Kang Said Menjawab

Kang Said Menjawab

BAGIKAN

Warkop Mbah Lalar
Assalamu alaikum warahmatyullahi wa barokatuh

Ringkasan tausiah K.H.Prof.DR.Said agil siraj MA dalam memperingati haul Raden Abdul Fatah Sayidin Panoto Gomo, Demak 26 Mei 2010.

“14 abad yg lalu manusia berada di jaman jahiliyah. Di barat ada imperialis Romawi yg telah memiliki peradaban,juga telah memiliki agama dg kitab Bibel. Akan tetapi hidup dalam tabiat jahiliyah ,PERBUDAKAN. Raja Neo pernah membakar hidup-hidup 600 budak. Mereka juga memiliki tradisi gladiator yaitu TONTONAN mengadu budak-budak hingga salah satu dari mereka mati.” Sambil bergurau ringan pak said meneruskan sambutan pertamanya di Kota Demak.

“Sementara di timur ada kerajaan persia yg telah memiliki peradaban dan juga agama dg kitab Avista, tetapi memiliki tradisi jahiliyah di bidang law inforcement. Saat rakyat jelata bersalah maka dihukum dengan hukuman seberat mungkin, dipotong tangan, kuping, atau dibuang di jurang. Tetapi jika bangsawan yg melakukan kejahatan maka aman aman saja…”

“Sementara di dunia jazirah arab adalah wilayah di dunia pada saat itu yg merupakan wilayah yg paling jahil. Rata-rata masyarakat pada umumnya adalah buta huruf, terdiri dari suku suku yg saling berperang.anak perempuan bagi masyarakat arab dianggap aib, ada yg dikubur atau dibakar hidup hidup, ada yg dikawinkan dengan anak-anak mereka sendiri. Masyarakat  Arab pada saat itu memiliki banyak tuhan, ada sekitar 360 tuhan orang arab saat itu. Golongan yg paling dimulyakan masyarakat arab ada tiga.(1) tukang syair,(2) kahin/dukun,(3) ahli syihir/santet dan guna guna…Makanya Alqur’an menyatakan Muhammad saw bukanlah tukang syair, Muhammad saw tidak belajr dari perkataan kahin,dan Muhammad bukanlah tukang syihir.”

Dengan intonasi agak meninggi Kang Said meneruskan kefasihanya dalam berorientasi….

“Lalu lahirlah Muhammad ibni Abdillah, dua bulan dikandungan, bapaknya wafat. Pada usia 6 tahun ibunya wafat. Dan pada usia 8 tahun kakeknya wafat. Makanya Muhammad adalah pemuda buta huruf dan tidak berpendidikan karena memang tidak ada yg mendidiknya, bukan pula didikan orangtuanya atau kakeknya…100% didikan Tuhan. Lalu tiba-tiba Muhammad berkata:

Kang Said Menjawab

Tanpa mau menyebutkan ayat berapa dan surat apa yangg Kang Said baca, sambil bergurau “cari aja di Al Qur’an, pasti ada” dan khalayak pun tak bisa menahan reflek euforia tersenyum massal…….“wa liaglamal ladzina utul ilma anahul haqu min robika fayukminnu bihi fatuhbita qulubuhum, bermakna bahwa untuk mengerti kebenaran dari Tuhan maka orang harus berilmu, setelah itu harus segera disusul dg keimanan, tapi tak cukup hanya dengan ilmu dan iman tapi juga menundukan hati, memperbaiki amalan batin dengan membersihkan hati dengan rasa hasud, dengki, khianah, sombong, riya’ dkk sehingga teraplikasi dalam ahlaqul karimah…”

“Seorang gubernur bernama Abdur  Rahman Almahdi mengirim surat kepada Imam Syafi’i (150-204 H/54tahun), ”Ya syeikh, kenapa saya tidak mengerti untuk beragama Islam dg membaca Alquran dan hadist”. Maka Imam Syafi’i  membalas surat gubernur tersebut sebanyak 300 lembar surat, dan inilah yg menjadi cikal bakal ilmu usuludiin. Imam syafii kurang lebihnya mengatakan dalam suratnya bahwa dalam beragama HARUS menggunakan akal…”

