Instrumen Riset (2) : Iklim Organisasi Pendidikan

Instrumen Riset (2) : Iklim Organisasi Pendidikan

BAGIKAN

Berbagai peneliti dan reformis pendidikan telah menetapkan organisasi iklim dengan cara yang berbeda, tetapi tampaknya ada konsensus tentang apa yang merupakan iklim organisasi. Freiberg dan Stein (1999) menyatakan bahwa “iklim perguruan tinggi adalah ‘hati dan jiwa’ dari sebuah perguruan tinggi, gamabran sebuah perguruan tinggi yang memotivasi mahasiswa, guru dan kepala sekolah untuk mencintai perguruan tinggi dan keinginan untuk berada di sana setiap perguruan tinggi hari. Hati dan jiwa digunakan secara metaforis untuk menggarisbawahi pentingnya iklim perguruan tinggi, hal itu memotivasi anggota perguruan tinggi yang mereka rasakan nyaman di perguruan tinggi yang membuat mereka tertarik ke perguruan tinggi.  Dalam pandangan ini, iklim merupakan aspek dari perguruan tinggi yang memberikan kehidupan dan mengungkapkan nilai-nilai yang menghargai di perguruan tinggi.

Iklim organisasi adalah sebuah konsep yang berhubungan dengan persepsi anggota staf dari lingkungan kerja. Iklim ini secara langsung dipengaruhi oleh administrator yang pada gilirannya mempengaruhi motivasi dan perilaku dari seluruh staf. Lebih khusus lagi, iklim merupakan kualitas yang relatif abadi yang dialami oleh guru/dosen, mempengaruhi perilaku mereka, dan didasarkan pada persepsi kolektif mereka (Hoy dan Forsyth, 1986).

“Iklim organisasi adalah studi tentang persepsi bahwa individu memiliki berbagai aspek lingkungan dalam organisasi” (Owens, 1987). Iklim sekolah memiliki implikasi yang jelas untuk meningkatkan kualitas kehidupan kerja. Sekolah yang ditandai dengan banyak kebersamaan, keakraban, dan kepercayaan diantara para guru akan lebih efektif. Dalam pengertian ini, iklim merupakan bentuk energi organisasi yang efeknya pada sekolah telling tergantung pada bagaimana energi ini disalurkan dan diarahkan. Beberapa kelompok ini menggunakan energi iklim mereka untuk membantu membuat sekolah bekerja lebih baik, tetapi kelompok-kelompok lain dapat menggunakan energi yang sama untuk mempromosikan dan menyebabkan masalah sekolah dan kesulitan.

Halpin dan Croft (1963) yang disebut sebagai iklim sosial sekolah sebagai perpaduan dari dua dimensi seperti: kepemimpinan kepala sekolah dan interaksi guru. Kelompok interaksi guru-guru di sekolah dapat dianggap analog sebagai kontur geografis wilayah, dan gaya kepemimpinan kepala sekolah bisa disamakan dengan kondisi atmosfer, dalam kombinasi, dua hasil dalam tekstur sosial yang unik dalam setiap organisasi, itulah yang disebut iklim.

Dari sudut pandang pendidikan, iklim organisasi perguruan tinggi/sekolah adalah hasil dari perpaduan interaksi interpersonal. Beberapa ahli manajemen pendidikan, misalnya, Halpin dan Croft (1963), Hoy, Tarter dan Kottkamp (1991) menyarankan dua dimensi interaksi antarpribadi yaitu perilaku kepala sekolah (dekan, rektor atau lainnya) dan perilaku guru/dosen. Empat aspek perilaku kepemimpinan kepala sekolah, yaitu sikap acuh tak acuh, penekanan produksi, dorongan dan pertimbangan dan empat aspek interaksi guru, yaitu, pemisahan diri, halangan, jiwa/semangat dan keintiman yang dipilih sebagai dasar konseptual untuk analisis iklim organisasi.

Selanjutnya untuk rincian instrumen penelitian mengenai iklim sekolah/organisasi pendidikan dapat didonwload pada halaman di bawah ini.

Instrumen Penelitian Iklim Organisasi atau Sekolah

Referensi :

1)    Freiberg, H. J. and Stein, T. A. 1999. Measuring, Improving and Sustaining  Healthy Learning Environments, in School Climate:  Measuring,  Improving and Sustaining Healthy Learning Environments. Palmer Press,  London. P. 3-4, 11- 29

2)    Hoy, K. H. and P. B. Forsyth. 1986. Organizational Climate: Effective  Supervision. Random House, New York. P. 147-149.

3)    Owens, R. G. 1987. Organizational Behavior in Education. Allyn and Bacon,  London. 2 pp.

4)    Halpin, A. W. and D. B. Croft. 1963. The Organizational Climate of Schools:

5)     Midwest Administration Center. University of Chicago, Chicago, USA.  p. 89-110.

6)    Hoy, W. K., Tarter, C. J. and Kottkamp, R. B. 1991. Open Schools/Healthy

7)     Schools: Measuring Organizational Climate. Sage Publication, London.   PP. 12-16, 123

 

 

BAGIKAN
Artikulli paraprakAKULAH WAHHABI
Artikulli tjetërNasab Gus Dur

TINGGALKAN KOMENTAR