Definisi Dan Peran Politik Sahabat

Definisi Dan Peran Politik Sahabat

BAGIKAN

Sumber: disadur dari berbagai referensi, ensiklopedi, dan tesis, terutama dari Fu’ad Jabali.

PENDAHULUAN

Barangkali “Sahabat” Nabi adalah generasi yang mendapat perhatian sangat serius dari umat Muslim. Sahabat diyakini sebagai generasi terbaik dalam sejarah Islam, dan suri-tauladan mereka layak untuk ditiru. Karenanya tidak heran jika para Sahabat sangat memengaruhi peristiwa-peristiwa besar dalam sejarah hidup mereka. Namun cara pandang terhadap Sahabat sangat bervariasi, sebagian karena dipengaruhi oleh konteks problem tertentu. Sepeninggal Nabi SAW, keputusan dan tindakan mereka jelas sangat berpengaruh bagi umat Muslim generasi selanjutnya yang ingin mencari panduan agama. Perbedaan dalam memandang atau menafsirkan peristiwa sejarah Sahabat ini menimbulkan kelompok-kelompok di dalam Islam — menyebabkan konflik menjadi tak terelakkan. Contoh paling menonjol adalah Perang Unta dan Shiffin.

Tulisan ini tidak hendak menyalahkan Sahabat, atau menurunkan kemuliaan mereka. Mengkaji sejarah Islam tentu tidak bisa lepas dari cara kita memandang momen bersejarah yang dialami Sahabat. Dalam peristiwa-peristiwa besar itu terkandung hikmah dan pelajaran bagi kita untuk bersikap menghadapi persoalan masa kini. Kita belajar dari sejarah, dengan tujuan untuk tidak mengulangi kekeliruan serupa. Tulisan berseri ini semata untuk membuka pengetahuan yang mungkin luput dari perhatian kita. Mudah-mudahan ada manfaatnya untuk para pemerhati sejarah dan peradaban Islam.

Meski kita sejak pendidikan dasar telah dikenalkan dengan “Sahabat” namun barangkali sampai kini kita belum tahu pasti beberapa detail tentang mereka, semisal jumlahnya, siapa yang termasuk sahabat dan siapa yang bukan. Kita akan mencoba melihat beberapa pandangan yang berbeda dari para ahli. Sebelum beranjak ke definisi yang sebetulnya juga belum final, para ahli sebenarnya agak kesulitan dalam memastikan masalah ini. Informasi kehidupan para Sahabat sangatlah terbatas, dan jika ada, itupun bersifat parsial atau sepotong-sepotong. Menurut Abu Zur’a, yang dikutip oleh Ibn Hajar al-Asqalani dalam Kitab al-Isaaba fi Tamyiz al-Sahaba, saat Rasulullah wafat, ada 114,000 orang yang dikategorikan sebagai Sahabat. Ini tentu merupakan isu yang ruwet, menyangkut definisi istilah “Sahabat” dan karena ada kecenderungan ahli sejarah Islam abad pertengahan yang memberikan data statistik yang bersifat perkiraan. Ibn Hajar al-Asqalani, yang menulis pada abad 15 masehi, hanya bisa mengumpulkan data Sahabat sebanyak 11,000 orang (termasuk yang masih diperselisihkan). Ibn Sa’d, Ibn Abd al-Barr dan Ibn al-Athir, menyebut jumlah yang lebih sedikit ketimbang yang disajikan Ibn Hajar.

Jika kita mengasumsikan data 100,000-an itu benar, dan dengan asumsi kitab Isabah karya Ibn Hajar ini merupakan kompendium terlengkap tentang Sahabat, maka kita hanya punya data sepersepuluh saja dari Sahabat. Itu berarti sembilan puluh persen data Sahabat hilang dalam sejarah. Persoalan selanjutnya, diskusi tentang Sahabat Nabi biasanya parsial, dan terbatas pada sedikit tokoh yang terkenal, dan pembahasannya umumnya diletakkan dalam konteks kehidupan Rasulullah. Maka kita barangkali hanya mendapat catatan sekitar 100 atau 200-an Sahabat yang sangat terkenal — dan ribuan Sahabat lainnya tak kita ketahui kiprahnya. Padahal, para Sahabat yang tidak terkenal, atau sama sekali tidak kita ketahui namanya, sangat mungkin berperan penting dalam kesuksesan para tokoh Sahabat yang lebih terkenal semisal para Khulafaur Rasyidin, Muawiyyah, Khalid ibn Walid, dan lain-lain. Lebih jauh, karena ribuan Sahabat itu kemudian menyebar ke daerah geografis yang berbeda-beda, dan karena relasi dan aliansi politik mereka dengan kelompok elit Sahabat, maka konflik yang terjadi di pusat kekuasaan menjadi menjalar ke daerah-daerah yang jauh. Misalnya, konflik Sahabat elit seperti Sayyidina Ali, Zubayr, Thalhah dan Aisyah, yang berbasis di Madinah-Mekah, gaungnya sampai ke daerah yang jauh seperti Syiria dan Irak, di mana sebagian Sahabat bermukim di sana. Ini dapat kita lihat, misalnya, dalam periode Fitnah Kubra, beberapa Sahabat elit di Madinah terpaksa menyingkir untuk mencari dukungan dari masyarakat di Basra dan Kufa.

