Iman dan Syukur: Buktikanlah!

Iman dan Syukur: Buktikanlah!

BAGIKAN

 

Bisakah dipercaya, orang yang mengatakan bahwa ia meyakini kebenaran dan keunggulan sesuatu, namun pada saat yang sama ia mengabaikan dan meninggalkannya sama sekali padahal ia dapat melakukannya? Tidak. Dia sama sekali tidak membuktikan keyakinannya.

 

Demikianlah,

 

Seseorang akan memercayai bahwa ia betul-betul dicintai jika dirinya mendapat perhatian dari orang yang mengaku kekasihnya itu. Jika tidak, kepercayaannya akan sirna sama sekali. Harapan terbesar pencinta hanyalah mendapatkan balasan cintanya, dan ketakutan terbesar pencinta adalah ditolaknya cinta dari Sang Kekasih, bukan?

 

Sementara itu…….

 

Allah selalu mendahului “selangkah” di depan hamba-Nya. Allah bergegas datang, dengan gembira menyambut hamba yang menemui-Nya, bahkan, lebih segera dari pada hamba-Nya.

 

“Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku satu jengkal maka Aku akan mendekat kepadanya satu hasta. Jika dia mendekat kepada-Ku satu hasta, aku akan mendekat kepadanya satu depa. Dan jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.” (HR Muslim).

 

Karena, “Sudah menjadi kewajiban-Ku untuk mencintai hamba-Ku,” firman-Nya.

 

Allah me-“wajib”-kan diri-Nya!!!

 

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku.”

 

Karunia sebesar itu, bagaimana mungkin hamba membalas-Nya?

 

“Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS Al-Baqarah:186)

 

——–o0o——

 

Bagaimana mungkin seorang hamba yang beriman bersikap tidak peduli terhadap segala “harapan”-Nya padahal mengetahui Dia sangat dekat. Tidak jugakah ia ingin mendekati-Nya? Tak inginkah ia selalu mendapat “perhatian”-Nya?

 

Seseorang yang beriman kepada Allah dan mencintai-Nya dengan sepenuh hati tentunya tak akan menyia-siakan segala kasih sayang Allah yang sudah dicurahkan kepadanya sepanjang hidupnya. Dia akan membuktikan cinta dan keyakinannya dengan berusaha sungguh-sungguh memenuhi harapan Kekasihnya. Bukti percaya bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan yang patut disembah dan dicintai dengan sepenuh hati adalah dengan kesediaan melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan-Nya. Itulah cara membuktikan keimanannya dan membalas “cinta”-Nya. Jika tidak, ia belumlah dikatakan beriman dengan sebenarnya.

 

Lagi pula, atas semua rahmat dan karunia nikmat melimpah yang telah diberikan, tidakkah kita ingin menjadi hamba yang tahu berterimakasih?

 

“Aku hadapkan wajahku kepada (Allah) yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik.”

(QS Al-An’am:79)

 

“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam; tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim).”

(QS Al-An’am:162-163)

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR