Hajar Aswad Batu Meteor?

Hajar Aswad Batu Meteor?

BAGIKAN

Ketika kita menyambut kedatangan para jamaah haji yang baru pulang dari Ibadah haji di Makkah. Tentusaja ada cerita tentang Air Zam-zam juga ada cerita Hajar Aswad yang berupa batu hitam itu. Nah, berbicara soal batu tentunya sebagai ahli batu akan tertarik untuk melihat, jenis batu apakah Hajar Aswad ini ?

Pak Lik Marufin yang senang sekali dengan dunia langitan, atau dunia langit juga ikuta menuliskan tentang batu ini. Karena banyak cerita dibalik batu hitam Hajar Aswad ini sebagai batuan meteorit. Benarkah ?

 “Tapi apapun yang ada di dunia ini kan dari Yang Maha Kuasa yang ada diatas sana kan, Pakde ?

 “Tuhan yang maha kuasa tentunya tidak harus diatas sana kan, Thole. Tuhan ada dimana-mana termausk dihati kita”

Barangkali tak ada sebutir batu yang paling banyak dihormati dan dicium umat manusia selain Hajar Aswad. Berdiri tegak di pojok tenggara Ka’bah, batu ini senantiasa menarik perhatian umat manusia yang berthawaf di Ka’bah baik dalam rangka menunaikan ibadah haji atau umrah. Bersamaan dengan itu menarik pula untuk mencermati darimana asal batu hitam ini.

Paklik Marufin memulai dongengannya tentang  Hajar Aswad atau Batu Hitam atau Black Stone dibawah ini,

Dahulu Hajar Aswad berupa batuan utuh yang diperkirakan berukuran 30 cm. Kini merupakan 15 pecahan yang ditanam dalam sebuah matriks semen sebagai pengikatnya, yang dilakukan pada masa restorasi al-Utsmani tahun 1631. Dari 15 pecahan, hanya 8 yang nampak di permukaan matrik. Matriks semen selanjutnya dilindungi dengan lingkaran perak, kebiasaan sejak zaman Abdullah ibn Zubair di akhir kekhalifahan Khulafaur Rasyidin.

Prior-Hey, seorang geolog, pada tahun 1953 mempublikasikan Catalog of Meteorites yang telah bertahun disusunnya. Hajar Aswad oleh Prior-Hey dianggap merupakan batu meteor (meteorit) sehingga turut dimasukkan ke dalam katalognya. Anggapan Prior-Hey rupanya berasal dari pendapat Kahn, seorang geolog lainnya, yang pada tahun 1936 memang berpendapat Hajar Aswad adalah meteorit aerolit, yakni meteorit yang tersusun oleh senyawa-senyawa penyusun batuan dan tidak didominasi oleh Besi dan Nikel yang berlimpah sebagaimana halnya meteorit besi (siderit). Sejak itu anggapan bahwa Hajar Aswad merupakan batu meteor terpatri dalam benak publik. Seorang Agus Mustofa misalnya, dalam bukunya yang terkenal “Pusaran Energi Ka’bah” mendukung ide Hajar Aswad sebagai meteorit lewat jalan yang, menurut Paklik Marufin, agak aneh yakni dengan mendasarkan terjadinya peristiwa sambaran petir terhadap Ka’bah tatkala Makkah diguyur hujan rintik-rintik pada suatu musim haji. Agus Mustofa meyakini petir menyambar Ka’bah, bukan bangunan lainnya yang lebih tinggi, karena konduktivitas Hajar Aswad yang disebabkan oleh berlebihnya kandungan Besi didalamnya.

 “Lah memangnya kandungan besinya seberapa bisa menarik sambaran petir ya , Pakde?

Sebenarnya sangat sulit memahamkan Hajar Aswad sebagai meteorit. Beberapa sifat dasar Hajar Aswad, seperti diketahui pada tahun 950 saat Gubernur Makkah Abdullah ibn Akim menguji batu-batu yang diduga Hajar Aswad yang dicuri sekte Ismailiyah Qaramithah 22 tahun sebelumnya, adalah terapung di air dan tidak pecah/terpanaskan meskipun dibakar di nyala api. Terapung di air menandakan densitas (massa jenis) Hajar Aswad lebih kecil dibanding densitas air, sehingga densitas Hajar Aswad kurang dari 1 gram/cc. Sementara tidak terpanaskan tatkala dibakar menunjukkan konduktivitas termal Hajar Aswad rendah dan tidak pecah akibat panas menunjukkan kekuatannya (daya ikat antar penyusunnya) cukup tinggi. Sifat lainnya, sebagaimana dipaparkan geolog Farouk el-Baz tatkala menunaikan ibadah haji, adalah tingkat kekerasannya yang tinggi (minimal skala Mohs 7 atau setara batu permata). Sifat lainnya lagi adalah warnanya yang putih susu, sebagaimana dipaparkan sejarawan Muhammad ibn Nafi al Khaza’i yang menyaksikan langsung kondisi Hajar Aswad menjelang restorasi Sultan Murad al-Utsmani di tahun 1631.

 “Looh Pakdhe. Batu Hajar Aswad itu pernah dicuri ya Pakdhe ?”

 “Hajar al-Aswad itu memang diceritakan sejarawan pernah dicuri dari Ka’bah sekitar 930 Masehi oleh prajurit Qarmatian yang merupakan sekte Syiah Ismaeeli. Mereka menguasai Mekah, menodai Sumur Zamzam dengan mayat Muslim dan membawa Hajar Aswad pergi ke basis mereka di Ihsaa, di Bahrain abad pertengahan. Menurut sejarawan al-Juwaini, batu itu dikembalikan di sekitar 952 CE dan dikembalikan ke lokasi semula.

Sementara meteorit yang ditemukan di Bumi, selalu memiliki densitas lebih dari 1 gram/cc. Meteorit batuan memiliki densitas antara 2 – 4 gram/cc, sementara meteorit besi jauh lebih besar yakni 7,8 gram/cc. Termasuk ke dalam meteorit batu misalnya meteorit palasit, yang unik karena tersusun dari kumpulan kristal berwarna putih susu dan jarang dijumpai. Densitas meteorit yang terkecil yang pernah ditemukan adalah 1,8 gram/cc yakni dari meteorit Tagish Lake yang jatuh di Kanada pada 18 Januari 2000. Tidak ada meteorit yang memiliki densitas lebih kecil dari 1 gram/cc. Selain itu, ketahanan dan kekerasan meteorit berbanding lurus dengan densitasnya. Sehingga jika Hajar Aswad adalah meteorit, dengan kekerasan Mohs 7 maka setidaknya ia harus memiliki densitas di atas 5 gram/cc, satu hal yang tak nyata karena di sisi lain akan menyebabkannya tenggelam ketika ditaruh di air.

Artikel ini terkirim via form Antar Kopi pada Warkop Mbah Lalar Oleh Warkoper

TINGGALKAN KOMENTAR