Di Masjid, Imam Sholat Dikeroyok Pria Berjenggot

Di Masjid, Imam Sholat Dikeroyok Pria Berjenggot

BAGIKAN

          Kebebasan beribadah di Semarang terancam. Insiden kekerasan belum lama ini terjadi di dalam masjid Nurul Hikmah di Jalan Kedungmundu Raya di Kampung Karanggawang Baru No. 1 RT 4 RW 6 Kelurahan Tandang Kecamatan Tembalang Kota Semarang.

Usai memimpin sholat magrib berjamaah pada Minggu (12/2) lalu, imam masjid tersebut, Ahmad Chumaidi, dikeroyok dua pria berjenggot. Masih dalam posisi duduk usai salam di akhir sholat, saat dia berdoa membaca kalimat tahlil (La Ilaha Illallah) Chumaidi dipukul bertubi-tubi oleh Supriyono, dan anaknya, Koko, sambil diumpat dengan kata-kata kasar. Keduanya warga Karanggawang Baru RT 7 RW 6 Keluarahan Tandang Kecamatan Tembalang Kota Semarang yang berpenampilan celana congkrang dan berjenggot panjang.

Selain dua orang tersebut, empat orang pria berjenggot lainnya mencaci maki Chumaidi dan jamaah masjid lain yang mencoba melerai pengeroyokan itu. orang-oprang yang sedang berdzikir maupun yang sholat sunnah ba’diyah langsung bubar.

Menurut penututan Chumaidi, Supriyono dan Koko mengeluarkan kata-kata tantangan usai menjotosi dia di mihrab (tempat imam). Dengan sesumbar dua orang berbaju panjang dengan celana cingkrang itu menantang Chumaidi jika tidak terima. Namun imam masjid asal Kecamatan Wedung Kabupaten Demak itu diam saja tidak meladeni.

“Saya tetap duduk di tempat imam. Saya diam saja kala mereka mengatai-ngatai saya dan menantang. Saya tak mau ada perkelahian di dalam masjid,” tutur penjahit yang telah puluhan tahun di Semarang ini.

Kata dia, suasana di masjid malam itu mencekam. Ia lantas dievakuasi keluar masjid oleh jamaah. Lantas diantar ke Ruman Sakit Umum (RSU) Ketileng Semarang untuk mendapat perawatan dan visum dokter. Usai mendapat penanganan di unit Pelayanan Gawat Darura, Chumaidi lantas melaporkan kejadian itu ke Kepolisian Resort Kota Besar (Polrestabes) Semarang.

Di sentra pelayanan kepolisian dia menyampaikan kerugian fisik berupa pipi memar, tangan kiri sakit, telinga kiri sakit, kepala pusing. Pukulan keras di kepalanya membuat pendengarannya sempat terganggu sementara waktu.

Laporan diterima Kanit III Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu AKP Lilik Widagdo dengan nomor surat LP/279/II/2012/Jateng/Restabes. Namun meski telah sembilan hari berlalu, polisi belum menindaklanjuti laporan itu.

Kemarin, Selasa, (21/2) Chumaidi baru mendapat Surat bernomor Res 1.6/521/II/2012/Reskrim dari Polisi Penyidik, Kanit Idik I Satreskrim AKP Kuwat Slamet SH. Isinya, Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyelidikan berupa rencana mengundang para saksi mata kejadian untuk diminta klarifikasi (keterangan). Juga berisi permintaan agar Chumaidi menghubungi penyidik apabila sudah punya informasi untuk melengkapi pemeriksaan perkara.

Ketika wartawan menanyakan  soal belum adanya tindakan kepolisian, Kasubag Humas Polrestabes Kompol Willer Napitupulu memberi penjelasan singkat. Dia berjanji akan menindaklanjuti laporan itu dan akan melakukan penegakan hukum secara tegas.

“Akan kita tindak lanjuti, terima kasih masukannya, kami sangat terbantu.  Dalam penegakan hukum kita tegas. Bapak Kapolrestabes Elan Subilan sudah  sering menjelaskan, kalau penegakan hukum telah dilaksanakan dgn baik,” tuturnya.

Pihaknya juga akan mengecek sejauh mana penyidikan kasus itu dilakukan, serta memastikan akan menindaklanjutinya. Jika ada yang kurang puas atas kinerja polisi dia ajak untuk membicarakan agar menjadi sinergis.

“Kami akan cek sejauh mana penyelidikannya. Kami akan tindaklanjuti. Mari kita bicarakan hal-hal yang belum memuaskan. Kami sangat terbantu,” lanjutnya.

 

Pengurus Takmir Diintimidasi

            Pelaporan Ketua Takmir Masjid Nurul Hikmah, Ahmad Chumaidi ke kepolisian, membuat kelompok pria berjenggot semakin kalap. Mereka mengintimidasi para pengurus takmir masjid dan menebar fitnah di kalangan jamaah.

Praktis para pengurus takmir tidak tenang, ketakutan dan jamaah masjid dilanda ketegangan. Bahkan mulai ada upaya pemecahan sikap para pengurus takmir. Beberapa orang yang melihat langsung kejadian itu didatangi rumahnya dan ditakut-takuti agar tidak bersedia menjadi saksi jika diminta polisi. Sebagian sudah ada yang dipengaruhi agar berdamai saja, tidak melanjutkan di ranah hukum.

Dua orang pengurus takmir, Munawar dan Sunarto, kemarin telah menerima surat undangan dari Polrestabes Semarang untuk memberikan kesaksian pada 28 Faberuari mendatang. Namun Munawar yang biasa menjadi muadzin dan imam sholat Dhuhur dan Asar ini masih dalam posisi tertekan. Dia meminta saran dan pendampingan agar bisa lancar memberi keterangan di kantor polisi nanti.

Ketika reporter NU Online  kemarin ikut sholat berjamaah sholat Asar di masjid tersebut, Munawar dikelilingi enam pria bejenggot yang berdiri di belakangnya di shof pertama. Diantara mereka adalah yang pernah memaki-maki Chumaidi saat terjadi pengeroyokan. Sementara jamaah lainnya cenderung memilih tidak bersebelahan dengan kelompok celana cingkrang teresbut. Menurut Munawar, pelaku pengeroyok Chumaidi masih sering sholat berjamaah di masjidnya itu dan mereka merasa menang sebab tiada perlawanan.

“Mereka tetap berjamaah di sini, Mas. Sebab mereka tinggal di sekitar sini. Tadi Anda lihat sendiri, jamaah kami merasa terintimidasi. Saya juga perlu bimbingan untuk menjadi saksi di kantor polisi 28 Februari nanti,” ujarnya.

