Ahlussunnah al-Asya’irah Syahadatu ‘Ulamail Ummah wa Adillatuhum

[Ebook] Ahlussunnah al-Asya’irah Syahadatu ‘Ulamail Ummah wa Adillatuhum

BAGIKAN
أهل السنة الاشاعرة شهادة
علماء الأمة وأدلتهم
 Nama kitab : Ahlus Sunnah Al Asya’iroh, Syahadatu ‘Ulamail Ummah wa Adillatuhum
Kesaksian Ulama Ummat beserta Dalilnya
Penulis : Hamad As Sinan dan Fauzi Al Anjari
Penerbit : Dar Al Dhiya’
Jumlah hal. : 320

الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله سيدنا محمد وعلى آله وصحبه ومن وآلاه

أما بعد:

فهذا كتاب “أهل السنة الاشاعرة شهادة علماء الأمة وأدلتهم”
إعداد: حمد السنان و فوزي العنجري

وقد قام فريق عمل ملتقى النخبة بتحويل الكتاب من مطبوع إلى كتاب إلكتروني بصيغة (PDF)

وهذه صورة غلاف الكتاب

ولتحميل الكتاب

(Size: 6,97 Mb)

تقريظات العلماء :
– الشيخ محمّد حسن هيتو
– الشيخ محمّدسعيد رمضان البوطيّ
– الشيخ علي جمعة محمّد
– الشيخ وهبة الزّحيليّ
– الشيخ عليّ زين العابدين الجفريّ
-dan lain-lain

 

Buku ini bukanlah buku baru yang membahas masalah seperti ini dan tidak ada informasi yang baru dalam buku ini. Buku ini hanyalah berisi pemaparan nukilan-nukilan perkataan para ulama tentang akidah Al Asya’iroh, akidah Ahlus Sunnah wal Jamaah yang dikenal oleh umat Islam sepanjang sejarah. Buku ini diberikan kata sambutan oleh sepuluh ulama dunia dari berbagai negara, di antaranya Syaikh Prof Dr Wahbah Az Zuhaili, Syaikh Prof Dr M Said Ramadan Al Buty, Syaikh Prof Dr M Hasan Hitu, dan lain-lain.

Syaikh Prof Dr M Hasan Hitu dalam kata sambutannya berkata, “Allah SWT telah memilih ikhwah yang menulis buku ini untuk menerangkan kebenaran dan menampakkannya, melenyapkan kebatilan dan menyingkapnya dengan fakta-fakta ilmiah tentang Asya’iroh, sejarah dan akidahnya, yang sangat dibutuhkan oleh setiap orang yang belum pernah mengenal mereka, atau mengenal mereka namun dengan kebatilan-kebatilan yang dijajakan oleh orang-orang yang mengaku sebagai ahli ilmu, yang tidak memiliki rasa amanah ilmiah sedikit pun. Penulis buku ini tidak pernah membuat perkara baru sedikit pun dalam buku ini, karena buku ini bukanlah buku pertama yang membahas topik semacam ini. Mereka hanyalah menampakkan kembali sesuatu yang masih tampak samar bagi orang yang belum tahu, atau pura-pura tidak tahu.” (Ahlus Sunnah Al Asya’iroh hal. 8)

Pakar Fikih Negeri Syam, Syaikh Prof Dr Wahbah Az Zuhaili juga berkomentar dalam kata sambutannya, “Saya bersyukur kepada antum (penulis) atas risalah antum yang mulia ini. Dan saya memberikan pujian setinggi-tingginya atas kerja keras mulia dalam mengumpulkan makalah-makalah para ulama dan imam-imam terpercaya tentang Asya’iroh dan Dua Imam –Abu Al-Hasan Al-Asy’ari dan Abu Manshur Al-Maturidi. Antum telah mengungkapkan fakta, menerangkan kebenaran dan menunjukkan jalan yang lurus dan benar serta memaparkan sejarah munculnya dua mazhab yang sangat berdekatan tanpa perselisihan yang substansial ini. Sungguh telah menyebar di kalangan kaum muslimin para pengikut Dua Imam ini, karena Al-Quran mengandung banyak sisi, teks-teks syar’i mengandung kemungkinan interpretasi, dan mustahil bagi seorang yang memiliki ilmu dan wawasan mengingkari adanya majas dalam Al-Quran dan sunnah Nabi SAW.” (Ahlus Sunnah Al Asya’iroh hal. 22)

