KATAKAN : SAYA CERDAS

KATAKAN : SAYA CERDAS

BAGIKAN

042613_0140_DenganJudul1.jpg“Orang cerdas menganggap dirinya cerdas dan orang bebal menganggap dirinya bebal”

 

Suatu ketika, saya lupa kapan persisnya, pikiran sehat saya terusik oleh rangkain pertanyaan yang cukup panjang. Kenapa manusia berbeda-beda? Ada yang giat dan ada yang malas. Ada yang pemberani dan ada pula yang penakut. Kenapa? Padahal mereka memiliki tubuh yang sama. Jika karena lingkungannya, kenapa orang-orang yang hidup di lingkungan yang sama tetap berbeda? Jika karena makanannya, kenapa orang-orang yang mengkonsumsi makanan yang sama (karena hidup di tempat yang sama dan memiliki kelas ekonomi yang sama) juga tetap berbeda? Jika karena perbedaaan keturunan, kenapa dua orang bersaudarapun juga tetap berbeda? Ibaratnya ada dua anak kembar yang lahir di tanggal, bulan dan tahun yang sama diasuh oleh keluarga yang sama. Dengan perawatan, perhatian dan pendidikan yang sama. Tapi mereka tetap berbeda. Apa penyebabnya? Sebuah misteri.

Saya perkirakan 2% otak saya saat itu aktif bekerja hendak memecahkan misteri ini. Misteri ini agak rumit, seperti hiroglifnya orang mesir kuno yang terkenal itu. Namun, akhirnya ada satu celah untuk jalan masuknya cahaya di tengah kegelapan gua misteri tersebut. Kalau perbedaan manusia yang dipertanyakan ada di dalam diri manusia, bukan fisiknya, maka penyebabnya juga ada di dalam diri mereka. Walaupun fisik ikut berpengaruh, pasti hanya dalam skala kecil saja. Atau bahkan sangat kecil.

Ternyata, perbedaan yang ada dalam diri setiap manusia adalah anggapan mereka sendiri. Orang yang pemberani menganggap dirinya pemberani dan orang penakut menganggap dirinya penakut. Orang yang giat menganggap dirinya giat dan orang yang pemalas menganggap dirinya pemalas. Itulah perbedaannya. Jika memang demikian, manusia pasti dapat berubah seketika ketika anggapannya berubah. Seorang yang penakut akan menjadi kendel jika dirinya merubah anggapannya, meyakini dirinya pemberani. Orang pemalas juga akan menjadi giat seketika ketika dirinya yakin dirinya adalah orang yang semangat. Namun, bagaimana cara merubah anggapan tersebut? Jawabannya masih menjadi misteri.

…..

Dan akhirnya sebuah harapan datang. Saya menemukan sebuah petunjuk dalam sebuah buku yang saya beli secara patungan alias kongkalikong dengan teman saya di bulan Mei 2007. ESQ Way 165 tertera sebagai judul di sampul depannya. Ary Ginanjar, penyusun buku tersebut di halaman 266 menyebut Repetitive Magic Power atau Energi Ajaib Yang Terulang yang dapat diperoleh dari pengulangan kata dapat membangun sebuah mental. Sederhananya dengan mengucapkan “saya juara” orang akan benar-benar memiliki mental juara. Metode inilah yang dipakai oleh para instruktur di negri sakura untuk membangun mental siwa eksekutifnya. Mereka mewajibkan para para siswa mengucapkan “saya juara” seratus kali dalam sehari. Bagaimana jika metode ini digunakan untuk membangun mental baru yang baik untuk menggantikan mental lama yang kurang baik? Semisal mental penakut diubah menjadi mental pemberani. Lagi-lagi ini juga menjadi misteri.

Saya akan membuktikannya sendiri. Saya tergolong orang yang jereh (baca;penakut) dan kebetulan pada waktu itu (Sya`ban 1430, bertepatan dengan bulan Agustus 2009) saya diutus oleh ayah dan ibu saya untuk mengikuti pengajian “Kitab al Iqna`” di desa sebelah. Pulangnya kadang sampai jam 12 malam lebih. Bayangkan saja, antara dusun saya dengan tempat mengaji dipisahkan oleh berhektar-hektar tempat yang sunyi berupa tegalan, sawah, lapangan, kuburan dan rimbunan bambu yang sangat asing bagi seorang penakut seperti saya. Lha wong ditemanin saja masih takut, apalagi kalau sendirian. Ya mbahnya takut. Akhirnya saya putuskan untuk mencoba teori tersebut.

Kurang lebih dua minggu sebelum hari dimulainya ngaji, saya mengamalkan wiridan yang aneh. Saya terus mengucapkan “aku kendel” (baca; saya pemberani) sebanyak mungkin. Saya ingat, setiap kali teringat kalau mau ngaji al Iqna` mulut saya langsung komat-kamit membaca kalimat tersebut. Bahkan saat -maaf- buang hajatpun saya membacanya. Saya merasakan ada perubahan dalam mental saya. Sulit digambarkan. Mungkin seperti computer yang mulanya Wndows XP diganti dengan Windows 7. Computernya sih tetap, tapi dalamnya berubah. Mulai dari tampilannya hingga fiturnya. Lebih keren.

Saat pembuktian, ketika hari pertama berangkat saya diwanti-wanti oleh seluruh isi rumah untuk menginap saja. Sampai mereka membungkuskan nasi spesial untuk sahur saya. Mereka mengenal Shohibun Niam yang lama, walaupun berani untuk berangkat karena terpaksa, pasti tidak akan berani untuk pulang. Mereka salah. Saya jamin mereka kaget bukan kepalang ketika saya pulang larut malam. Ternyata saya berani. Bahkan pada hari selanjutnya saya berani melewati jalan kecil yang menerobos kuburan, melewati tengah hamparan sawah dan grumbul yang jauh dari rumah penduduk. Itu saya lakukan untuk menguji hasil komat-kamit saya selama dua minggu sebelumnya.

Wow, is magic!, Penakut menjadi kendel, walaupun tidak sampai super kendel, seperti tidur di kuburan tetaplah sebuah perubahan yang memukau. Saya sendiri menjadi tertarik dengan hal positif lainnya. Saya kemudian berpikir untuk menjadi anak yang cerdas. Gampang saja. Saya akan katakan saya cerdas. Itu saja.

 

===

Artikel No.3

Penulis : Shohibun Niam al Tarobani

fb : shohibunniam altarobani

TINGGALKAN KOMENTAR