Atas situasi itu, sesuai saran berbagai pihak, Ketua Takmir Ahmad Chumaidi berencana akan segera menggelar rapat. Rapat direncakanan diadakan jauh dari masjid untuk menenangkan pikiran serta menguatkan hati para pengurus takmir. Agar mereka tidak ketakutan dan tidak goyah jika “diajak damai” di luar koridor hukum.

Karena ancaman dan teror itu terus datang, Chumaidi mengadu ke beberapa kyai Nahdlatul Ulama. Juga kepada anggota Ansor yang dia kenal, yang langsung diteruskan kepada Ketua GP Ansor Kota Semarang Syaichu Amrin.

Sebenarnya GP Ansor telah mengerahkan Banser di masjid tersebut saat ada peringatan Maulid Nabi Muhammad pada 14 Februari yang dihadiri Wakil Rais Am Syuriyah PBNU, KH Mustofa Bisri. Namun Kepala Satkorcab Banser Kota Semarang Margono tidak bisa berbincang soal kasus tersebut karena kesibukan penyelenggaraan acara Maulid.

            Selain itu, kaum berjenggot yang biasa disebut jamaah daulah dengan ciri khas senang khuruj (keluar) berkeliling menginap di masjid-masjid, tidak menghadiri pengajian Maulid tersebut karena menganggap kegiatan itu haram.

            “Saat ada Gus Mus saya tidak bisa berbincang dengan Banser karena sibuk menerima tamu. Waktu itu kelompok daulah juga tidak menampakkan diri. Mereka tidak pernah menghadiri acara hari besar Islam termasuk Maulid karena menurut mereka haram. Bid’ah dholalah,” terangnya. (ichwan)

Note: berita ini akan berlanjut besok. Karena saya sudah wawancara mengungkap kronologo peristiwa dan latar belakang terjadinya kasus tersebut.

           Terkirim melalui form Antar Kopi di http://www.warkopmbahlalar.com oleh:

Warkoper

 

45 KOMENTAR

  1. agak aneh y ceritanya…. ada jamaah daulah yang sering khuruj dan maulid dibilang bid’ah dholalah sama jamaah daulah…perasaan JT gak pernah melarang maulid nabi…. kalo salapi mgkn bisa jadi…wallahua’lam

    • Hehehe, JT kan masih Aswaja. Salapi nih biasanya yang hobinya main bid’ah-bid’ahan

  2. budak budak badui itu harus di lawan… tujuan mereka ingin merampas masjid masjid kita…. makanya harus di lawan biar tidak semena mena….

  3. Wahhhh..PRIA BERJENGGOTTT tu kterlaluannn…!!!pdhalll Bolo-bolonya banyak yg ga ngerti urusan agama…tauny cuma BID’AH.. tupun katanya…!!!sontoloyooo…

  4. ingat sejarahnya sahabat Ali Ra saat ditikam oleh Abdurahman bin Muljam seorang khawarij hingga meninggal saat beliau sedang menjalankan sholat. kaum berjenggot itu ternyata mengikuti jejak dan sunnah Abdurahman bin Muljam itu, itulah khawarij yang tugasnya suka berbuat onar n pemecah belah umat, mereka harus dimusnahkan gerakan dan pemikirannya

  5. Insya Alloh itu bukan JT. Jama’ah Tabligh tidak pernah melarang maulid apalagi pake cara-cara kekerasan. Ada 2 kemungkinan : Pertama, berita itu bohong. Kedua, peristiwa itu benar terjadi tapi pelakunya bukan JT. Agar tidak menjadi fitnah lebih baik ada tindak lanjut dari fihak-fihak yg berkepentingan. NU tidak pernah ada masalah dengan JT karena kebanyakan JT berasal dari NU.

  6. hmm, sebenarnya ana tidak percaya. soalnya tdak ada bukti berupa tersangka dalam psting ini.

    saran: seharusnya cantumkan juga foto tersangka dalam hal tersebut. supaya posting ini menjadi ilmiah.

    sangat disayangkan orang-orang masih sangat bodoh dalam menyikapi sebuah kabar berita. apakah itu benar ataukah hanya fitnah belaka.
    wallahul musta’an. jaman sudah modern tapa otak masih jaman batu.
    ditelisik dulu ya ikhwan-ikhwan yang ana hormati ^_^.

  7. Kami mohon Pihak kepolisian terus memproses sesuai dg hukum yg berlaku, kelompok2 tersebut memmang tidak bisa menerima kebenaran Agama, perilaku radikal dan extrem sampai kapanpun tidak bisa diterima oleh Umat..mudah mudahan Allah SWT memberikan hidayah kpd mereka.. Amin

  8. Beritanya Banyak yg Ditambah2in saya Warga bataco Dan Jamaah Masjid Nurul Hikmah dan saya juga Berjenggot, silahkan saja Datang ke Masjid kami Situasi aman terkendali , cuman orang2 yg menyebarkan berita itu aja yg merasa ketakutan, sebenernya sudah tidak ada masalah ….

  9. Saudara’ku cobak kita pikir, kenapa ta’mir bisa dipukulin…???
    Mungkin klo ta’mir itu kelakuannya baik, ndak akan terjadi pemukulan kepada si ta’mir itu… bener kan apa yg aku omongin… Cobak Antum-antum pikirkan???
    Terus Bagi Antum-antum yg ongomongnya ngalor-ngidol tidak jelas yg blom tau kebenaran’nya dan blom tau sifat TA’MIR itu jangan ngomong sembarangan !!!

  10. sebaiknya bertabayun bila ada berita dari orang fasik. semoga Alloh menolong orang orang yang teguh dengan sunnah..kasian bagi orang yang menghina hal hal yang disunahkan..akhi jenggot itu sunnah yang hukumnya wajib…kebencian pada orang berjenggot,hakikatnya benci kpd yang membuat syariat…Allohu mustaan

  11. itu bajingan salafi/wahabi mas…bukan jamaah tabligh/jaulah (bukan daulah) bikin berita yg akurat biar ga kena tuntut diakhirat. ingat, bicara benar saja gibah, apalagi salah…jadi fitnah.
    inshaAllah jamaah tabligh selalu bertahlil,bershalawat,tdk anti maulid,dan bermuamalah n muasyarah baik dgn semua ummat.
    kalau imam mahdi datang dan menyeru ummat islam utk perangi musuh islam, inshaAllah salafi/wahabi yg duluan ana tebas lehernya

  12. Maaf kl mnyebut kaum berjenggot brarti termasuk rasul dan para sahabat ny donk..krna mereka smua berjenggot

  13. Pensyari’atan jenggot dalam Islam adalah khusus bagi laki-laki (bukan pada wanita) dan bagi mereka yang memang Allah karuniai jenggot yang tumbuh di pipi dan dagunya [1]. Jika memang seseorang yang ”dari sananya” tidak tumbuh jenggot, tentu tidak dikenai kewajiban (memelihara) jenggot. Allah telah berfirman :

    لا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلا وُسْعَهَا لَهَا

    ”Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya” [QS. Al-Baqarah : 286].

