dan perjuangan adalah pelaksanaan katakata

dan perjuangan adalah pelaksanaan katakata

BAGIKAN

Pelajaran sering datang bukan dari catatan atau buku tebal; ia bisa datang dari sebentuk perjumpaan. Demikianlah, ini adalah kisah perjumpaanku dengan seorang santri, saat aku berada disebuah oase ruhani, pesantren kecil Bahr Ulum, di daerah Banten

Kang Soleh, seorang santri desa yang sederhana, datang dari Pemalang,
Jawa Tengah, sampai ke pesantren Bahr al-Ulum dengan berjalan kaki!!
Dan itupun dilakukan dengan berpuasa!! Beliau berjalan selama 40 hari
hingga sampai ke pesantren itu. Rupanya kang Soleh sudah 2 minggu
berada di Bahrul Ulum, belajar mengaji kepada putra sang kyai. Selama
di pesantren, Kang SOleh rajin membantu putra sang kyai tanpa pernah
mengeluh: mencuci, merawat ikan, mencabuti rumput, merawat tanaman cabe dan sayut-mayur lainnya, dari pagi sampai sore dengan berpuasa. Beliau
dengan tenang memasak ikan goreng, ikut membuat sambel. dan ketika kami
yg tak berpuasa menyantap nasi plus gurame goreng plus sambel dan
kelapa muda, Kang Soleh yang berpuasa itu langsung turun ke kebun,
menyiangi rumput, di bawah terik matahari. Malamnya kang Soleh ikut
mengaji.

Kang Soleh sengaja melakukan hal-hal yang mungkin kelihatan gila bagi
kita yang tak terbiasa dengan dunia suluk tarekat. Kang Soleh adalah
pengamal Tarekat Naqsyabandi. Dengan laku mujahadah yang demikian
berat, beliau telah melakukan suluk yang sebenarnya: berjuang melucuti
hawa nafsunya. Aku memperhatikan bagaimana jari-jari tangannya
dan bibirnya terus bergetar berzikir sambil memasak, mencabuti rumput
dan bahkan saat duduk istirahat. Dengan mengabdi kepada kyai, beliau
belajar untuk menjadi bukan siapa-siapa, belajar menjadi tiada. Beliau
mengikuti suri tauladan Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali, yang ketika di
awal suluknya, beliau yang sudah menjadi profesor dan ulama tersohor di
kesultanan NIzam, rela menjadi marbot atau tukang bersih-bersih masjid,
menjadi murid adiknya, dan melayani seorang syekh yang tidak
terkenal…

Mujahadah, sebuah kata yang secara teori mudah dijelaskan, namun sulit
keetika diamalkan. Berapa banyak dari kita yang belum bermujahadah,
belum berkhidmat pada guru, belum apa-apa, sudah mengklaim mencintai
Tuhan? Berapa banyak dari kita yang yang berharap pada Kemurahan Allah
agar dicintai, namun lupa bahwa cinta kepada ALlah harus diuji dulu,
harus mengesampingkan semuanya, termasuk diri dan ambisi dan nafsu???
Berapa banyak dari kita yang sudah mencapai inkisyaf rabbaniyah??

Semua orang tahu mencintai Allah berarti menyingkirkan dunia dari hati,
tetapi berapa banyak dari kita yang sudah bermujahadah untuk sampai ke
sana?? Mungkin tak banyak. Karenanya hanya sedikit yang dianugerahi
kedudukan Wali oleh Allah azza wa jalla…

hati yang tiada putus dalam berzikir adalah seperti matahari yang tiada
henti menyinari bumi. Hati yang terus berzikir adalah cahaya di atas
cahaya. Dan hanya mereka yang tiada putus berzikirlah yang layak
disebut manusia yang hidup, menempati maqam mulia seperti leluhur
Tarekat Naqsyabandi, Sayydina Abu Bakar r.a, yang oleh Rasulullah
dikatakan bahwa Sayyidina Abu Bakar masuk sorga karena ada sesuatu yang
ada dalam dadanya.. yakni Allah. Zikir khafi warisan Sayyidina ABu
Bakar adalah sebentuk “Tapa Ngrame,” meditasi dalam keramaian – dan
inilah salah satu prinsip dari 11 prinsip Tarekat Naqsyabandi.

Kang Soleh tak sekadar berteori, tetapi telah menjadi salik yang sesungguhnya.
Semoga Allah memudahkan jalannya..
Wa Allahu a’lam bi ash-shawab

(Mbah Kanyut al-Jawi)

TINGGALKAN KOMENTAR