Demokrasi Umar Bin Khatthab

Demokrasi Umar Bin Khatthab

BAGIKAN

Hitam Manis Sexi

Demokrasi adalah sebuah kalimat yang tidak dikenal dalam Islam, ia tidak dijumpai dalam Al Quran, Hadits dan Kitab kitab Fiqih Ulama Madzhab. Betul dan tidak salah, jika yang dimaksud adalah bentuk Kalimat Demokrasi itu sendiri.

Dan bahkan istilah Demokrasi juga tidak pernah dipakai dalam menunjukkan bentuk pemerintahan para Khulafaur Rasyidin sampai pada kekhalifahan Turki, demikian asumsi manusia manusia usil yang kemudian mengolahnya untuk dijadikan dalih membenci pemerintahan Demokrasi, walaupun mereka sendiri ternyata dapat mengembangkan ideologo anti Demokrasi itu dari negara negara Demokrasi Dunia.

Namun perlu diketahui, bahwa bentuk pemerintahan Demokrasi itu sampai kini belum menemukan bentuk finalnya, bisa jadi Demokrasi di Indonesia akan berbeda dengan Demokrasi di Negara lain, namun essensinya adalah sebagai bentuk terbukanya peluang Musyawarah baik dalam langsung atau tidak langsung.

Berikut ini adalah sekedar contoh nilai Demokrasi yang pernah dijalankan Oleh Sayyidina Umar Bin Khatthab, dimana unsur Syuro atau Dewan Permusyawaratan mulai dibentuk dan penjelasan tugasnya, tentu saja Demokrasi Umar ini bukanlah eplementasi Demokrasi seperti Demokrasi yang diinginkan Dunia saat ini.

“PERMINTAAN agar Sayyidina UMAR RA Menunjuk PENGGANTI Dirinya”.

 

Menjelang wafat,beberapa Sahabat meminta Sayyidinaa Umar menunjuk Kholifah yang akan menggantikannya.akan tetapi,Sayyidinaa Umar menolak permohonan para sahabat itu.Beliau lebih memilih menunjuk enam sahabat besar untuk mengurus perkara kepemimpinan setelah Beliau Wafat.

 

Keenam tokoh yang di tunjuk Sayyidinaa Umar adalah;

Sayyidinaa Utsman Bin Affan

Sayyidinaa Ali bin Abi Tholib

Sayyidinaa tholhah bin Ubaidillah

Sayyidinaa Zubair bin Awwam

Sayyidinaa Sa’ad bin Abi Waqosh

Sayyidinaa Abdurrohman bin Auf Rodliallohu ‘Anhum.

 

Sayyidinaa Umar sengaja sengaja tidak memilih salah satu dari ke enam tokoh tersebut untuk menggantikan kedudukannya.Beliau berkata;

“Aku tidak akan mencampuri urusan mereka,baik ketika aku masih hidup maupun setelah mati.Jika Memang Alloh menginginkan kebaikan untuk kalian,pastilah Dia akan mengarahkan kalian kepada (pemimpin) terbaik setelah Wafatnya Kanjeng Rosululloh Shollallohu ‘alaihi Wasallam”.

 

Begitulah…!!

Sayyidinaa Umar menjadi orang yang pertama kali menghimpun para sahabat(enam orang) yang kemudian lebih di kenal dengan sebutan Ahl Asysyuro.

Merekalah yang memutuskan masalah kekholifahan setelah Sayyidinaa Umar Wafat.dan dengan Mandat itu,kelompok Ahl Asysyuro ini menduduki posisi Tertinggi dalam Hierarki Pemerintahan.

 

Bahkan,Sayyidinaa Umar tidak lupa mengingatkan putranya sendiri,Sayyidinaa Abdulloh Ibn Umar untuk menghadiri majelis yang di gelar keenam tokoh tersebut.namun hanya dalam kapasitas sebagai pemberi saran saja,bukan sebagai calon Kholifah.