    Permasalahannya adalah bagi mereka (laki-laki) yang mempunyai jengot, namun malah memangkas atau mencukurnya. Inilah yang dijadikan khithab (objek yang diajak bicara) dari sabda Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dalam banyak haditsnya. Dan inilah yang dijadikan bahasan para ulama kita semenjak dahulu sampai dengan sekarang. Pembicaraan atau khilaf mengenai hukum memelihara jenggot itu secara garis besar terangkum dalam 4 (empat) pendapat masyhur. Namun sebelumnya perlu ditekankan bahwa khilaf ini sebatas pada khilaf terhadap jenggot yang panjangnya melebihi genggaman tangan. Khilaf ini tidak mencakup perbuatan mencukur pendek-pendek atau mencukur habis jenggot, sebab madzhab empat dan selainnya (Hanafiyyah, Malikiyyah, Syafi’iyyah, Hanabilah, dan Dhahiriyyah) telah sepakat tentang keharamannya. Khilaf tersebut adalah sebagai berikut : [2]

    1. Tidak memotong jenggot sama sekali dengan membiarkannya sebagaimana adanya. Ini adalah pendapat yang dipilih oleh Asy-Syafi’i dalam satu nukilan (Al-’Iraqi), sebagian ulama Syafi’iyyah, sebagian ulama Hanabilah, dan beberapa ulama yang lainnya.

    Pendapat ini berhujjah dengan keumuman hadits Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam :

    خالفوا المشركين وفروا اللحى وأحفوا الشوارب

    ”Selisilah oleh kalian orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot dan potonglah kumis” [HR. Al-Bukhari no. 5553 dan Muslim no. 259].

    أحفوا الشوارب وأعفوا اللحى

    ”Potonglah kumis kalian dan peliharalah jenggot” [HR. Muslim no. 259].

    انهكوا الشوارب وأعفوا اللحى

    ”Potong sampai habis kumis kalian dan peliharalah jenggot” [HR. Al-Bukhari no. 5554].

    جزوا الشوارب وأرخوا اللحى خالفوا المجوس

    ”Potong/cukurlah kumis kalian dan panjangkanlah jenggot. Selisilah oleh kalian kaum Majusi” [HR. Muslim no. 260].

    إن أهل الشرك يعفون شواربهم ويحفون لحاهم فخالفوهم فاعفوا اللحى وأحفوا الشوارب

    ”Sesungguhnya orang musyrik itu membiarkan kumis mereka lebat. Maka selisihilah mereka ! Peliharalah jenggot dan potonglah kumis kalian” [HR. Al-Bazzar no. 8123; hasan].

    عن بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه أمر بإحفاء الشوارب وإعفاء اللحية

    Dari Ibnu ’Umar, dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : ”Bahwasannya beliau memerintahkan untuk memotong kumis dan memelihara jenggot” [HR. Muslim no. 259].

    Menurut kaidah ushul-fiqh, semua lafadh yang mengandung perintah menunjukkan makna wajib kecuali ada dalil yang memalingkannya.[3] Menurut mereka, tidak ada dalil shahih, sharih (jelas), lagi setara yang memalingkan dari kewajiban ini.

    Ahmad bin Qaasim Al-’Abbaadi Asy-Syafi’i berkata :

    قال ابن الرِّفْعة في حاشية الكفاية: إن الإمام الشافعي قد نصَّ في الأم على تحريم حلق اللحية ، وكذلك نصَّ الزَّرْكَشِيُّ والحُلَيْميُّ في شُعَب الإيمان وأستاذُه القَفَّالُ الشاشيُّ في محاسن الشريعة على تحريم حلق اللحية

    ”Telah berkata Ibnur-Rif’ah dalam kitab Haasyiyah Al-Kifaayah : ’Sesungguhnya Imam Asy-Syafi’i telah menegaskan dalam kitab Al-Umm tentang keharaman mencukur jenggot. Dan begitu pula yang ditegaskan oleh Az-Zarkasyi dan Al-Hulaimi dalam kitab Syu’abul-Iman, dan gurunya (yaitu) Al-Qaffaal Asy-Syaasyi dalam kitab Mahaasinusy-Syar’iyyah atas keharaman mencukur jenggot” [Hukmud-Diin fil-Lihyah wat-Tadkhiin oleh ’Ali Al-Halaby hal. 31].

    An-Nawawi berkata :

    والمختار تركها على حالها, وألا يتعرض لها بتقصير شيء أصلاً

    ”Pendapat yang terpilih adalah membiarkan jenggot sebagaimana adanya, dan tidak memendekkannya sama sekali” [Syarh Shahih Muslim 2/154].

    Al-Hafidh Al-’Iraqi berkata :

    واستدل الجمهور على أن الأولى ترك اللحية على حالها, وأن لا يقطع منها شيء, وهو قول الشافعي وأصحابه

    ”Jumhur ulama berkesimpulan pada pendapat pertama untuk membiarkan jenggot sebagaimana adanya, tidak memotongnya sedikitpun. Hal itu merupakan perkataan/pendapat Imam Asy-Syafi’i dan para shahabatnya” [Tharhut-Tatsrib 2/83].

    Al-Qurthubi berkata :

    لا يجوز حلقها ولا نتفها ولا قصها

    ”Tidak diperbolehkan untuk mencukur, mencabut, dan memangkas jenggot” [Tahriimu Halqil-Lihaa oleh ’Abdurrahman bin Qasim Al-’Ashimi Al-Hanbaly hal. 5].

    As-Saffarini Al-Hanbaly berkata :

    المعتمد في المذهب ، حُرمَةُ حَلْقِ اللحية

    ”Pendapat yang mu’tamad (resmi/dapat dipercaya) dalam Madzhab (Hanabilah) adalah diharamkannya mencukur jenggot” [Ghadzaaul-Albaab 1/376].

