Elastitas Ajaran Islam

Elastitas Ajaran Islam

BAGIKAN

Keluwesan atau Elastitas Fuqaha dalam Penentuan Hukum Islam

 

Di antara persoalan dan gambaran Elastitas Ajaran Islam yang patut ditegaskan di sini adalah apa yang dikutip Ibn Hajar dari Ath- Thayyibi, ”Jika ada beberapa hadis yang sama kuat, maka harus dipadukan dan dihukumi sebagai satu hadis.” Dengan demikian, kemutlakan sebuah hadis bisa lebih dipahami dengan memperhatikan hadis senada yang bersifat muqayyad (berisi penjelasan tentang masalah yang khusus).

Selain itu, sebagai bukti Elastitas Ajaran Islam dalam menyikapi segala macam persoalan  kita juga harus merangkum semua makna yang ada dalam hadis itu, baik tentang perintah, Larangan, atau sekadar pembolehan. Kemudian, membedakan tingkatan sebuah perintah, apakah itu wajib, sunnah, atau boleh. Juga memilah macam-macam larangan, apakah itu haram atau makruh.

 Untuk itu, agar elastitas Ajaran Islam mudah diserap, dan tidak sembarangan orang merangkum sebuah keputusan persoalan Ummat, para ulama menuliskan beberapa Kaidah pokok untuk memahami ungkapan­-ungkapan tertentu guna memahami maksud hadis tersebut; seperti apakah ia menetapkan kesyariahan suatu perkara, pun derajard hukumnya mulai dari tingkatan wajib, sunnah, mubah, makruh hingga haram.

Semua hal yang disebutkan di atas harus diketahui terlebih dahulu agar seseorang tidak sampai melewati batas dalam menentukan kewajiban yang harus dilakukan, atau larangan yang harus dihindari. Begitu juga Wilayah-wilayah yang harus ditoleransi, sehingga tidak memaksakan orang lain untuk. mengikutinya, maka elastitas ajaran Islam semakin dapat diterima.

Karena itu, siapa yang benar-benar mengetahui masalah-masalah yang disepakati dan masalah ­masalah yang diperdebatkan, serta mengetahui semua kaidah yang kami sebutkan, dia tidak akan tergesa­gesa dalam menentukan apakah perbuatan itu halal, haram, atau bid’ah. Dan ia akan mengetahui betapa Elastitas ajaran Islam memang benar benar terbukti.

Dia juga akan bisa melakukan kaji­an yang teliti dalam melakukan sebuah penyimpulan hukum hingga bisa mengetahui apa saja yang boleh diingkari dan dihindari. Karena Pengingkaran atau penyelisihan itu hanya bisa dituduhkan kepada orang yang meninggalkan kewajiban ataupun melakukan hal-hal yang diharamkan, terutama kasus-kasus yang yang disepakati keharamannya. Bukan termasuk masalah-masalah ijtihadiyah yang masih diperdebatkan di kalangan para ulama dan para pengikutnya. Demikianlah gambaran elastitas ajaran islam yang memang membuka ruang berbeda pendapat.

Pendapat yang tidak dilandaskan pada Prinsip Syariah, baik yang bersifat umum dan maupun yang bersifat khusus, merupakan pendapat yang tercela yang ditentang oleh syariat Islam. Sedangkan pendapat yang benar dan bisa diterima adalah pendapat yang diperoleh dari proses penyimpulan dan pemikiran dengan bertolak dari teks kitab suci atau hadis: Termasuk di antaranya adalah ijtihad dengan melakukan qiyas yang didasarkan pada teks tertentu. Ijtihad seperti ini mempunyai legitimasi hukum yang bisa dipertanggungjawabkan. Dan sekali lagi elastitas ajaran islam itu bisa diraih dari metode qiyas seperti ini.

Perlu dijelaskan bahwa perbuatan haram adalah segala sesuatu yang diterangkan keharamannya secara eksplisit dalam nash kitab suci atau sunnah Nabi SAW, atau keharam­annya disimpulkan berdasarkan dalil-dalil syariat, tanpa dipaksakan atau dibuat-buat. Sedangkan fardhu adalah segala sesuatu yang ditentukan hukum keharusannya oleh syariat. Jika kita hanya mengacu pada sebuah pendapat yang mengharamkan saja, dan tidak melihat sisi sisi yang lain, maka elastitas ajaran islam akan terancam.

Sementara sebagai bukti elastitas ajaran Islam yang sebenarnya, persoalan yang tidak disinggung oleh syara’ (al-maskut ‘anhu), hukumnya diserahkan kepada umat. Bahkan jika saja mereka salah menentukan, maka akan dimaafkan. Kecuali apabila hukum tersebut berlawanan dengan Al­Qur’an, ijma’ ulama atau istinbat dengan salah satu cara yang sah.

Satu bukti nyata dan fakta elastitas ajaran Islam adalah ada sebuah hadits yang menunjukkan scara nyata memang elastitas ajaran Islam bukanlah bohong semata, dalam sebuah hadis, dari Abu Darda’ diceritakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Apa-apa yang dihalalkan oleh Allah Swt dalam Kitab-Nya adalah halal, dan apa-apa yang diharamkan adalah haram. Sedangkan hukum apa-apa yang tidak disinggung diserahkan pada ijtihad masing-masing. Maka terimalah keleluasaan dari Allah, karena sesungguhnya Allah SWT tidak akan melupakan sesuatu apapun.” Kemudian beliau membacakan firman Allah SWT, “Dan Tuhanmu tidaklah pelupa.”

Hadits yang sebagai bukti elastitas ajaran Islam tersebut diriwayatkan oleh Al-Hakim dalam Al-Mustadrak, jilid II, him 375. Beliau berkata, hadis ini adalah shahih dari segi sanadnya, sebagaimana disetujui oleh Adz-Dzahabi. Dalam rangkaian sanad yang berbeda, Al-Baihaqi juga meriwayatkan dalam Sunan-nya, jilid X, hlm. 12; Ad-Daraquthni, Sunan Ad­-Daruquthni, jilid II, hlm. 137; Al-Haytsami, Majma’, jilid I, hlm. 171, yang menisbahkannya kepada Al-Bazzaz dan At-Thabari dalam Mu’jam Kabir-nya, dan berkata: ‘Sanadnya baik (hasan), sedangkan para perawinya adalah terpercaya (tsiqat).

Salam Warkoper

TINGGALKAN KOMENTAR