FIQH RAMADAN 4 : Syarat Wajib Puasa

FIQH RAMADAN 4 : Syarat Wajib Puasa

BAGIKAN

SYARAT WAJIB PUASA

Fiqh RamadanJika persyaratan-persyaratan berikut terpenuhi, maka seseorang wajib melakukan puasa

1. Islam

Orang Kafir asli tidak dikenai hukum wajib berpuasa selama di dunia, sehingga jika dia masuk Islam, tidak diperintahkan meng-qadla’i puasa di saat dia masih dalam kekufuran. Akan tetapi, di akhirat, orang kafir disiksa akibat meninggalkan puasa, di samping siksaan akibat kekufurannya juga. Sedangkan orang murtad, tetap berkewajiban melakukan qadla’ puasa selama dia dalam kemurtadan.

2. Taklif (pembebanan syariat)

Seseorang yang terkena taklif, yakni mukallaf, adalah setiap orang yang baligh sekaligus berakal. Sehingga anak kecil dan orang gila tidak wajib berpuasa. Akan tetapi, puasa anak kecil yang mumayyiz adalah sah. Sama seperti shalat, dalam masalah puasa, orang tua diwajibkan memerintahkan puasa pada anaknya yang telah berumur 7 tahun (mumayyiz), dan memukulnya, jika si anak telah berumur 10 tahun, kuat berpuasa, tetapi tak mau melakukannya.

3. Mampu / kuat melakukan

Ada dua sisi pandang kemampuan

–          kemampuan secara hissi atau secara fisik. Orang yang tua renta dan penderita sakit yang tak ada harapan sembuh, dianggap tidak memiliki kemampuan secara fisik, sehingga tidak wajib berpuasa. Akan tetapi wajib atasnya mengeluarkan fidyah, yakni sedekah 1 mud (setara dengan + 6 ons) makanan pokok untuk pengganti puasa setiap harinya.

–          Kemampuan secara syar’i. Wanita yang sang mengalami haid atau nifas dianggap tidak memiliki kemampuan secara syara’, sehingga tidak wajib berpuasa, akan tetapi wajib meng-qadla’-nya di hari lain seusai Ramadan.

Penting :

* Seorang wanita tidak wajib berniat puasa Ramadan di malam hari hanya jika saat malam hari (sebelum fajar) telah mengeluarkan darah yang mungkin distatuskan sebagai darah haid. Jika pada malam hari darahnya belum keluar, maka tetap wajib melakukan niat puasa di malam harinya, meski berdasar kebiasaannya, esok harinya dia akan kedatangan tamu bulanannya itu.

* Puasa seorang wanita sah jika sepanjang fajar terbit hingga matahari terbenam dia tidak mengeluarkan darah haid. Jika sesaat saja sebelum maghrib (semisal, maghrib kurang 1 menit) darahnya keluar, maka puasanya tidak sah dan wajib diqadla’ di hari lain.

4. Sehat

Penderita sakit dengan standar tertentu yang masih ada harapan sembuh tidak wajib berpuasa. Standar penyakit yang memperbolehkan tidak berpuasa adalah penyakit mubihut tayammum, yakni penyakit yang membolehkan seseorang untuk melakukan tayammum sebagai ganti wudlu. Yakni jika dipaksakan berpuasa dalam keadaan seperti itu, maka

–          akan terjadi kematian, atau

–          akan semakin lama sembuhnya, atau

–          akan bertambah sakitnya,

Jika pada malam hari penyakitnya sudah menjangkiti, dia tidak wajib berniat puasa. Jika di tengah hari-hari sakitnya, di saat malam hari (sebelum fajar), penyakitnya hilang, maka dia wajib berniat, dan mulai shubuh dia wajib berpuasa. Namun jika setelah itu penyakitnya kembali lagi, dia boleh membatalkan puasanya.

5. Mukim (bukan musafir)

Musafir atau orang yang melakukan perjalanan, tidak wajib Berpuasa jika perjalanannya bukan Perjalanan dalam rangka maksiat, dan berjarak jauh (masafatul qashri, jarak perjalanan yang diperbolehkan meng-qashar shalat), yakni 82 km.

Yang penting diperhatikan adalah, bahwa kebolehan tidak berpuasa ini dengan syarat jika perjalanannya telah dimulai sejak sebelum fajar. Sehingga jika ada orang mulai melakukan perjalanan bakda shubuh, maka dia tetap wajib berpuasa.

Jika musafir merasa dirinya mampu berpuasa di tengah-tengah perjalanannya, maka sebaiknya dia tetap berpuasa. Jika dalam perjalanannya dia mengalami kepayahan yang sangat, lebih baik baginya untuk tidak berpuasa.

Penting

* Jika seorang musafir atau seorang sakit pada pagi harinya dalam keadaan berpuasa, lalu dia hendak berbuka (tidak berpuasa), maka boleh.

* Jika seorang musafir atau seorang sakit pada pagi harinya dalam keadaan berpuasa, lalu sebelum maghrib si musafir telah mukim (tidak lagi berstatus musafir), dan si orang sakit telah sembuh, maka haram bagi mereka untuk berbuka (membatalkan puasanya)

* Jika seorang musafir atau seorang sakit pada pagi harinya dalam keadaan tidak berpuasa, lalu sebelum maghrib si musafir telah mukim (tidak lagi berstatus musafir), dan si orang sakit telah sembuh, maka sunnah bagi mereka untuk imsak (tidak melakukan hal yang membatalkan puasanya).

* Status musafir akan hilang (tidak lagi dianggap dalam perjalanan) jika

–          telah sampai kembali ke kampong halamannya

–          telah sampai ke tempat tujuan dengan niatan awal bermukim sampai 4 hari 4 malam yang sempurna (hari kedatangan dan hari kepergian tidak masuk hitungan)

–          menetap di tempat tujuan telah mencapai 4 hari 4 malam yang sempurna (hari kedatangan dan hari kepergian tidak masuk hitungan), ini jika di saat sebelum sampai di tempat tujuan dia tidak berniat mukim sampai 4 hari.

Wallahu a’lam bish shawab. (imm)

Sumber :

  1. Taqrîrât Sadîdah
  2. Syarh Yaqût Nafîs
  3. Dan lain-lain.

TINGGALKAN KOMENTAR