ETIKA DAKWAH

ETIKA DAKWAH

BAGIKAN

* MAULID KLAS *

Cinta Rosul

Digambarkan Orang di Dunia ini adalah sedang berpergian, dan setiap orang yang berpergian itu butuh yang namanya peta jalan dan alat transportasi, sedangkan alat transportasi itu banyak ragam dan jenisnya sesuai kebutuhan, ada Bus, mikrolet, taxi, sepeda ontel, motor, Kapal Laut, Kapal terbang, Pesawat ulang alik, Helikopter, becak, sepur, andong, gerobak, getek dan jalan kaki, dan semua itu butuh Etika. Demikian ini adalah gambaran Etika Dakwah yang harus diperhatikan seperti ketika Memerangi Orang Yang Di Anggap Kafir.

Dan semua itu juga ada klasnya masing2, ada klas ekonomi, bisnis, dan entah apalagi istilahnya.

Orang yang berpergian itu tadilah yang berhak dan memastikan kendaraan apa yang harus dipilih sesuai kebutuhan dan pengetahuannya. Kendaraan kendaraan itu tidak akan bisa dipaksakan kepada orang yang tidak mau atau butuh dengan kendaraan pilihan para calo, dan para calo akan kelihatan lucu jika mengajak orang untuk naik Bus, padahal orang itu telah naik sepur. Akan tampak gila lagi jika kemudian ada calo yang main paksa kepada para penumpang untuk beralih ke kendaraan yang diinginkannya, apalagi sampai main pentung segala? inilah etika yang harus diperhatikan ketika mengajak seseorang atau etika dakwah yang dimaksud.

Dan tentu saja para pejalan kaki juga punya hak yang sama dalam hal bebasnya untuk tidak berkendaraan sama sekali. Inilah yang dimaksud Etika dakwah yang harus diperhatikan, yaitu memberikan kebebasan memilih.

Etika-Dakwah” Ajaklah kepada Jalan Tuhanmu”

Dalam ayat ini nampak sangat jelas tidak menyebutkan obyeknya, karena sudah sangat jelas bahwa ajakan itu obyeknya adalah bagi yang mau dan membutuhkannya. Bagi yang tidak butuh, ngapain diajak ajak? dan ngapain pula harus dipaksa paksa? dan ngapain pula mengajak orang orang yang memang telah menumpang kendaraan pilihannya? Seperi inilah etika dakwah yang sering dilupakan, yaitu memaksakan kepada orang lain agar dakwahnya diikuti.

Maka akan anda lihat dalam Prilaku Rosulullah ketika menyerukan dakwahnya yang penuh dengan etika dakwah, tak satupun para penentangnya kemudian dipaksa atau dihajar atau dihinakan ketika menolak ajakannya, kecuali jika para penentang itu memang telah menyulut api permusuhan secara frontal dan mengancam keselamatan para penumpangnya.

Demikian juga dalam Hadits: Etika-Dakwah

” Sampaikanlah dariku walau satu Ayat”

Dalam etika dakwah dinyatakan bahwa sebuah dakwah tidak dijelaskan obyeknya, yang jelas adalah kalaian disuruh menyampaikan satu ayat sekalipun DARINYA, bukan dari Google, buku, terjemahan, blog, koran, majalah atau bulletin. jadi tidak sembarang sesuatu yang dianggap sebagai Agama saja, tetapi adalah sesuatu yang jelas jelas dari Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam apapun bahasa dan istilahnya. Walhasil ” Dakwah adalah Cinta “

Walhasil, yang mempunyai kapasitas dan kuwajiban untuk menyampaikan adalah orang orang yang mempunyai Mata Rantai yang jelas, yang berujung darinya Shollallahu alaihi wa Sallam, dan orang orang seperti inilah yang menurut fakta mempunyai etika dakwah yang tinggi.

Dan ingat, etika dakwah yang sering dilupakan adalah menyadari bahwa tidak semua yang berasal dari Nabi itu kemudian dibukukan, logis jika ada sahabatt Rosulullah itu tidak menyampaikan apa yang dilihat/didengar dari Rosulullah itu dengan berbagai pertimbangan dan kemungkinan, bisa jadi sebab sangat maklum, lupa, sangat masyhur, tidak dianggap penting dll.

Kemungkinan Ajaran  Beliau dengan sengaja tidak dicatat, tetapi pelestariannya melalui transformasi prilaku dan tetntu saja estafet prilaku itu yang paling mendominasi adalah Ahlul Bayt dan keturunannya, maka masyhur dalam Islam bahwa Sayyidina  Imam Ja’far Shadiq Imam Sunni dan Syi’ah itu adalah Pakar dalam segala bidang keislaman, namun masyhur pula bahwa Beliau tidak meninggalkan satu catatanpun yang terdokumentasikan atau terbukukan. Dan kita tentunya tahu bagaimana Beliau beretika ketika dakwah.

TINGGALKAN KOMENTAR