Kaum Yahudi Kuno Bertawassul Dengan Nabi Muhammad

Kaum Yahudi Kuno Bertawassul Dengan Nabi Muhammad

BAGIKAN

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الْكَافِرِينَ

 “Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka[70], padahal sebelumnya mereka biasa memohon (Dengan  Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka la’nat Allah-lah atas orang-orang yang ingkar itu”.  (Al Baqoroh 89)

 

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa kaum Yahudi Khaibar dahulu memerangi kaum Ghathafan (bangsa Arab). Tiap kali bertempur bangsa Yahudi kalah. Kemudian kaum Yahudi minta pertolongan (bertawassul) dengan doa ini: “Ya Allah, sesungguhnya kami minta kepada-Mu dengan hak Muhammad, Nabi yang ummi, yang Engkau telah janjikan kepada kami, akan Engkau utus Dia di akhir zaman. Tidakkah Engkau akan menolong kami untuk mengalahkan mereka?” Apabila bertempur, mereka tetap berdoa dengan doa ini, sehingga kalahlah kaum Ghathafan. Tetapi ketika Rasulullah diutus, mereka kufur terhadap Nabi SAW. Maka Allah turunkan ayat ini (S. 2: 89) sebagai laknat kepada orang-orang yang memohon pertolongan Allah, yang setelah dikabulkan mengingkarinya.

(Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak dan al-Baihaqi dalam kitab ad-Dala’il dengan sanad yang lemah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa kaum Yahudi minta pertolongan (bertawassul) untuk mengalahkan kaum Aus dan kaum Khazraj dengan memakai nama Rasulullah SAW sebelum beliau diutus menjadi Rasul. Akan tetapi setelah Allah mengutus Rasul dari bangsa Arab, mereka kufur kepadanya. Dan mereka ingkari apa yang mereka katakan tentang Nabi SAW. Maka berkatalah Muadz bin Jabal, Bisyrubnul Barra dan Dawud bin Salamah kepada mereka: “Wahai kaum Yahudi! Takutlah kamu kepada Allah dan masuk Islamlah kamu, karena kamu telah minta pertolongan kepada Allah memakai nama Muhammad untuk mengalahkan kami, di saat kami termasuk kaum Musyrikin. Kamu memberi kabar kepada kami bahwa sesungguhnya ia (Muhammad) akan diutus dan kamu mengemukakan sifat-sifat Muhammad dengan sifat-sifat yang ada padanya itu.” Maka berkatalah Salam bin Masykam salah seorang dari bani Nadlir: “Dia tidak memenuhi sifat-sifat yang kami kenal, dan dia bukan yang kami terangkan kepadamu.” Maka Allah menurunkan ayat ini (S. 2: 89) berkenaan dengan peristiwa di atas.

(Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu Abbas.)

Lebih lengkapnya mari kita lihat Tafsir Al Qurthubi berikut yang saya terjemahkan poin-poin penafsirannya saja:

قوله تعالى: {وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَـٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِۦۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ} يعني اليهود.

Dan setelah datang kepada mereka (Yang dimaksud adalah Yahudi)

 {وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَـٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِۦۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ} يعني القرآن.

maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui (yang dimaksud adalah alquran)

«مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ» نعت لكتاب؛ ويجوز في غير القرآن نصبه على الحال؛ وكذلك هو في مصحف أُبَيَّ بالنصب فيما رُوِيَ.

Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka (Boleh jadi yang dimaksud adalah Alquran dan boleh jadi selain alquran yaitu kondisi atau keqdaan mereka)

{وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَـٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِۦۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ} يعني التوراة والإنجيل يخبرهم بما فيهما.

Yang dimaksud “membenarkan apa yang ada pada mereka” adalah bahwa Kitab Taurat dan Injil menceritakan keadaa mereka

{وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَـٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِۦۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ} أي يستنصرون. والاستفتاح الاستنصار. استفتحت: استنصرت.

Yang dimaksud “Yastaftikhuna” adalah memohon pertolongan atau bantuan

وفي الحديث: كان النبيّ صلى الله عليه وسلّم يستفتح بصعاليك المهاجرين؛ أي يستنصر بدعائهم وصلاتهم. ومنه {فَتَرَى ٱلَّذِينَ فِى قُلُوبِهِم مَّرَضٌ يُسَـٰرِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰۤ أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٌۚ فَعَسَى ٱللَّهُ أَن يَأْتِىَ بِٱلْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِّنْ عِندِهِۦ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ مَآ أَسَرُّوا فِىۤ أَنفسهم

“Dalam Sebuah Hadits: Nabi Muhammad memohon pertolongan dengan kemiskinan Orang orang Muhajirin, maksudnya memohon bantuan dengan doa orang orang Muhajirin dan Sholatnya……………………………….”