Sejauh ini sudah ada beberapa kajian tentang Sahabat dan peran mereka dalam perkembangan sosial-politik Islam. Contohnya, karya orientalis E. Ladewig Petersen, “‘Alì and Mu’àwiyah in Early Arabic Tradition: Studies on the Genesis and Growth of Islamic Historical Writing until the End of the Ninth Century,” di mana ia mencoba menunjukkan akar pertumbuhan tulisan sejarah Islam yang berkaitan dengan perkembangan politik-keagamaan di kalangan umat Muslim; kemudian karya Abdulkader Ismail Tayob, “Islamic Historiography: The Case of al-Tabarì’s Ta”rìkh al-Rusul wa ’l-Mulùk on the Companions of the Prophet Mu˙ammad,” yang memfokuskan pada penelitian pemilihan Sayyidina Abu Bakar sebagai Khalifah pertama dan Perang Jamal, membahas bagaimana para Sahabat tetap mempertahankan keluhuran akhlak dan integritas spiritual meski tengah berada dalam konflik; orientalis Kohlberg menulis “The Attitude of the Imàmì-Shì’ìs to the Companions of the Prophet,” sebuah studi tentang sikap Imam Syiah terhadap para Sahabat. Dalam studi ini dia membandingkan sikap Imam Syiah, Sunni, Mu’tazilah, dan Zaydiah, terhadap para Sahabat, dan beberapa pandangan Syiah tentang Perang Jamal dan Shiffin.

Muranyi menulis disertasi ” Die Prophetengenossen in der frühislamichen Geschichte (Bonn: Selbstverlag des Orientalischen Seminars der Universität, 1973), berisi kajian tentang sifat Sahabat, peran mereka dalam sejarah Islam, posisi mereka dalam kesadaran religius umat Muslim, dan sikap para Sahabat itu sendiri terhadap peristiwa Fitnah Kubra dalam konteks pembunuhan Sayyidina Utsman ibn Affan. Muranyi, berdasarkan penelitiannya, mengemukakan bahwa saat Sayyidina Utsman dikritik keras, dan kemudian dikepung pemberontak, sebagian besar Sahabat lain memilih tidak ikut campur. Ini menyebabkan pemberontak bisa bergerak bebas di Madinah dan melakukan pembunuhan; Martin Hinds, menyusun studinya yang bertajuk “Kùfan Political Alignments and their Background in the Mid-Seventh Century A.D.,” IJMES, 2 (1971), yang didasarkan pada sumber-sumber tulisan sejarah Islam, terutama dari al-Baladhuri, al-Tabari, Ibn Sa’d, Ibn A’tham al-Kùfì, Khalìfa ibn Khayyàt, dan Nasr ibn Muzàhim al-Minqarì. Ia menyatakan setidaknya ada tiga kelompok yang terlibat dalam perpecahan politik di Kufa: kelompok Muhajirun, kelompok Anshar atau kelompok penduduk Medinah (terutama yang berafiliasi dengan Khalifah) yang kontrolnya atas Kufa makin kuat, dan pemimpin suku, yang pengaruhnya menguat pasca terbunuhnya Sayyidina Umar al-Faruq. KOnflik ketiga kelompok ini berperan signifikan dalam peristiwa pembunuhan Sayyidina Utsman dan perang antara Sayyidina Ali ibn Abi Thalib versus Muawiyyah. Menurut Hinds, benih konflik sudah muncul pada masa pemerintahan Sayyidina Umar. Karena ingin menetralisir pengaruh pemimpin suku tradisional, yang sudah bermunculan pada masa pemerintahan Sayyidina ABu Bakar, maka Sayyidina Umar mengusulkan bentuk kepemimpinan baru, dimana posisi seseorang tidak ditentukan oleh relasi kesukuan, tetapi prinsip prioritas berbasis konversi ke Islam (saabiqa). Konsekuensinya adalah lahirlah elit politik baru, yakni kaum Muhajirin, Anshar dan para Sahabat lain. Tetapi pada masa kekuasaan Utsman, keutamaan elit ini terancam oleh bangkitnya sentimen kesukuan yang makin kuat yang cenderung bersifat aristokratik seperti pada masa pra-Islam.

Namun Hinds gagal melihat aspek lebih mendalam dari konflik tersebut. Para Sahabat, sebagai pembela utama panji-panji Islam dan pendakwah pertama pasca wafatnya Nabi Muhammad SAW, tentu mempertimbangkan faktor religius sebelum mengambil keputusan politik apakah akan ikut dalam konflik atau tidak. Studi Hinds tidak mampu menjelaskan fakta-fakta menarik seperti kehadiran Ammar ibn Yasir dan pengikutnya dalam Perang Shiffin; sikap netral dari Sahabat penting seperti Sa’d ibn Malik, Abdullah ibn Umar, Muhammad ibn Maslama, Usama ibn Zayd, dan Uhban ibn al-Sayfi; instruksi (wasiat) Hudhayfa ibn al-Yaman kepada dua putranya untuk membela Ali ibn Abi Thalib; kasus dua putra Khalid ibn al-Walid, di mana yang satu membela Ali, yang satunya membela Muawiyyah; penyesalan Abdullah ibn Umar dan Masruq karena tidak bergabung bersama Ali; dan intimidasi oleh Muawiyyah kepada Jabir ibn Abdullah dan warga Madinah yang akan dihukum mati jika tidak mendukung Muawiyyah.

Dengan memperhatikan beberapa catatan awal ini, kita bisa melihat bagaimana para Sahabat berperan penting dalam perkembangan peradaban Islam baik itu dari segi agama, politik, sosial, ekonomi, dan banyak sektor lainnya. Tetapi mari sekarang kita melihat pada beberapa pendapat ahli tentang apa dan siapa itu “Sahabat.”

TINGGALKAN KOMENTAR