ISU SOAL WALISONGO

ISU SOAL WALISONGO

BAGIKAN

het boek

Islam Nusantara sebagai konsep metode dakwah, dirujukkan kepada Walisongo. Bagi mereka yang tidak suka dengan Islam Nusantara, maka untuk meruntuhkan konsep Islam Nusantara secara tuntas adalah melalui penyerangan terhadap Walisongo. Mulai dari meragukan keberadaannya, perannya, nasabnya dan sebagainya menjadi senjata yang dianggap ampuh untuk melakukan serangan bulldozer terhadap Islam Nusantara. Pernyataan bahwa Walisongo itu fiktif adalah salah satu contoh bentuk serangan tersebut. Harapannya, seandainya itu benar-benar adanya, maka konsep Islam Nusantara yang dirujukkan kepada walisongo, maka secara otomatis akan gugur.

Jika makam-makam tidak layak menjadi bukti Ilmiyah, maka tuntutan akan karya tulis dari Walisongo merupakan satu-satunya bukti yang dianggap sahih. Ketika Het Boek Van Bonang (The Book of  Bonang) yang disusun kembali oleh B.J.O Schrieke yang diterbitkan oleh Perpustakaan Universitas Chicago diajukan sebagai bukti, maka mereka mencari-cari celah lagi untuk melemahkan keberadaan Walisongo. Sebagian yang menyerang, kemudian mengakui keberadaan naskah kitab tersebut, namun berusaha membelokkan ke arah kepentingan mereka. Bahwa dalam naskah tersebut, justru Sunan Bonang mendukung gerakan untuk menghindari bid’ah, karena (semua) bid’ah itu adalah dlolalah (sesat). Berikut cuplikannya:

“e Mitraningsun ! Karana sira iki apapasihana sami saminira islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah”.(Bait akhir Pupuh IX).

“Hai saudaraku, karena kalian itu sama-sama muslim, maka berkasih sayanglah dengan sesama muslim, dan hindarilah dari dalalah dan bid’ah.

Kata-kata terakhir dalam bait itu dijadikan landasan bagi mereka untuk mengklaim bahwa Sunan Bonang itu anti bid’ah, seperti mereka yang berusaha memurnikan Islam dengan anti bid’ah, apapun bentuknya. Gampangnya Sunan Bonang ya seperti mereka. Inilah kerancuan mereka, sebelumnya menolak keberadaannya, kemudian diklaim sebagai bagian darinya.

Padahal, jika mau membaca keseluruhan naskah, atau paling tidak dalam beberapa pupuh atau satu pupuh itu saja (Pupuh IX), konteksnya akan terpahami. Bahwa yang dimaksud untuk menghindari dalalah dan bid’ah¸ adalah menjauhi pemikiran ketauhidan yang sesat dan bid’ah. Dalam pupuh itu (IX) dibahas mengenai lelaku manusia utama (lampahane menungso lewih). Manusia yang benar/utama itu jika segala perbuatannya, gerak batinnya adalah meyakini pada hakekatnya digerakkan oleh Allah SWT. Dengan kata lain, bahwa berpandangan manusia itu benar-benar mandiri (berbuat tanpa peran Tuhan) adalah sesat, karena sudah termasuk Muktazilah, dan itu disebut sebagai kufur dari empat madzhab.

Dalam The Book of Sunan Bonang, jelas membahas dialog ketauhidan dengan lakon Utama Imam Ghazali dan Syeh al Bari. Banyak pemikiran muktazilah yang dibantah dalam tulisan itu. Artinya kesesatan yang dimaksud adalah kesesatan dalam bertauhid yang jauh dari empat madzhab (Aswaja). Mereka kan bukan pengikut empat madzhab, mengapa kemudian mengklaim pendapat Sunan Bonang jadi bagian dari mereka? Lucu kan.

Tentu upaya-upaya melemahkan posisi walisongo terus dilakukan, misalnya dengan memberangus data-data tentang mereka, apakah santri-santrinya, keturunannnya dan sebagainya. Soal karya tulis, tentu kita lihat, apakah masa itu sudah terbiasa budaya literer atau tutur. Budaya tulis menulis tentu belum semasif era colonial. Maka sulit sekali melacak. Tetapi jika diajukan bahwa pesantren Sunan Drajat adalah warisan nyata dari Sunan Drajat, apa tidak membuktikan peran dan keberadaannya?

Mungkin isu paling seksi dimunculkan saat ini adalah, anggota walisongo itu ada yang syiah. Ini tentu memerlukan bahan-bahan yang rumit. Atau sekalian saja menyebut sebagian walisongo itu salafy (wahabi). Kan tambah mumet. Atau ada anggota walisongo itu liberal. Dahysat itu. Siap-siap saja. Wong isu kok, kan tergantung siapa yang menggorengnya, caranya dan alatnya. Toh kita juga tidak paham-paham amat soal sejarah walisongo. Dibilangin gini ya oke, gitu ya ho oh mawon.

 

Silakan download buku Buku Het Boek Van Bonan

1 KOMENTAR

  1. Itu orang yg bilang walisongo itu fiktif harus di bedah otak dan hatinya lalu dibersihkan dari berbagai penyakit hati.
    Ustad Badru salam info2nya di tolak waktu mau ngisi ceramah di kota cirebon jawa barat. Dua tempat yakni di masjid attaqwa cirebon dan masjid rumah sakit pertamina cirebon. Acaranya batal. Nah loooh….

TINGGALKAN KOMENTAR