Komentar Syaikh Prof Dr M Said Ramadan Al Buty juga senada dengan dua komentar di atas, “Imam Al-Asy’ari tidak pernah membuat pendapat atau mendirikan mazhab baru. Beliau hanyalah mengikrarkan mazhab salaf dan membela kebenaran yang diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada para sahabatnya. Seluruh ulama ahli tafsir, hadis, fikih di zamannya telah bersaksi tentang hal itu. Siapapun yang mengingkari fakta yang telah disaksikan oleh imam-imam salaf ini, berarti ia telah lancang terhadap salaf, dusta dalam pengakuannya mengikuti mereka dan mencintai mereka. Orang-orang yang mengikuti langkah beliau sepeninggalnya tak lain adalah seperti para muridnya di zamannya. Siapapun yang melecehkan mereka dan menuduh mereka bid’ah, berarti ia telah menuduh para imam yang merupakan jantung salaf dan manusia-manusia pilihan di zamannya, yang merepresentasikan mayoritas umat Islam (as-sawad al-a’zhom) dan pribadi-pribadi terpercaya dalam mengemban Kitabullah dan Sunnah Rasulullah SAW.” (Ahlus Sunnah Al Asya’iroh hal. 12)

Dan masih banyak lagi komentar-komentar ulama lainnya, baik ulama klasik maupun kontemporer. Berikut ini kami sajikan beberapa cuplikan isi kitab tersebut. Selamat menikmati.

Mukaddimah

Segala puji bagi Allah, pujian yang melimpah dan agung mencapai ridho-Nya. Shalawat dan salam atas makhluk terbaik dan pilihan-Nya, atas keluarga, para sahabat dan yang mengikutinya. Wa ba’du.

Asal mula dan cikal bakal pembahasan ini adalah lembaran-lembaran ringkasan yang kami tulis untuk menjawab beberapa pertanyaan yang datang kepada kami dari beberapa mahasiswa universitas tentang hakikat Asya’iroh, apakah mereka termasuk Ahlus Sunnah wal Jamaah?

Semula kami mengira bahwa lembaran-lembaran itu dapat menghilangkan dahaga dan menyembuhkan penasaran. Namun kemudian kami menyadari kekeliruan dugaan kami ketika pertanyaan-pertanyaan lain berdatangan mengenai topik yang sama setelah menjadi pembahasan yang dikonsumsi oleh kalangan awam dan terpelajar. Perkara itu telah memuncak dan semakin meruncing sehingga sampai pada batas saling memboikot sesama saudaranya muslim, tidak mengucapkan salam, tidak sholat di belakangnya, hanya karena ia adalah seorang pengikut Asya’iroh. La haula wa la quwwata illa billahil ‘aliyyil azhim.

Mazhab Ahlus Sunnah Al-Asya’iroh menjadi tudingan dan umpatan, siapapun yang diduga menjadi pengikutnya atau menisbatkan dirinya kepadanya menjadi dijauhi.

Padahal, mazhab inilah yang masih tetap eksis mengibarkan panji Ahlus Sunnah wal Jamaah, menancapkan pilar-pilar dan pondasi-pondasi akidah umat, berdiri menghadang badai kebid’ahan, penyimpangan dan para pembawanya.

Inilah mazhab yang sebenarnya merupakan perpanjangan dari akidah para sahabat, tabiin dan para pengikut mereka dari kalangan Ahlus Sunnah.

Inilah mazhab yang dianut oleh sembilan per sepuluh umat Islam dan mayoritasnya (as-sawad al-a’zhom) serta para ulama dan pembesar-pembesarnya.

Semua itu menuntut kami untuk menulis kitab ini demi berkontribusi dalam menghilangkan kebodohan yang telah menyelimuti akal-akal sehat mengenai perkara-perkara yang urgen dan fundamental, yang kemarin masih menjadi perkara yang diketahui oleh setiap orang, namun sekarang di zaman kita ini menjadi perkara yang hampir tak diketahui oleh seorang pun.

Telah berkontribusi dalam menyebarkan kebodohan dan kezaliman tentang mazhab ini beberapa kelompok yang memiliki niat baik dan tulus namun keliru. Mereka tidak memahami hakikat mazhab Al-Asya’iroh di dalam takwil dan tafwidh lalu mereka keliru dalam memvonis sesat dalam perkara yang sebenarnya tidak sampai taraf penyesatan dan pembodohan.

Dahulu perkara takwil dan tafwidh tidak pernah menimbulkan ancaman terhadap ummat atau mengganggu ketenangannya dan tidak pernah menjadi problematika di mata para imam ulama kaum muslimin sehingga mengharuskan mereka untuk saling menjauhi dan melabeli dengan label-label buruk. Takwil maupun tafwidh telah dinukil dari ulama salafus sholih dan belum pernah berimplikasi di antara mereka saling memvonis sesat atau bid’ah. Lalu mengapa sekarang ini kita menjadikannya demikian? Mengapa kita menjadikannya batu penghalang bagi persatuan Ahlus Sunnah wal Jamaah di saat kita sangat membutuhkan persatuan itu?

