Islam dan IPTEK

Islam dan IPTEK

BAGIKAN

gambar iptek islam

Wacana keislaman hingga sampai hari ini masih berkutat bagaimana agar kehadiran Islam itu menjadi diakui menjadi sebuah prestasi di tengah tengah modernitas Dunia.

Sebagai Komunitas, Islam berkeyakinan bahwa mereka adalah Ummat terbaik. Akan tetapi, pada saat yang sama mereka sedang dalam keadaan tidak berdaya menghadapi apa saja yang diluncurkan pihak lain yang sebagian besar mereka menganggapnya sebagai musuh, yan harus dibunuh dan diperangi.

Untuk menampilkan Islam yang sempurna dan komplit, disusunlah catatan catatan yang seolah olah Tokoh Muslim Profesional masa lalu dibidang IPTEK itu murni mengambil dari dua sumber utama Islam.

“TIDAK KAMI LUPAKAN SESUATUPUN” didalam Alquran, ia jadikan semacam klaim bahwa didalam Alquran memang telah tersedia berbagai macam ilmu, mulai matematika, fisika, kimia, astronomi, geologi, ekonomi, politik, pertanian, kelautan dan lain sebagainya.

Sebenarnya tak ada larangan untuk itu, tapi lucunya tak ada satupun yang dapat membuktikan bahwa didalam alquran memang ada rumus matematika, fisika dan semacamnya, kecuali penemuan penemuan mutakhir yang dicoba untuk disesuaikan.

Kita juga terpaksa mengakui bahwa Nabi Muhammad tidak pernah melahirkan Sahabat yang ahli IPA, MATEMATIKA, FISIKA, KIMIA dan semacamnya. Demikian juga Para Sahabat juga tidak melahirkan Tabi’in seorang Pakar IPTEK satupun.

Ini menjadi bukti bahwa Diutusnya Nabi Muhammad memang bukan dan bertujuan untuk itu.

“Antum a’lamu biumuri dunyakum” (kalian lebih mengetahui urusan duniamu), seakan menjadi isyarat bahwa pengetahuan yang telah ada, jika belum merasa cukup, boleh dikembangkan dengan siapa saja, dari mana saja, sebab aku bukan ahli semua itu, aku hanya diutus untuk menyempurnakan peradaban, agar peradaban itu tidak menjadi azab, agar peradaban itu tidak berpihak hanya kepada orang orang tertentu, aku memang diutus kepada seluruh alam…

Dan fakta, para profesional Islam itu baru lahir setelah Islam itu sendiri berbaur dan menyerap ilmu dan peradaban dari luar Makkah dan Madinah.

Semisal dalam hal ilmu kedokteran, kimia dan astrologi berawal dari penerjemahan bahasa koptik dan yunani kedalam bahasa arab oleh hakim Kholid keluarga Marwan pada era dinasti Umayyah. Ini membuktikan bahwa Moslem menggali tradisi ilmiah mereka dari sumber sumber Yunani.

Demikian juga dalam dunia arsitektur, Makkah dan Madinah tidak meninggalkan sedikitpun bukti para Muslimin memainkan peran pentingnya. Masjid pertama yang dibangun oleh generasi pertama sangatlah sederhana, batu bata yang dijemur, dinding batang kurma, atap daun kurma, tanpa hiasan, tanpa ornamen. Sekali lagi Islam hadir bukan untuk kemewahan, kemewahan hanya bisa dimunculkan oleh peradaban diluar agama. Selama Agama masih menjadi kontrol peradaban, selama itu pula kesederhanaan akan tetap terpelihara.

Ilmu pengetahuan non agama itu ada berkat kerja sama, dan akan tetap terpelihara dengan restu agama, dan juga akan menjadi senjata akibat kebiri agama.

BAGIKAN
Artikulli paraprakBibir Sumbing
Artikulli tjetërDo’a Makan dan Krisis Pangan

TINGGALKAN KOMENTAR