. والنصر: فتح شيء مغلق؛ فهو يرجع إلى قولهم فتحت الباب.

“Al Nashru adalah terbukanya sesuatu yang sulit (terkunci)”

وروى النسائي عن أبي سعيد الخدري أن النبيّ صلى الله عليه وسلّم قال: «إنما نصر الله هذه الأمة بضعفائها بدعوتهم وصلاتهم وإخلاصهم».

 

Dan diriwayatkan Oleh Imam Al Nasai dari Abi Sa,id Al Khudzri sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya Pertolongan Ummat ini datang sebab kelemahannya, sholatnya, dan Ikhlashnya.

وروى النسائي أيضاً عن أبي الدرداء قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلّم يقول: «أَبْغُونِي الضعيف فإنكم إنما ترزقون وتنصرون بضعفائكم».

“Dan Imam Al Nasai meriwayatkan juga dari Abi Darda berkata: Aku mendengar Rosulullah bersabda: Datangkanlah kepadaku sebuah kelemahan (Miskin/lapar) sesungguhnya kalian akan diberi rizqi dan pertolongan sebab kelemahan kalian”.

قال ابن عباس: كانت يهود خَيْبر تقاتل غَطَفان فلما التقوا هزمت يهود، فعادت يهود بهذا الدعاء وقالوا: إنا نسألك بحق النبيّ الأُميّ الذي وعدتنا أن تخرجه لنا في آخر الزمان إلا تنصرنا عليهم. قال: فكانوا إذا التقوا دعوا بهذا الدعاء فهزموا غطفان؛ فلما بُعث النبيّ صلى الله عليه وسلّم كفروا؛ فأنزل الله تعالى: {وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَـٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِۦۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ} أي بك يا محمد، إلى قوله: {وَلَمَّا جَآءَهُمْ كِتَـٰبٌ مِّنْ عِندِ ٱللَّهِ مُصَدِّقٌ لِّمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِن قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى ٱلَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَآءَهُم مَّا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِۦۚ فَلَعْنَةُ ٱللَّهِ عَلَى ٱلْكَـٰفِرِينَ} .

 

“Berkata Ibnu ‘Abbas: Kaum Yahudi Khaibar dahulu memerangi kaum Ghathafan (bangsa Arab). Tiap kali bertempur bangsa Yahudi kalah. Kemudian kaum Yahudi minta pertolongan (bertawassul) dengan doa ini: “Ya Allah, sesungguhnya kami minta kepada-Mu dengan hak Muhammad, Nabi yang ummi, yang Engkau telah janjikan kepada kami, akan Engkau utus Dia di akhir zaman. Tidakkah Engkau akan menolong kami untuk mengalahkan mereka?” Apabila bertempur, mereka tetap berdoa dengan doa ini, sehingga kalahlah kaum Ghathafan. Tetapi ketika Rasulullah diutus, mereka kufur terhadap Nabi SAW. Maka Allah turunkan ayat ini (S. 2: 89) sebagai laknat kepada orang-orang yang memohon pertolongan Allah, yang setelah dikabulkan mengingkarinya”.

2 KOMENTAR

  1. orang salafi jangan gusar membaca tulisan di atas yah…! mestinya sampean kabeh pada sadar kalo yang melarang orang mu’min agar tidak bertawasul kepada Nabi Muhammad saw sebenarnya adalah orang2 YAHUDI. KENAPA? karena mereka para yahudi telah membuktikan keampuhan dan kemustajaban doá jika do’a dibarengi dengan tawasul kepada Nabi Muhammad saw. Mereka Yahudi takut jika orang2 mukmin berdo’a dengan bertawasul dg Nabi Muhammad saw untuk memerangi mereka yahudi. Mereka Yahudi telah membuktikan sendiri jika mau berperang mereka berdoa: Ya Allah, sesungguhnya kami minta kepada-Mu dengan hak Muhammad, Nabi yang ummi, yang Engkau telah janjikan kepada kami, akan Engkau utus Dia di akhir zaman. Tidakkah Engkau akan menolong kami untuk mengalahkan mereka?” Apabila bertempur, mereka yahudi itu tetap berdoa dengan doa ini, sehingga mereka yahudi selalu menang dan kalahlah kaum Ghathafan.
    Akhirnya yahudi yg bertopeng mu’min mencari2 dalil untuk melarang do’a dengan tawasul.

TINGGALKAN KOMENTAR