FIQH RAMADAN 5 : Infus Membatalkan Puasa

FIQH RAMADAN 5 : Infus Membatalkan Puasa

BAGIKAN

Bagaimana hukum pemakaian infus  di siang hari bulan Ramadan, apakah membatalkan puasa?

Berikut keterangan dari kitab Syarah Yaqut an-Nafis, sebuah karya fiqh relatif kontemporer

karya Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Umar asy-Syathiri dari Yaman.

شرح الياقوت النفيس ص 307-308

(حكم الإبرة) أما حكم الإبرة قالوا إن الإبرة التي يحقن بها المريض تمر بالعروق وتصل إلى الجوف فتفسد الصوم لكن قال بعض العلماء كل ما يدخل إلى الجسم من منفذ غير طبيعي فإنه لا يبطل به الصوم . لكن رد الفريق الآخر بأن الطعنة إذا وصلت إلى البطن يبطل بها الصوم ، وقاسوا عليها الإبرة . وقال الشيخ عبد الله بكير إنها لا تفطر لكن الأطباء يقولون كل إبرة تختلط بالدم سواء كان في الوريد أو تحت الجلد والإبرة التي تحقن في العرق قد تكون مغذية تروي من العطش وتشبع الجيعان وبقية الإبر تحملها الدورة الدموية إلى شرايين الجوف ولا تصل إلى تجويف الجوف . فالإبرة المغذية تفطر بالإجماع وغير المغذية اختلفوا فيها وعلى الصائم أن يحتاط . فإن اضطر إلى حقن إبرة نهارا وهو صائم عليه أن يقضي لأن كل ما وصل إلى الجوف من منفذ مفتوح خلقيا أو بفعل فاعل يفطر الصئائم .

Syarh al-Yaqut an-Nafis hlm 307-308

Hukum Infus

Adapun hukum jarum infus, para ulama’ berkata : “Jarum yang disuntikkan pada orang sakit melalui pembuluh darah dan sampai pada perut, maka membatalkan puasa”. Sebagian ulama’ berkata : “Setiap yang masuk ke dalam tubuh melalui saluran yang tidak lazim, maka tidak membatalkan puasa”. Akan tetapi, pendapat ini dibantah oleh sekelompok ulama’ yang lain yang mengatakan, “Tusukan, jika sampai pada dalam perut, maka akan membatalkan puasa”. Dan mereka meng-qiyaskan jarum infus dengan tusukan ini. Syaikh Abdullah Bukair berkata “Tusukan itu tidak membatalkan”. Akan tetapi para dokter mengatakan “Setiap jarum akan bercampur darah, baik di pembuluh darah atau bawah kulit”. Dan, jarum yang disuntikkan ke otot (pembuluh) terkadang bisa memberikan energi, pelepas rasa dahaga dan pelepas pengenyang rasa lapar. Dan jenis jarum selebihnya, dibawa oleh sirkulasi darah ke arteri rongga, tidak mencapai menembus rongga. Karenanya, jarum yang befungsi sebagai pemberi energi, secara ijma’ membatalkan pusas, sedang jarum yang bukan pemberi energi, hukumnya diperdebatkan para ulama’. Dan, wajib bagi seorang yang berpuasa agar berhati-hati. Jika terpaksa harus diinfus pada siang hari, sedangkan dia dalam keadaan berpuasa maka wajib atasnya meng-qadla’i. Karena setiap sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dari saluran terbuka yang alami (lazim / biasa sebagai saluran masuk), atau yang dimasukkan melalui sebuah upaya buatan, maka akan membatalkan puasa.

TINGGALKAN KOMENTAR