ISIS Menggunakan Perkataan Ulama Wahhabi Sendiri Untuk Menghancurkan Makam

ISIS Menggunakan Perkataan Ulama Wahhabi Sendiri Untuk Menghancurkan Makam

BAGIKAN

warkopmbahlalar.com – Seperti yang sudah sangat maklum bahwa mereka mendasarkan apa yang diperbuat dengan alasan memurnikan Tauhid kepada pemikiran Imam Ibnu Taymiyyah yang merinci Tauhid menjadi 3 bagian, yaitu Uluhiyah, Rububiyah, Asma wa Shifat, dimana pemikiran beliau ini selama beratus tahun tidak laku, hingga sampai pada zaman Muhammad bin Abdul Wahhab yang memanfaatkannya untuk pergerakan politiknya bekerja sama dengan Muhammad bin Saud.

Iya, memang para ulama sebelumnya telah membahas tentang Uluhiyh dan Rububiyah, namun mereka tidak menjadikan pembahasan itu menjadi satu kesatuan konsep ketauhidan, seperti para ulama yang membicarakan ihlas dalam satu kitab dan tidak dijadikan satu mata pelajaran fiqih, maka tidak satupun kitab fiqih yang memasukkan ihlas menjadi syarat rukun sholat misalnya, walaupun ihlas adalah bagian daripada setiap ibadah yang dilakukan, karena ihlas, khusyu, ridlo bukan menjadi wilayah fiqih yang wilyahnya hanya konsentrasi pada amalan lahiriyah saja.

Berawal dari konsep Aqidah kesatuan Tauhid Uluhiyah, Rububiyah, asma wa shifat tadilah, mereka akan mudah menjebakkita dengan tuduhan syirik, atau bahkan tidak bertuhan. ISIS adalah penjelmaan dari gerakan Muhammad bin Abdul Wahhab yang memanfaatkan konsep Tri Tauhidnya Imam Ibnu Taymiyah, dimana dengan konsep Tauhid ini, ia sangat kuat mempunyai alas an untuk membunuh siapapun berdasarkan tuduhan syirik karena dianggap melanggar konsep Uluhiyah dan Rububiyah yang terpisah. Bias saja orang yang meminum air zam zam dengan tujuan mengharapkan kesembuhan misalnya dituduh sebagai orang yang merububiyahkan air zam zam.

ISIS Menggunakan Perkataan Ulama Wahhabi Sendiri Untuk Menghancurkan Makam

ISIS menggunakan satu satunya fatwa Ulama yang menjadi muridnya Imam Ibnu Taymiyyah untuk melegalkan penghancuran makam makam atau tempat tempat yang dianggap sebagai tempat musyrik, tak ada satupun Ulama Salaf yang mennyatakan bahwa tempat tempat dimana Kuburan seorang Shalih harus dihancurkan, tidak Imam Syafi,I, tidak Imam Malik dan pengikutnya, tidak juga Imam Abu Hanifah dan pengikutnya.

Fatwa penghancuran tempat syirik itu ada di kitab زاد المعاد في هدي خير العباد juz 3 hal 443 sebagai berikut:

أنه لا يجوز إبقاء مواضع الشرك والطواغيت بعد القدرة على هدمها وإبطالها يوماً واحداً، فإنها شعائر الكفر والشرك، وهي أعظم المنكرات، فلا يجوز الإقرار عليها مع القدرة البتة

“Sesungguhnya tidak boleh tetap membiarkan ada tempat tempat syirik dan thoghut setelah mempunyai kemampuan/kekuasaan menghancurkannya barang sehari saja,maka sesungguhnya ialah syiarnya kekufuran dan syirik, dan ialah sebesar besarnya kemunkaran, maka tidak bolehmenetapkan atasnya serta mempunyai kemampuan melaksanakannya”

Fatwa inilah yang kemudian dinuqil oleh beberapa kitab karya ulama Wahhabi antara lain:

Al Tauhid wa Bayani al Aqidah al Salafiyah al Naqiyyah (التوحيد وبيان العقيدة السلفية النقية ) karya Abdullah bin Muhammad bin Abdul Aziz bin Abdur Rohman bin Husain bin Humaid hal 36 dalam Fashal Tauhid Uluhiyyah.

Fathul Majid Syarah Kitab al Tauhid (Oleh Muhammad bin Abdil Wahhab) karya Abdur Rahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdil Wahhab pada halaman 274 bab ما جاء أن بعض هذه الأمة يعبد الأوثان (Apa yang datang bahwa sesungguhnya sebagian Ummat ini menyembah berhala).

Al Kalimatu al Nafi’ah fi al Mukaffiroti al waqi’ah karya Abu Sualaiman bin Abdulloh bin Muhammad bin Abdil Wahhab pada hal 342.

Al Intishor lihizbillahi al Muwahhidin wa al Roddi ala almajadili ‘ani al Musyrikin (الانتصار لحزب الله الموحدين والرد على المجادل عن المشركين) karya Abdulloh bin Abdur Rahman bin Abdul Aziz bin Abdur Rohman bin Abdulloh bin Sulthon bin Khumais pada hal 68 dalam fashal Al Farqu bayna al Syirki al Akbar wa al Buda’.

Dll.

Selain dari yang telah kami jelaskan diatas, jika apa yang disangka mereka sebagai tempat syirik dan harus dihancurkan hanyalah merupakan bagian dari REFLEKSI KEBODOHAN DALAM MEMAHAMI IMAN

TINGGALKAN KOMENTAR