HIKMAH SYARAT DAKWAH YANG DITINGGALKAN

HIKMAH SYARAT DAKWAH YANG DITINGGALKAN

BAGIKAN
Jika da’wah (dakwah) atau menasehati masyarakat, orang orang kuno berebut untuk tidak mau, mereka lebih suka menerima nasehat daripada menasehati, dulu saya mengira jika sikap itu sebagai bentuk ketawadlu’an mereka saja, dumadakan ada motif lain yang lebih prinsipil dari ketawadlu’an itu sendiri, saya tak perlu menceritakan proses dari hasil kesimpulan saya, sebab akan bisa terlalu panjang jika saya ceritakan.

Syarat seorang pendakwah adalah memiliki hikmah
Syarat seorang pendakwah adalah memiliki hikmah
Singkat cerita, sedangkal pengetahuan saya, tak ada sebuah kalimat di dalam Al Quran yang makna dan tafsirannya bermacam macam dan begitu luas melebihi kalimat “Al Hikmah” antara lain:
Dalam Lisanul Arob alhikmah diartikan sebagai Filsafat. Dan filsafat adalah sebuah ilmu husus yang memperhatikan dan mengamati fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis melalui proses dialektika berdasarkan logika berpikir dan berbahasa, dalam pengecualinnya juga memasukkan unsur logika isyarat. Dari pengertian seperti ini, Hikmah secara ringkas dan umum diartikan dengan “Bijaksana”
Tentu saja “Bijaksana” dalam arti lain adalah sikap yang tepat, maka  dibutuhkan pengalaman, penyelidikan, pertimbangan dan ukuran yang ditunjang dengan Ilmu pengetahuan, dan tidak mungkin seseorang itu bisa bersikap bijaksana dengan ilmu dan pengalaman yang minim. Semakin luas ilmu dan pengalaman seseorang, maka semakin bijaksana sikap, ucap, perbuatan dan keputusannya, ini jika tidak ada unsur lain yang mempengaruhinya, misalnya cinta atau dendam.
Alhikmah dari segi bahasanya juga  dapat diartikan sebagai “Ilmu dan Amal” dari sebab itu tidak selamanya orang berilmu itu berhikmah pula, tetapi jika berhikmah dapat dipastikan berilmu, maka boleh dikata orang berhikmah itu adalah orang yang konsisten, yakni orang yang telah membuktikan kepintarannya melalui perkataannya dengan perbuatan yang nyata. Dari sebab inilah para Ahli Tashowwuf mengatakan, hikmah adalah:
 نور قلبي من الله تعالى، يأتي بعد تزكية النفس وتطهيرها باجتناب المعاصي والشهوات
“Cahaya hati dari Alloh yang diberikan setelah membersihkan jiwa dan mensucikannya dengan menjauhi maksiyat dan kesenangan dunia”
Para Mufassir kebanyakan menafsirkan AL Hikmah dalam satu ayat yang dimaksud adalah Al Quran itu sendiri, walaupun penafsiran tersebut boleh boleh saja kritik karena beberapa sebab, namun penafsiran tersebut juga tidak serta merta dikatakan sebagai tafsiran yang melenceng dari konteks Ayatnya jika dikaitkan dengan kalimat kalimat sebelum dan sesudahnya, kita ketahui Al Quran ada 30 juz dengan ribuan ayat di dalamnya beserta segala macam disiplin keilmuannya, maka dari itu, jika kita mengacu Al Hikmah adalah Al Quran itu sendiri, mempermudah berstatmen dengan Ayat Al Quran sungguh sangat menghawatirkan tidak selaras dengan konteks yang sedang dibicarakan jika diukur dengan pemahaman ayat ayat yang lain yang jumlahnya ribuan itu. Sebab mengacu pada tafsiran Al Hikmah dari Tafsir Atthobari adalah:
المعرفة بالقرآن ناسخه ومنسوخه، ومحكمه ومتشابهه، ومقدمه ومؤخره، وحلاله وحرامه، وأمثاله
“Mengetahui Al Quran nasih mansuhnya, muhkam mutasyabihatnya, muqoddam dan muakkhornya, halal dan haramnya, dan perumpamaan perumpamaannya”
Dalam Al Maqshodul Asna hal 120 Imam Ghozali ketika menjelaskan Arti Asmaul Husna Al Hakim adalah sebagai berikut:
والحكمة عبارة عن معرفة أفضل الأشياء بأفضل العلوم وأجل الأشياء
“Hikmah adalah sebuah ungkapan dari mengetahui keutamaan sesuatu dengan keutamaan ilmu dan lebih pentingnya sesuatu”
وأما الحكمة فتطلق على معنيين: أحدهما الاحاطة المجردة بنظم الأمور ومعانيها الدقيقة والجليلة والحكم عليها بأنها كيف ينبغي أن تكون حتى تتم منها الغاية المطلوبة بها، والثاني أن تنضاف إليه القدرة على إيجاد الترتيب والنظام واتقانه وإحكامه
(الاقتصاد في الاعتقاد 19)
“Adapun Hikmah itu ditetapkan atas dua arti: pertama adalah ketercakupan yang abstrak dengan keteraturan perkara dan maknanya yang detail dan jelas dan hukum atasnya, bagaimana seharusnya perkara tersebut sehingga tercapai batas maksimal tujuannya, kedua; agar (Hakim) dapat menggabungkannya untuk bisa mewujudkan kategori, susunan, keyakinannya dan hukum hukumnya (Perkara tersebut)”
Secara ringkas dan sederhana Imam Ghozali dalam Al Maqshodul Asna menggambarkan Al Hikmah sebagai berikut:
ترتيب الأسباب وتوجيهها إلى المسببات
” Mengatur sebab sebab dan mengarahkannya kepada yang menyebabkan”