Sayyidinaa Umar juga berpesan agar Sayyidinaa Shuhaib Al-Rumi memimpin sholat di masjid Nabawi selama tiga hari,yaitu ketika Ummat Islam masih belum mendapatkan Kholifah yang baru.

 

“PENUNJUKKAN Sayyidinaa UTSMAN Ibn AFFAN Sebagai Kholifah”

 

Setelah menerima mandat dari Sayyidinaa Umar,keenam tokoh ahlusysyuro berkumpul di salah satu rumah,memusyawarohkan perkara kekholifahan.ketika musyawarah sedang berlangsung,sahabat Tholhah Ibn Ubaidillah berdiri di pintu untuk mencegah orang lain masuk.

 

Musyawarah pertama itu akhirnya memberi hasil penyerahan perkara kepemimpinan kepada tiga orang di antara Ahlusysysuro oleh tiga orang lainnya.

Sayyidinaa Zubair Ibn Awwam menyerahkan perkara ini pada Sayyidinaa Ali Ibn Abi Tholib.

Sayyidinaa Sa’ad Ibn Abi Waqosh menyerahkannya kepada Sayyidinaa Abdurrohman Ibn Auf,

Sayyidinaa tholhah Ibn Ubaidillah menyerahkannya pada Sayyidinaa Utsman Ibn Affan.

 

Sayyidinaa Abdurrahman Ibn Auf berkata Kepada Sayyidinaa Ali dan Sayyidinaa Utsman;

“Siapa di antara kalian berdua yang berlepas dari perkara ini sehingga kita dapat menyerahkan perkara ini kepadanya?”

Beliau Berdua tidak menjawab pertanyaan itu.sayyidina Abdurrohman Ibnu Auf kembali berkata;

“Sesungguhnya aku menanggalkan hakku dari perkara ini.Sungguh,Alloh dan Islam mendorongku untuk BERIJTIHAD dan menyerahkan kepemimpinan kepada salah satu yang paling utama dari kalian.

 

Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali menjawab,”Baiklah”.

 

Sayyidina Abdurrohman Ibnu Auf menyampaikan berbagai keutamaan mereka berdua.

Selain itu beliau Mengambil sumpah bahwa jika salah satu dari mereka terpilih (untuk memimpin),Ia akan berbuat adil.dan,ketika salah satu dari mereka harus dipimpin,maka Ia harus mendengar dan mematuhi (yg memimpin).

Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali menjawab;

“Baiklah.” setelah itu,mereka meninggalkan tempat musyawarah itu.

 

Setelah Musyawaroh,Sayyidina Abdurrohman Ibnu Auf merembukkan ihwal pemilihan salah satu dari kedua calon Kholifah itu kepada khayalak.kala itu Sayyidina Abdurrohman Ibnu Auf juga secara khusus menemui tokoh tokoh dan pemimpin Umat Islam,baik secara kelompok maupun individu,baik secara terang2an maupun diam2(sembunyi2).

 

Lebih dari itu,selam tiga hari tiga malam,Sayyidina Abdurrohman Ibnu Auf bahkan juga mendatangi kaum perempuan yang dipingit di dalam kediaman mereka,anak2,dan Tak terkecuali para musafir dan orang2 Badui yang singgah di Madinah.

 

Dari semua yang dilakukan oleh Sayyidina Abdurrohman Ibnu Auf,di tunjuklah Sayyidina Utsman Ibnu Affan menjadi Kholifah.konon hanya Ammar Ibn Yasir dan Miqdad RA saja yang meminta Sayyidina Ali menjadi Kholifah.akan tetapi,kedua tokoh ini pun akhirnya mengikuti pendapat yang di pegang suara terbanyak pada saat itu.

