Kelas Menengah dan Budaya Isntan

Kelas Menengah dan Budaya Isntan

BAGIKAN

Pembagian Karl Marx terhadap masyarakat dapat dikategorikan menjadi 2 kelompok, yaitu kelas borjuis/penguasa dan pemilik modal, di sisi berseberangan adalah kaum pekerja/proletar/buruh dari kelas borjuis. Seiring dengan perkembangan perekonomian, pembagian sederhana tersebut ternyata tidak mencukupi untuk lebih memahami kelompok-kelompok sosial ekonomi. Kaum buruh dalam pandangan Marx identik sebagai golongan yang tidak mempunyai kekuasaan atas modal, juga kurangnya pendapatan, pendidikan dan kesejahteraan. Perkembangan sistem ekonomi selanjutnya melahirkan kelompok sosial, dimana mereka adalah pekerja, namun dengan penghasilan yang cukup, pendidikan yang tinggi dan kesejahteraan yang baik. Apakah mereka tetap sebagai kaum buruh? Rasanya tidak tepat.

AB Hollingsead (1971) mengajukan pembagian kelas sosial berdasarkan pada pendidikan dan pekerjaan. Dari pembagian tersebut, maka muncullah kelas menengah (terdiri kelas menengah atas dan menengah bawah). Karakter dari kelas menengah tersebut adalah dilihat dari pendidikan yang tinggi (bisa jadi secara ekonomi dia masih kurang) atau mereka yang mempunyai pekerjaan dengan penghasilan cukup besar (namun mereka pendidikan tidak tinggi). Bagi mereka yang berpendidikan tinggi dengan pekerjaan dan pendapatan cukup besar, maka mereka dapat digolongkan kepada kelas menengah atas.

Kelas Menengah dan Budaya Instan

Kelas menengah dalam aktivitas sosial dengan demikian disibukkan oleh urusan pendidikan dan pekerjaan. Urusan pendidikan dalam hal ini lebih pada pendidikan yang berkaitan langsung dengan pekerjaan. Dengan adanya tuntutan jenis pendidikan dan ketrampilan yang harus dikuasai sebagai syarat masuk dunia kerja, banyak waktu dihabiskan untuk proses ini. Di luar jam sekolah atau kuliah, mereka sibuk menambah ketrampilan melalui lembaga kursus dan sejenisnya. Demikian pula, bagi mereka yang sudah bekerja, aktivitas sosialnya akan disibukkan oleh urusan pekerjaan. Kegiatan-kegiatan yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan sangat jarang dilakukan. Dalam konteks ini, maka bisa dipahami mengapa mereka kaum menengah kurang bersosialisasi di lingkungan mereka, kurang peduli sekitar dan cenderung egois.

Kebiasaan lainnya yang muncul adalah budaya instan, cepat saji. Dengan waktu yang sudah habis dalam urusan pendidikan dan pekerjaan, akhirnya untuk memenuhi kebutuhan lainnya, kelas menengah memperolehnya dengan cara instan. Perhatikanlah mereka dalam hal pakaian, makanan, kerja bakti, bahkan dalam belajar agamapun dilakukan secara instan. Sudah tak ada waktu untuk pergi mengaji kepada guru atau majelis taklim, kalaupun ada, hanya akan bisa dilakukan pada hari libur bekerja (Minggu, sementara Sabtu untuk keluarga atau sebaliknya). Belajar melalui buku dan internet menjadi favorit bagi kaum kelas menengah. Hal tersebut semakin jelas terlihat di daerah-daerah dengan penduduk yang bekerja pada sektor industri, jasa dan perdagangan yang banyak melahirkan kaum kelas menengah.

Belajar Agama Secara Instan?

Belajar agama bukanlah proses yang mudah dan sederhana. Membutuhkan waktu panjang, bimbingan dan pengalaman. Jangankan urusan agama, proses pendidikan profesi juga demikian. Tak ada yang instan dalam pendidikan. Proses pendidikan yang instan hanya akan melahirkan sarjana karbitan (instan), pandai berteori tapi tidak ahli dan menguasai bidangnya. Kita menjadi sadar banyak lulusan pendidikan tinggi akhir-akhir ini dikeluhkan oleh dunia usaha sebagai lulusan yang belum siap bekerja. Dalih bahwa mereka tidak disiapkan sebagai pekerja untuk sementara bisa dimaafkan, tetapi apakah pendidikan hanya akan mengahasilkan lulusan dengan kualitas selembar ijazah? Tentu bukan itu yang diharapkan dari sebuah proses pendidikan.

Demikian pula dalam belajar dan memahami agama. Tidak cukup belajar melalui buku dan internet untuk benar-benar memahami agama. Jika hanya mengandalkan metode instan tersebut, maka hanya akan melahirkan ahli agama yang kualitasnya sebanding dengan selembar kertas dan halaman blog.

Meski demikian, kita tidak boleh menutup mata atas kondisi ini. Diperlukan upaya-upaya untuk memenuhi kebutuhan instan yang sudah membudaya tersebut. Oleh karena itu, sajian cepat saji yang hendak diberikan merupakan olahan yang terbaik dan sehat. Mater-materi keagamaan yang disajikan merupakan produk yang sudah teruji dan berkualitas sepanjang zaman sehingga bisa menjadi pedoman yang diandalkan. Hanya cara menyajikannya saja model cepat dan sederhana. Namun, tetap perlu waspada dengan sajian yang nampaknya bagus, menggiurkan dan menjanjikan, sebenarnya hanya produk yang belum matang dan sempurna. Dan anda akan menjadi korbannya, mulanya sakit perut, kemudian sakit kepala dan banyak penyakit akan menjadi sahabat anda. Jagalah kesehatan pemahaman agama anda dari penyakit-penyakit kronis.

 

Wallahu ‘alamu bisshowab

TINGGALKAN KOMENTAR