Depresi dan Resiko Bunuh Diri pada Pria

Depresi dan Resiko Bunuh Diri pada Pria

BAGIKAN

Depresi dan Resiko Bunuh Diri pada Pria

Aisyah

Bunuhdiri, kata yang cukup membuat takut karena yang dihadapi adalahkematian. Posisi Indonesia untuk masalah bunuh diri benar benarmendekati negara maju seperti china dengan sekitar lebih dari 250.000orang pertahun. Angka bunuh diri yang terdata di tahun Pada2010, WHO melaporkan angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,6hingga 1,8 per 100.000 jiwa. Ternyata, penyebab bunuh diri adalah depresi, ketika sudah tidak adalagi minat dalam hidup dan kegembiraan, kecenderungan bunuh dirimakin kuat. Angka kejadian lebih tinggi pada remaja dan dewasa muda(15-24 tahun) dan laki-laki melakukan bunuh diri lebih besar empatkali (4x) lebih banyak dari perempuan, walau untuk percobaanbunuhdiri, perempuan lebih banyak 4x dari perempuan. Jadi, lelakilebih rentan terkena depresi dan bunuh diri dibandingkan perempuan.

Bagaimana umumnya depresi diketahui? Ada beberapa tanda yaitu perubahan mood yang rendah dan drastis; kehilangan minat dan kegembiraan; penurunan energi danberkurangnya aktivitas. Selain itu juga tambahan lain yaitu kurangkonsentrasi dan perhatian; gakpede;merasa bersalah dan tidak berguna; memikirkan, merencanakan, ataumencoba bunuh diri; menangis tanpa alasan; gangguan tidur; nafsumakan menurun dan penurunan minat seks. Bahayanya, gejala depresipada pria tidak terlalu ketara dibandingkan dengan wanita. Pria lebih cenderung konsultasi/curhat seputar keluhan fisik dibandingkanpsikologis.

Depresi yang sulit diatasi juga dapat menyebabkan keinginan seseorang bunuh diri atau membunuh dirinya. Kejadian bunuh diri pada pria tidakhanya pada rentang waktu tertentu, bahkan juga sampai tua, dengan kisaran umur antara 65-75 tahun.

Ada beberapa faktor yang berhubungan dengan kejadian bunuh diri:

    Umur.

Bunuh diri bisa terjadi di atas umur 20 an, bahkan sampai 70 tahun

    Pengangguran.

Menjadi pengangguran meningkatkan depresi, terutama pada pria. Waktu kejadian pengangguran besar-besaran di jepang tahun 1999, sekitar 33.000 orang bunuh diri.

    Kurang bisa bersosialisasi.

Orang yang bunuh diri suka hidup sendirian dan tidak punya teman cerita. Lelaki lebih suka menyelesaikan sendiri semua persoalannya dan jarang sekali curhat dengan teman/kerabat.

    Penyakit kronis.

Lama menderita suatu penyakit, susah sembuh dan akhirnya bunuh diri

    Pekerjaan tertentu.

Beberapa pekerjaan beresiko tinggi, ketika sama sekali tidak bisa terpecahkan atau bahkan menimbulkan resiko atau masalah baru, maka pelaku rentan bunuh diri.

Dan kenapa pria lebih rentan bunuh diri dibandingkan wanita?

    Tingkat pengangguran lebih tinggi pada pria daripada wanita. Menjadi pengangguran membuat pris stress, bahkan ancaman pengangguran sekalipun. Stress menjadi depresi dalam jangka panjang dan kemudian bunuh diri.

    Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan. Awalnya alkohol dan obat-obatan menjadi obat bagi pria dengan stress yang tinggi, tetapi lama kelamaan mempengaruhi fungsi otak dan menyuruh bunuhdiri.

    Tingkat spiritualitas yang rendah. Perubahan jaman membuat pandangan spiritualitas berubah dan kecenderungan stress dan depresi semakin tinggi. Ketika misalnya ada satu masalah (contoh perceraian, kematian pasangan), psikologi menjadi rentan stress, depresi dan akhirnya bunuh diri.

    Tingkat stress pria dalam menggapai sebuah tujuan hidup lebih tinggi dibandingkan wanita

    Budaya. Dibeberapa wilayah, ada istilah Boys dont cry, lelaki dilarang menangis. Lelaki harus menjadi manusia kuat, menyelesaikan masalah sendiri dan ketika tidak terselesaikan, terjadilah usaha bunuh diri bahkan bunuh diri

    Memiliki mental mudah menyakiti diri sendiri. Awalnya terjadi penyangkalan, kemarahan, rasa bersalah, kebingungan, lalu ingin membuktikan kematian sebagai kecelakaan. Orang seperti ini akan dengan sengaja memotong sendiri nadinya tanpa rasa sakit, karena depresi berkepanjangan sudah membentuk kepribadiannya

Apayang bisa dilakukan untuk mencegah bunuh diri?

    Akuilah jika memang dalam kondisi stress. Jangan tunggu stress bertumpuk, lama, berkepanjangan kemudian baru muncul keluhan-keluhan.

    Tidak menganggap enteng keluhan fisik, misalnya fatigue (kelelahan) tanpa sebab, sakit kepala, pusing, perubahan mood, dll

    Jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter/ahli kesehatan.

    Mintalah dukungan dari orang-orang terdekat, jangan malu untuk curhat dengan keluarga atau teman yang dipercaya.

    Percaya dan berdoa pada Tuhan, bahwa segala permasalahan hidup dapat terselesaikan.

TINGGALKAN KOMENTAR