Kang Said meneruskan dengan menambah penekanan dan intonasi…”saat akal dan akal para ulama’ bersama bermusyawarah maka lahirlah konensus atau ijma”. Sedangkan akal saat beranalogi sendirian maka lahirlah qiyas.  Lalu lahirlah ilmu fiqih…”solat dalam alqur’an tak ada ketentuan waktu dan jumlah rakaatnya. Di dalam hadis mulai diterangkan waktu-waktu sholat dan jumlah raka’atnya tapi di alqur’an dan hadist tak ada apa itu arkanus solat. Rukun solat ada 17, arkanus solat sab’ata asyaro mulai takbiratul ihram, rukuk sujud, tuma’ninah sampai salam adalah ijma’ ulama’. Dalam alqur’an dikatakan saat kita junub maka kita wajib mandi jinabat, tetapi tidak ada keterangan apa itu junub (mulai bertemunya alat kelamin, keluarnya mani, haid, nifas ini adalah ijma’/akal). Imam syafi’i melakukan riset/observasi dan turun kelapangan langsung untuk berijtihad masalah HAID. Sekali lagi ini adalah akal/ijma’. Maka Islam tak bisa dipahami tanpa lewat ulama’, dan golongan yang mengajak kepada kehancuran adalah golongan yg berkoar-koar agar kembali ke Alqur’an dan Sunnah tanpa lewat ijma’/akal dan qiyas/akal. Tidak ada dalam Alqur’an kalau mau benar maka harus jenggotan, pakai gamis, jubah, jidat hitam dll, tapi harus berilmu meskipun ia memakai batik” ….(malam itu Kang Said memakai batik pekalongan,red.)

“Alqur’an diturunkan disampaikan oleh Rosul dan dicatat oleh beberapa sahabat saja, denga form nasah kufi,  yaitu tulisan arab yg tanpa ada titik dan harokat. Jadi ba’ dan ta’ atau tsa’, jim, hak, kho’ dll tak bisa dibedakan. Lalu setelah zaman nabi para sahabat menggunakan ilmu seiring dengan kebutuhan umat dg menambahkan titik pada tulisan Alqur’an lalu berkembang lagi dan ditambahkan kharokat . Dan ini bukan ajaran nabi, ini semua tadi bid’ah dan Alhamdulillah saya adalah ahli jama’ah dan ahli bid’ah. Ilmu tajwid, ilmu hadis, ilmu nahwu, ilmu kalam semunya bid’ah. Sayidina Ali jika ditanya apa itu idghom binggunah, apa itu idhar beliau tidak mengerti karena pada waktu itu tak ada ilmu tajwid meski bacaanya benar…..”

“Islam menyebar mendunia/globalisasi dibarengi dengan penyebaran ahlaq, science dan iptek karena globalisasi jaman sekarang bisa membahayakan jika tidak dibarengi dengan ahlaqul karimah. Amerika memiliki 3300 roket nuklir yg jika satu saja dijatuhkan dipulau Jawa maka bukan hanya manusianya saja yg mati tapi kadal dan cicak seluruh Jawapun ikut mati. Sadam husein pernah mencoba senjata kimia tahun 73 dan satu kecamatan suku Kurdi mati semua. Inilah bahayanya globalisasi, bahayanya ilmu jika tidak dibarengi dengan iman dan ahlaqul kamimah ,justru dititik ini Ilmu mjd berbahaya….”

Sambil meredam sesaat dan menurunkan tensi, Kang Said menekankan aqidah dan keimanan dengan menyebutkan nasab Sayidina Muhammad hingga sampai kepada Nabi adam alaihi salam dengan mantap dan lancar meski memakan waktu beberapa menit, seolah-olah Kang Said sedang membaca text skenario di tayangan live ditelevisi, Hafal luar kepala dan khalayakpun kembali ramai nan takjub sembari ada yg bertepuk tangan, reflek berteriak sollu ala nabi, dan tasbihpun memenui tempat tersebut…Subhanallah, penulis sendiri masih susah percaya melihat situasi tersebut…

….Pada malam itu pak Said menyampaikan tausiah sekitar 1,5 jam tapi terasa banget cepat karena Kang Said menyampaikanya dengan ringan dan khalayak seakan diajak masuk disuatu dunia dan Kang Said mencoba memposisikan diri sebagai guidenya….Kang Said lalu meneruskan pembahasanya tentang kecintaanya kepada baginda nabi, mulai melayang tinggi dengan melantunkan bait-bait dari teks kitab maulid Diba’i seolah-olah Kang Said menceritakan tentangg sesuatu yang mulia dan indah dengan bahasa arab yangg sebagian dari pengunjung bisa mengikutinya..dan Kang Said terlihat faham dan mengerti betul kata perkata yang beliau kutib dari kitab ini dan beliau mencoba menularkanya kepada khalayak…sambil guyonan Kang Said bilang “wong NU kudu apal, kalau pengurus NU diundang barzanjinan kalau gak hapal gak usah dikasih amplop, kalau hapal dikasih amplop, kalau amplopnya tebal berarti sohih, kalau amplopnya tipis berarti dhoif, kalau amplopnya tipis tapi yang  ngasih cewek cantik maka sohih li ghoirih……” dan luapan tawa terdengar disemua penjuru arena Haul akbar ini.

