Kidung Damai

Kidung Damai

BAGIKAN

Kidung Damai : Jejak Islam di Nusantara (2)

                                                        Pendahuluan

Kondisi sosial, budaya, ekonomi dan politik sebuah masyarakat ikut memberi warna dalam pelaksanaan keberagamaan suatu kelompok atau masyarakat. Ketika di Timur Tengah berkecamuk konflik yang didorong atas kebencian kepada keluarga Nabi Muhammad SAW, juga dibarengi kepada pengkultusan kepadanya, maka berbeda apa yang berkembang dan terjadi di Nuswantara (tanah Jawa).

Keluarga Kanjeng Nabi Muhammad SAW sangat dihormati, bahkan menjadi semangat dan inspirasi tradisi dan budaya Nuswantara. Hal ini dilakukan sebagai konsekuensi dari penghormatan terhadap Kanjeng Nabi Muhammad SAW itu sendiri. Namun penghormatan ini tidak menjulang hingga mengkultuskan mereka. Apalagi sampai menghujat dan melaknat para Khulafaur Rasyidin.

Di Timur Tengah respon terhadap penistaan menciptakan masyarakat pemuja Imam Agung Baginda Ali dan keluarganya . Mereka juga juga balas menghujat tiga Khalifah (Abu Bakar, Umar, dan Utsman) dan sahabat-sahabat Nabi SAW. Di Nuswantara tidak demikian halnya. Penghormatan terhadap Imam Agung Baginda Ali dan keluarga beliau tidak disertai penghujatan terhadap tiga khalifah dan para sahabat nabi. Bahkan mereka tetap dihormati dan dimuliakan sebagai suri teladan. Sifat dan karakter muslim Nuswantara karenanya menjadi santun, aristokrat, dan unik.

Kidung Warisan Sunan Kalijogo

Berikut ini merupakan salah satu bukti peninggalan Sunan Kalijaga yang masih dikenali oleh masyarakat Jawa dalam bentuk kidung (tembang/nyayian) Kidung Rumekso Ing Wengi. Beliau adalah seorang ulama besar dan Qadli (hakim syariat agama) di Majapahit, Demak, dan Nuswantara umumnya pada abad ke 16M. Kidung ini mengajarkan kepada masyarakat bahwa agama Islam adalah ajaran yang membawa kedamaian, menjauhkan dari penyakit, bala’, bencana. Kemudian pula diikuti ajaran untuk menjunjung tinggi semua nabi, sahabat dan malaikat sebagai inspirasi dalam hidup dan kehidupan.

Ana kidung rumekso ing wengi
(Ada kidung/tembang terjaga di malam hari)
Teguh hayu luputa ing lara
(Yang menjadikan selamat dari sakit)
luputa bilahi kabeh
(Tak terkena petaka)
jim setan datan purun
(Jin dan setan tak mau -menyentuh)
paneluhan tan ana wani
(Tenung pun tak berani)
niwah panggawe ala
(Demikian juga perbuatan jelek)
gunaning wong luput
(Guna-guna dari orang tak mempan)
geni atemahan tirta
(Api teredam oleh air)
maling adoh tan ana ngarah ing mami
(Pencuri menjauh dan tidak mengarah pada diri)
guna duduk pan sirno //
(segala bahaya pun sirna)

Jika dipahami syair di atas, maka ajaran Islam merupakan ajaran yang dapat menjauhkan mansuia dari penyakit, musibah, tenung, santet dan semua bencana hilang. Sebuah kidung yang dijaga di tengah malam adalah, prosesi manusia untuk selalu sadar dan mendekat kepada Allah swt, baik melalui shalat malam maupun do’a serta dzikir.

Sakehing lara pan samya bali
(semua penyakit kembali ke asal)
Sakeh ngama pan sami mirunda
(semua hama menyingkir)
Welas asih pandulune
(karena kasih sayang)
Sakehing braja luput
(Semua senjata tak melukai)
Kadi kapuk tibaning wesi
(seperti kapuk/kapas mengenai besi)
Sakehing wisa tawa
(semua racun menjadi tawar)
Sato galak tutut
(binatang buas menjadi jinak)
Kayu aeng lemah sangar
(kayu aneh, tempat angker)
Songing landhak guwaning
(lubang landak)
Wong lemah miring
(tanah miring)
Myang pakiponing merak//
(dan sarang merak)

Bait kedua, secara jelas menegaskan Welas asih pandulune artinya semuanya berujung pada kasih sayang antar sesama. Kejahatan baik yang lahir dan batin semuanya bisa diberantas dengan berlakunya agama Islam di tengah masyarakat.

