Islam Nusantara dan Wacana

Islam Nusantara dan Wacana

BAGIKAN

islam nusantara

Berbagai makna diberikan oleh orang orang yang merasa berhak menjelaskan apa dan bagaimana Islam itu yang sesungguhnya.

Padahal Islam itu secara garis besar adalah sangat sederhana dan mudah dipaham, yaitu

ألإسلام هو إقرار باللسان وتصديق بالقلب بأن جميع ماجاء به نبينا محمد صلى الله عليه وسلم هو حق وصدق

“Islam adalah pernyataan dengan lisan dan membenarkan dengan hati bahwa semua yang dibawa oleh Nabi kita adalah nyata dan benar adanya”

Tetapi jangan lupa, ketika keberagamaan juga berada ditengah tengah siasat, kekuasaan, angkara murka, persaingan, makar, ambisi dan segala warna kepentingan pemeluknya, Agama dalam satu sisi menjadi kendali, namun agama dalam sisi yang lebih banyak justru dijadikan tunggangan kepentingan.

Dunia telah kehilangan kendali sejarahnya, sehingga agama yang bertugas mengatur kehidupan manusia sebagaimana awal mula hadirnya berubah dijadikan robot penghancur kekuasaan sekaligus benteng kokohnya.

Agama dan kekuasaan kini telah menjadi dua sisi mata uang yang memberikan nilai sama pada pemegangnya, betapa sejarah telah banyak berbicara tentang kepala yang terpenggal, tentang banjir darah yang melanda kaum beragama dengan kekuasaannya.

Bagi kaum yang menjunjung tinggi arti kesopanan, lembar lembar sejarah kelam itu tidak lagi boleh dibuka, sebab itu sama dengan mengundang caci maki kepada para pendahulu sendiri, bahwa orang orang kuno itu harus disucikan dari noda noda agamanya, bahwa pernah ada wihara yang ditimbun tanah dan di atasnya didirikan sebuah masjid, atau sebuah masjid yang berganti ornamen gambar gambat salib dan bunda Maria, atau sebuah Istana besar yang luluh lantak oleh gelombamg Iman tak menyisakan secuil batu batapun kepada generasi berikutnya.

Islam Nusantara atau perjalanan pemeluk Islam di Nusantara tidak lepas dari anyaman sejarahnya, mulai dari bagaimana ia datang, berkembang, menetapkan posisinya di antara kelok siasat lingkungannya hingga ia mengukuhkan dirinya sebagaimana bentuk dan pola yang sangat bisa dirasakan sekarang tanpa harus mendefinisikannya.

Puncak jelas sosok Islam Nusantara adalah ketika Mbah Hasyim (dengan mengesampingkan NUnya) sebagai Tokoh sentral Islam di Nusantara melalui Puteranya menerima Pancasila sebagai dasar negara Indonesia dan pengumuman resmi Jihad mengusir penjajah setelah tengat waktu yang tidak lama, pun setelah kemerdekaan Indonesia telah diraihnya, Islam dibuat sebagai Agama yang bisa duduk sama rendah berdiri sama tinggi dengan seluruh agama di Nusantara, dan semakin menjadi nyata bahwa Islam Nusantara ini mampu membangun peradabannya tanpa harus memenggal kepala pemeluk agama lain, walaupun identitas Islam itu diperjelas dengan partai partai Islam yang didukungnya.

Satu lagi yang menjadi ciri has Islam Nusantara adalah tegas dalam memutuskan identitasnya, dan dalam hal ini adalah NU dengan segala macam atribut dan amaliahnya, dan lunak kepada wacana apapun dari kelompok yang lain, atau bahkan didalam tubuh diri sendiri terdapat banyak perbedaan, terbukti dengan dilegalkannya empat Madzhab fiqih dan beberapa aliran Thoriqoh yang sampai puluhan banyaknya, Tanpa menyisakan kebencian, persaingan, makar dan serangan.

Tak ada jihad fisik untuk hal hal yang bersifat hilafiyyah, takkan pernah memaksa kepada hal hal yang bersifat doktrinal, itulah tabiat Islam Nusantara.

Islam Nusantara bisa bergaul dengan Arab, China dan barat selama itu didasarkan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, sekali kali berbahasa arab, sesekali juga mandarin dan inggris, tetapi tanpa harus melucuti kenusantaraannya.

لينفق ذو سعة من سعته

“Agar orang orang yang punya kesempatan mendermakan apa yang menjadi kesempatannya”

Salam Terkapar ToniBoster

TINGGALKAN KOMENTAR