FIQH RAMADAN 1 : Puasa Sunnah pada Paruh Kedua Bulan Sya’ban

FIQH RAMADAN 1 : Puasa Sunnah pada Paruh Kedua Bulan Sya’ban

BAGIKAN

Fiqh Ramadlan

 Puasa Sunnah pada Paruh Kedua Bulan Sya’ban

Sya’ban sebagai bulan penyongsong Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri, meski bukan merupakan salah satu dari empat bulan mulia (al-asyhur al-hurum). Sebagaimana Rajab, di bulan Sya’ban juga disunnahkan berpuasa. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah radliyallâhu anha, beliau berkata:

مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْته فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ (رواه البخاري)

“Aku tidak melihat Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam menyempurnakan puasa sebulan sama sekali, kecuali Ramadlan. Dan aku tidak melihat beliau melakukan puasa di sebuah bulan lebih banyak daripada puasa di bulan Sya’ban”. (HR. Bukhari)

Rasulullah mengistimewakan bulan Sya’ban dengan lebih banyak berpuasa di bulan tersebut, karena pada bulan ini, amalan-amalan selama setahun dari seorang hamba akan dilaporkan. Dan, beliau lebih suka amalan-amalan beliau dilaporkan dalam keadaan beliau sedang berpuasa, sebagaimana puasa hari Senin dan Kamis, disunnahkan karena amalan-amalan selama seminggu dilaporkan pada dua hari itu.

Terkait dengan puasa pada bulan Sya’ban, ada hal yang perlu diperhatikan. Yakni bahwa haram hukumnya, berpuasa sunnah pada paruh kedua bulan Sya’ban, yakni mulai tanggal 16 Sya’ban dan seterusnya sampai akhir bulan. Lebih khusus lagi, haram juga berpuasa sunnah  pada yaum asy-syakk atau hari yang diragukan, yakni terdapat keraguan apakah hari tersebut masih termasuk bulan Sya’ban atau telah masuk bulan Ramadan. Keharaman yang sekaligus berkonsekwensi pada ketidakabsahan puasa ini, berlaku jika puasa sunnah tersebut dilakukan tanpa ada sebab. Secara definitif, yaum asy-syakk adalah hari ke-30 dari bulan Sya’ban, di mana telah santer kabar bahwa semalam hilal berhasil di-rukyah atau dilihat, dan keadaan langit pada malam itu cerah, tidak mendung, tetapi tak satupun orang yang menyatakan kesaksian di hadapan hakim bahwa dia telah melihat hilal. Atau ada kesaksian penglihatan hilal, tetapi dilakukan oleh orang yang tidak memenuhi persyaratan sebagai saksi hilal, seperti anak kecil, wanita, budak atau orang fasiq (pelaku maksiat), yang kesaksiannya tidak diyakini kebenarannya. Adapun, jika kesaksian orang yang tak terpenuhi syaratnya sebagai saksi hilal tersebut diyakini kebenarannya, maka wajib bagi yang meyakininya untuk berpuasa Ramadan.

Ketentuan-ketentuan di atas berdasarkan hadits-hadits sebagai berikut. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallâhu anhu, bahwa Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam bersabda :

إذَا انْتَصَفَ شَعْبَانُ فَلَا صِيَامَ حَتَّى يَكُونَ رَمَضَانُ (رواه أبو داود وغيره)

Jika Sya’ban telah berlalu separuh, maka tidak ada puasa hingga tiba Ramadan (HR. Abu Dawud dan lainnya)

Diriwayatkan dari Ammar bin Yasir radliyallâhu anhu, bahwa beliau berkata :

مَنْ صَامَ يَوْمَ الشَّكِّ فَقَدْ عَصَى أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (رواه أبو داود والنسائي والترمذي)

Barangsiapa berpuasa pada hari yang diragukan, maka dia telah durhaka pada Abul Qasim (Rasulullah) shallallâhu alaihi wa sallam (HR. Abu Dawud, Nasa’i dan Turmudzi)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliyallâhu anhu, bahwa Rasulullah shallallâhu alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَقَدِّمُوا الشَّهْرَ بِيَوْمٍ وَلَا بِيَوْمَيْنِ إلَّا أَنْ يُوَافِقَ صَوْمًا كَانَ يَصُومُهُ أَحَدُكُمْ (رواه البخاري ومسلم)

Jangan mendahului bulan (Ramadan) dengan (berpuasa) sehari atau dua hari, kecuali hari tersebut bertepatan dengan puasa yang biasa dilakukan salah seorang dari kalian (HR. Bukhari dan Muslim)

Sebagaimana dalam paparan sebelumnya, bahwa ketidakbolehan berpuasa pada paruh kedua Sya’ban ataupun yaum asy-syakk adalah jika puasa tersebut adalah puasa sunnah yang tanpa sebab. Sehingga puasa qadla’ dari puasa wajib, puasa nadzar, atau puasa kafarat boleh dan sah dilakukan pada hari-hari tersebut. Begitu pula puasa qadla’ dari dari puasa sunnah, semisal, seseorang yang  membatalkan puasa sunnah mu-aqqat (ada waktunya tersendiri, seperti puasa Asyura’) yang tengah dilakukannya, maka dia boleh meng-qadla’-nya pada hari-hari itu. Atau, seseorang yang telah memiliki kebiasaan melakukan puasa tertentu, dan ternyata hari tersebut jatuh pada paruh kedua bulan Sya’ban atau pada yaum asy-syakk, maka dia boleh berpuasa pada hari-hari tersebut. Semisal, seseorang yang memiliki kebiasaan berpuasa Senin – Kamis, maka dia boleh melakukan puasa Senin – Kamis, meski berada di paruh kedua bulan Sya’ban atau yaum asy-syakk.