Para Ulama mensyaratkan bagi juru dakwah untuk memenuhi 3 hal, adalah:

1. Al Hikmah

2. La Mau,idloh Hasanah

3. Ahsanul Mujadalah

Hal ini berdasarkan Ayat 125 ٍsurah Al Nahl:
“ادع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي احسن”
“Ajaklah/Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan Hikmah, Mauidloh yang baik dan debatlah dengan debat yang terbaik”
Setelah kita tahu penjelasan arti dan maksud Al Hikmah dari mulai awal penjelasannya, dimana al hikmah ini menempati rangking pertama dalam urutan penyusunan kalimatnya yang menjadi dasar berdakwah, kita ahirnya bisa menyimpulkan beberapa poin penting sebagai berikut:
1. Bahwa dalam berdakwah harus siap memberikan contoh, bahkan beramal melebihi yang dakwahi.
2. Berdakwah tidak cukup dengan Ilmu, apalagi dengan Ilmu yang pas pasan,  tetapi membutuhkan alhikmah yang hanya bisa diperoleh melalui Taqorrub kepada Alloh.
Jika seorang pendakwah meninggalkan satu saja dari sekian tiga syarat yang mana dalam hal ini adalah yang paling penting, yaitu Al Hikmah, maka sungguh kasihan mereka yang haus akan pencerahan, namun mereka mendapatkan juru dakwah yang tidak mampu membimbing bathiniyah mereka ke arah Jalan Tuhan, wal hasil berhasil dan tidaknya pendakwah tergantung apakah ia berhikmah atau sekedar eksen dengan memperagakan lancarnya berbicara, sorban yang panjang, jubah yang menjuntai melambai lambai, udeng udeng sebesar ban truk yang seragam dengan jubah modisnya.
Tidak mungkin hati yang kosong dari spiritual, ucap dan tindakannya akan mampu menembus dinding kalbu pendengarnya kecuali apa yang dibicarakan hanya akan menambah nambah tumpukan sampah basi dalam otak pemirsanya.
كل ماصدر من القلب صدف القلب
“Setiap yang berasal dari hati akan menembus hati”
Maka dari itu, mari kita tahu diri, buang jauh jauh keinginan yang bersifat materi, ummat semakin haus akan masyrob ilahiyyah, jika kita yang tidak berhikmah memaksakan diri berdakwah, kasihan ummat yang setiap kali kita habis berceramah justru malah menimbun kekosongan spirit beragama, keraguan, kemalasan, kebencian dan permusuhan.
Serahkan dengan jujur urusan dakwah ini kepada yang lebih berhak dan berkompeten, karena hal itu akan dapat lebih efektif untuk menata ummat, jangan recoki para Kyai itu dengan jehadiran kita yang memandang dunia dengan pandangan Syahwat. Hanya orang orang yang memiliki Hikmah saja yang dapat membuat Ummat ini semakin baik, sebagaimana yang terurai dalam Tafsir Thobari ketika menafsirkan Al Hikmah dalam  ayat 269 dari Al Baqoroh:
قال أبو جعفر: يعني بذلك جل ثناؤه: يؤتي الله الإصابة في القول والفعل من يشاء من عباده، ومن يؤت الإصابة في ذلك منهم، فقد أوتي خيرا كثيرا.
“Alloh memberikan ketepatan dalam ucap dan tidak kepada yang diKehendaki dari pada HambaNya, dan siapa yang telah diberi ketepatan sasaran dalam ucap dan tindak, maka ia telah diberi kebaikan yang banyak”

TINGGALKAN KOMENTAR