 

Pada Hari ke empat,Sayyidina Abdurrahman Ibnu Auf berkumpul bersama Sayyidina Ali dan juga Sayyidina Utsman di kediaman shohabat Miswar Ibnu Makhromah,keponakan Sayyidina Abdurrahman Ibnu Auf dari jalur saudara perempuannya.

Sayyidina Abdurrahman berkata,;

“Aku telah berbicara dengan khalayak tentang kalian berdua.ternyata,aku tidak dapat menemukan seorangpun yang setara dengan kalian berdua”.

Setelah itu,Beliau beranjak menuju Masjid Nabawi bersama Sayyidina Utsman dan Sayyidina Ali Ibn Abi Tholib.disana beliau meminta semua tokoh Islam dari kalangan Anshor dan Muhajirin untuk segera datang ke Masjid.

 

Tidak lama kemudian,Masjid Nabawi Sesak dipenuhi banyak orang.

Sayyidina Abdurrahman lalu naik ke atas mimbar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam,dan Menyampaikan petatah petitih,di awali Doa yang Sangat Panjang.kala itu Sayyidina Abdurrahman berkata;

“Wahai Sekalian Manusia,Sungguh aku telah bertanya kepada kalian semua,baik secara sembunyi-sembunyi,maupun secara terang2an,tentang apa yang kalian Inginkan.ternyata,aku tidak menemukan seorangpun dari kalian yang setara dengan kedua orang ini,baik Ali maupun Utsman.”

 

Sayyidina Abdurrohman lalu berseru ke arah Sayyidina Ali;

“Sekarang,majulah engkau ke mari Wahai Ali !”

Sayyidina Ali berjalan Mendekati Sayyidina Abdurrohman.sembari menggamit tangan Sayyidina Ali,Sayyidina Abdurrohman berkata,;

“Apakah engkau berbai’at kepadaku untuk selalu berpegang kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh serta tindakan Abu Bakar dan Umar?”

Sayyidina Ali menjawab:

“Allohumma,tidak.akan tetapi sebatas kemampuan dan usahaku dari semua itu.

Sayyidina Abdurrahman melepaskan tangan Sayyidina Ali dan berkata kepada Sayyidina Utsman,”Kemarilah engkau,wahai Utsman.”

Sayyidina Utsman Mendekat.seperti yang dilakukan kepada Sayyidina Ali,Sayyidina Abdurrahman pun menggamit tangan Sayyidina Utsman seraya berkata,;

“apakah engkau berbai’at kepadaku untuk selalu berpegang kepada Kitabulloh dan Sunnah Rosululloh serta tindakan Abu Bakar dan Umar?”

Sayyidina Utsman Menjawab:”Allohumma,Iya.”

Mendengar jawaban Sayyidina Utsman,Sayyidina Abdurrahman langsung menengadah kan kepala ke atap masjid,sementara tangannya masih menjabat Tangan Sayyidina Utsman.Beliau Berkata,;”Ya Alloh,dengar dan Saksikanlah.Ya Alloh,dengar dan Saksikanlah.Ya Alloh,Sesungguhnya aku telah menanggalkan beban dari pundakku.selanjutnya,kuserahkan beban itu kepada Utsman Ibn Affan.”

 

Setelah Sayyidina Abdurrahman mengucapkan kalimatnya itu,Orang2 ramai membai’at Sayyidina Utsman di bawah mimbar Rosululloh Shollallohu ‘Alaihi Wasallam.pada Saat itu,Sayyidina Ali merupakan orang pertama yang membai’at Sayyidina Utsman sebagai Kholifah.akan tetapi,ada pula riwayat yang menyatakan,Sayyidina Ali orang yang terakhir membai’at Sayyidina Utsman Ibnu Affan.

Rodliallohu ‘Anhum..

Wallohu a’lam.

 

Di ambil dari Fiqhussirroh Albuthi halaman 636,dan Albidayah wannihaayah Juz 7 halaman 147.

 

Bersambung….

TINGGALKAN KOMENTAR