    Abu Syaammah Al-Maqdisy Asy-Syafi’y berkata :

    وقد حدث قوم يحلقون لحاهم وهو أشد مما نقل عن المجوس أنهم كانوا يقصونها

    ”Telah ada suatu kaum yang biasa mencukur jenggotnya (sampai habis). Hal itu lebih parah dari apa yang ternukil dari orang Majusi dimana mereka hanya memotongnya saja (tidak sampai habis)” [Fathul-Bari 10/351 no. 5553].

    2. Membiarkan jenggot sebagaimana adanya, kecuali dalam ibadah haji dan ’umrah dimana diperbolehkan memotong apa-apa yang berada di bawah genggaman tangan dari panjang jenggotnya. Pendapat ini merupakan pendapat yang dipegang oleh mayoritas tabi’in, Asy-Syafi’i, (hal yang disukai) oleh Malik, dan ulama yang lainnya. Pendapat ini dibangun dengan dalil yang disampaikan oleh pendapat pertama yang kemudian ditaqyid dengan atsar Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma :

    عن نافع عن بن عمر عن النبي صلى الله عليه وسلم قال خالفوا المشركين وفروا اللحى وأحفوا الشوارب وكان بن عمر إذا حج أو اعتمر قبض على لحيته فما فضل أخذه

    Dari Nafi’, dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam, beliau bersabda : ”Selisilah oleh kalian orang-orang musyrik, lebatkanlah jenggot dan potonglah kumis”. (Nafi’ berkata : ) ”Adalah Ibnu ’Umar, jika ia menunaikan ibadah haji atau ’umrah, maka ia menggenggam jenggotnya. Maka apa-apa yang melebihi dari genggaman tersebut, ia potong” [HR. Bukhari no. 5553 dan Muslim no. 259].

    عن نافع أن عبد الله بن عمر كان إذا أفطر من رمضان وهو يريد الحج لم يأخذ من رأسه ولا من لحيته شيئا حتى يحج

    Dari Nafi’ : Bahwasanya Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma apabila datang bulan Ramadlan, dan ia ingin melakukan ibadah haji, maka ia tidak memotong rambut kepalanya dan jenggotnya sedikitpun hingga ia benar-benar melaksanakan haji” [HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ Kitaabun-Nikaah 1/396, dan darinya Asy-Syafi’i meriwayatkan dalam Al-Umm 7/253].

    عن مروان يعني بن سالم المقفع قال رأيت بن عمر يقبض على لحيته فيقطع ما زاد على الكف

    Dari Marwan – yaitu Ibnu Saalim Al-Muqaffa’ – ia berkata : ”Aku pernah melihat Ibnu ’Umar menggenggam jenggotnya, lalu ia memotong apa-apa yang melebihi telapak tangannya” [HR. Abu Dawud no. 2357; hasan].

    ’Atha’ bin Abi Rabbah juga telah menceritakan/menghikayatkan dari sekelompok shahabat (dan tabi’in) dimana ia berkata :

    كانوا يحبون أن يعفوا اللحية إلا في حج أو عمر.

    ”Mereka (para shahabat dan tabi’in) menyukai untuk memelihara jenggot, kecuali saat haji dan ’umrah (dimana mereka memotongnya apa-apa di bawah genggaman tangan)” [HR. Ibnu Abi Syaibah 5/25482 dengan sanad shahih] [4].

    Madzhab Imam Malik adalah sebagaimana tertera dalam Al-Muwaththa’ dimana beliau membawakan riwayat Ibnu ’Umar yang membolehkan memotong jenggot yang melebihi genggaman tangan di waktu haji dan ’umrah [Al-Muwaththa’ 1/318]. Imam Malik tidak memberikan kelongaran dalam memotong jenggot kecuali saat haji dan ’umrah [Ikhtilaaful-Imam Malik wasy-Syafi’i 7/253]. Beliau hanya menyukainya saja dan tidak mewajibkannya [Al-Mudawwanah 2/430].

    Ar-Rabi’ bin Sulaiman bin ’Abdil-Jabbar bin Kamil (salah seorang murid besar dari Imam Asy-Syafi’i) meriwayatkan bahwa Imam Asy-Syafi’i membolehkan memotong jenggot yang panjangnya melebihi satu genggam berdasarkan riwayat Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma. Ar-Rabi’ berkata :

    قال الشافعي: وأخبرنا مالك عن نافع أن ابن عمر كان إذا حلق في حج أو عمرة أخذ من لحيته وشاربه.
    [قال الربيع]: قلت: فإنا نقول( ) : ليس على أحد الأخذ من لحيته وشاربه، إنما النسك في الرأس؟
    قال الشافعي: وهذا مما تركتم عليه بغير رواية عن غيره عندكم علمتها.

    ”Telah berkata Asy-Syafi’i : Telah mengkhabarkan kepada kami Malik (bin Anas) dari Nafi’ : Bahwasannya Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma apabila mencukur (rambut) ketika ibadah haji, maka beliau memotong jenggotnya (selebih dari genggaman tangan) dan kumisnya”. Aku (yaitu Ar-Rabi’) berkata : ”Sesungguhnya kami berkata : Tidak boleh bagi seorangpun untuk memotong jenggot dan kumisnya. Bukankah dalam ibadah haji hanya disyari’atkan mencukur kepala saja ?”. Maka Asy-Syafi’i berkata : ”Ini termasuk hal yang kalian tinggalkan atasnya tanpa dasar riwayat dari selainnya di sisi kalian yang aku ketahui” [Ikhtilaaful-Imam Malik wasy-Syafi’i 7/253]. Di sini Imam Asy-Syafi’i memegang atsar Ibnu ’Umar dalam hal tersebut.

    Dalam kitab lain Imam Asy-Syafi’i berkata :

    وأحب إلي لو أخذ من لحيته وشاربه، حتى يضع من شعره شيئاً لله، وإن لم يفعل فلا شيء عليه، لأن النسك إنما هو في الرأس لا في اللحية.

    ”Aku menyukai jika ia memotong jenggot dan kumisnya, hingga ia meletakkan dari rambutnya sesuatu karena Allah. Jika ia tidak melakukannya, maka tidak apa-apa baginya, karena dalam ibadah haji yang wajib hanyalah (memotong) rambut kepala, tidak pada jenggot” [Al-Umm 2/2032].

    3. Diperbolehkan memotong jenggot yang terlalu panjang (yang melebihi batas genggaman tangan) sehingga membuat jelek penampilannya. Pendapat ini merupakan pendapat masyhur dari Malik bin Anas dan Qadli ’Iyadl.