Lantas, bagaimana standar bahwa sesuatu bisa disebut sebagai kebiasaan? Haruskah terjadi berulang-ulang ataukah cukup dengan sekali saja? Secara umum, kebiasaan bisa terbentuk cukup dengan satu kali, sebagaimana dalam permasalahan cabangan fiqh lainnya. Hanya saja, dalam penerapannya secara kasuistik, terdapat perbedaan pendapat antara Ibnu Hajar al-Haitami dan Ali Syibromalisi. Yakni, apakah kebiasaan yang telah terbentuk dengan berkali-kali, bisa dibatalkan oleh kebiasaan lain yang juga terbentuk berkali-kali? Semisal, tahun pertama seseorang memiliki kebiasaan berpuasa Senin. Tahun kedua kebiasaannya berubah, berpuasa Kamis. Apakah dengan demikian dia masih boleh berpuasa Senin yang bertepatan paruh kedua Sya’ban atau bertepatan yaum asy-syakk, memandang kebiasaan yang telah terbentuk pada tahun pertama? Ali Syibromalisi masih memberikan peluang dibolehkannya puasa Senin pada paruh kedua tersebut.

Atau, jika kebiasaan terbentuk dengan hanya satu kali saja (puasa Senin misalnya) sebelum masuk paruh kedua {lihat tabel, no. 8 dan 9}, apakah disyaratkan terus berlangsungnya kebiasaan tersebut pada kesempatan berikutnya (yakni Senin berikutnya) sebelum paruh kedua {no.8}, ataukah yang sekali ini sudah bisa menjadi bekal diperbolehkannya puasa setelah paruh kedua, meski diantara keduanya terdapat pemisah (hari Senin tanpa puasa, tgl 9) {no.9}? Ibnu Hajar memilih yang pertama (sehingga jika tgl 9 tidak berpuasa, maka tgl 16 haram berpuasa), dan Ali Syibromalisi memilih yang kedua (sehingga tgl 16 masih diperbolehkan berpuasa).

Adapun jika kebiasaan yang terbentuk hanya dengan satu kali sebelum paruh kedua, sementara kesempatan berikutnya telah berada di paruh kedua {no. 10}, maka dia diperbolehkan berpuasa di kesempatan itu (tgl 16). Dan, jika pada kesempatan ini (tgl 16) dia berpuasa, lalu pada kesempatan selanjutnya (tgl 23) dia tidak berpuasa, sementara pada kesempatan ketiga bertepatan dengan yaum asy-syakk (tgl 30), maka dia tetap diperbolehkan berpuasa di penghujung Sya’ban itu, karena dia telah merintis kebiasaan berpuasa Senin di paruh kedua Sya’ban (tgl 16), dan hal tersebut telah mencukupi.

Adapun jika kebiasaan terbentuk berkali-kali sebelum Sya’ban misalnya, dan setelah masuk Sya’ban paruh pertama, kebiasaan tersebut tidak diteruskan, maka dia tetap diperbolehkan berpuasa saat paruh kedua atau bertepatan yaum asy-syakk {no. 7}. Wallâhu a’lam bish-shawâb.

 

No.

Pra Sya’ban

Tanggal … (Paruh pertama Sya’ban)

Tanggal … (Paruh kedua Sya’ban)

Keterangan

Sn

Sn

Sn

1

2

3

4

5

……

9

……

14

15

16

17

18

……

23

……

30

1

P

P

P

P

P

P

P

B

Jenis puasa: berturut-turut

2

P

P

X

TB

TB

TB

TB

TB

Jenis puasa: berturut-turut

3

P

P

P

X

TB

TB

TB

TB

Jenis puasa: berturut-turut

4

P

X

P

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

B

– jenis puasa : Puasa Dawud

– Menurut Ali Syibromalisi

5

P

X

P

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

X

TB

– jenis puasa : Puasa Dawud

– Menurut Ibnu Hajar

6

P

P

P

Sn/P

Sn/P

Sn/B

Sn/B

Sn/B

Jenis puasa: Puasa Senin

7

P

P

P

Sn/X

Sn/X

Sn/B

Sn/B

Sn/B

Jenis puasa: Puasa Senin

8

X

X

X

Sn/P

Sn/X

Sn/TB

Sn/TB

Sn/TB

– Jenis puasa: Puasa Senin

– Menurut Ibnu Hajar

9

Sn/P

Sn/X

Sn/B

Sn/B

Sn/B

– Jenis puasa: Puasa Senin

– Menurut Ali Syibromalisi

10

Sn/P

Sn/P

Sn/X

Sn/B

Jenis puasa: Puasa Senin

 

Keterangan:

Sn        : hari Senin

P          : berpuasa

X         : tidak berpuasa

B         : boleh berpuasa

TB       : tidak boleh berpuasa

Referensi

  1. Abu Zakariyya Yahya bin Syaraf an-Nawawi, Al-Majmû’ Syarh al-Muhadzdzab, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2002.
  2. Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitami, Al-Fatâwî al-Fiqhiyyah al-Kubrâ, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2007.
  3. Ahmad bin Muhammad bin Ali bin Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtâj bi Syarh al-Minhâj, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2006.
  4. Abdul Hamid asy-Syarwânî, Hasyiyah ‘ala Tuhfah al-Muhtâj, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyah, 2006.
  5. Muhammad bin Syihâbiddîn ar-Ramlî, Nihâyah al-Muhtâj ilâ Syarh al-Minhâj, Beirut: Darul Fikr, 2004.
  6. Ali bin Ali Asy-Syibrâmalisî, Hasyiyah ‘ala Nihâyah al-Muhtâj, Beirut: Darul Fikr, 2004.

 

 

TINGGALKAN KOMENTAR