GOLONGAN PENERIMA ZAKAT

GOLONGAN PENERIMA ZAKAT

BAGIKAN
GOLONGAN PENERIMA ZAKAT
Satu hal yang membuat ia besar hati adalah ia bernaung di tepi Ka’bah yang dikelilingi tempat-tempat mustajabah. Di sana ia biasa curhat kepada Gusti Allah untuk minta secuil tempe, sepiring nasi, dan uang tunai buat naik taksi. Atau hal-hal lain yang bersifat teknis, seperti agar jangan ketangkap polisi, selalu berada di tempat yang aman, atau gampang mendapatkan kerja ketika jamaah haji datang. Lebih-lebih hal yang penting seperti minta ilmu yang bermanfaat, khusnul khotimah, banyak rejeki, panjang umur, dan dikaruniai istri cantik.

GOLONGAN PENERIMA ZAKAT

Siang itu di sebuah bilik di apartemen sederhana milik Syekh Muchtar Sedayu, pemuda itu menggeliat, ia sadar dari tidurnya. Perutnya masih terasa nyeri, semakin melilit.  Sejak pagi ia belum ketemu nasi. Bahan makan telah habis sejak kemarin. Jatah sabilan dari para masyayikh juga belum ada yang cair. Sementara perut Robithoh Asnawi dan kawan-kawan senasib selalu menuntut isi. Satu-satunya usaha yang mereka lakukan ialah merapal doa-doa wirid penarik rezeki. Hanya itu usaha yang bisa mereka lakukan. Mau cari kerjaan, tidak mungkin. Polisi terus mengintai keberadaan mereka yang nyaris tanpa identitas legal. Apa yang bisa mereka kerjakan dengan status sebagai pendatang illegal? Tidak ada juragan yang mau menerimanya bekerja. Sebab apabila ketahuan petugas meraka bisa ikut celaka. Kecuali pada musim haji. Walaupun ia seorang mukimin yang hanya mengaji setiap hari, namun geraknya terlalu sempit dan menjadi sasaran razia polisi.

Sambil menahan perihnya, Asnawi bangkit untuk berwudlu, sekalian cuci muka dan shalat dhuhur. Berhari-hari shalatnya menjadi tidak khusyuk. Pikirannya selalu berputar pada beras  yang sudah habis. Lain dengan doanya, doanya menjadi lebih fasih ketika masuk pada urusan rezeki. Setiap saat mulutnya terus komat-kamit melafalkan dzikir apa saja.

Diliriknya sudut kamar, masih tersisa satu batang roti samoli yang sudah kering, kerasnya bukan kepalang. Roti kasar tanpa mentega berbentuk lonjong layaknya ganjel rel ini biasanya bila masih segar, digunakan untuk sarapan oleh orang Arab miskin dan para mukimin dari berbagai belahan negara. Biasanya disantap dengan halawa, madu, atau telur dadar. Tapi bila sudah kering dilempar ke tempat sampah dan menjadi santapan kambing yang berkeliaran mengais sisa-sisa makanan.Tak apa. Ia celupkan pada air zam-zam beberapa menit agar melunak, kemudian ia santap hampir tanpa sisa. Lumayan, bisa meringankan beban perut yang melilit menagih setoran.

Satu hal yang membuat ia besar hati adalah ia bernaung di tepi Ka’bah yang dikelilingi tempat-tempat mustajabah. Di sana ia biasa curhat kepada Gusti Allah untuk minta secuil tempe, sepiring nasi, dan uang tunai buat naik taksi. Atau hal-hal lain yang bersifat teknis, seperti agar jangan ketangkap polisi, selalu berada di tempat yang aman, atau gampang mendapatkan kerja ketika jamaah haji datang. Lebih-lebih hal yang penting seperti minta ilmu yang bermanfaat, khusnul khotimah, banyak rejeki, panjang umur, dan dikaruniai istri cantik.

Dan ia sudah mengadu kepada Gusti Allah akan kondisi keuangannya saat ini. Namun belum kunjung ada jawaban. Belum. Ia masih sabar dan selalu setia meminta di tempat-tempat itu setiap waktu.

Termasuk siang itu, tatkala habis menyantap samoli kering yang telah di-shibghoh air zam-zam. Ia menuruni tangga dan menyusuri jalan beraspal. Tidak jauh, hanya beberapa menit saja ia sudah sampai di Masjidil Haram , lantas ia thawaf membaur  bersama para jama’ah.

Kemudian Robithoh Asnawi  mendekati multazam, dan ia tumpahkan segala keluh kesah yang ada di dalam hatinya. Ia tambah merangsek ke depan agar bisa menempel dindingnya. Betisnya sampai beradu dengan syadzarwan. Biar lebih marem. Ia terus memanjatkan doa tak henti- henti.

Sementara Gus Nashir Badrus, teman sekamarnya yang juga berasal dari Kediri mengamatinya dari kejauhan, Sejurus kemudian ia merangsek ke arah Multazam dan berdiri tepat di belakang Robithoh Asnawi, Kemudian ia selipkan selembar lima ratus riyal ke tangan kanan Asnawi yang masih bergelayut di Multazam dan ia cepat-cepat menghilang di antara kerumunan manusia. Asnawi kaget bukan kepalang. Ia toleh kanan kiri, tak ada orang yang menyapa atau tersenyum pertanda dialah pemberinya.

”Alhamdulillah, doaku terkabul, keajaiban telah  datang, entah malaikat entah wali telah memberiku uang,” gumamnya dalam hati.

Bersama tiga orang temannya Gus Nashir pura-pura loyo ketika Asnawi memasuki kamar membawa laban, pepsi, tamis dan beberapa makanan ringan. Namun mereka mereka tak bisa menahan tawa.

Tadi pagi Syekh Makki – salah seorang ulama keturunan Pakistan bermadzhab Hanafi yang mengajar di Masjidil Haram – membagi-bagi uang Zakat titipan aghniya’  untuk para mukimin yang ngaji pada beliau. Dan kebetulan Asnawi  tidak hadir, maka bagiannya dititipkan pada Gus Nashir.

 Idkhol Jempol

TINGGALKAN KOMENTAR