    Perkataan Imam Malik tentang bolehnya memotong jenggot karena panjangnya sehingga nampak padanya aib adalah sebagaimana terdapat dalam At-Tamhid karya Ibnu ’Abdil-Barr (24/145) dan Al-Muntaqaa karya Al-Baaji (3/32). [5]

    Telah berkata Al-Qadli ’Iyadl ;

    يكره حلق اللحية وقصها وتحذيفها وأما الأخذ من طولها وعرضها إذا عظمت فحسن بل تكره الشهرة في تعظيمها كما يكره في تقصيرها

    ”Mencukur, memangkas, dan mencabut jenggot adalah dibenci. Adapun jika ia memotong karena terlalu panjang dan (menjaga) kehormatannya jika ia membiarkannya (sehingga nampak jelek), maka itu adalah baik. Akan tetapi dibenci untuk membiarkan selama sebulan[6] sebagaimana dibenci untuk memendekkannya” [Fathul-Baari 10/351 no. 5553].

    4. Disukai untuk memotong jenggot yang melebihi satu genggam secara mutlak, tidak dibatasi oleh waktu haji dan ’umrah. Pendapat ini merupakan pendapat masyhur dari kalangan Hanafiyyah, Imam Ahmad dan sebagian ulama Hanabilah, serta sebagian tabi’in.

    Telah berkata Muhammad bin Al-Hasan – shahabat besar Abu Hanifah – rahimahumallah :

    أخبرنا أبو حنيفة عن الهيثم عن ابن عمر -رضي الله عنهما-: أنه كان يقبض على لحيته ثم يقص ما تحت القبضة. قال محمد: وبه نأخذ، وهو قول أبي حنيفة.

    ”Telah mengkhabarkan kepadaku Abu Hanifah, dari Al-Haitsam, dari Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma : Bahwasannya ia (Ibnu ’Umar) menggenggam jenggotnya, kemudian memotong apa-apa yang berada di bawah genggaman tersebut”. Berkata Muhammad (bin Al-Hasan) : Kami mengambil pendapat tersebut. Dan itulah perkataan Abu Hanifah” [Al-Aatsaar 900].

    Ibnu ’Abidin Al-Hanafy berkata :

    ويحرم على الرجل قطع لحيته ـ أي حلقها, وصرح في النهاية بوجوب قطع ما زاد على القبضة, وأما الأخذ منها وهي دون ذلك كما يفعله بعض المغاربة ومخنثة الرجال, فلم يبحه أحد, وأخذ كلها فعل يهود الهند, ومجوس الأعاجم

    ”Dan diharamkan bagi seorang laki-laki memotong jenggotnya – yaitu mencukurnya. Dan telah dijelaskan dalam An-Nihayah atas wajibnya memotong apa-apa yang melebihi genggaman tangan. Adapun mengambil kurang dari itu (yaitu memotong jenggot yang belum melebihi satu genggaman tangan) – sebagaimana yang dilakukan sebagian orang-orang Maghrib dan orang-orang banci, maka tidak seorang pun ulama yang membolehkannya. Dan memotong seluruh jenggot merupakan perbuatan orang-orang Yahudi Hindustan dan orang-orang Majusi A’jaam (non-Arab)” [Raddul-Mukhtaar 2/418].

    Madzhab Imam Ahmad bin Hanbal adalah membolehkan memotong/mencukur jenggot selebih genggaman tangan, namun tidak boleh kurang dari itu. Telah berkata Al-Khalaal : Telah mengkhabarkan kepadaku Harb, ia berkata : Ahmad (bin Hanbal) pernah ditanya tentang memotong jenggot. Maka beliau menjawab : ”Sesungguhnya Ibnu ’Umar memotongnya, yaitu rambut jenggot yang melebihi genggaman tangannya”. (Harb berkata) : ”Seakan-akan beliau berpendapat dengan perbuatan Ibnu ’Umar tersebut”. Aku (Harb) bertanya kepada beliau : ”Apa hukumnya memelihara (jenggot) ?”. Beliau berkata : ”Telah diriwayatkan dari Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (tentang perintah tersebut)”. Harb berkata : ”Seakan-akan beliau berpendapat tentang wajibnya memelihara jenggot (yaitu tidak boleh memotongnya sama sekali)”. Selanjutnya Al-Khalaal berkata : Telah mengkhabarkan kepadaku Muhammad bin Harun, bahwasannya Ishaq (bin Haani’) telah menceritakan kepada mereka, bahwa ia berkata : ”Aku bertanya kepada Ahmad (bin Hanbal) tentang seorang laki-laki yang memotong rambut yang tumbuh di kedua pipinya”. Maka beliau menjawab : ”Hendaknya ia memotong jenggotnya yang panjangnya melebihi genggaman tangan”. Aku (Ishaaq) berkata : ”Bagaimana dengan hadits Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam : Potonglah kumis dan peliharalah jenggot ?”. Maka beliau menjawab : ”Hendaknya ia memotong karena panjang jenggotnya (yang melebihi genggaman tangan), dan (rambut yang tumbuh) di bawah tenggorokannya”. (Ishaq berkata) : Aku melihat Abu ’Abdillah (Ahmad bin Hanbal) memotong panjang jenggotnya (yang melebihi genggaman tangan) dan (rambut yang tumbuh) di bawah tenggorokannya” [Kitab At-Tarajjul min Kitaabil-Jaami’ hal. 113-114].

    Tarjih : Pendapat yang paling kuat menurut kami adalah pendapat kedua yang membolehkan memotong jenggot jika telah melebihi genggaman tangan pada waktu haji dan ’umrah. Atsar Ibnu ’Umar merupakan pentaqyid yang sangat jelas, yaitu berkaitan dengan waktu dan batasan panjang yang diperbolehkan [7]. Taqyid ini merupakan ijma’ (yaitu jenis ijma’ sukuti) yang terjadi di kalangan shahabat tanpa ternukil adanya pengingkaran. Dan sangat mungkin ini juga merupakan ijma’ yang terjadi di kalangan tabi’in. Apalagi diperkuat oleh atsar shahih dari ’Atha’ dalam Mushannaf Ibnu Abi Syaibah.

    Wajib hukumnya memelihara (membiarkan) jenggot menurut nash yang jelas dari As-Sunnah, dan haram hukumnya memotong lebih pendek dari genggaman tangan atau bahkan mencukur habis keseluruhan jenggot. Namun jika memang sudah terlalu panjang sehingga memperburuk penampilan, diperbolehkan untuk memotongnya dengan batasan yang telah ditentukan syari’at (tidak boleh lebih pendek dari satu genggam).