…lalu Kang Said melanglang buana dengan bait arab yang panjang dan terus menerus beliau sampaikan hingga sekitar lima menit beliau asyik sendiri dengan bait tersebut,dan halayak mulai penasaran, termasuk penulis.

“Ada orang lumpuh namanya Muhammad bin Syarifudin dari Alexandria, suatu malam beliau bermimpi bersua dengan Rosulallah SAW. Abdurahman bin Syarifudin berkata kepada Rosul, “Hai rosul aku ingin membuat qosidah tentangmu hai rosulallah sebanyak 154 bait. Seminggu kemudian qasidah itu telah rampung dan malamnya bermimpi bertemu dengan baginda nabi, lalu Nabi membacanya, fatabassama Rosulullah SAW, nabipun tersenyum dan diusaplah Abdurahman bin Syarifudin lalu sembuhlah kelumpuhan yang dideritanya…” lalu Kang Said meneruskan qosidah yangg beliau baca dari awal tadi  “Muhammadun sayidul kaunaini wa tsaqolaini nil fariqoini min urbin wa min ajami…Nabiyunal amirum nahi fala akhadun, abarro fi qauli la minhu wala na’ami…” barulah para khalayak paham bahwa Kang Sid sedang isyk dengan solawat burdah…

“Nah…kalo ada golongan yang tidak percaya dengan syafaat nabi dan karomah para wali, maka jawaban saya Alhamdulillah, BIAR SAYA DAN ORANG NU SAJA YG PERCAYA KEPADA SYAFAAT NABI DAN KAROMAH AULIYA’”

Lalu perhatian masyarakat teralihkan pada rombongan arak arakan yang dikawal polisi ketat, pertanda hadlorotus syeikh Alhabib Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya dari Pekalongan yang paling dinanti oleh hadlirin telah rawu, maka Kang Said pun segera menutup tausiyahnya dengan kilat.

“Berhubung Habib Luthfi telah rawuh maka kesimpulanya, (1) orang jika mau tahu kebenaran harus berilmu, (2) berilmu juga harus diarahkan dengan beriman, (3) berilmu dan beriman saja juga belum cukup tanpa akhlaqul karimah. Sekian dari saya, wallahul muafiq ila aqwami thoriq…nah kalimat Wallahul muafiq ila aqwami thoriq ini asli made in NU pada tahun 1984 oleh kiai dari Kendal saat Gus Dur menjadi ketua tanfidz, jadi semua surat resmi dari NU harus pake wallahul muafiq ila aqwami thoriq, wassalamu alaikum warahmatullahi wa barokatuh”

Wa alaikum salam warohmatullahi wa barokatuh Kang Said. Penulis duduk disamping ustadz Khusnil mubarok beliau adalah guru penulis dibidang banyak hal, memulai takrib, manaqib jawahirul ma’ani, fathul izar, dan jawahirul arifin dan ustadz khusnil masih takjub seperti rata2 hadlirin umumnya. Penulis melihat bagaimana saat Kang Said memberikan tausiyahnya, para kiai-kiai di atas panggung dari pengasuh pondok pesantren pondok pesantren bgt serius dan semua mata tertuju pada hamba Allah,ketua PBNU 2010, KH.prof.DR.said agil siraj MA..

Tapi ada satu kalimat pak said yg masih ternianng niang dibennak penulis “kalau ada golongan yg tidak percaya pada syafaat nabi dan karomah auliya’, maka saya jawab Alhamdulillah, biarlah saya dan orang NU saja yg percaya”. Demikian uraian singkat Tausiah Kang Said Agil Siraj dalam rangka haul Raden Fatah yg ke 507, penulis berharap masih diberi kesempatan oleh Allah SWT. untuk berada di majlis yang “MANGTABZZZZ” ini.

Akhirul kalam,

wallahul muafiq ila aqwami thoriq,

Wassalamu alaikum warohmatullahi wa barokatuh

Artikel no 8 dikirim

oleh Ahmad Haydar

BAGIKAN
Artikulli paraprakMatan al-Syaibaniyyah
Artikulli tjetërNU dan Tongkat Musa

TINGGALKAN KOMENTAR