Kedustaan Syi’ah Mengenahi Imamah Dan Wilayah

Kedustaan Syi’ah Mengenahi Imamah Dan Wilayah

BAGIKAN

Kaum Syi’ah memandang soal Imamah termasuk keyakinan pokok. Mereka mengKafirkan orang yang tidak mengakui keimaman dan memandang orang yang mengakuinya sebagai Muslim. Soal Imamah dianggap mempunyai kaitan langsung dengan soal-soal keimanan, seperti iman kepada Allah dan iman kepada Rasul-Nya. Hal ini diriwayatkan oleh Al- Kaliniy di dalam Al Kafiy, bahwa Abul Hasan Al ‘Atthar berkata: “Aku mendengar Abu ‘Abdullah mengatakan: ‘Sertakan para penerima wasiat dengan para Rasul dalam hal taat.'” [Al Kafiy, Kitab Al Hujjah, Bab Kewajiban Taat Kepada Para Imam, hal. 186, Jilid I, cet. Teheran]

Al Kaliniy mengemukakan sebuah riwayat yang lebih terus terang dan lebih tegas lagi mengenai hal itu. Ia mengatakan: “Aku mendengar Abu ‘Abdullah menegaskan: ‘Kamilah yang oleh Allah ditetapkan wajib ditaati. Orang tidak akan memperoleh kelonggaran kecuali dengan mengenal kami, dan orang yang tidak mengenal kami, tidak memperoleh maaf. Siapa yang mengenal kami ia mu’min dan siapa yang mengingkari kami ia kafir. Sedangkan orang yang tidak mengenal dan tidak mengingkari kami ia sesat selam ia belum kembali kepada hidayat Allah yang telah menetapkan orang wajib taat kepada kami.'” [Al Kafiy, Kitab al Hujjah, hal. 187, Jilid I, cet. Teheran]

Ia juga mengemukakan sebuah riwayat berasal dari Jabir yang mengatakan:

Aku mendengar Abu Ja’far a.s. berkata:

“Orang yang mengenal Allah dan bersembah sujud kepada-Nya hanyalah orang yang mengenal Allah dan mengenal Imam-Nya dari kalangan kami Ahlul Bait. Barang siapa yang tidak mengenal Allah dan tidak mengenal Imam dari kalangan kami Ahlul Bait, sesungguhnya orang itu bersembah sujud kepada selain Allah. Itu merupakan kesesatan.” [Al Kafiy, Kitab al Hujjah, Bab Mengenal Imam, hal. 181, Jilid I, cet. Teheran]

Soal Imamah oleh KAUM SYIAH disamakan dengan shalat, zakat, puasa dan ibadah haji. Ahli hadist mereka, Al Kaliniy dalam Shahih Al Kafiy mengetengahkan sebuah riwayat berasal dari Abu Hamzah, bahwasanya Abu Ja’far a.s. berkata: “Rukun Islam ada lima: Shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah (mengakui imamah). Pada ‘hari Ghadir” tidak ada sesuatu yang diserukan (Rasul Allah) seperti seruannya mengenai imamah.” [Al Kafiy fil Ushul, hal. 18, Jilid II, cet. Teheran; hal. 369, cet. India.]

Cobalah anda perhatikan kalimat yang berbunyi: “Rasul Allah SAW tidak menyerukan apa pun seperti seruannya mengenai wilayah (imamah) dalam amanatnya pada hari Al-Ghadir.” Kalimat itu mengandung pengertian bahwa wilayah (imamah) lebih penting daripada empat rukun Islam yang lain.

Al Kaliniy juga mengemukakan riwayat lain lagi berasal Zararah, bahwasanya Abu Ja’far as. berkata: “Islam ditegakkan atas lima hal: shalat, puasa, haji dan wilayah (imamah) …”Zararah bertanya: “Manakah yang lebih afdhal?” Abu Ja’far menjawab: “Wilayah lebih afdhal.” [Al Kafiy fil Ushul, hal. 18, Jilid II, cet. Teheran; hal. 368, cet. India.]

Timbul pertanyaan dalam fikiran kita: Jika soal wilayah (imamah) sedemikian penting dan menempati urutan yang begitu utama, lantas bagaimana mungkin soal shalat dan zakat banyak disebut dalam Al Qur’an, sedangkan soal wilayah (imamah) tidak ada sama sekali dalam Al Qur’an. Lagipula soal wilayah oleh kaum Syi’ah bukan hanya dipandang sebagai salah satu asas saja, bahkan dipandang sebagai poros agama Islam. Itulah yang dimaksud oleh kaum Syi’ah dengan “perjanjian yang mereka tetapkan dengan para Nabi”, sebagaimana yang diriwayatkan oleh penulis kitab Al Basha’ir. Riwayat itu sebagai berikut:

Kami mendengar dari Al Hasan bin ‘Ali bin An-Nu’man, ia mendengar dari Yahya bin Abu Zakariya bin ‘Amr Az Zayyat yang mengatakan: “Aku mendengar dari ayahku dan ia mendengar dari Muhammad bin Sama’ah yang mendengar dari Faidh bin Abi Syaibah, berasal dari Muhammad bin Muslim yang mengatakan, bahwasanya ia mendengar Abu Ja’far berkata: ‘Allah tabaraka wata’ala telah menetapkan perjanjian dengan para Nabi mengenai wilayah (keimaman) ‘Ali dan telah pula mengambil janji dari para Nabi tentang wilayah (keimaman) ‘Ali itu.” [Basha’irud Darajat, Bab IX, Jilid II, cet. Iran, 1928 H.]

Gerangan, bagamana mungkin soal yang sepenting itu tidak tercantum sama sekali di dalam Al Qur’an, baik yang mengenai “perjanjian” maupun yang mengenai “janji”? Tidak hanya itu saja. Masih banyak kebohongan dan kedustaan yang lebih hebat lagi mengenahi Imamah atau wilayah. Mereka mengatakan bahwa wilayah (keimaman) tidak hanya telah ditetapkan sebagai perjanjian dengan para Nabi saja, tetapi bahkan dikatakan juga sebagai amanat yang oleh Allah SWT ditawarkan kepada langit dan bumi. Dalam Al Basha’ir diketengahkan juga sebuah riwayat bahwasanya Amirul Mu’minin ‘Ali mengatakan, “Sungguh, Allah telah menawarkan wilayah (keimaman)-ku kepada penghuni langit dan bumi. Ada yang mengakui dan ada pula yang mengingkarinya. Yunus mengingkarinya, dan akhirnya ia dipenjarakan dalam perut ikan paus sehingga ia mau mengakuinya.” [Basha’irud Darajat, Bab X, Jilid II, cet. Iran]

Sungguh, itu suatu kebohongan dan kedustaan kaum syi’ah yang luar biasa mengenahi Imamah dan Wilayah. Semoga Allah melindungi kita semua jangan sampai mempunyai kepercayaan semacam itu.

Mengenai amanat yang dikatakan oleh kaum Syi’ah tadi ialah, bahwasanya Allah menaruh perhatian besar mengenai hal ini , sehingga Allah tidak mengutus atau mengangkat seorang Nabi yang telah dibebani tugas amanat itu. Demikianlah yang menajdi kepercayaan mereka, sebagaimana riwyat yang dikemukakan oleh penulis Al Basha’ir, yaitu sebuah riwayat berasal dari Muhammad bin ‘Abdurrahman, bahwasanya Abu ‘Abdullah as. berkata: ” Wilayah (imamah) kami adalah wilayah (imamah) Ilahi, yang tak seorang Nabi pun diangkat Allah kecuali dengan amat wilayah (imamah) itu.” [Basha’irud Darajat, Bab IX, Jilid II, cet. Iran]

Mengingat sangat pentingnya soal imamah itu, maka menurut kaum Syi’ah seseorang tidak akan menjadi mukmin sejati kecuali dengan mengakui imamah itu. Demikian juga para malaikat di langit, semuanya telah meyakininya. Begitulah yang menjadi anggapan kaum Syi’ah. Penulis Al Basha’ir mengemukakan sebagai berikut:

Kami mendengar dari Ahmad bin Muhammad yang mendengar dari Al Hasan bin ‘Ali bin Fadhdhal, ia mendengar dari Muhammad bin Fudhail yagn mendengar dari Abush Shabah Al Kinaniy, bahwasanya Abu Ja’far berkata: “Demi Allah, di langit terdapat tujuh puluh jenis malaikat. Seandainya semua penduduk bumi berkumpul kemudian menghitung jumlah malaikat dari masing-masing jenis, mereka tidak akan dapat menghitungnya. Semua malaikat itu mempercayai wilayah (keimaman) kami. [Basha’irud Darajat, Bab IV, Jilid II, cet. Iran]

Apakah masuk akal kalau suatu soal yang sedemikian penting tidak disebut sama sekali dalam firman Allah? Apalagi dikatakan oleh kaum Syi’ah bahwa akidah dan ibadah apa pun tidak sah bila tidak disertai dengan keyakinan mengenai imamah itu. Al Kaliniy meriwayatkan bahwa Ja’far As Shadiq pernah menegaskan” “Batu alas (batu alas yang biasanya disebut “tungku” pada galibnya terdiri dari 3 buah, agar belanga yang diletakkan di atasnya tidak oleh) dalam Islam adalah tiga: shalat, zakat dan wilayah (imamah), yang satu tidak sah kecuali dengan disertai yang lain.” [Al Kafiy fil Ushul, hal. 18, jilid II, cet. Teheran]

Riwayat berasal dari Muhammad bin Fadhl juga mengatakan, bahwa Abul Hasan as. pernah berkata: “Wilayah (imamah) ‘Ali as. termaktub pada semua Kitab Suci para Nabi, di samping Al Qur’an. Allah tidak mengutus seorang Rasul pun kecuali dengan kenabian Muhammad SAW dan dengan wasiat mengenai wilayah ‘Ali as.” [Al Kafiy, Kitab Al Hujjah, kumpulan riwayat tentang wilayah (imamah), hal. 437, Jilid I, cet. Teheran]

Setelah kaum Syi’ah menghadapi kesulitan mengenai soal wilayah, mereka berusaha mencari pemecahan dengan jalan memandang Al Qur’an sudah terkena revisi, mengalami pengubahan, banyak ayat-ayatnya yang dibuang dan banyak pula kata-kata serta kalimatnya yang dihapus. Mereka menuduh yang melakukan semua kejahatan itu adalah para sahabat Nabi terkemuka dan para pemimpin umat Islam terdorong oleh kebencian terhadap ‘Ali dan akan keturunannya, serta terdorong oleh keinginan hendak menghilangkan pusaka Rasul Allah SAW.

Manqulun

TINGGALKAN KOMENTAR