Dakwah Walisongo Belum Tuntas ???

Dakwah Walisongo Belum Tuntas ???

BAGIKAN

Mungkin anda sering mendengar dan membaca pernyataan bahwa dakwah para walisongo belum tuntas. Masih perlu penyempurnaan. Karena masih banyak praktek-praktek yang dianggap syirik. Walisongo dalam pandangan mereka gagal dalam berdakwah, karena belum mampu menghapus kesyirikan dalam masyarakat. Dan ujung-ujungnya mereka yang menyatakan demikian dengan yakin, bahwa merekalah yang layak meneruskan atau menuntaskan dakwah para walisongo tersebut. Atau karena dinilai gagal, maka dakwah walisongo perlu diganti total.

Tapi sayang, ketika mereka diajak berbincang mengenai profil walisongo mereka tidak tahu. Mengenai sepak terjang, model berdakwah, mereka sama sekali tidak paham. Yang mereka tahu hanya bahwa di Jawa masih banyak pelaku syirik. Ini belum pada cara pandang mereka dalam bingkai BID’AH. Jika ditambah dengan yang demikian, niscayalah dakwah Islam oleh walisongo pasti akan dianggap gagal total. Walisongo tidak layak disebut sebagai pendakwah Islam. Sungguh kesimpulan yang sangat-sangat konyol.

Marilah sejenak kita mengkaji sejarah Nabi Muhammad, bahwa sepeninggal beliau ternyata seluruh dunia juga tidak Islam semua. Padahal beliau diutus untuk seluruh umat manusia.  Tidak usah yang besar, apakah di tanah Arab juga sudah berhasil 100% memeluk Islam???  Apakah masyarakat Arab sudah bebas dari perilaku syirik??? Kalau Nabi tidak dianggap gagal, maka apakah layak walisongo disebut gagal??? Tidak kan?!.

Sekarang, Arab Saudi dibanjiri umat Islam yang melaksanakan ibadah haji tiap tahunnya. Demikian pula jamaah umrah. Apakah ini keberhasilan pemerintah Arab Saudi??? Tidak begitu. Darimana asal jamaah tersebut ??? Indonesia begitu besar yang ke sana. Lagi-lagi apakah ini bukti kegagalan dakwah walisongo dan penerusnya???

Dakwah Muhammad bin Abdul Wahab, Bin Baz atau Alabny  dan lainnya apakah berhasil??? Memang semakin hari semakin bertambah pengikutnya dari seluruh penjuru duni. Jika ukuran soal jumlah ya gagal lah…. orang Jawa saja berapa yang muslim.

Jadi ukuran apa yang hendak dijadikan pedoman menilai gagal tidaknya sebuah dakwah? Apakah jumlah? Atau pendirian sebuah negara dengan label Islam sebagai bentuk keberhasilan tertinggi???? Kalau itu ukurannya, malah di Jawa sudah pernah dan justru walisongo yang membidaninya. Jadi tidak mudah dalam urusan ini.

Jangan-jangan penilaian kegagalan walisongo hanya bentuk kedengkian semata? Dalam teori wacana, pernyataan yang disampaikan, bisa jadi menyimpan maksud yang sebenarnya : dan maksud itu adalah bertolak belakang dari yang dinyatakan. Pernahkah anda jatuh cinta? Anda bisa bilang sangat membenci seseorang, padahal yang sebenarnya adalah anda mencintai orang tersebut……

TINGGALKAN KOMENTAR