Pagupakaning warak sakalir
(kandang badak semuanya)
Nadyan arca myang segara asat
(meski batu hancur dan laut mengering)
Temahan rahayu kabeh
(pada akhirnya semua selamat)
Apan sarira ayu
(sebab adanya diri yang elok)
Ingideran kang widadari
(dikelilingi bidadari)
Rineksa malaekat
(terjaga oleh malaikat)
Lan sagung pra rasul
(dan semua para Rasul)
Pinayungan ing Hyang Suksma
(dalam lindungan Tuhan)
Ati Adam utekku baginda Esis
(Hatiku nabi Adam, otakku Sis)
Pangucapku ya Musa//
(Ucapanku Nabi Musa)

Pencapaian kasih sayang dalam kehidupan tersebut hanya dapat dicapai atas Ridho dan Rahmat Allah semata. Dijaga oleh para malaikat dan rasul. Kemudian disusul pengenalan kepada Nabi Adam dan Sis serta Musa. Bahkan ditegaskan Nabi Musa sebagai pengucap (lisan), seolah menegaskan bahwa lisan yang begitu tegas tanpa ragu untuk menjalankan ajaran Islam yang kasih sayang (rahmatan lil aalamiin) tersebut setegas nabi Musa menghadapi Fir’aun.

Napasku nabi Ngisa linuwih
(Nafasku Nabi Isa yang mulia)
Nabi Yakup pamiryarsaningwang
(Nabi Ya’kub sebagai pendengaranku)
Dawud suwaraku mangke
(Nabi Dawud suaraku)
Nabi brahim nyawaku
(Nabi Ibrahim nyawaku)
Nabi Sleman kasekten mami
(Nabi Sulaiman kesaktianku)
Nabi Yusuf rupeng wang
(Nabi Yusuf wajahku)
Edris ing rambutku
(Nabi Idris rambutku)
Baginda Ngali kuliting wang
(Sayyidina Ali kulitku)
Abubakar getih daging Ngumar singgih
(Sayyidina Abu Bakar dagung, Sayyidina Umar juga)
Balung baginda ngusman//
(Sayyidina Usman tulangku)

Begitulah seterusnya, bahwa ajaran Islam yang dibawa ke Nusantara ini merupakan rangkaian ajaran Islam yang dibawa sejak nabi Adam, sampai pada khulafaur rasyidin. Bahkan kecintaan kepada mereka diibaratkan sudah menyatu laksana daging dan darah dalam diri manusia.

Sumsumingsun Patimah linuwih
(sumsumku siti Fatimah yang terpuji)
Siti aminah bayuning angga
(siti Aminah kekuatan badanku)
Ayup ing ususku mangke
(Nabi Ayub ada dalam ususku)
Nabi Nuh ing jejantung
(Nabi Nuh dalam jantungku)
Nabi Yunus ing otot mami
(Nabi Yunus dalam ototku)
Netraku ya Muhamad
(Mataku ya Nabi Muhammad)
Pamuluku Rasul
(Wajahku adalah Rasul)
Pinayungan Adam Kawa
(dalam naungan Adam dan Hawa)
Sampun pepak sakathahe para nabi
(lengkap sudah semua nabi)
Dadya sarira tunggal//
(menyatu menjadi satu badan)

Demikian pula kecintaan kepada keluarga dan keturunan Kanjeng Nabi Muhammad serta para nabi lainnya diibaratkan sebagai udara yang dihirup, sebagai usus, jantung, otot, mata dan otak. Pada akhirnya masyarakat Islam di Jawa begitu memuliakan para nabi sejak nabi Adam a.s sampai Kanjeng Nabi Muhammad SAW, keluarga nabi, keturunan nabi dan sahabat nabi sebagai satu kesatuan tubuh yang tidak bisa dipisah satu sama lain kedudukannya.

Penutup

Itulah warisan Sunan Kalijogo yang sampai saat ini masih terjaga. Sebuah ajaran kedamaian yang membawa kedamaian untuk seluruh alam, meski itu kepada batu sekalipun. Demikian pula bagaimana seharusnya menjadikan para nabi dan rasul, keluarga nabi serta sahabat nabi dalam kesatuan utuh sebagai inspirasi untuk mewujudkan Islam yang damai dan rahmatan lil aalamiin (Hamemayu Hayuning Rat) tersebut.

 

Wallahu ‘Alam Bishshowab

 

TINGGALKAN KOMENTAR