Hilangnya Identitas Jawa

Hilangnya Identitas Jawa

BAGIKAN

SOAL HILANGNYA IDENTITAS LOKAL (JAWA)

Adat jawa Yang HilangJika saat ini sudah banyak orang Islam Jawa yang lupa akan kejawaannya, itu biasa. Tidak mengerti tentang kawruh Jawanya, itu wajar. Kecenderungan untuk meniru-niru bangsa lain adalah hal lumrah belaka.

Jauh sebelum berdirinya Demak, sebelum Islam berkembang pesat di Jawa (nusantara) kondisi itu sudah diprediksikan oleh Sabdopalon. Ketika orang Jawa sudah mayoritas memeluk Islam sebagai pengganti agam lama (Budha/Budhi), maka saat itu keislaman mereka demikian kuat ditopang dengan kawruh jawa yang luhur. Namun kondisi itu tidak lama, perlahan dan pasti kawruh jawa tersebut akan hilang tergantikan oleh kawruh bangsa-bangsa lain.

“….Paduka yêktos, manawi sampun santun agami Islam, nilar agami Buddha, turun paduka tamtu apês, Jawi kantun jawan, Jawinipun ical, rêmên nunut bangsa sanes. Benjing tamtu dipunprentah dening tiyang Jawi ingkang mangrêti.”

”….. Paduka perlu faham, jika sudah berganti agama Islam, meninggalkan agama Budha, keturunan Paduka akan celaka, Jawi (orang Jawa yang memahami kawruh Jawa) tinggal Jawan (kehilangan jati diri jawa-nya), Jawinya hilang, suka ikut-ikutan bangsa lain. Suatu saat tentu akan dipimpin oleh orang Jawa (Jawi) yang mengerti.”

Begitulah pernyataan Sabdopalon di saat akan berpisah, disaat menarik garis pemisah antara dirinya dengan Prabu Brawijaya V. Di sebuah tempat, yakni Blambangan, kemudian atas saran Sunan Kalijaga disarankan diganti dengan Banyuwangi, sebagai penanda, tanda harum wewangian yang menjadi pemisah antara sang Prabu dan Pamomongnya tersebut. Dan kelak, wewangian pula yang sebagai penanda hadirnya Sang Pamomong Raja-Raja Jawa.

Sumber : Serat Darmogandhul

TINGGALKAN KOMENTAR