siap menampung bahan apapun. Sebagai keranjang sampah juga harus dijalankan dalam dunia pendidikan. Menghargai pemikiran yang berbeda merupakan kunci, sebuah kritik terhadap dosen yang tidak bisa menghargai pemikiran yang berbeda dari mahasiswanya.  

*Inspirasi dari membaca buku “Tan Malaka, the leaderhip secrets of”

Said Muhtar

TINGGALKAN KOMENTAR