Cinta Suci Salman Al-Farisi

Cinta Suci Salman Al-Farisi

BAGIKAN

Cinta Suci Salaman Al-Farisi

Di saat Salman Al-Farisi merasakan sudah layak baginya untuk menyempurnakan separuh daripada agama, dia sudah siap untuk melamar seorang gadis solehah dari kaum Ansar, yang selalu menjadi buah b…ibir para pemuda di Kota Madinah.

 

Memperolehi cinta wanita solehah itu ibarat membelai cinta para bidadari di Syurga. Wanita solehah itu telah menambatkan hatinya untuk menuntun karya-karya indah bak lakaran pelangi, penuh warna dan cinta.

 

Beliau menjemput sahabat karibnya, Abu Darda’ sebagai teman bicaranya ketika bertemu keluarga wanita solehah itu.

 

“Subhanallah. Alhamdulillah”

 

Muncul kata-kata dari mulut Abu Darda’, tanda ta’ajub dan syukur di atas niat suci temannya itu. Dia begitu senang karena dapat membantu temannya dalam hal baik sebegini. Maka menujulah mereka ke rumah wanita solehah yang menjadi buah bibir para pemuda gagah perkasa di Kota Madinah.

 

“Saya adalah Abu Darda’ dan ini adalah saudara saya Salman al-Farisi. Allah Taala telah memuliakannya dengan Islam, dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah s.a.w, hingga Rasulullah menyebut beliau sebagai sebagian dari ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar puteri anda untuk dipersuntingnya”, berkata Abu Darda’ kepada keluarga wanita tersebut. Susunan bahasanya cukup berhias dan indah.

 

“Menerima kalian berdua sebagai tetamu, sahabat Rasulullah yang mulia sudah menjadi penghormatan terbesar buat kami. Dan adalah kehormatan lebih besar bagi keluarga kami bermenantukan seorang sahabat Rasulullah S.A.W yang utama. Akan tetapi hak untuk memberi kata putus tetap sepenuhnya berada di tangan ananda puteri saya. Saya serahkan kepada puteri kami untuk memperhitungkannya.” wali wanita solehah memberi isyarat ke arah hijab.

 

Di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.

 

“Silakan tuan.” balas Abu Darda’.

 

Selepas beberapa menit berlalu, datanglah walinya memberi kata pemutus daripada sang puteri kesayangannya.

 

“Maafkan kami di atas apa yang saya akan katakan. Kerana kalian tetamu terhormat kami, sahabat baginda s.a.w yang amat dicintainya. Kami hanya mengharap ridha Allah bersama kita semua. Sebenarnya puteri saya telah menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ mempunyai hajat yang sama, puteri kami senang menerima pinangannya dengan penuh syukur.”

 

Kata-kata wali wanita solehah itu tidak sedikit pun mengejutkan Salman al-Farisi malah menyambutnya dengan alunan tahmid yang tidak putus-putus.

 

“Allahu Akbar. Maha Suci Allah telah memilih teman baik saya sebagai pengganti.” dengan penuh rasa kebesaran Tuhan menyelinap roh cinta-Nya memenuhi jiwanya yang kerdil.

 

“Semua mahar dan nafkah yang telah ku persiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, teman baik ku dunia akhirat. Dan aku akan menjadi saksi pernikahan bersejarah kalian.” Air mata kasih dan syukur membening suasana redup di suatu petang itu.

 

Catatan :

 

Salman al-Farisi yang begitu setia dan utama disisi Rasulullah juga diuji sedemikian hebat apabila cintanya ditolak oleh gadis solehah idamannnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, sahabat baiknya yang pada mulanya dijadikan ‘teman bicara’ untuk meminang pula yang menjadi pilihan si gadis solehah.

 

Dan bagaimana pula reaksi kita ,jika kita berada pada posisi yg dialami Salman al-Farisi? Mampukah kita memberi dan membenarkan segalanya dengan keikhlasan? Apakah kita tidak akan timbul sedikit rasa marah pada mulanya dan diikuti rasa ndongkol?

 

Tapi berbeda dengan Salman al-Farisi. Beliau begitu kuat menerima setiap ketentuan Illahi dengan penuh rasa syukur dan ridLo. Baginya, satu pekerjaan yang besar lagi mulia adalah dengan MEMBERI.

 

Kisah beliau mengajari kita bahwa tiada tuhan yg berhak disembah melainkan Allah S.W.T. Yang Maha mengetahui tentang sesuatu yang tidak kita ketahui , yang itu di ekspresikan dengan menaklukkan EGO.

TINGGALKAN KOMENTAR