Debat Online: Isu Basi Yang Diperbaharui Melalui Lisan Baru

Debat Online: Isu Basi Yang Diperbaharui Melalui Lisan Baru

BAGIKAN

debat online di dunia maya

warkopmbahlalar.com – Isu basi yang diperbaharui melalui lisan baru, demikianlah yang selama ini saya rasakan semenjak ikut meramaikan debat di dunia maya. Muncul, dibantah, tenggelam, muncul lagi, dibantah lagi, isu lama diangkat kembali, dibantah ramai ramai, tenggelam kemudian isu isu yang kemaren dimunculkan lagi, begitu seterusnya tanpa henti. Sepertinya cara seperti ini memang sangat manjur untuk mengekang laju pemikiran Ummat Islam menuju kejayaannya.

Ahirnya saya disadarkan oleh anak kecil, waktu itu baru sekitar umur 4 atau 5 tahun, dialah putri guru kenthir saya Triwibowo Budi Santoso.

Dia melompat lompat dan berjumpalitan kayak pemain kungfu berjurus mabok yang sangat menghawatirkan saya, hati saya miris, beberapa kali saya tegur, awaaas….!!! Setiap kali saya tegur, dia malah semakin menjadi jadi, sampai sampai dia naik ke atas meja dan terjun begitu saja.

Awas nanti jatuh lho dik…

Gak papa jawabnya…

Lha kalau nanti jatuh gimana?

Lha memang biar jatoh kok, lho jatuh kan? Gedebuk, naik lagi, gedebuk, naik lebih tinggi dan gabruk… lebih keras, sambil bibir mungilnya berucap, kan dah jatoh kan?

Sayapun terdiam dalam ketidak mengertian, salahkah saya menegurnya, dan salahkah menjatuhkan diri itu sehingga harus saya tegur, sementara jatuhnya dia memang sangat dia sengaja dan inginkan?

Andai waktu itu saya sudah kenal akrab dengan Bu Nyai Evi Ghozaly…. minimal saya faham dunia anak anak..

Begitulah gambaran dunia debat, ada banyak hal yang secara logis hal itu tidak logis dan dipaksakan untuk diterima oleh logika walaupun mudah dibantah dengan logika pula.

Semisal panggilan penghormatan kepada Nabi yang tidak boleh dengan ungkapan lain seperti Sayyidina, padahal logika sangat luas memberi ruang makna yang dimaksud, seperti Sayyidul Anbiya, sayyidul Rosul, Sayyidul Syafi, dll.

Sama seperti orang alim yang tentu dengan kealimannya itu beliau disebut denga Al Alim, tidak dengan Fadlilatus Syaikh Bin Baz misalnya, sebab jika dengan metod logika awal, sama halnya menyebut bin baz dengan Fadlilatus Syaikh itu sama dengan merendahkan martabat beliau yang seorang ahli ilmu, tetapi mereka nyatanya menyebut beliau dengan sebutan itu, seperti Fadlilatus Syakh Al Utsaimin, yang benar menurut logika pertama tadi seharusnya disebut dengan Al Alim Al Utsaimin, sebab arti dari Fadhilatus Syaikh jika diindonesiakan bisa berarti “orang tua mulia” atau paduka orang mulia, sungguh sebutan ini tidak menggambarkan kemampuan, kedudukan atau tugas beliau yang sebenarnya.

Namun membicarakan hal seperti ini lebih detail, akan berakibat menyampahnya ilmu di dalam diri kita, karena membicarakan hal hal lucu seperti ini sama sekali tidak membuat kita unggul dalam pandangan Alloh.

(zaenal/ni)

TINGGALKAN KOMENTAR