Semula kami merasa enggan untuk menceburkan diri ke dalam masalah ini karena khawatir dapat menggiring orang awam ke dalam dilema yang tidak semestinya mereka ikut ke dalamnya. Apalagi mengenai tema sifat Allah dan teks-teks mutasyabihat yang para salafus sholih sangat melarang siapapun memperdalam pembahasan mengenainya, dan menyuruh kita untuk melewatinya dan mengembalikannya kepada ayat-ayat dan teks-teks muhkamat.

Adapun karena sebagian orang telah menceburkan diri ke dalamnya lalu menyifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak dan mustahil bagi-Nya serta menyeret masyarakat awam ke dalamnya, kemudian mereka memvonis sesat ulama-ulama pembawa panji agama ini, maka tak ada jalan lagi selain ikut menceburkan diri ke dalamnya –meskipun dengan perasaan tak suka, demi menjelaskan hakikat kebenaran tentang masalah itu serta membela ulama ummat ini.

Sungguh faktor-faktor penyebab persatuan yang dimiliki oleh ummat kita ini tidak dimiliki oleh ummat lain di muka bumi ini. Faktor-faktor pendukung persatuan dan kesesuaian sangat melimpah ruah. Sungguh merupakan sebuah kezholiman yang terbesar jika kita mengabaikan faktor-faktor yang dapat mengantarkan kita kepada persatuan tersebut lalu kita memfokuskan diri pada perkara-perkara cabang (furu’) dalam fiqh maupun akidah kemudian menjadikannya sebagai perkara-perkara pokok (ushul) yang dibangun di atasnya agama ini dan akidah ummat Islam.

Sungguh kita pada hari ini lebih membutuhkan persatuan dan persaudaraan demi menyelamatkan ummat ini dari era kegelapan yang menyelimutinya. Semua itu takkan terwujud dengan cara saling memvonis bid’ah dan fasik –secara membabi-buta tanpa alasan, terhadap tokoh-tokoh pembawa panji sejarah ummat ini yang mereka itu ibarat pilar-pilar dan pondasi-pondasi peradaban dan kebudayaan kita. Sebagaimana hal itu takkan terwujud dengan cara menyebarkan faktor-faktor penyebab perpecahan dan dikotomi di antara kaum muslimin dengan mengkotak-kotakkan mereka ke dalam kotak sesat, ahli bid’ah, zindik, quburiyun dan seterusnya.

Ya, ummat ini takkan mungkin dapat keluar dari pusaran ini kecuali dengan kembali kepada muara awal dan akar serta membangun generasi muslim yang mampu menghargai dien dan ulama ummat ini, generasi yang mampu mengukur nilai sebuah dialog untuk mencapai kebenaran dan lapang dada menerima perbedaan yang merupakan tabiat dasar manusia.

Itulah yang selalu kami upayakan dalam setiap pembahasan-pembahasan kami. Itu juga yang telah mendorong kami untuk menulis kitab ini, sambil menghindari dan membuang jauh-jauh segalam macam hal yang dapat menyinggung perasaan orang lain dengan tetap meyakini bahwa dialog yang tenang dan didukung dengan dalil, hujjah serta burhan itulah jalan pintas menuju kebenaran.

Kami telah berkomitmen dalam kitab ini untuk mengumpulkan pendapat-pendapat para imam agung dan menyertakan sumber setiap teks kepada para pemiliknya demi menjaga amanah ilmiah. Kami tidak melakukan apapun –secara umum, kecuali hanya membuat bab dan menertibkan serta membubuhkan beberapa catatan keterangan di beberapa tempat. Selain itu semua, di dalamnya hanyalah nukilan tulisan-tulisan para ulama yang ditujukan kepada para pembaca.

Secara umum, tema ini sungguh lebih besar untuk sekedar dirangkum dalam lembaran-lembaran yang terbatas, meskipun memang inilah yang sedang dibutuhkan dalam waktu ini demi menjaga urgensi dan sensitivitas tema ini.

Terakhir, inilah upaya kecil yang mudah-mudahan Allah SWT berkenan memberkahinya dan memberikan manfaat bagi para pembacanya sebagaimana diberkahinya risalah-risalah dan makalah-makalah yang telah mendahuluinya. Semoga Allah SWT memberikan taufik untuk paper-paper selanjutnya yang mendukung penerangan jalan menuju Allah SWT dan sebagai kontribusi dalam penyadaran ummat.

Hanya dengan Allah-lah segala daya dan upaya. Kepada-Nyalah segala sesuatu dikembalikan. Hanya kepada-Nya kami memohon kekuatan dan bersandar. Huwa hasbuna wa ni’mal wakil.

***

http://pustakaaswaja.web.id/?p=16

TINGGALKAN KOMENTAR