Karakter dan Puasa

Karakter dan Puasa

BAGIKAN

Pendahuluan

Meski saat ini kita sudah berada pada bulan syawal 1433 H, bukan berarti tidak layak mendiskusikan soal puasa. Berkaitan dengan karakter manusia, puasa menjadi pokok bahasan yang penting dan akan selalu menarik untuk dikaji terus menerus. Jelas sekali bahwa dengan selesainya puasa ramadhan, bukan berarti otomatis tamat dan lulus bagi seseorang dalam menjalankannya. Bahwa dalam Al Qur’an jelas disebutkan, harapan atau target yang hendak digapai melalui puasa adalah ketaqwaan. Itu bukan sebuah kondisi yang statis, artinya ketika orang sudah mencapai derajat ketaqwaan tertentu berhenti, tidak ada kemungkinan berubah. Tidak sama sekali dimengerti secara demikian. Bahwa ketaqwaan merupakan sebuah karakter dari manusia beragama, dimana keseluruhan pola sikap hidupnya yang mencerminkan keseluruhan pribadi dalah dalam bingkai ketaatan dan ketundukan kepada Allah swt.

Karakter adalah Sikap terpola dan baku

Karakter adalah kata yang berasal dari Yunani “Charassein” yang berarti awal goresan atau coretan. Dari kata tersebut dalam bahasa Inggris dipadankan dengan “to mark” yang berarti  menandai. Dengan begitu karakter diartikan memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut dengan berkarakter mulia.  Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Dekdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”.

Dalam konteks keindonesiaan, karakter seringkali disamakan dengan kepribadian. Kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi dan temparamen seseorang. Sikap perasaan ekspresi dan tempramen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika di hadapan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan prilaku yang baku, atau pola dan konsisten, sehingga menjadi ciri khas pribadinya (Horton,1982).

Dari berbagai pengertian tersebut, maka karakter atau kepribadian dapat dimengerti sebagai tanda yang mewakili seluruh kepribadian manusia dalam bentuk sikap dan perilaku yang konsisten dan baku serta terpola.

Puasa sebagai Pembentuk Karakter

Secara teoritik, ada beberapa faktor pembentuk karakter manusia, seperti faktor keluarga, lingkungan sosial, budaya, agama, fisik dan lainnya. Puasa ramadhan merupakan ibadah dalam agama Islam yang berlangsung selama satu bulan penuh. Dengan demikian, di dalam bulan puasa ramadhan terkandung sistem kurikulum pembentukan karakter dari seorang muslim sampai pada pencapaian derajat taqwa.

Menurut pandangan behaviorisme (aliran perilaku dalam psikologi), memandang bahwa seluruh perilaku manusia adalah hasil belajar. Belajar artinya perubahan perilaku organisme sebagai pengaruh dari faktor-faktor pembentuknya. Behaviorisme tidak mempersoalkan apakah manusia baik atau jelek, rasional atau emosional; behaviorisme hanya ingin mengetahui bagaimana perilakunya dikendalian oleh faktor-faktor tersebut. Individu dipandang sebagai makhluk reaktif yang memberi respon terhadap lingkungan. Pengalaman dan pemeliharaan akan membentuk perilaku mereka. Dari hal ini, timbulah konsep ”manusia mesin” (Homo Mechanicus). Ciri dari teori ini adalah mengutamakan unsur-unsur dan bagian kecil, bersifat mekanistis, menekankan peranan lingkungan, mementingkan pembentukan reaksi atau respon, menekankan pentingnya latihan, mementingkan mekanisme hasil belajar,mementingkan peranan kemampuan dan hasil belajar yang diperoleh adalah munculnya perilaku yang diinginkan. Pada teori belajar ini sering disebut S-R psikologis (Sikap-Respin) artinya bahwa tingkah laku manusia dikendalikan oleh ganjaran atau reward dan penguatan atau reinforcement dari lingkungan. Dengan demikian dalam tingkah laku belajar terdapat jalinan yang erat antara reaksi-reaksi behavioural dengan stimulusnya.

Dalam konteks puasa ramadhan, maka di dalamnya mengandung proses belajar yang intensif dimana manusia diupayakan secara otomatis (mekanis) bersikap dan berperilaku positif atas siatuasi dan stimulus yang datang kepadanya. Ketika seorang berpuasa, maka saat melihat kemiskinan secara otomatis akan berperilaku untuk memberi pertolongan. Singkatnya reaksi atau respon dalam bentuk sikap dan perilaku tersebut berjalan tanpa berpikir, lebih otomatis mekanis.

Karakter Setelah Berpuasa

Harapan adanya perubahan ataupun pemantapan dalam sikap dan perilaku yang semakin terpola dan baku dalam diri seseorang dilandasi dengan spirit puasa ramdahan, yakni pengendalian diri atas nafsu kedirian manusia. Akan semakin nampak jelas saat memasuki bulan-bulan selepas ramadhan. Seseorang yang benar-benar belajar selama sebulan ramadhan penuh akan menjadi pribadi yang memiliki karakter terpuji dan unggul, baik dalam menghadapi dorongan pribadi maupun situmulus dari lingkungan sekitarnya. Jika selama bulan ramadhan dilatih dengan sistem ganjaran yang demikian besar, maka selepas ramadhan, sikap dan perilaku tersebut sudah berubah menjadi kebiasaan otomatis, sudah tidak lagi berdasarkan hukuman ataupun ganjaran/insentif yang dijanjikan. Semoga kita menjadi bagian dari golongan orang-orang yang berhasil membentuk karakter yang lebih bermutu dan berakhlakul karimah.

Wallahu ‘alamu

 

 

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR