Gus Dur dan Mbah Hasyim

Gus Dur dan Mbah Hasyim

BAGIKAN


Pembuka : Kebiasaan “Aneh” Gus Dur

Perilaku Gus Dur selama ini bisa menjadi bahan kajian menarik dan penuh interpretatif, baik dari sisi pandangan ilmu sosial, kacamata infotaintment maupun dalam khazanah perklenikan. Salah satu perilaku yang menarik itu adalah kebiasaan Gus Dur “menemui Mbah Hasyim” melakukan konsultasi. Kita tahu bahwa Mbah Hasyim Asyari sudah meninggal dunia beberapa puluh tahun lalu. Itulah yang pernah disampaikan oleh Mahfud MD, “Saya nanti mau ketemu Mbah Hasyim mau tanya dulu,” kata Mahfud menirukan Gus Dur. Demikian pula dari sumber lain yang menceritakan bahwa Gus Dur pernah dinasehati oleh Mbah Hasyim, “Le, kok tugasmu bersih-bersih terus yo? Sing sabar yo?”.

Sebuah Realitas

Mencermati apa yang dilakukan oleh Gus Dur tersebut, dalam kajian toeri sosial Weber (1864-1920) adalah tindakan yang rasional, bukan irrasional. Kita seringkali terjebak pada istilah rasional dimana batasannya sangat strukturalis atau fungsionalis dari sudut teori sosial. Weber menegaskan bahwa perilaku seseorang mempunyai makna subyektif sebagai rasionalitasnya. Tindakan Gus Dur “berkonsultasi dengan leluhur” dengan demikian, adalah subyektif rasional bagi Gus Dur. Dengan kacamata teori “Meaning of Action” Weberian tersebut, maka apa yang dilakukan Gus Dur didasari pada realitas sosial yang dimaknai oleh Gus Dur sendiri. Mereka yang melihat ini dengan kacamata Durkhemian, memandang tidak rasional, sebab bagi teori struktural fungsional seperti Durkheim, rasionalitas adalah wujud dari tindakan yang berbasis fungsi dari struktur. Tindakan Gus Dur yang rasional dengan demikian adalah ketika apa yang akan dilakukan oleh Gus Dur selalu dilandasi oleh peraturan, norma, dan struktur sosial (khususnya NU).

Pengalaman Gus Dur “berkonsultasi” dengan Mbah Hasyim dengan demikian merupakan sebuah realitas sendiri bagi Gus Dur. Hal itu bisa menjadi realitas sosial manakala, apa yang dipahami Gus Dur juga menjadi pola bagi orang lain atau dalam sosial. Namun satu hal bahwa perilaku seseorang dapat berbicara kepada ahli kubur merupakan realitas sosial dalam kelompok atau komunitas tertentu. Orang Eropa atau Amerika yang sangat mengandalkan science bisa jadi tidak bisa menerima hal-hal seperti itu sebagai realitas sosial, hanya takhayul belaka. Tetapi bahwa realitas sosial seperti itu ada tidak bisa kita pungkiri.

Upaya Memahami

Sebagai orang lain, tentu kita bisa sepakat atau tidak sepakat dengan apa yang dikatakan atau dilakukan oleh Gus Dur tersebut. Sebab kacamata atau pendekatan yang kita lakukan bisa jadi sangat berbeda dengan apa yang digunakan oleh Gus Dur. Sekali lagi, dengan analisis dari Weber tentang “Makna sebuah tindakan” seseorang, maka kita berusaha memahami apa yang dilakukan orang tersebut didasari oleh realitas dan rasionalitas yang dibangunnya sendiri. Apa yang bisa kita pahami dari kebiasaan Gus Dur tersebut? Kita bisa memahami bahwa tindakan-tindakan Gus Dur (yang dianggap sangat penting dan krusial) sering dikonsultasikan dengan para leluhurnya. Ini bisa dikembangkan kepada pemahaman bahwa Gus Dur melakukan upaya-upaya ketersinambungan antar generasi. Orang lain bisa jadi mengandalkan cara membaca karya tulis orang yang sudah meninggal, tetapi Gus Dur mempunyai cara lain pula untuk melakukan itu. Gus Dur berupaya apa yang dilakukannya tersebut tidak menyalahi apa yang sudah digariskan oleh para pendahulunya.

Demikian pula dari cuplikan cerita di atas, menunjukkan bahwa realitas yang dibangun oleh Gus Dur adalah adanya ketersambungan antara dirinya dengan Mbah Hasyim. Apalagi nasehat “Le, kok tugasmu bersih-bersih terus yo? Sing sabar yo?”. (Nak, tugasmu kok bersih-bersih terus ya? Yang sabar ya?). Dalam kerangka Weberian, maka kita dapat memahami bahwa apa yang dilakukan oleh Gus Dur selama ini adalah upaya-upaya pembersihan, yang tentu sudah mendapat restu dari Mbah Hasyim. Persoalannya, apa yang dibersihkan dan bagaimana cara membersihkannya, hanya Gus Dur sendiri yang paling paham. Sebab itu adalah realitas dan makna subyektif baginya.

Penutup

Tentu ada saja banyak pihak yang tidak sepakat dengan itu semua. Mulai dari ketidaksepakatan mengenai kebenaran akan cerita sampai pada urusan hubungan Gus Dur dengan Mbah Hasyim. Tulisan ini memang bukan upaya untuk membuktikan kebenaran dari cerita, tetapi sebagai upaya untuk memahami (to understand) bahwa apa yang dilakukan oleh Gus Dur dalam kerangka teori tertentu adalah rasional dan merupakan realitas tersendiri. Sebagai orang lain tentu upaya memahami adalah hal terbaik yang bisa kita lakukan. Namun ketika akan mengkritik, tentu dengan kerangka teori yang elegan dan sebanding. Tidak asal atau hanya karena tidak suka kemudian menyerang dengan membabi buta.

Wallahu ‘Alamu Bishshowab

 

 

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR