Kesia-siaan Berjihad?

Kesia-siaan Berjihad?

BAGIKAN

Berita akhir-akhir ini dipenuhi dengan berita-berita tentang Jihad, perjuangan membela agama, baik yang ada di Indonesia, maupun Timur Tengah. Dalam kaitan ini perlu kiranya kita mencermati kandungan Surat Ali Imran (21-22) sebagai bentuk introspeksi dalam memaknai Perjuanganperjuangan tersebut. 

Surat Ali Imran (21) menyebutkan :

  

Kesia siaan Jihad

 

“Sesungguhnya orang orang yang mengkufuri Ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa hak, dan membunuh orang orang yang memerintahkan/mengajak dengan adil, maka berilah kabar gembira dengan siksa yang pedih”.

Tafsir Jalalain memberikan keterangan sebagai berikut atas ayat ini :

 

Kesesia siaan Berjihad

Didalam Tafsir Jalalain diceritakan terkait dengan Ayat ini adalah Kaum Yahudi yang pada pagi harinya 340 Nabi dan menjelang siang mereka membunuh 170 ahli ibadah (mungkin yang dimaksud adalah para Rahibnya) pada sore harinya, ketika para Rahib itu meminta mereka untuk berbuat adil (maksudnya tidak perlu membunuh Para Nabi, jika hanya masalah berbeda prinsip soal kepentingan mereka dalam meraih kekayaan).

Yang dalam kurung itu, tambahan saya sendiri (penulis) dengan mengutip dari beberapa sumber yang pernah saya baca, yaitu riwayat kronologi dari pembunuhan tersebut.

Selanjutnya saya justru terkesan dengan وَيَقْتُلُونَ ٱلَّذِينَ يَأْمُرُونَ بِٱلْقِسْطِ (dan membunuh orang orang yang menganjurkan berbuat adil). padanan kata yang dibuat Imam Al Rozi untuk kalimat Qisthun ini adalah قائم بالتدبير، أي يجريه على الاستقامة ( bertindak dengan merawat/memperhatikan bagus dan jeleknya, maksudnya kontinuitas dalam perawatannya), selanjutnya Tadbir/Perhatian disini berhubungan dengan Dunia dan Agama, ringkasnya Qisthun yang dimaksud adalah seseorang yang yang berbuat adil berdasarkan ilmunya, yang mana dengan ilmu itu segala keputusannya berdasarkan manfa’at agama dan dunia. dengan kata lain, Qisthun ini adalah seseorang yang sangat luas cakrawala pandangnya, sehingga membuat apa yang dia putuskan selalu dalam keadaan siaga demi kepentingan agama dan dunia. Silahkan anda telusuri tafsir sebelum ayat ini, yaitu Ali Imron Ayat 18.

Intinya seorang Qisthun adalah bisa digambarkan sebagai seorang Tokoh Perdamaian.

Sekarang kita lanjut Ayat berikutnya (Ali Imran : 22) yang masih dalam satu konteks dengan Ayat sebelumnya:

 

أُولَـٰۤﯩـِٕكَ ٱلَّذِينَ حَبِطَتْ أَعْمَـٰلُهُمْ فِي ٱلدُّنْيَا وَٱلاخِرَةِ وَمَا لَهُم مِّن نَّـٰصِرِينَ

 

“Demikian itulah orang orang yang sia-sia Amalnya di Dunia dan Akhirat, dan mereka bukan termasuk orang orang yang mendapat pertolongan”

Uniknya disini adalah penggunaan kalimat “A’maluhum” yang arti dasarnya lain dengan Af’al, Amal adalah perbuatan yang dilakukan dengan dasar dan pertimbangan dam kesadaran penuh, bisa jadi ‘Amal itu adalah perbuatan yang dipandang sebagi tindakan yang bermanfaat dengan pertimbangan akalnya, bisa juga bermaksud membangun, niyat jihad, Dakwah, Nahi Munkar, Kemanusiaan dll.

Akan lebih unik lagi, sebab dikatakan dalam Ayat itu bahwa Amalnya itu sia-sia di Dunia dan Akhirat, kenapa Amal yang secara umum dalam doktrin agama pembalasannya selalu berada di Akhirat, tetapi pada Ayat ini dikatakan kesia-siaan itu juga ketika masih di Dunia?

penhancuran makam

Pikiran saya kemudian tertuju kepada kejadian yang akhir -akhir ini sedang menghangat, yaitu yang katanya jihad, tetapi belum pernah terbukti menghasilkan kesejahteraan pasca jihadnya, Konflik justru semakin tak berujung, bukankah jihad yang demikian itu adalah kesia-siaan belaka?

 

TINGGALKAN KOMENTAR