Empat Spesies Manusia

Empat Spesies Manusia

BAGIKAN

Al Imām Khalīl ibn Ahmad Al Farāhīdī pernah menyatakan, bahwa ada 4 spesies Manusia dalam kaitannya dengan ilmu:

Empat Spesies Manusia

Pertama:

Seseorang yang NGERTI dan NGERTI bahwa ia NGERTI.

Ini adalah tipe orang yang dapat mengambil madu tanpa tersengat lebah; yang dapat menangkap ular tanpa tergigit; atau sopir yang saat ngebut-pun masih bisa membuat penumpangnya tidur bersanding liur (alias lelap banget, Bo!) sementara pengendara lain tidak harus pontang panting karenanya; atau penjahit yang tidak serta-merta menentukan besar-kecilnya postur seorang konsumen sebelum mengukurnya dengan cermat. Singkatnya, ia adalah orang yang sadar betul dengan konsekwensi dan resiko dari setiap sukūt atau takallum, sukūn atau taharruk. Ya, (nyaris) perfect gentleman-lah, geeeetoooh!

Kedua:

Seseorang yang NGERTI tapi GAK NGERTI bahwa dirinya NGERTI.

Orang ini, ibarat kata pepatah, “bagaikan pungguk merindukan bulan”…Eh, ga nyambung, ya? Oke, “bagaikan pungguk yang gak tau ada bulan”. Artinya (kira2), mas pungguk ini gak bisa memanfaatkan cahaya bulan untuk menerangi “jalan”nya saat ia harus terbang dalam gelap yang merajai malam. Akibatnya, saudara-saudara, sayap2 yang seharusnya bisa membawanya terbang tinggi terpaksa ia relakan mengalami luka2 plus bonus bulu2 yang pada rontok (dengan ancaman serius: ga bisa terbang lagi besok malam), karena si pungguk ga bisa (ato jelasnya, ga mau) membedakan mana kelembutan ujung dedaunan dan mana tonjolan tajam ranting; mana yang sekedar semak dan mana pula onak penuh duri. Padahal ada bulan yang telah “berbaik hati” mengkontribusikan cahayanya. Maka (kata Bang Napi nih), waspadalah, waspadalah!!!

Ketiga:

Seseorang yang GAK NGERTI dan ia NGERTI bahwa dirinya GAK NGERTI.

Pendek kata, orang ini berprinsip “tahu diri”. Ia tipe orang yang –-saat ngebet pingin meluk gunung, namun– sadar betul bahwa “tangannya-lah yang gak sampai”, bukan “gunungnya yang gak mau dipeluk”; yang bisa merasakan nikmatnya “bertanya” ketimbang “menjawab”; yang aware bahwa maqomnya adalah “belajar”, bukan “mengajar(i)”; yang memprioritaskan “tetap di tempat” atau bahkan “mundur” daripada “maju tapi bonyok karena nabrak tembok”. Tipe langka dari seorang “mulia” dan seringkali –-kadang tanpa ia sadari– menjadi pembuka pintu bagi orang lain untuk juga “mulia”…

Keempat:

Seseorang yang GAK NGERTI tapi ia GAK NGERTI bahwa dirinya GAK NGERTI.

Orang inilah yang cenderung enjoy dan nothing to loose memasuki semua “wilayah” cukup dengan modal (terlanjur dilekati) cap “pengamat” dan “intelektual”; yang jika “di-adzani” malah nekad “iqāmah”; yang “merasa lurus” justru di ketika “bengkok”; yang punya spesialisasi “ngajari” dan ga punya bakat “diajari”; yang punya motto “gue juga bisa, gue juga tau!”; yang selalu merasa “imut-imut” pada saat “amit-amit”; yang hanya karena sering duduk di samping sopir sudah merasa bisa nyopiri; yang merdu banget kalo nyanyi “di sini garing/ di sana garing/ di mana2 gu-e-mang garing!!!”. Dialah prototipe sempurna dari tipe orang yang “gokil habis (ga pake sisa)!!!”. Aw, tolooooonnnggg…!

(diolah dari: Ādāb ad-Dunyā wa ad-Dīn karya al-Imām Abi al-Hasan Ali bin Muhammad al-Māwardi, 1988, hlm. 126)

Salam Warkoper

TINGGALKAN KOMENTAR