Imam Ja’far Shadiq Imam Sunni dan Syi’ah

Imam Ja’far Shadiq Imam Sunni dan Syi’ah

BAGIKAN

Peralihan Kekhalifahan sesudah Khulafaurrasyidin dari satu Dinasti ke Dinasti yang lain bahkan dari Khalifah ke Khalifah yang lain, selalu mengguratkan diskriminasi, penumpahan darah, fatwa, dan kesewenang wenangan, kecuali pada era Khalifah Umar bin Abdul Aziz bin Abdul Malik bin Marwan.

Imam Ja'far

Perebutan kekuasaan antar keluarga, etnis, klan, madzhab melahirkan banyak kekacauan, disamping juga kemajuan dibeberapa bidang. Agaknya propaganda bahwa yang paling berhak mewarisi tahta kekhalifahan adalah Ahlul Bayt dan keturunannya, atau akibat jiwa juang para Dzurriyyah Rasul untuk menegakkan kebenaran dan memberantas kemewahan dan kesewenang wenangan, membuat para penguasa ketakutan jika menjalar kesegala lapisan masyarakat, kemudian berubah menjadi BOM revolusi kekuasaannya. Tak ada cara lain untuk meminimalir itu kecuali pemusnahan massal, atau pembuangan, atau sogokan.

Dengan memanfaatkan kekecewaan public dan menampilkan diri sebagai pembela Agama sejati, para keturunan ‘Abbas bin ‘Abdul Muttholib segera menjadi pemimpin gerakan anti Umayyah. Sebagai pusat dan markas propaganda, mereka memilih desa kecil sebelah selatan laut mati, Al Mumaymah. ( Ya’qubi jilid II hal 356-357, Atthobari jilid III hal 34).

Perpecahan antar keluarga kerajaan Bani Umayyah dan prinsip senioritas kesukuan Arab klasik dalam persoalan kepemimpinan menjadi ganjalan terbesar yang menghalangi para penguasa untuk mendaulatkan keturunannya menjadi penerusnya. Dan kelompok Syiah yang tidak pernah menyetujui pemerintahan Dinasti Umayyah menjadi kekuatan tersendiri semakin besarnya kelompok bani Abbasyiyah, tentu saja kelompok syiah ini hanya dijadikan sebagai batu loncatan politik mereka saja.

Dalam situasi peralihan Kekhalifahan Dinasti Umayyah menuju Dinasti Abbasyiyyah, Lahirlah seorang Dzurriyyah Rasul Sayyidina Ja’far Asshadiq Rodliyallahu ‘anhu.

Situasi yang cenderung kondusif ini menciptakan ruang keilmuwan Beliau berkembang tumbuh sangat mengagumkan, dan dari Beliau pula ini muncul para Murid Ilmuwan Islam disegala bidang, antara lain:

1. Imam Malik dalam bidang Hadits dan fiqih

2. Imam Abu Khanifah dalam bidang Fiqih

3. Sufyan atssauri pakar Tasawuf dan fiqih

4. Jabir bin Hayyan Kimiawan

6. Muhammad Bin Muslim.

7. dll

Namun ketika pada zaman al makmun, kembali para Dzurriyyah Rasul mendapat tekanan, sehingga lahirlah doktrin “TAQIYYAH” hingga kini.

Sepanjang sejarahnya para pendukung Ahlul bayt telah mendapat perlakuan tidak adil, dan inilah yang memicu kaum Syi’ah semakin membenci Sunni.

Andai ada satu Ulama sunni saja, yang berani jujur meminta maaf atas kekejaman sejarah, dan tidak dalam rangka menyetujui semua ajarannya, maka kaum wahhabi akan semakin ngamuk.

Kadang kita juga bingung dengan sejarah, terkadang terlalu subjektif, tergantung pewartanya.

Konon Imam Ahmad muhajir pindah ke hadramaut karen fitnah penguasa Abbasiyah terhadap ahlul bait. Namun sejarah mengatakan, saudara Beliau yg bernama Muhammad bin Isa adalah salah seorang gubernur dan panglima perang abbasiyah.

Apa lagi Imam Ahmad adalah konglomerat bashrah. Rasanya jauh dari mungkin kalau dimusuhi penguasa. Pasti ada alasan yang lbh pasti, yakni karena fitnah syiah yang membuat beliau tadak nyaman karena kebiasaan catut mencatut ahli bayt oleh syiah. Dan demi menyelamatkan anak cucu dari aqidah syiah dan khawarij. Terbukti, kini bashrah jadi basis syiah dan tetangganya nejd jadi markasnya wahabi. Demikian salah satu komentator diskusi dalam grup.

Pada mulanya Dinasti Abbasyiah memang bekerja sama dg syiah untuk menggulingkan Dinasti Umayyah. Namun seperti watak para politikus, kalau udah merasa aman, musuh yang dulu menjadi ancaman dan setelah melakukan koalisi, toh akhirnya dibuang lagi.

Karena ada banyak sekali warna tinta, ada banyak sekali jenis bolpent dan pena, maka pendapat mengenai warna mana yang paling “benar” untuk suatu kondisi sejarah menjadi sangat relatif. Dan itu bukan hanya tergantung pada siapa yg melukis seperti yg diisyaratkan oleh sebagian komentator sejarah, tapi juga kepada siapa yang melihat, membaca, menelaah, dan lantas MEREFLEKSIKANNYA KEMBALI dimasa kini (sekali lagi : dimasa Kini) dengan mengemukakan bukti bukti historis dan pemakaian metodologi yg lebih valid.

Kutipan berwarna merah diatas hanya sekedar isyarat bahwa mungkin sudah tiba waktunya bagi kita untuk merangkai kembali mozaik yang lebih “SOLID WARNANYA” guna memperbaiki cerita perselisihan keagamaan kita kedepan. Yaitu dengan menggabungkan warna MERAH dan KUNING jika PIHAK LAIN merasa dirinya yang paling HIJAU di alam semesta. Semoga lukisan yang dihasilkan dari penggabungan warna ini bisa mengobati citra kita yang penuh luka dihadapan masyarakat dunia. Minimal Kita sepakat bahwa Imam Ja’far Asshadiq adalah Imam kita, imam Sunni dan Syi,i.

1 KOMENTAR

  1. Nah gitu baru akur, kita tak mesti setuju pada semua ajarannya, tapi ketidak setujuan itu bukan berarti kita mesti harus bermusuhan dgn mengkafirkan orang lain segala. Ingat aslinya Syiah zaman salaf adalah berasal dari keimanan seprti yg di contohkan Amar bin Yasir, Hujr bin Adi, Uwais al-Qarny radliyallahu anhum, sementara kenashibian asalnya dari kemunafikan. Syiah (dlm pengertian yg benar menurut syara’) = sunny (dalam pengertian yg benar menurut syara’). Jadi apa lagi yg harus diributkan. Imam yg diklaim Syiah jg Imam yg diklaim sunny. Jadi apa lagi masalahnya. Adapun perbedaan dlm tataran furu’ baru didiskusikan untuk menjalin saling pengertian dan mengikis budaya hujat dan saling curiga serta sikap berlebih2an. Dialog ….dialog yg sejuk dan tidak saling menyalahkan.

TINGGALKAN KOMENTAR