Khotib Perlu Diseleksi

Khotib Perlu Diseleksi

BAGIKAN
Salam Warkoper

Dewan Masjid Indonesia (DMI) Jawa Tengah prihatin atas berbagai penodaan masjid dan pelanggaran norma dalam ritual Sholat Jum’at. Di beberapa masjid ditemukan ada khotib yang menebar kebencian dan mengobarkan permusuhan dalam khutbahnya. Ada masjid yang dipenuhi kegiatan partai politik dan selebaran kampanye politik. Ada pula masjid yang dijadikan basis penyebaran aliran sesat, termasuk NII.
Untuk mencegah semua itu, pengurus DMI Jateng meminta seluruh pengurus takmir masjid untuk menyeleksi khotib.
Wakil ketua DMI Jateng Ahmad Rofiq menyatakan, seluruh umat Islam harus mewaspadai gerakan trans nasional yang menyebar lewat masjid. Mereka memanfaatkan kebaikan hati para takmir yang tulus untuk mengambil alih kendali masjid.
Dikatakan Rofiq, kelompok tersebut biasanya suka menuding bid’ah dan memfitnah orang lain musyrik bahkan kafir. Cirinya sangat khas, yaitu suka memelihara jenggot dan memotong kumis, terkadang memakai jubah atau gamis, serta memakai celana congkrang.
“Orang-orang yang sering dijuluki Partai Kathok Congkrang harus kita waspadai. Para pengurus takmir harus menyaring masjidnya dari mereka,” tuturnya dalam rapat penyusunan materi Pelatihan Khatib yang akan digelar oleh Biro Kepemudaan dan Remaja PW DMI Jawa Tengah di Ruang Perpustakaan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) belum lama ini.
Rofiq yang juga sekretaris MUI Jateng mengungkapkan, kelakuan kaum kathok congkrang sudah banyak yang keterlaluan. Pihaknya banyak mendapat laporan mengenai penodaan ritual Jum’atan dan pemerkosaan masjid untuk kepentingan politik mereka.
Diantara laporan yang masuk dari berbagai daerah di Jateng, tuturnya, ada orang yang menyebarkan selebaran saat khotib sedang berkhutbah. Si pelaku berjalan mondar-mandir diantara jamaah yang sedang duduk mendengarkan khutbah.
Ada lagi yang keblinger. Tutur Rofiq, ada imam yang memaksa seluruh makmum menyisingkan celana atau sarung hingga di atas mata kaki, tetapi ia tidak mengajak makmum berdoa usai sholat Jum’at.
“Ada imam yang ngawur. Memaksa makmum mengikuti selera pakaian dia. Yang tidak ikut dianggap dosa,” tandasnya.
Terhadap NII, dia menyayangkan pemerintah yang tidak tegas. Sebab NII sudah makar. Karena memiliki struktur negara di dalam negara. Terlebih para pengikut NII sudah menajiskan keluarganya sendiri dan mengkafirkan orang Islam yang setia pada NKRI.
“Sangat disayangkan pemerintah tak tegas soal NII. Menteri Agama malah mesra dengan NII,” sesalnya.

Pemberdayaan Umat
Biro Sosial Kemanusiaan dan Pembinaan Mualaf DMI Jateng Sadiman Al-Kundarto mengatakan, penyampaian khutbah Jumat diharapkan tidak hanya berdomensi akhirat. Namun juga diminta menyentuh persoalan-persoalan dunia, misalnya terkait kemiskinan, pendidikan, dan sebagainya.
“Pemberdayaan sosial ekonomi perlu dibudayakan dalam khutbah jumat,” pintanya.
Dengan begitu, kata dia, jamaah bisa termotivasi dan tergerak dalam mengentaskan persoalan-persoalan sosial. Sebab fakta selama ini, berkurangnya umat Islam karena ikut orang yang memberi beras dan mie. Serta memberi pelayanan yang bersifat pertolongan ekonomi.
“Sudah saatnya kita membangun umat dengan cara memberdayakan umat pula,” katanya. (ichwan ndeso)

2 KOMENTAR

  1. assalamu’alaikum. iya bener itu khotib perlu di seleksi dan pilih khotib yg geratisan aja jangan yg mbayar…

  2. setuju kalo kthotib jum’at diseleksi
    tp krg setuju kalo khutbah jum’at mengupas duniawi kemiskinan pendidikan dll
    nanti sama saja dengn pidato kades/camat/bupati/gubernur/presiden
    bisa2 dijadikan ajang kampanye…hehehe…
    kan sdh ada lembaga2 yg mengatur duniawi
    malah inti dakwah mengajak kpd Allah/akhirat

TINGGALKAN KOMENTAR