    Di sini mungkin perlu kami ingatkan tentang ucapan Ibnu Hazm :

    واتفقوا أن حلق جميع اللحية مثلة لا تجوز

    ”Para ulama sepakat (ijma’) bahwa mencukur seluruh jenggot adalah tidak diperbolehkan (haram)” [Maraatibul-Ijmaa’ hal 157].

    Hal tersebut sebagaimana juga dikatakan oleh Abul-Hasan bin Qaththaan Al-Maliki dalam kitab Al-Iqnaa’ fii Masaailil-Ijmaa’ 2/3953.

    Sebagai seorang muslim, menjadi keharusan untuk mematuhi perintah Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dan mencontoh sifat-sifat yang ada padanya [8].

    Mudlarat dari Memotong/Mencukur Jenggot

    1. Menyelisihi perkara-perkara Nubuwwah yang datang dari Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam – yang tiadalah yang diucapkan beliau itu menurut kemauan hawa nafsunya – untuk memelihara jenggot. Allah ta’ala telah berfirman :

    فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

    ”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih” [QS. An-Nuur : 63].

    2. Penyelisihi perkataan-perkataan ahlul-’ilmi (ulama) – para pewaris Nabi – yang kita diperintahkan untuk mentaatinya, sebagaimana firman Allah ta’ala :

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ

    ”Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu” [QS. An-Nisaa’ : 59].

    3. Menyelisihi petunjuk para nabi dan rasul dalam hal yang umum, dimana sunnah-sunnah mereka semuanya adalah memelihara jenggot. Allah ta’ala telah berfirman :

    أُوْلَـئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُل لاَّ أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْراً إِنْ هُوَ إِلاَّ ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ

    ”Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: “Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al-Quran).” Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat” [QS. Al-An’aam : 90].

    4. Menyelisihi petunjuk nabi kita Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam dalam hal yang khusus, karena Allah telah memerintahkan kita untuk ber-ittiba’ kepada beliau :

    َومَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

    ”Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah; dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya” [QS. Al-Hasyr : 7].

    لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيراً

    ”Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” [QS. Al-Ahzaab : 21].

    5. Menyelisihi petunjuk para pendahulu kita yang shalih (salafunash-shaalih) dari kalangan shahabat dan para tabi’in radliyallaahu ’anhum ajma’in dimana tidak diketahui satupun di antara mereka yang mencukur (pendek-pendek/habis) jenggotnya. Mereka adalah para imam kita dalam petunjuk, contoh kita dalam kebaikan, dan bintang-bintang kita yang menerangi dalam kegelapan. Mereka adalah kaum yang tidak akan mencelakan orang yang mengikutinya dengan idzin Allah.

    6. Menyelisihi sunnah-sunnah fithrah yang telah Allah tetapkan pada manusia. Allah berfirman :

    فطْرَةَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ

    ”(Tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah” [QS. Ar-Ruum : 30].

    7. Merubah ciptaan Allah tabaraka wata’ala, padahal semua ciptaan Allah adalah baik. [9]

    8. Menyerupai orang-orang musyrikin, Yahudi, dan penyembah berhala. Padahal Allah telah memerintahkan kita untuk menyelisihi mereka.

    9. Menyerupai wanita. Allah telah berfirman :

    وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالأُنثَى

    ”Dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan” [QS. Ali-’Imran : 36].

    10. Mengingkari karunia nikmat (jenggot) ini, dimana telah Allah muliakan laki-laki dengannya.

    11. Dan yang lain-lain.

    Peringatan :

    1. Atsar Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin rahimahumallah :

    وكيع عن أبي هلال قال : سألت الحسن وابن سيرين فقالا : لا بأس به أن تأخذ من طول لحيتك.

    Dari Waki’, dari Abu Hilal ia berkata : Aku bertanya kepada Al-Hasan (Al-Bashri) dan Ibnu Sirin (tentang hukum memotong jenggot), maka mereka menjawab : “Tidak mengapa untuk mengambil/memotong dari panjang jenggotmu” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 5/226].

    Atsar ini adalah dla’if karena kebersendirian Abu Hilaal Ar-Raasiby. Ia adalah seorang rawi yang diperbincangkan yang seseorang tidak boleh berhujjah dengannya jika bersendirian dalam meriwayatkan hadits.

    Ibnu Hajar berkata : Ia seorang yang shaduq, tapi layyin (lemah haditsnya)” [At-Taqrib no. 5923].

    Adz-Dzahabi berkata : ”Abu Dawud mentsiqahkannya; Abu Hatim berkata : Tempatnya kejujuran; tapi tidak kokoh; An-Nasa’i berkata : Tidak kuat (laisa bil-qawiy); Ibnu Ma’in : Shaduq, dituduh sebagai Qadariyyah; Al-Fallaas berkata : Yahya bin Sa’id tidak meriwayatkan hadits dari Abu Hilal, namun Abdurrahman meriwayatkan darinya” [Mizaanul-I’tidaal no. 7646]. Imam Bukhari memasukkannya sebagai perawi dla’if dalam kitab Adl-Dlu’afaa Ash-Shaghiir (no. 324).

    2. Atsar Thawus bin Kaisan rahimahullah :

    أبو خالد عن ابن جريج عن ابن طاوس عن أبيه أنه كان يأخذ من لحيته ولا يوجبه.

    Dari Abu Khalid, dari Ibnu Juraij, dari Ibnu Thawus, dari bapaknya (Thawus) : ”Bahwasannya ia (Thawus) memotong jenggotnya namun tidak mewajibkannya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 5/226].

    Atsar ini dla’if karena kebersendirian Ibnu Juraij. Ia adalah seorang mudallis yang jelek (qabiih) tadlisnya. Ia meriwayatkan secara ’an’anah dan tidak disebutkan dalam riwayat tersebut tentang penegasan sima’-nya.

    3. Pada beberapa sumber sering dinukil perkataan yang dinisbatkan pada Ibnu ’Abdil-Barr dalam kitab At-Tamhiid :

    ويحرم حلق اللحية ، ولا يفعله إلا المخنثون من الرجال

    ”Diharamkan mencukur jenggot. Tidak ada yang melakukannya kecuali dari kalangan laki-laki banci” [selesai].

    Maka ini bukanlah perkataan Ibnu ’Abdil-Barr. Tidak terdapat dalam kitabnya, baik dalam At-Tamhiid ataupun Al-Istidzkaar. Namun anehnya perkataan ini termuat dan ternukil oleh sebagaian ulama besar kita yang kemudian dinisbatkan sebagaimana di atas.

    Semoga apa yang saya tulis di sini dapat bermanfaat bagi ilmu dan amal kita. Amien…………. Wallaahu a’lam bish-shawwab.

    Abul-Jauzaa’ – lewat tengah malam, Jumadil-Ula 1429 [edited 1430 H].

    [1] Jenggot dalam bahasa Arab disebut Al-Lihyah (اَللِّحْيَةُ). Al-Fairuz Abadi berkata tentang definisi dari Al-Lihyah : {شعْرُ الخدَّيْن و الذَّقنِ} ”rambut (yang tumbuh) di kedua pipi dan dagu” [Al-Qamus Al-Muhith 4/387]. Hal yang sama dinukil dari Ibnu Mandhur dalam Lisaanul-’Arab : { اسم يجمع من الشعر ما نبت على الخدّين والذقَن } ”nama bagi semua rambut yang tumbuh pada kedua pipi dan dagu”.

    [2] Sebagaimana disarikan oleh Abu Ahmad Al-Hadzaly dalam Multaqaa Ahlil-Hadits yang diambil dari kitab I’faaul-Lihyah hal. 29-30, Fathul-Baari 10/350, dan Juzzul-Masaalik 15/6.

    [3] Dalam pembahasan Ushul Fiqh, para ulama telah menjelaskan :

    صيغة الأمر عند الإطلاق تقتضي: وجوب المأمور به، والمبادرة بفعله فوراً.

    “Bentuk perintah secara mutlak/ umum memberi konsekuensi: wajibnya sesuatu yang diperintahkan dan bersegera dalam melakukannya secara langsung”.

    Di antara dalil yang digunakan para ulama untuk membangun kaidah ini antara lain :

    فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيم

    ”Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul, takut akan ditimpa fitnah atau ditimpa azab yang pedih” [QS. An-Nuur : 63]. [lihat Al-Ushul min ‘Ilmil-Ushul oleh Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah].

    [4] ’Atha’ telah memutlakkan perbuatan dari para shahabat dan tabi’in untuk memotong jenggot ketika haji dan ’umrah. Sifat kemutlakan lafadh ’Atha’ ini dalam memotong jenggot ini dijelaskan oleh perbuatan Ibnu ’Umar dalam haji dan ’umrah bahwa yang dipotong itu adalah selebih dari genggaman tangan. ’Atha’ adalah salah satu murid Ibnu ’Umar radliyallaahu ’anhuma. Apa yang diriwayatkan oleh ’Atha’ ini sekaligus menafsiri apa yang diriwayatkan oleh ulama dari kalangan tabi’in lain yaitu Al-Qaasim bin Muhammad.

    عن أفلح قال: كان القاسم إذا حلق رأسه أخذ من لحيته وشاربه

    Dari Aflah ia berkata : ”Adalah Al-Qaasim jika ia mencukur kepalanya (waktu haji atau ’umrah), maka ia pun memotong jenggot dan kumisnya” [HR. Ibnu Abi Syaibah 5/225; shahih].

    Al-Qaasim mencukur jenggotnya di waktu haji dan ’umrah adalah selebih dari genggaman tangan sebagaimana dilakukan oleh pembesar shahabat dan tabi’in lainnya.

    [5] Dinukil melalui perantaraan risalah Asy-Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Asmary yang berjudul : Hukmul-Akhdzi minal-Lihyah yang dipublikasikan dalam http://www.saaid.net; sebagaimana juga ternukil dalam pembahasan Multaqaa Ahlil-Hadiits (berjudul : هل يوجد قول معتبر يجوز الأخذ من اللحية ما دون القبضة ؟؟).

    [6] Perkataan Al-Qadli ‘Iyadl tentang dibencinya membiarkan jenggot selama satu bulan jangan diartikan boleh mencukur selama satu bulan secara mutlak (sebagaimana dijadikan hujjah sebagian orang muta’akhkhirin). Maksud perkataan beliau adalah bahwa beliau membenci jenggot dibiarkan selama satu bulan jika telah melebihi satu genggaman tangan jika membuat jeleknya penampilan. Beliau berkata dalam Syarah Shahih Muslim sebagai berikut :

    يُكْرَه حَلْقهَا وَقَصّهَا وَتَحْرِيقهَا , وَأَمَّا الْأَخْذ مِنْ طُولهَا وَعَرْضهَا فَحَسَن , وَتُكْرَه الشُّهْرَة فِي تَعْظِيمهَا كَمَا تُكْرَه فِي قَصِّهَا وَجَزّهَا . قَالَ : وَقَدْ اِخْتَلَفَ السَّلَف هَلْ لِذَلِكَ حَدّ ؟ فَمِنْهُمْ مَنْ لَمْ يُحَدِّد شَيْئًا فِي ذَلِكَ إِلَّا أَنَّهُ لَا يَتْرُكهَا لِحَدّ الشُّهْرَة وَيَأْخُذ مِنْهَا , وَكَرِهَ مَالِك طُولهَا جِدًّا , وَمِنْهُمْ مَنْ حَدَّدَ بِمَا زَادَ عَلَى الْقَبْضَة فَيُزَال , وَمِنْهُمْ مَنْ كَرِهَ الْأَخْذ مِنْهَا إِلَّا فِي حَجّ أَوْ عَمْرَة

    ”Dimakruhkan untuk mencukur, memotong, dan membakar jenggot. Adapun memotong karena saking panjangnya dan (menjaga) kehormatannya (yang jika dibiarkan nampak jelek/keji), maka hal itu baik. Dan dimakruhkan membiarkannya selama sebulan sebagaimana dimakruhkan untuk memotong dan mencukurnya. Dan para ulama salaf telah berbeda pendapat, apakah dalam hal ini terdapat batasan ? Diantara mereka ada yang tidak memberikan batasan apapun, namun mereka tidak membiarkannya terus memanjang selama satu bulan, dan segera memotongnya bila telah mencapai satu bulan. Dan Malik membenci/memakruhkan jika jenggot tersebut terlalu panjang. Di antara mereka (ulama) ada yang memberi batasan, apa-apa yang melebihi genggaman tangan maka boleh dihilangkan/dipotong. Dan di antara mereka ada pula yang membenci memotongnya kecuali saat haji dan ’umrah” [selesai].

    Di sini jelas bahwa Al-Qadli ’Iyadl tidak memperbolehkan memotong jenggot yang panjangnya kurang dari genggaman tangan, sebab yang menjadi sebab adalah terlalu panjang sehingga memperburuk penampilan. Wallaahu a’lam.

    [7] Jika ada dalil muthlaq dan muqayyad tentang satu hal yang mempunyai kesamaan sebab dan hukum, maka dalil muthlaq harus dibawa kepada dalil muqayyad (hamlul-muthlaq ‘alal-muqayyad wajibun) [silakan lihat kaidah ini dalam kitab Irsyaadul-Fuhuul oleh Imam Asy-Syaukani hal. 213-214; Maktabah Sahab].

    [8] Dan Rasulullah shallallaahu’alaihi wasallam adalah orang yang memelihara jenggotnya, sebagaimana yang diceritakan oleh Anas bin Malik tentang jenggot beliau :

    ما عددت في رأس رسول الله صلى الله عليه وسلم ولحيته إلا أربع عشرة شعرة بيضاء

    ”Tidaklah aku menghitung sesuatu di kepala dan jenggot Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam melainkan aku dapatkan sebanyak empatbelas buah uban [HR. Tirmidzi dalam Mukhtashar Asy-Syamaail no. 31; shahih].

    [9] Waliyullah Ad-Dahlawi berkata :

    وقصها ـ أي اللحية ـ سنة المجوس, وفيه تغيير خلق الله

    ”Mencukurnya – yaitu mencukur jenggot – merupakan sunnah kaum Majusi. Hal itu terdapat perbuatan merubah ciptaan Allah” [Al-Hujjatul-Baalighah 1/182].

    Sumber : Blog Abul -jauzaa di : http://abul-jauzaa.blogspot.com/2008/05/hukum-jenggot-dalam-syariat-islam.html

  14. Jenggot panjang,,,itu sunah. celana \sarung di atas mata kaki jg sunah. dan sekarang banyak kelompok mengamalkan sunah. jadi gak bisa kita nuduh kelompok mana,,,,tanpa tau kelompok dia,

  15. Penulisan artikel ini berbau fitnah dan berat sebelah:
    1. Sama sekali tidak disebutkan alasan pengeroyokan.
    2. Pen-diskreditan “kaum berjenggot”. Rasulullah pun berjenggot, dan jenggot disunnahkan.

  16. Alhamdulillah, dapat ilmu lagi tentang dalil-dalil disunnahkan berjenggot, tambahin dong dalil tentang isbal (red: jingkrang).
    Terimakasih ya mbah….

  17. Kayaknya penulis ini udah mirip karya da’zzal sang pembawa fitah . .
    Hati hati fitnah da’zzal benar di bilang salah dan sebaliknya , neraka di bilang surga dan sebaliknya . . .

  18. yang beginian nih yg provokatifyg berjenggot yg mn.?
    iini sih pendiskreditan orang berjenggot, Rosululloh pun berjenggot dan itu sunnah
    pasti cuma preman berjenggot tuh

  19. buat yg nulis artikel ini n percaya artikel ini,banyak2 istighfar n sholat tobat.trus banyak belajar.Hari gini siapapun pelaku penganiayaan pasti d tangkap,sedangkan yang kabur aja dicarii,palagi yang masih berada di tempat n dengan santainy dia sholat ga ditangkap,kan ga mungkin.BERARTI BERITA INI BOOHOONG.Trus buat imam yang dipukul,kenaapa tiba2 kamu di pukul,TUKAN GA MUNGKIN LAGI.Trus klo mang imam tu orang yang benar n bagus.siapaun orangnya pasti bersedia jadi sasksi walaupun di ancam BERARTI IMAMNYA DALAM TANDA KUTIP.Masalah yang berjenggot n celana jingkrak tu.bukan JT aja kali yang gitu.Trus buat yang kuruj di mesjid.pa yang mukul itu orangnya.JANGAN SUKA NAMBAHI KATA2 DEMI NGEYAKINI PEMBACA.Trus buat masalah Maulid,bahkan suami saya n JT yang lain tiap tahun panitia maulid.masalah bid’ah,g pernah kami bilang2bid’ah.karena yang berhak menilai seseorang itu hanya Allah.Oh ya buat pembaca yang trprovokasi.JANGAN SUKA MENILAI DARI SEBELAH PIHAK N JANGAN SUKA MEMVONIS KARENA YANG BERJENGGOT TU BUKAN JT AJA.TOOOLLLOOONG JANGAN SAMAKAN KAMI DENGAN MEREKAAA.Bukalah mata hati kalian..
    Apakah kami keluar kuruj tu menyusahkan kalian kan enggakkan.pa kalian tidak suka diingat kan tuk mengingat Allah.(naujubillah).Insyaallah suami saya niat 4bulan tiap tahun.amiiin

  20. lah, mana pernah ntu tabayyun, kali kata kiyayinya ngono, ya wes ngono ra oleh ngene.
    entahlah asumsi itu salah bener yang penting manut kiyayine.
    ya berita-berita macam beginilah yang bikin menebar fitnah kebencian.
    validasi nggak ada,
    sumber nggak jelas,
    tuduhan kepada orang lain, tapi yang kena orang yang lainnya lagi
    keterbatasan pengetahuan,
    tapi taqlidnya buta.

  21. web kok isinya adu domba doank, ngak usah tanggepin…biar aja dia yang nulis kelompoknya yang baca..nyesel koe masuk ke web ini…

  22. reporternya asal nyablak nih atau yg ngasi kabar asal ceplos, klo yg suka khuruz itu malah kebalikan dari kaum salafy gan, mereka mengutamakan ikramul muslimin, orangnya lemah lembut, malah banyak yg jadi “jendral” tahlil di kampungnya. klo kasar2 gitumah biasanya salafy/wahabi

  23. Yoi jenggot itu perintah nabi yg harus di kerjakan,jgn alesan mulu ga mau miara jenggot karna anu lah ITU lah,alesan mulu ITU sifat org munafik.INI udah jelas berita boong di tanggepin,berita Taik yg ga bener ini,saksi ngga ada bukti juga ngga ada,ini beritanya cuma mo ngejelek2 in org yg ngejalanin sunah nabi yaitu jenggot Dan celana cingkrang/diatas mata kaki .Taik nih yg nulis berita

  24. Sob…wah ngapain masih ada kekerasan sob….( gk perlu)………… kenapa d kaum kita zering mempersoalkan sunah….sementara yg wajib PADA KEPRET….

TINGGALKAN KOMENTAR